LOGINBeberapa jam setelah bercinta yang cukup panas yang mereka lalui, Jane dan Brian masih berbaring berdampingan di sofa ruang keluarga apartemen Jane masih tanpa mengenakan apa pun di tubuh mereka.Hanya saling menggenggan dan berpelukan menikmati malam sunyi dan mengobati rindu masing-masing hati.Jane menatap langit-langit cukup lama, lalu menghela napas pelan. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya sejak tadi, sebuah kejanggalan yang tak bisa dia abaikan begitu saja.Perlahan, dia memiringkan tubuhnya dan menoleh ke arah Brian yang berbaring di sampingnya. Wajah pria itu tampak santai, tetapi sorot matanya menunjukkan kewaspadaan yang tak pernah benar-benar padam.“Brian,” panggil Jane dengan suara rendah namun serius.Brian menoleh dan menatapnya penuh perhatian. “Ada apa?” tanyanya dengan nada suara yang lembut, seolah siap mendengarkan apa pun yang akan Jane katakan.Jane menarik napas lebih dalam sebelum akhirnya berkata, “Ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang terjadi sebelum ka
Jane melangkah pelan menghampiri Brian yang masih berdiri di depan pintu unit apartemennya.Cahaya lampu lorong memantulkan bayangan keduanya di dinding, menciptakan suasana canggung yang sarat dengan perasaan tak terucap.Jane berhenti tepat di hadapannya, menatap wajah Brian yang terlihat lelah namun penuh penahanan emosi.Tanpa berkata apa pun, Jane meraih gagang pintu dan membukanya. Ia menggeser tubuhnya sedikit ke samping, memberi ruang.“Masuklah,” ucapnya singkat, suaranya terdengar tenang, meski dadanya berdegup lebih cepat dari biasanya.Brian tampak sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Jane akan bersikap demikian mudah setelah semua jarak yang tercipta di antara mereka.Namun ia tidak menolak. Dengan langkah ragu namun mantap, Brian masuk ke dalam apartemen itu, sementara Jane menutup pintu di belakang mereka.Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Jane meletakkan tas kerjanya di atas sofa, lalu berbalik ke arah dapur. “Aku akan mengambilkan minuman,” katanya sambil berjal
Langkah John terhenti seketika ketika mendengar ucapan Brian barusan. Tubuhnya membeku di ambang pintu apartemen, punggungnya masih menghadap Brian.Selama beberapa detik, keheningan menggantung di udara, berat dan menyesakkan, seolah ruangan itu menahan napasnya sendiri.Perlahan, John menoleh. Tatapannya datar, dingin, tanpa emosi yang mudah ditebak. Sorot matanya bertemu dengan pandangan Brian yang kini berubah sepenuhnya.Tidak ada lagi sikap santai atau nada mengusir semata. Yang tersisa hanyalah kemarahan yang tertahan, terbungkus rapi dalam kendali diri yang rapuh.Brian melangkah satu langkah mendekat. Rahangnya mengeras, otot-otot di lehernya menegang.“Jangan pernah berpikir untuk merebut Jane dariku,” ucapnya dengan suara rendah namun penuh tekanan. “Jika kau berani melakukannya, aku akan melaporkan semuanya.”John mengangkat alisnya tipis. “Semuanya?” tanyanya pelan, nyaris mengejek.“Ya,” jawab Brian tegas. “Pada orang tua kita. Dan juga pada istrimu. Semua yang sudah kau
Apartemen Brian dipenuhi aroma khas keringat dan karet.Di sudut ruangan, sebuah samsak tinju bergoyang pelan setelah menerima rentetan pukulan yang terukur dan bertenaga.Brian berdiri tegak di hadapannya, kedua tangannya terbalut hand wrap hitam, rahangnya mengeras, napasnya teratur.Setiap pukulan yang dia lepaskan tidak sekadar menguji fisik, melainkan juga menjadi saluran bagi kegelisahan yang sejak beberapa hari terakhir enggan meninggalkannya.Pintu apartemen terbuka tanpa banyak suara. John masuk dengan langkah santai, seolah tempat itu juga miliknya.Dia menyandarkan punggungnya pada dinding dekat pintu, dengan kedua tangan terlipat di dada seraya menatap adiknya dengan sorot mata menilai.Tidak ada sapaan. Hanya keheningan yang dipenuhi suara pukulan berulang ke permukaan samsak.“Beberapa hari ini kau hanya di rumah,” ujar John akhirnya, suaranya terdengar ringan namun menyimpan nada mengusik. “Kenapa tidak melatih Jane lagi?” tanyanya dengan nada datarnya.Brian tidak menj
Jane dan Sita duduk berhadapan di sudut kantin kantor yang tidak terlalu ramai. Jam makan siang hampir berakhir, sebagian besar karyawan sudah mulai kembali ke meja kerja masing-masing.Di atas meja mereka, dua piring makanan terhidang. Spageti di hadapan Jane tampak nyaris tidak tersentuh, sementara minuman dingin di sampingnya sudah mulai mencair.Sejak beberapa menit lalu, Sita memperhatikan sahabatnya itu dengan kening berkerut. Jane sama sekali tidak menikmati makanannya.Garpu di tangannya hanya bergerak mengaduk-aduk spageti tanpa tujuan, seolah pikirannya berada jauh dari tempat itu.“Jane,” panggil Sita akhirnya, suaranya terdengar agak menegur.“Jam masuk tinggal sebentar lagi. Kalau kau tidak berniat makan, setidaknya berhentilah memainkan makananmu.”Jane tersentak kecil. Ia menghentikan gerakan tangannya dan meletakkan garpu di atas piring. Napasnya terhembus panjang, berat, seakan ada beban besar yang sejak tadi menekan dadanya.“Aku sedang tidak berselera,” jawab Jane s
Jane berdiri tegak di hadapan meja kerja John dengan map berwarna biru tua di tangannya.Wajahnya tampak tenang dan profesional, sebagaimana yang selalu ia tunjukkan setiap kali berada dalam ruang kerja atasannya itu.Cahaya matahari sore menerobos masuk melalui jendela besar di balik meja John, memantulkan bayangan samar pada lantai marmer yang mengilap.“Ini laporan perkembangan proyek terakhir,” ujar Jane dengan suara jelas dan terukur sambil menyerahkan map tersebut.“Seluruh tahapan utama sudah berjalan sesuai rencana. Jika tidak ada kendala berarti, proyek ini dapat dinyatakan selesai dalam beberapa minggu ke depan.”John menerima map itu dan mengangguk singkat. “Baik,” ucapnya.Dia lalu membuka dokumen tersebut sekilas dan memeriksa halaman-halaman awal dengan tatapan serius. “Kau sudah memastikan semua detail teknis dan administrasi terpenuhi?” tanyanya kemudian.“Sudah,” jawab Jane mantap.“Untuk penjabaran yang lebih rinci mengenai aspek teknis dan anggaran akhir, sekretaris







