Home / Romansa / Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam! / Bab 57: Mengancamnya Balik

Share

Bab 57: Mengancamnya Balik

last update Last Updated: 2025-12-28 23:42:54

Setelah hampir satu jam penuh duduk termenung di balik meja kerjanya, James akhirnya menghela napas panjang.

Jemarinya saling bertaut, keningnya berkerut seolah beban pikirannya belum juga menemukan jalan keluar.

Keributan yang terjadi di area gym sebelumnya masih terngiang jelas di kepalanya. Sebagai manajer, ia tidak bisa membiarkan situasi tersebut berlarut-larut dan mengganggu kenyamanan member lain.

Dengan langkah berat namun mantap, James keluar dari ruangannya dan menghampiri Clara yang masih berada di area tunggu gym. Perempuan itu tampak gelisah, berdiri sambil memeluk tasnya dengan raut wajah penuh amarah.

“Clara,” panggil James dengan suara tenang namun tegas.

Clara menoleh cepat. “Akhirnya,” ucapnya tajam. “Apa keputusan kalian?” tanyanya dengan suara angkuhnya.

James menarik napas dalam sebelum berbicara. “Setelah mempertimbangkan situasinya, aku harus menyampaikan bahwa sebaiknya kau tidak perlu datang lagi ke gym ini.”

Perkataan itu membuat mata Clara membelalak. “Apa?”
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Icha Qazara Putri
Makanya sebelum ngancem pikir dulu akibatnya, sekarang gimana sudah jera?
goodnovel comment avatar
MAIMAI.
hahaha, emang enak di balikin kata kata mu james.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 70: Pagi yang Panas

    Brian mengangkat tubuh Jane dengan enteng dan membuat wanita itu terkekeh saat dirinya kini duduk di meja makan sementara Brian berdiri di hadapannya.“Jangan menyesal jika aku terlalu liar, Jane. Karena kau yang memancing lebih dulu,” ucap Brian dengan tatapan matanya tak lepas dari Jane.Wanita itu hanya tersenyum rendah kemudian membuka mini dress yang dia kenakan itu dan memperlihatkan lekuk tubuhnya yang begitu indah.“Sentuh aku, Brian. Lebih dalam,” bisik Jane dengan suara paraunya.“Shitt!” umpat Brian dan langsung meraup bibir Jane dengan liar. Ciuman yang rakus, liar, dan panas di pagi hari itu membuat gairah Brian semakin membara.Lidahnya mengunci lidah Jane dan bibirnya melumat dengan dalam sampai membuat Jane mendesah pelan.“Terlalu dini untuk mendesah, Sayang,” bisik Brian dan kini bibirnya merayap di ceruk leher Jane.Mengisapnya hingga meninggalkan jejak merah keunguan di beberapa titik leher wanita itu. “Brian, mmh …,” desah Jane yang tidak mampu menahan diri untu

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 69: Siapa Takut?

    Pagi harinya, Jane terbangun dengan tubuh yang terasa letih, seolah setiap ototnya masih menyimpan sisa kelelahan malam sebelumnya.Matanya menyipit menahan cahaya matahari yang menembus sela tirai kamar. Ia menarik napas pelan, lalu baru menyadari satu hal: tubuhnya tidak mengenakan apa pun.Jane menoleh ke samping. Sisi ranjang yang biasanya terasa hangat kini kosong. Brian sudah tidak ada di sana.Seprai sedikit kusut, menyisakan jejak kehadirannya yang baru saja pergi. Jane menghela napas ringan, bukan kecewa, melainkan dengan perasaan aneh yang justru membuat sudut bibirnya terangkat.Ia meraih ponselnya yang tergeletak di nakas. Layar menyala dan menunjukkan pukul tujuh pagi. “Pagi sekali,” gumamnya lirih.Belum sempat dia bangkit sepenuhnya, aroma kopi hangat menguar dari arah dapur.Wangi pahit yang menenangkan itu membuat perutnya yang kosong bereaksi. Jane tersenyum kecil.Ada sesuatu yang terasa begitu domestik dan hangat dari aroma itu, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 68: Milikmu yang Membuatku Candu

    “Hai, tampan. Kenapa kau selalu tahu di mana aku berada?” tanya Jane dengan suara seraknya karena terlalu banyak minum.Brian mengibaskan tangannya di depan mulutnya karena bau alkohol dari mulut Jane yang menyerbak. “Kau minum berapa banyak, Jane? Astaga,” ucapnya sambil geleng-geleng kepala.“Aku akan membawanya pulang,” ucapnya pada Sita dan Riana sambil memapah Jane yang sudah sangat teler itu.“Hei, aku belum selesai berpesta. Kenapa kau membawaku pulang?” protes Jane sembari memanyunkan bibirnya.“Ini sudah pukul satu dini hari, Jane. Kau harus pulang,” ucap Brian sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.Membawa Jane pulang ke apartemennya, bukan ke apartemen Jane karena unitnya lebih dekat.Beberapa menit kemudian, mereka tiba di apartemen dan Brian langsung merebahkan tubuh Jane di atas tempat tidur.“Kau mau ke mana?” tanya Jane dengan serak.Brian menoleh ke arah Jane yang kini tengah duduk dengan mata setengah tertutup.“Kau harus istirahat. Aku akan mengambil a

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 67: Perayaan Perpisahan

    Waktu sudah menunjuk angka sebelas malam ketika dentuman musik elektronik memenuhi seluruh sudut sebuah klub malam ternama di pusat kota.Lampu-lampu warna-warni berpendar liar, berpadu dengan asap tipis dan sorak-sorai pengunjung yang larut dalam irama.Di tengah dance floor yang sesak, Sita, Jane, dan Riana bergoyang riang tanpa beban, tertawa lepas seolah dunia hanya milik mereka bertiga malam itu.Jane melemparkan kepalanya ke belakang, rambutnya tergerai mengikuti gerakan tubuhnya.Senyum di wajahnya begitu lebar, jauh berbeda dari Jane yang murung dan penuh luka beberapa bulan terakhir.Keringat membasahi pelipisnya, tetapi ia sama sekali tidak peduli. Malam ini adalah perayaan, sebuah perayaan kebebasannya.“Aku rasa aku sudah gila!” teriak Jane di sela musik yang menggelegar, sehingga membuatnya harus mendekatkan mulutnya ke telinga Sita dan Riana.“Bayangkan saja, aku begitu bahagia karena akhirnya bisa bercerai dengan Andrew!”Sita tertawa terbahak, sementara Riana hanya men

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 66: Sidang Putusan Cerai

    Hari yang dinantikan oleh Jane akhirnya tiba.Pagi itu, langit tampak mendung, seolah mencerminkan perasaan Jane yang sejak subuh tidak kunjung tenang.Di ruang pengadilan yang dingin dan kaku, Jane duduk dengan punggung tegak, namun jantungnya berdebar kencang tanpa henti.Ini adalah sidang perceraiannya yang kedua, sidang yang dia harapkan menjadi yang terakhir.Tangannya terasa dingin, telapak tangannya sedikit berkeringat, sementara pandangannya terpaku ke depan tanpa benar-benar fokus pada apa pun.Di sampingnya, Riana duduk dengan sikap tenang dan profesional. Sahabat sekaligus kuasa hukumnya itu menepuk pelan tangan Jane, mencoba menyalurkan ketenangan.“Tenanglah,” ucap Riana lirih namun meyakinkan. “Semua sudah kita siapkan dengan matang. Ini akan menjadi sidang terakhir kalian. Percaya padaku, Jane.”Jane menoleh dan menatap wajah Riana yang penuh keyakinan.Tak lama kemudian dia mengangguk dengan pelan. “Aku percaya padamu,” ucapnya singkat.Di antara semua orang yang hadir

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 65: Akan membuat Papa Tercengang

    “Apa kau bercanda?” ucap Sheila dengan mata membola.Nada suaranya meninggi, nyaris tidak percaya dengan ucapan Brian barusan, sementara tangannya refleks mencengkeram sandaran kursi di ruang tamu apartemen Brian.Dia menatap kakaknya itu seakan berharap Brian akan tertawa dan mengatakan bahwa semua ini hanyalah lelucon yang tidak lucu.Namun Brian sama sekali tidak tersenyum. Wajahnya justru tampak tegang, rahangnya mengeras, dan sorot matanya menunjukkan keyakinan yang membuat dada Sheila terasa sesak.Jane yang sejak tadi duduk di sebelah Brian ikut menoleh, jelas terkejut dengan pengakuan yang baru saja dilontarkan pria itu.Tidak menyangka Brian akan memberitahu adik bungsunya itu, yang seharusnya tidak perlu diberitahu.“Kau serius mengatakan kalau John menyukai Jane?” tanya Sheila lagi, dan kali ini dengan suara lebih pelan, seolah takut mendengar jawabannya.Jane segera menggeleng sembari mencoba menenangkan suasana yang mendadak menegang.“Itu hanya dugaan Brian saja, Sheila,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status