Home / Romansa / Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam! / Bab 65: Akan membuat Papa Tercengang

Share

Bab 65: Akan membuat Papa Tercengang

last update Last Updated: 2026-01-04 23:10:08

“Apa kau bercanda?” ucap Sheila dengan mata membola.

Nada suaranya meninggi, nyaris tidak percaya dengan ucapan Brian barusan, sementara tangannya refleks mencengkeram sandaran kursi di ruang tamu apartemen Brian.

Dia menatap kakaknya itu seakan berharap Brian akan tertawa dan mengatakan bahwa semua ini hanyalah lelucon yang tidak lucu.

Namun Brian sama sekali tidak tersenyum. Wajahnya justru tampak tegang, rahangnya mengeras, dan sorot matanya menunjukkan keyakinan yang membuat dada Sheila terasa sesak.

Jane yang sejak tadi duduk di sebelah Brian ikut menoleh, jelas terkejut dengan pengakuan yang baru saja dilontarkan pria itu.

Tidak menyangka Brian akan memberitahu adik bungsunya itu, yang seharusnya tidak perlu diberitahu.

“Kau serius mengatakan kalau John menyukai Jane?” tanya Sheila lagi, dan kali ini dengan suara lebih pelan, seolah takut mendengar jawabannya.

Jane segera menggeleng sembari mencoba menenangkan suasana yang mendadak menegang.

“Itu hanya dugaan Brian saja, Sheila,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
MAIMAI.
harap maklum sheila, pasangan yg gak sabar nikah ini memasang keromantisannya dimana aja....
goodnovel comment avatar
Kania Putri
gas segera nikahin Jane Brian biar gak ada pengganggu lagi
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 75: Sedang Merayu Calon Istri

    Lampu neon yang temaram di area parkir bawah tanah apartemen itu menciptakan bayangan panjang yang memantul pada bodi mobil sedan mewah milik Brian.Keheningan menyelimuti atmosfer di dalam kabin, hanya menyisakan deru halus mesin yang baru saja dimatikan. Jane masih berdiri di samping pintu mobil yang terbuka, enggan untuk benar-benar melangkah pergi.Matanya tertuju pada Brian yang masih duduk di balik kemudi, menatapnya dengan binar mata yang sulit diartikan.Jane menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang membawa beban penyesalan sekaligus kejujuran yang selama ini dia pendam."Aku memang bodoh, Brian," ucap Jane dengan nada suara yang bergetar namun tetap terdengar formal dan tertata."Sangat bodoh karena telah mengatakan hal-hal sinis itu sebelumnya. Aku berpura-pura seolah aku tidak membutuhkan siapa pun, padahal jauh di dalam lubuk hatiku, aku tahu bahwa aku masih sangat membutuhkan cinta. Aku membutuhkanmu."Brian terdiam sejenak. Sudut bibirnya perlahan terangkat, mem

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 74: Beritahu jika sudah Siap

    Mobil melaju perlahan meninggalkan halaman hotel yang masih dipenuhi cahaya lampu dan deretan kendaraan mewah.Di balik dinding kaca aula, pesta masih berlangsung meriah, musik mengalun, tawa terdengar samar, dan para tamu masih larut dalam perbincangan. Namun bagi Jane dan Brian, malam itu telah mencapai titik akhirnya.Jane duduk di kursi penumpang dengan punggung bersandar rapi. Ia melepaskan napas pelan, seolah baru saja keluar dari sebuah medan yang penuh tekanan.Brian fokus mengemudi, sorot matanya lurus ke depan, rahangnya sedikit mengeras. Suasana di dalam mobil terasa hening, tetapi bukan hening yang canggung—lebih seperti kelelahan yang sama-sama mereka pahami.Belum jauh mobil melaju, ponsel Brian bergetar. Ia melirik layar sekilas, lalu menghela napas panjang sebelum akhirnya menerima panggilan itu.“Ya,” jawab Brian singkat.Suara di seberang terdengar jelas meski Jane tidak bisa mendengar kata per kata. Nada itu tegas, tinggi, dan sarat otoritas. Brian mengendurkan bahu

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 73: Akan Menemukan Banyak Hal

    Sheila melangkah dengan cepat menghampiri John. Wajahnya memerah oleh amarah yang tidak lagi bisa dia tahan.Tangannya mengepal, bahunya naik turun menahan emosi yang mendidih sejak dia mendengar percakapan John dan Clara barusan.“Kau benar-benar keterlaluan!” bentaknya dengan nada yang cukup tajam. “Bagaimana mungkin kau punya hati sebusuk itu pada Brian?” teriaknya kemudian.John menatap Sheila dengan sorot mata keras. Namun berbeda dari sikapnya pada Clara tadi, kali ini ia memilih diam.Rahangnya mengeras, urat di pelipisnya menegang, sementara kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya, seolah menahan sesuatu yang ingin dia luapkan tetapi dia sendiri tidak sanggup mengucapkannya.Sementara Brian berdiri sedikit di belakang Sheila. Ia tidak ikut berteriak, tidak pula ikut memaki. Ia hanya menatap John dengan dingin, tatapan yang jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan. Tatapan itu membuat John refleks menelan ludah.“Kenapa, John?” Sheila kembali mendesak.“Kenapa kau tega melak

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 72: Kepergok Brian dan Sheila

    Lorong di sisi aula hotel itu lengang dan temaram, jauh dari hiruk-pikuk pesta yang masih berlangsung meriah di ruangan utama. Lampu dinding menyala redup, hanya memantulkan bayangan panjang di lantai marmer yang dingin. Di sanalah John berdiri berhadapan dengan Clara, wajahnya tegang, rahangnya mengeras seolah sedang menahan sesuatu yang berat.“Aku diancam oleh Brian,” ucap John akhirnya, dengan nada suara yang rendah namun sarat tekanan.Clara sontak mengernyit, jelas belum menangkap maksud ucapan itu. “Diancam?” tanyanya dengan nada suara yang meninggi. “Maksudmu apa?” lanjutnya.John menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan lorong itu benar-benar sepi. Tidak ada pelayan, tidak ada tamu yang berlalu-lalang. Setelah yakin, dia melangkah mendekat ke arah Clara dan menurunkan suaranya lebih jauh. “Sepertinya Brian tahu rencana kita.”Clara terdiam sejenak seraya menatap John dengan sorot mata tajam. “Rencana apa?” desaknya.“Rencana untuk mendekati Jane,” jawab John pelan. “Dan

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 71: Pesta Meriah Hills Group

    Pukul tujuh malam, Jane berdiri di depan cermin besar di kamar Brian. Cahaya lampu temaram memantul di permukaan kaca, menampilkan bayangan dirinya yang tampak berbeda dari biasanya.Gaun panjang berwarna gelap menjuntai anggun membalut tubuhnya. Punggung gaun itu terbuka, memperlihatkan lekuk punggungnya dengan elegan, sementara belahan dada yang tampak setengah memberi kesan dewasa dan berani, tanpa terkesan berlebihan.Jane menelan ludah pelan. Ia masih memandangi dirinya sendiri ketika pintu kamar terbuka dan Brian masuk.Langkah pria itu terhenti begitu matanya menangkap sosok Jane di depan cermin. Untuk beberapa detik, Brian hanya berdiri diam, menatap tanpa berkedip.“Kau ….” Brian menghela napas kecil lalu tersenyum. “Kau luar biasa cantik. Dan sangat seksi.”Jane tersenyum tipis, pipinya sedikit menghangat oleh pujian itu. Dia lalu menoleh menatap Brian melalui pantulan cermin. “Apa menurutmu aku berlebihan?” tanyanya dengan nada ragu.“Tidak,” jawab Brian cepat. “Kau sempurn

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 70: Pagi yang Panas

    Brian mengangkat tubuh Jane dengan enteng dan membuat wanita itu terkekeh saat dirinya kini duduk di meja makan sementara Brian berdiri di hadapannya.“Jangan menyesal jika aku terlalu liar, Jane. Karena kau yang memancing lebih dulu,” ucap Brian dengan tatapan matanya tak lepas dari Jane.Wanita itu hanya tersenyum rendah kemudian membuka mini dress yang dia kenakan itu dan memperlihatkan lekuk tubuhnya yang begitu indah.“Sentuh aku, Brian. Lebih dalam,” bisik Jane dengan suara paraunya.“Shitt!” umpat Brian dan langsung meraup bibir Jane dengan liar. Ciuman yang rakus, liar, dan panas di pagi hari itu membuat gairah Brian semakin membara.Lidahnya mengunci lidah Jane dan bibirnya melumat dengan dalam sampai membuat Jane mendesah pelan.“Terlalu dini untuk mendesah, Sayang,” bisik Brian dan kini bibirnya merayap di ceruk leher Jane.Mengisapnya hingga meninggalkan jejak merah keunguan di beberapa titik leher wanita itu. “Brian, mmh …,” desah Jane yang tidak mampu menahan diri untu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status