Home / Thriller / Collateral / CHAPTER IV : TRUST EXERCISE

Share

CHAPTER IV : TRUST EXERCISE

Author: bubblejuni
last update publish date: 2026-08-17 17:31:38

Kantor yang dimaksud Sara bukan gedung Walikota.

James baru sadar itu ketika mobil yang mereka naiki—Sara yang menyetir, tentu saja, dengan cara yang membuat James diam-diam berpegangan pada pegangan pintu selama dua blok pertama—berbelok menjauh dari arah City Hall, masuk ke jalan sempit di sisi selatan Financial District, berhenti di depan bangunan tanpa papan nama, hanya nomor 47 yang nyaris pudar di atas pintu logam yang terlihat seperti pintu masuk gudang biasa.

"Ini bukan kantor Walikota," katanya, lebih sebagai observasi daripada pertanyaan.

"Kau pintar juga," kata Sara, sudah keluar dari mobil, tidak menunggu James untuk membuka pintunya sendiri. "Kantor Walikota itu tempat aku kerja jadi Sara Riders. Ini tempat aku kerja jadi diriku sendiri."

Bagian dalam bangunan itu jauh lebih rapi daripada yang seharusnya dimiliki gudang biasa—lorong pendek dengan pencahayaan yang terlalu terang untuk terasa nyaman, tiga lapis pintu yang masing-masing membutuhkan kombinasi berbeda untuk dibuka, dan sebuah ruangan di ujung yang, begitu Sara menyalakan lampunya, terlihat seperti persilangan antara ruang kendali dan kantor pialang saham yang terlalu banyak monitor.

"The Forge punya properti di setiap kota besar yang kami anggap penting," kata Sara, sudah duduk di salah satu kursi, jarinya bergerak cepat di atas keyboard yang menyalakan setengah lusin layar sekaligus. "New York kebetulan dapat jatah lebih banyak daripada kota lain."

"Berapa banyak orang yang tahu tempat ini ada?"

"Untung yang ini hanya aku. Dan kau jadi orang kedua yang tahu tempat ini," kata Sara, tanpa mengangkat wajah dari layar. "Jadi kalau tempat ini kebakar minggu depan, aku tahu persis siapa yang harus kudatangi duluan."

James memutuskan untuk tidak menjawab itu.

Ia mengedarkan pandangan ke ruangan sambil melepas jaketnya, mata masih menyapu setiap sudut seperti kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar bisa ia matikan—rak arsip terkunci di sisi kiri, sebuah lemari pendingin kecil yang isinya, ia curiga, bukan cuma makanan, dan satu papan gabus di dinding belakang yang, begitu ia mendekat, ternyata sudah dipenuhi foto, benang merah, dan catatan tulisan tangan yang sebagian besar dalam bahasa yang bukan Inggris maupun Indonesia.

"Rusia?" tanya James, menunjuk salah satu catatan.

"Bahasa Prancis lama," kata Sara. "Kebiasaan pribadi. Aku suka mikir dalam bahasa yang beda tiap kasus, biar otakku nggak males."

"Kau ngomong berapa bahasa sebenarnya?"

“Lumayan banyak,” kata Sara dengan nada santainya. “Setidaknya jika aku di lempar kemana saja, aku bisa langsung beradapatasi dengan bahasanya. Sedikit keuntungan sebagai seseorang yang mampu mengingat segala hanya dengan sekali pandang, aku jadi mudah belajar apapun—termasuk bahasa.”

James mengangguk pelan, meski matanya masih menyimpan sesuatu yang mendekati waspada—bukan curiga langsung, tapi jenis kekaguman yang terlalu dekat dengan rasa nggak nyaman untuk benar-benar terasa seperti pujian.

"Nyaman banget hidupnya," katanya akhirnya, mencoba terdengar santai. "Aku aja butuh tiga tahun buat lancar bahasa Inggris waktu SMA, kau tinggal—apa, lihat sekali terus otomatis paham?"

"Nggak seindah itu," kata Sara, jarinya masih bergerak di keyboard. "Aku tetap harus latihan, cuma prosesnya lebih cepat daripada orang kebanyakan. Bukan sihir, James. Cuma otak yang kebetulan dikalibrasi buat kerjaan ini."

Ia berhenti bicara begitu salah satu layar di depannya menampilkan sesuatu yang jelas lebih menarik daripada obrolan soal bahasa. "Ini dia," katanya, menepuk layar dengan ujung jari. "Grup chat tim lapanganmu. Aku minta akses ke server-nya lewat—tidak penting caranya, kau nggak akan suka jawabannya. Yang penting, ini profil 'Nicholas Bennett'."

James condong lebih dekat. Foto profil itu generik—laki-laki paruh baya berjas, jenis foto yang bisa didapat dari database foto gratis mana pun di internet. Tanggal bergabung grup itu tertera jelas: sepuluh hari yang lalu.

"Sepuluh hari," gumam James. "Sebelum Samuel mati."

"Sebelum Samuel mati," Sara mengulang, "yang berarti siapa pun yang bikin akun ini sudah tahu bakal butuh jalur komunikasi ke timmu sebelum kejadian itu sendiri terjadi. Ini bukan reaksi. Ini persiapan."

"Ada alamat IP?"

"Ada," kata Sara, "tapi nggak berguna. Dilewatkan lewat enam proxy berbeda, terakhir keluar dari server yang secara resmi terdaftar di Estonia, yang secara nggak resmi cuma cangkang kosong buat siapa pun yang cukup bayar buat sewa. Jalan buntu buat orang kebanyakan."

"Tapi nggak buat kau."

Sudut bibir Sara bergerak sedikit—bukan senyum penuh, tapi cukup untuk membuat James tahu ia baru saja mengatakan sesuatu yang benar. "Bukan alamatnya yang menarik," katanya. "Tapi caranya. Enam proxy, protokol enkripsi lapis ganda, waktu pembuatan akun yang dijadwalkan biar terlihat organik—ini bukan kerjaan orang random yang iseng nyusup ke grup chat lapangan. Ini metode yang sangat spesifik. Aku pernah lihat metode ini sebelumnya."

"Di mana?"

Ada jeda—cukup lama untuk membuat James memperhatikan bahwa ini beda dari jeda-jeda Sara sebelumnya. Bukan jeda menghitung berapa banyak yang boleh diungkap. Lebih seperti jeda seseorang yang baru saja membaca ulang sesuatu di kepalanya sendiri, dua kali, untuk memastikan ia tidak salah lihat.

"Di pelatihanku," katanya akhirnya, pelan, terlalu pelan untuk nada seorang analis yang baru menemukan petunjuk bagus. "Ini metode yang diajarkan di tempat aku dilatih."

"Kau bilang," kata James perlahan, "ada orang yang dilatih sama seperti kau, yang bikin identitas palsu ini?"

"Aku bilang metodenya sama," Sara mengoreksi, jarinya berhenti bergerak di atas keyboard untuk pertama kalinya sejak mereka duduk di sini. "Bukan berarti orangnya dari The Forge. Metode bisa dicuri. Diajarkan ulang. Dijual, kalau kau tahu pasar gelap yang benar buat cari itu."

"Tapi kau nggak percaya itu."

Sara tidak menjawab. Matanya masih di layar, tapi James bisa melihat sesuatu di rahangnya—bukan ketakutan, sesuatu yang lebih dekat dengan kalkulasi seseorang yang baru saja menambahkan satu nama ke daftar yang sangat pendek di kepalanya, daftar yang ia tidak berniat membacakannya keras-keras kepada siapa pun, termasuk laki-laki yang duduk semeter darinya sekarang.

Ponsel di meja bergetar sebelum salah satu dari mereka sempat melanjutkan. Bukan ponsel Sara—ponsel James, layarnya menyala dengan nomor yang tidak tersimpan, hanya rangkaian angka yang, begitu James mengangkatnya dan mendengarkan selama tiga detik, membuat wajahnya berubah pucat.

"Kapan," katanya ke telepon, suaranya tiba-tiba jauh lebih tegang. "Berapa banyak?"

Sara sudah berputar penuh ke arahnya, semua perhatian teralih—dan kalau James cukup memperhatikan, cukup terlatih untuk membaca detail sekecil itu, mungkin ia akan sadar bahwa ekspresi Sara bukan ekspresi orang yang menunggu kabar buruk. Lebih seperti ekspresi orang yang menunggu konfirmasi.

James menutup telepon setelah beberapa detik lagi, tangannya sedikit gemetar saat memasukkan ponsel kembali ke saku.

"Tes kedua," katanya. "Baru saja terjadi. Sepuluh menit lalu."

"Berapa banyak kali ini?"

"Dua juta," kata James, matanya bertemu mata Sara. "Dan kali ini jalurnya bukan lewat clearing house yang kau tahu di ruang arsip itu."

"Terus lewat mana?"

"Federal Reserve New York," kata James. "Bagian cadangan darurat. Sistem yang katanya nggak akan pernah bisa diakses dari luar."

Sara diam.

Bukan diam karena kaget—James akan mengenali kaget yang sesungguhnya kalau ia melihatnya, dan ini bukan itu. Ini diam yang lebih seperti seseorang yang baru saja mendengar bahwa ada orang lain, di suatu tempat, sedang mencoba membuka pintu yang kuncinya sudah lama ada di saku jaketnya sendiri.

"Itu nggak mungkin," katanya akhirnya, dan untuk sekali ini, ada sesuatu di suaranya yang terdengar hampir jujur di tempat yang salah. "Fed Reserve nggak punya celah buat kredensial macam itu diakses dari luar sistem internal mereka."

"Makanya aku bilang ini tes," kata James, "bukan serangan penuh. Mereka nyoba nyari celahnya, dan kalau intelku benar, mereka udah cukup dekat buat bikin aku takut."

"Siapa 'mereka'," kata Sara, suaranya kembali datar, terkendali, "kalau bukan orang yang megang kunci itu?"

James membuka mulut untuk menjawab, lalu berhenti—karena, untuk pertama kalinya sejak percakapan ini dimulai, ia sendiri tidak yakin jawabannya.

"Itu," katanya pelan, "pertanyaan yang sama yang bikin aku nggak bisa tidur sejak dua jam lalu."

Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih kecil daripada sebelumnya, dikelilingi setengah lusin layar yang menyala tanpa suara, dan di antara semua data yang berkelap-kelip di sana, ada satu kebenaran yang tidak muncul di layar mana pun, tidak tercatat di server mana pun yang bisa James akses—bahwa perempuan yang duduk semeter darinya, yang baru saja membantu melacak identitas palsu dengan presisi yang nyaris menakutkan, sudah tahu persis siapa yang sedang mencoba membuka pintu Federal Reserve.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Collateral   CHAPTER VIII : BROKEN GLASS

    Pintu apartemen 1803 baru saja menutup di belakangnya waktu James mendengar decit sepatunya sendiri di karpet abu-abu, satu-satunya suara di koridor sepi itu selain dengungan AC yang tidak pernah benar-benar berhenti. Ia berjalan menuju lift dengan kepala penuh—Sara, Samuel White, nama yang belum ia dengar, laporan yang harus ia susun tanpa benar-benar tahu apa yang harus ia tulis di dalamnya.Ponselnya bergetar di saku jaket. Ia meraihnya, layar menyala dengan pesan dari atasannya, dan itulah alasan kenapa matanya sempat teralih dari jendela besar di ujung koridor—jendela kaca setinggi langit-langit yang menghadap ke arah gedung apartemen lain di seberang jalan, salah satu fitur "mewah" yang selalu dibanggakan brosur properti New York, pemandangan kota di malam hari yang berkelap-kelip tanpa peduli apa pun yang terjadi di baliknya.Kaca itu pecah sepersekian detik sebelum suara tembakan sampai ke telinganya.Bukan urutan yang seharusnya masuk akal—James tahu itu, bagian otaknya yang

  • Collateral   CHAPTER VII : OVERDUE

    Butuh tiga hari bagi James untuk berhenti mencari alasan supaya jantung Samuel White berhenti berdetak secara wajar.Tiga hari itu ia habiskan sendirian di ruang aman kedutaan, membongkar ulang setiap laporan toksikologi yang bisa ia akses—resmi maupun yang seharusnya tidak pernah keluar dari server BIN sama sekali—sampai akhirnya ia menemukan satu nama teknik yang cuma pernah ia baca sekali di modul pelatihan lanjutan, jenis yang diajarkan sebagai referensi, bukan sebagai keahlian yang harus dikuasai: serangan jantung yang diinduksi lewat titik tekanan saraf tertentu, nyaris mustahil dideteksi kecuali autopsi dilakukan dalam enam jam pertama oleh seseorang yang tahu persis apa yang harus dicari.The Forge mengajarkan itu. Bukan BIN, bukan CIA, bukan satu pun agensi yang pernah masuk radar James sepanjang kariernya.Ia tidak butuh bukti lagi setelah itu. Ia cuma butuh alamat.Dan percakapan di kamar hotel Amar tiga hari lalu—yang sebagiannya ia dengar sendiri lewat sadapan yang seharu

  • Collateral   CHAPTER VI : SOMEONE IMPORTANT

    Sara juga memiliki kemampuan untuk muncul di ruangan seolah dia bagian dari furniturnya sejak awal—bukan berteleportasi (itu sesuatu yang tidak mungkin terjadi di dunia ini), melainkan hasil dari bertahun-tahun mempelajari satu kebenaran sederhana yang kebanyakan orang tidak pernah sadari: tidak ada yang benar-benar memperhatikan siapa yang membawa nampan, siapa yang memegang clipboard, atau siapa yang berdiri di sudut ruangan dengan earpiece kecil di telinga. Orang-orang penting terlalu sibuk merasa penting untuk bertanya-tanya siapa yang melayani kepentingan mereka. Ada banyak hal yang tidak disadari kebanyakan orang, apalagi pada kerumunan orang penting. Orang-orang penting terlalu sibuk merasa penting untuk bertanya-tanya siapa yang melayani kepentingan mereka. Juga terlalu sibuk pada pikiran mereka sendiri sehingga mengabaikan kalau ada manusia yang mampu menyelinap masuk kemana saja. Ia sudah berada di sebuah kamar hotel mewah, jauh sebelum resepsi di lantai bawah bahkan menc

  • Collateral   CHAPTER V : SECOND SHOE

    "Kita perlu lacak sumber transaksinya," kata Sara, sudah berdiri, jarinya bergerak ke salah satu keyboard sambil separuh badannya masih menghadap James. "Tapi nggak dari sini. Fed Reserve pasti udah mulai audit internal begitu ada percobaan akses kayak gitu, dan kalau timku ikut nongol di log mereka sekarang, itu bakal jadi pertanyaan yang nggak perlu.""Jadi kita nunggu?""Kita nunggu jejaknya dingin dulu," kata Sara, "baru kita masuk lewat pintu belakang yang nggak ninggalin catatan kunjungan."James menyandarkan diri ke meja, mengamatinya bekerja—dan untuk pertama kalinya sejak mereka masuk ke ruangan ini, ia membiarkan dirinya benar-benar diam cukup lama untuk memperhatikan, bukan cuma mendengarkan“James, kau kenal Amaruddin Adnan.” kata Sara secara tiba-tiba.“Semua orang kenal dia, Sara.” kata James, bahunya sedikit rileks daripada ketika dia memasuki ruangan ini. “Orang terkaya se Asia, masuk top 50 orang terkaya di dunia. Orang-orang bilang kalau dirinya itu Tony Stark yang k

  • Collateral   CHAPTER IV : TRUST EXERCISE

    Kantor yang dimaksud Sara bukan gedung Walikota.James baru sadar itu ketika mobil yang mereka naiki—Sara yang menyetir, tentu saja, dengan cara yang membuat James diam-diam berpegangan pada pegangan pintu selama dua blok pertama—berbelok menjauh dari arah City Hall, masuk ke jalan sempit di sisi selatan Financial District, berhenti di depan bangunan tanpa papan nama, hanya nomor 47 yang nyaris pudar di atas pintu logam yang terlihat seperti pintu masuk gudang biasa."Ini bukan kantor Walikota," katanya, lebih sebagai observasi daripada pertanyaan."Kau pintar juga," kata Sara, sudah keluar dari mobil, tidak menunggu James untuk membuka pintunya sendiri. "Kantor Walikota itu tempat aku kerja jadi Sara Riders. Ini tempat aku kerja jadi diriku sendiri."Bagian dalam bangunan itu jauh lebih rapi daripada yang seharusnya dimiliki gudang biasa—lorong pendek dengan pencahayaan yang terlalu terang untuk terasa nyaman, tiga lapis pintu yang masing-masing membutuhkan kombinasi berbeda untuk di

  • Collateral   CHAPTER III : JUST NORMAL SATURDAY

    Sara tengah menikmati hari Sabtunya yang indah di sebuah kafe yang terletak di pinggiran jalan area Lower Manhattan—satu-satunya hari dalam seminggu ketika ia mengizinkan dirinya sendiri untuk benar-benar tidak menjadi siapa-siapa.Bukan Sara Riders, sekretaris pribadi Walikota yang tersenyum tepat pada waktunya dan tahu persis kapan harus menuang ulang gelas anggur seseorang. Bukan juga aset The Forge, nama sandi yang cuma dikenal segelintir orang lewat radio enkripsi dan pesan berkode di balik panel dapur. Cuma seorang perempuan dengan rambut lurus asli tanpa catokan, memakai jaket denim yang sudah ia pakai sejak entah kapan di kehidupan mana, duduk di meja kecil paling pojok sebuah kedai kopi yang menunya lebih mahal dari yang seharusnya tapi croissant-nya cukup enak untuk membuat harga itu terasa hampir masuk akal.Distrik finansial di hari Sabtu punya energi yang aneh—kosong dari jas dan dasi yang biasa memenuhi trotoarnya hari kerja, digantikan turis yang berfoto di depan patung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status