LOGINKantor yang dimaksud Sara bukan gedung Walikota.
James baru sadar itu ketika mobil yang mereka naiki—Sara yang menyetir, tentu saja, dengan cara yang membuat James diam-diam berpegangan pada pegangan pintu selama dua blok pertama—berbelok menjauh dari arah City Hall, masuk ke jalan sempit di sisi selatan Financial District, berhenti di depan bangunan tanpa papan nama, hanya nomor 47 yang nyaris pudar di atas pintu logam yang terlihat seperti pintu masuk gudang biasa.
"Ini bukan kantor Walikota," katanya, lebih sebagai observasi daripada pertanyaan.
"Kau pintar juga," kata Sara, sudah keluar dari mobil, tidak menunggu James untuk membuka pintunya sendiri. "Kantor Walikota itu tempat aku kerja jadi Sara Riders. Ini tempat aku kerja jadi diriku sendiri."
Bagian dalam bangunan itu jauh lebih rapi daripada yang seharusnya dimiliki gudang biasa—lorong pendek dengan pencahayaan yang terlalu terang untuk terasa nyaman, tiga lapis pintu yang masing-masing membutuhkan kombinasi berbeda untuk dibuka, dan sebuah ruangan di ujung yang, begitu Sara menyalakan lampunya, terlihat seperti persilangan antara ruang kendali dan kantor pialang saham yang terlalu banyak monitor.
"The Forge punya properti di setiap kota besar yang kami anggap penting," kata Sara, sudah duduk di salah satu kursi, jarinya bergerak cepat di atas keyboard yang menyalakan setengah lusin layar sekaligus. "New York kebetulan dapat jatah lebih banyak daripada kota lain."
"Berapa banyak orang yang tahu tempat ini ada?"
"Untung yang ini hanya aku. Dan kau jadi orang kedua yang tahu tempat ini," kata Sara, tanpa mengangkat wajah dari layar. "Jadi kalau tempat ini kebakar minggu depan, aku tahu persis siapa yang harus kudatangi duluan."
James memutuskan untuk tidak menjawab itu.
Ia mengedarkan pandangan ke ruangan sambil melepas jaketnya, mata masih menyapu setiap sudut seperti kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar bisa ia matikan—rak arsip terkunci di sisi kiri, sebuah lemari pendingin kecil yang isinya, ia curiga, bukan cuma makanan, dan satu papan gabus di dinding belakang yang, begitu ia mendekat, ternyata sudah dipenuhi foto, benang merah, dan catatan tulisan tangan yang sebagian besar dalam bahasa yang bukan Inggris maupun Indonesia.
"Rusia?" tanya James, menunjuk salah satu catatan.
"Bahasa Prancis lama," kata Sara. "Kebiasaan pribadi. Aku suka mikir dalam bahasa yang beda tiap kasus, biar otakku nggak males."
"Kau ngomong berapa bahasa sebenarnya?"
“Lumayan banyak,” kata Sara dengan nada santainya. “Setidaknya jika aku di lempar kemana saja, aku bisa langsung beradapatasi dengan bahasanya. Sedikit keuntungan sebagai seseorang yang mampu mengingat segala hanya dengan sekali pandang, aku jadi mudah belajar apapun—termasuk bahasa.”
James mengangguk pelan, meski matanya masih menyimpan sesuatu yang mendekati waspada—bukan curiga langsung, tapi jenis kekaguman yang terlalu dekat dengan rasa nggak nyaman untuk benar-benar terasa seperti pujian.
"Nyaman banget hidupnya," katanya akhirnya, mencoba terdengar santai. "Aku aja butuh tiga tahun buat lancar bahasa Inggris waktu SMA, kau tinggal—apa, lihat sekali terus otomatis paham?"
"Nggak seindah itu," kata Sara, jarinya masih bergerak di keyboard. "Aku tetap harus latihan, cuma prosesnya lebih cepat daripada orang kebanyakan. Bukan sihir, James. Cuma otak yang kebetulan dikalibrasi buat kerjaan ini."
Ia berhenti bicara begitu salah satu layar di depannya menampilkan sesuatu yang jelas lebih menarik daripada obrolan soal bahasa. "Ini dia," katanya, menepuk layar dengan ujung jari. "Grup chat tim lapanganmu. Aku minta akses ke server-nya lewat—tidak penting caranya, kau nggak akan suka jawabannya. Yang penting, ini profil 'Nicholas Bennett'."
James condong lebih dekat. Foto profil itu generik—laki-laki paruh baya berjas, jenis foto yang bisa didapat dari database foto gratis mana pun di internet. Tanggal bergabung grup itu tertera jelas: sepuluh hari yang lalu.
"Sepuluh hari," gumam James. "Sebelum Samuel mati."
"Sebelum Samuel mati," Sara mengulang, "yang berarti siapa pun yang bikin akun ini sudah tahu bakal butuh jalur komunikasi ke timmu sebelum kejadian itu sendiri terjadi. Ini bukan reaksi. Ini persiapan."
"Ada alamat IP?"
"Ada," kata Sara, "tapi nggak berguna. Dilewatkan lewat enam proxy berbeda, terakhir keluar dari server yang secara resmi terdaftar di Estonia, yang secara nggak resmi cuma cangkang kosong buat siapa pun yang cukup bayar buat sewa. Jalan buntu buat orang kebanyakan."
"Tapi nggak buat kau."
Sudut bibir Sara bergerak sedikit—bukan senyum penuh, tapi cukup untuk membuat James tahu ia baru saja mengatakan sesuatu yang benar. "Bukan alamatnya yang menarik," katanya. "Tapi caranya. Enam proxy, protokol enkripsi lapis ganda, waktu pembuatan akun yang dijadwalkan biar terlihat organik—ini bukan kerjaan orang random yang iseng nyusup ke grup chat lapangan. Ini metode yang sangat spesifik. Aku pernah lihat metode ini sebelumnya."
"Di mana?"
Ada jeda—cukup lama untuk membuat James memperhatikan bahwa ini beda dari jeda-jeda Sara sebelumnya. Bukan jeda menghitung berapa banyak yang boleh diungkap. Lebih seperti jeda seseorang yang baru saja membaca ulang sesuatu di kepalanya sendiri, dua kali, untuk memastikan ia tidak salah lihat.
"Di pelatihanku," katanya akhirnya, pelan, terlalu pelan untuk nada seorang analis yang baru menemukan petunjuk bagus. "Ini metode yang diajarkan di tempat aku dilatih."
"Kau bilang," kata James perlahan, "ada orang yang dilatih sama seperti kau, yang bikin identitas palsu ini?"
"Aku bilang metodenya sama," Sara mengoreksi, jarinya berhenti bergerak di atas keyboard untuk pertama kalinya sejak mereka duduk di sini. "Bukan berarti orangnya dari The Forge. Metode bisa dicuri. Diajarkan ulang. Dijual, kalau kau tahu pasar gelap yang benar buat cari itu."
"Tapi kau nggak percaya itu."
Sara tidak menjawab. Matanya masih di layar, tapi James bisa melihat sesuatu di rahangnya—bukan ketakutan, sesuatu yang lebih dekat dengan kalkulasi seseorang yang baru saja menambahkan satu nama ke daftar yang sangat pendek di kepalanya, daftar yang ia tidak berniat membacakannya keras-keras kepada siapa pun, termasuk laki-laki yang duduk semeter darinya sekarang.
Ponsel di meja bergetar sebelum salah satu dari mereka sempat melanjutkan. Bukan ponsel Sara—ponsel James, layarnya menyala dengan nomor yang tidak tersimpan, hanya rangkaian angka yang, begitu James mengangkatnya dan mendengarkan selama tiga detik, membuat wajahnya berubah pucat.
"Kapan," katanya ke telepon, suaranya tiba-tiba jauh lebih tegang. "Berapa banyak?"
Sara sudah berputar penuh ke arahnya, semua perhatian teralih—dan kalau James cukup memperhatikan, cukup terlatih untuk membaca detail sekecil itu, mungkin ia akan sadar bahwa ekspresi Sara bukan ekspresi orang yang menunggu kabar buruk. Lebih seperti ekspresi orang yang menunggu konfirmasi.
James menutup telepon setelah beberapa detik lagi, tangannya sedikit gemetar saat memasukkan ponsel kembali ke saku.
"Tes kedua," katanya. "Baru saja terjadi. Sepuluh menit lalu."
"Berapa banyak kali ini?"
"Dua juta," kata James, matanya bertemu mata Sara. "Dan kali ini jalurnya bukan lewat clearing house yang kau tahu di ruang arsip itu."
"Terus lewat mana?"
"Federal Reserve New York," kata James. "Bagian cadangan darurat. Sistem yang katanya nggak akan pernah bisa diakses dari luar."
Sara diam.
Bukan diam karena kaget—James akan mengenali kaget yang sesungguhnya kalau ia melihatnya, dan ini bukan itu. Ini diam yang lebih seperti seseorang yang baru saja mendengar bahwa ada orang lain, di suatu tempat, sedang mencoba membuka pintu yang kuncinya sudah lama ada di saku jaketnya sendiri.
"Itu nggak mungkin," katanya akhirnya, dan untuk sekali ini, ada sesuatu di suaranya yang terdengar hampir jujur di tempat yang salah. "Fed Reserve nggak punya celah buat kredensial macam itu diakses dari luar sistem internal mereka."
"Makanya aku bilang ini tes," kata James, "bukan serangan penuh. Mereka nyoba nyari celahnya, dan kalau intelku benar, mereka udah cukup dekat buat bikin aku takut."
"Siapa 'mereka'," kata Sara, suaranya kembali datar, terkendali, "kalau bukan orang yang megang kunci itu?"
James membuka mulut untuk menjawab, lalu berhenti—karena, untuk pertama kalinya sejak percakapan ini dimulai, ia sendiri tidak yakin jawabannya.
"Itu," katanya pelan, "pertanyaan yang sama yang bikin aku nggak bisa tidur sejak dua jam lalu."
Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih kecil daripada sebelumnya, dikelilingi setengah lusin layar yang menyala tanpa suara, dan di antara semua data yang berkelap-kelip di sana, ada satu kebenaran yang tidak muncul di layar mana pun, tidak tercatat di server mana pun yang bisa James akses—bahwa perempuan yang duduk semeter darinya, yang baru saja membantu melacak identitas palsu dengan presisi yang nyaris menakutkan, sudah tahu persis siapa yang sedang mencoba membuka pintu Federal Reserve.
Perjalanan dari Rumania ke Indonesia butuh waktu hampir dua puluh dua jam, terhitung dua kali transit dan satu kali pergantian identitas kecil di tengah jalan—bukan nama baru, cuma penyesuaian kecil di gaya rambut dan cara berjalan, cukup untuk membuat kamera pengenal wajah di Istanbul dan Doha melihat dua perempuan yang sedikit berbeda alih-alih satu orang yang sama melintasi tiga benua dalam sehari.Sara tidur sedikit di pesawat kedua, sesuatu yang jarang sekali dia izinkan dirinya lakukan di tengah perjalanan operasional, tapi tubuhnya sudah terlalu lelah untuk protes lebih jauh—empat bulan koordinasi dari balik meja, lima hari di peternakan yang jauh lebih menenangkan daripada yang dia akui, dan dua puluh dua jam terakhir yang menghapus semua sisa ketenangan itu sampai ke akarnya.Dia terbangun waktu pengumuman pendaratan berbunyi dalam bahasa yang, anehnya, terasa asing di telinganya sendiri meski itu bahasa yang lahir bersamanya—bahasa yang, kalau kata-kata Amaruddin Adnan di ka
Yelena ternyata benar mengenai kondisi sekarang dimana tidak memungkinkan untuk mencetak atau menerbitkan sebuah identitas baru bagi Sara. Akhirnya dirinya memutuskan untuk tinggal di rumah itu untuk beberapa hari.Hari pertama dia habiskan cuma buat memastikan tidak ada satu pun kendaraan asing lewat jalan setapak menuju rumah itu lebih dari sekali dalam sehari—duduk di jendela lantai atas dengan segelas air yang tidak pernah benar-benar dia minum, menghitung setiap traktor tua yang lewat, setiap anjing gembala yang menggonggong ke arah yang salah. Insting yang selama ini jadi alarm otomatis di kepalanya tetap menyala, meski di sekelilingnya cuma ada padang rumput dan bau kotoran sapi yang, entah kenapa, lama-lama jadi lumayan biasa dia cium tanpa mengernyit.Hari kedua, dia menyerah dan mulai membersihkan rumah seperti yang disuruh Yelena—bukan karena dia peduli soal debu, tapi karena tangannya butuh sesuatu untuk dikerjakan, dan ternyata menyapu lantai kayu tua jauh lebih menenangk
Rumah tersebut masih sangat terawat, mungkin hanya ada beberapa sarang laba-laba di sudut ruangan yang tampaknya sengaja dibiarkan—detail kecil yang, kalau dipikir lebih jauh, justru terlalu rapi untuk sebuah rumah yang katanya "terbengkalai."Ia melangkah lebih dalam, matanya menyapu setiap sudut dengan kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar mati. Perapian di sudut ruang tamu bersih dari abu lama, tapi ada tumpukan kayu bakar kering tersusun rapi di sampingnya—cukup untuk beberapa minggu, bukan sesuatu yang ditinggalkan begitu saja bertahun-tahun. Lemari kayu tua di dekat dapur, waktu ia buka, ternyata berisi kaleng-kaleng makanan yang tanggal kedaluwarsanya masih jauh, tersusun rapi seperti seseorang baru saja mengisinya ulang beberapa minggu lalu."Safehouse," gumamnya, lebih ke dirinya sendiri, sudut bibirnya bergerak sedikit—bukan senyum penuh, tapi sesuatu yang mendekati rasa hormat yang enggan. "Kau enggak pernah berhenti punya rencana cadangan, ya, Vostokoff."Ia menemuk
Hanya butuh lima belas menit buat Sara untuk menghabisi Elena Voicu dan seluruh penjaga di markas besar Forge.Bukan lima belas menit yang penuh teriakan atau kekacauan yang bisa didengar dari lantai lain. Justru sebaliknya—lima belas menit paling sunyi yang pernah dia ciptakan, karena setiap gerakan yang dia lakukan sudah dihitung untuk tidak menyisakan waktu bagi siapa pun berteriak cukup lama untuk didengar.Dia tidak ingat persis kapan tangannya berhenti terasa seperti miliknya sendiri. Mungkin di detik dia melihat wajah Voicu—wajah yang, untuk pertama kalinya sejak percakapan ini dimulai, tidak lagi berusaha menyembunyikan sesuatu, hanya menatap balik dengan ekspresi seseorang yang sudah lama menunggu ini terjadi, seolah dia sendiri lelah membawa kebenaran itu sendirian.Sara keluar dari ruangan itu dengan tangan yang gemetar untuk alasan yang sama sekali berbeda dari biasanya.Koridor di luar sudah sunyi—bukan sunyi karena tidak ada yang tersisa untuk bersuara, tapi sunyi karena
Sara tidak pernah bermimpi sebelumnya, tidak sejelas sekarang. Entah ini karena kedatangan Yelena yang perlahan membuka beberapa memori lama—yang dirinya sendiri lupa miliki. Ia mimpikan sebuah ruangan serba putih, terlalu putih karena ada puluhan lampu yang juga entah kenapa menyoroti langsung kearahnya. Dia enam tahun—atau mungkin lima, usia yang bahkan di dalam mimpi ini terasa kabur, seperti angka yang ditulis di atas kertas basah. Tubuhnya kecil, kakinya menggantung dari meja logam yang dingin menembus piyama tipis bercorak entah apa, corak yang sudah pudar dimakan waktu dan cucian berkali-kali di tempat yang tidak pernah benar-benar dia ingat sebagai rumah.Ada tali di pergelangan tangannya. Bukan tali kasar, justru terlalu lembut untuk sesuatu yang menahan gerak—jenis pengikat yang dirancang orang yang tahu persis bagaimana caranya menahan tubuh kecil tanpa meninggalkan memar yang bisa jadi bukti."Diam sebentar, sayang," kata seorang perempuan berjas putih, suaranya lembut d
Apartmen yang Sara huni adalah sebuah apartemen sederhana yang terletak diatas sebuah toko roti. Letaknya juga tak jauh dari kaki gunung—yang mana juga tak jauh dari markas utama The Forge. Membuat dirinya mudah untuk sekedar berjalan kaki dari apartemennya.Bau manis dari panggangan di pagi hari sudah seperti alarm pagi baginya. Sama seperti pegawai kantoran biasanya, hari minggu selalu sedikit lebih tenang daripada hari-hari biasa. Sara bahkan merasa seperti liburan alih-alih sebuah hukuman, walau terkadang jari tangannya sedikit gatal untuk tidak beraksi.Pagi ini berbeda dengan minggu seperti biasanya. Tidak ada pagi yang tenang dimana ia dibangunkan dengan bau harum pemanggangan roti. Hari memang sudah berganti, namun matahari belum terbit. Namun sepertinya hal itu tidak berlaku dengan sosok perempuan baru yang tiba-tiba sudah duduk di depan kasurnya.Sara tidak bergerak dari posisi berbaringnya. Insting pertamanya bukan panik—empat bulan menjalani kehidupan yang nyaris membosank







