LOGINSara tengah menikmati hari Sabtunya yang indah di sebuah kafe yang terletak di pinggiran jalan area Lower Manhattan—satu-satunya hari dalam seminggu ketika ia mengizinkan dirinya sendiri untuk benar-benar tidak menjadi siapa-siapa.
Bukan Sara Riders, sekretaris pribadi Walikota yang tersenyum tepat pada waktunya dan tahu persis kapan harus menuang ulang gelas anggur seseorang. Bukan juga aset The Forge, nama sandi yang cuma dikenal segelintir orang lewat radio enkripsi dan pesan berkode di balik panel dapur. Cuma seorang perempuan dengan rambut lurus asli tanpa catokan, memakai jaket denim yang sudah ia pakai sejak entah kapan di kehidupan mana, duduk di meja kecil paling pojok sebuah kedai kopi yang menunya lebih mahal dari yang seharusnya tapi croissant-nya cukup enak untuk membuat harga itu terasa hampir masuk akal.
Distrik finansial di hari Sabtu punya energi yang aneh—kosong dari jas dan dasi yang biasa memenuhi trotoarnya hari kerja, digantikan turis yang berfoto di depan patung banteng dengan ekspresi yang terlalu bersemangat, dan joggers yang mengira mereka satu-satunya orang cukup rajin untuk lari jam delapan pagi. Sara suka distrik ini justru karena kekosongan itu. Gedung-gedung yang selama seminggu penuh menyimpan uang orang lain dalam jumlah yang tidak masuk akal, hari ini cuma jadi latar belakang fotogenik buat orang-orang yang tidak tahu—dan tidak perlu tahu—apa yang sebenarnya bergerak di balik jendela kaca gelap itu.
Ia menyesap kopinya, membalik halaman buku yang sudah dua minggu ia coba selesaikan tanpa banyak kemajuan—bukan karena bukunya buruk, tapi karena bagian otaknya yang biasa mencerna informasi lebih suka mencerna wajah orang-orang yang lewat, pola langkah mereka, siapa yang berjalan terlalu lambat untuk sekadar lewat, siapa yang memegang ponsel dengan cara yang lebih seperti kamera daripada telepon.
Kebiasaan itu, ia sudah lama berhenti berharap bisa dimatikan.
"Ini kursi kosong?"
Sara tidak perlu mengangkat kepala untuk tahu siapa yang bertanya. Ia mengenali suara itu sekarang—cukup untuk membedakannya dari suara lain di kedai yang mulai ramai, cukup untuk merasakan sesuatu di dadanya yang, kalau ia jujur pada diri sendiri, bukan sepenuhnya kekesalan.
"Kursi itu kosong," katanya, tanpa mengangkat mata dari bukunya, "sampai lima detik lalu, waktu kau memutuskan hari Sabtuku bukan urusanmu."
James duduk saja tanpa menunggu izin lebih lanjut, meletakkan secangkir kopi hitam di meja—entah kapan ia sempat memesan, atau apakah ia memang sengaja masuk lewat pintu belakang lima menit lebih dulu hanya untuk membuat kedatangannya terlihat kebetulan. Ia mengenakan kaus polos dan jaket kulit yang, Sara akui dalam hati dengan enggan, jauh lebih pas dengan tubuhnya dibanding setelan department store yang ia pakai waktu pertama kali mereka bertemu.
"Aku nggak tau kau baca buku," kata James, melirik ke sampul yang menghadap ke arahnya. "Kupikir orang-orang macam kita cuma baca berkas dan laporan intelijen."
"Orang-orang macam kita juga butuh hobi supaya nggak jadi gila," kata Sara, akhirnya menutup bukunya, menyerah pada kenyataan bahwa hari Sabtunya baru saja resmi berakhir. "Gimana kau nemuin aku."
"Aku nggak nemuin kau." James menyesap kopinya, ekspresinya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja berbohong. "Kebetulan."
"James."
"Oke, fine. Kau check-in di aplikasi kopi ini tiap Sabtu jam sembilan pagi, tiga minggu berturut-turut, cukup konsisten buat siapa pun yang punya akses ke metadata lokasi buat nandain itu sebagai pola." Ia mengangkat bahu, tidak terlihat menyesal sama sekali. "Kebiasaan yang buruk buat orang di posisimu, ngomong-ngomong."
"Aku catat itu buat lain kali," kata Sara, datar, meski di dalam kepalanya ia sudah menyusun ulang seluruh rutinitas Sabtunya dari minggu depan. "Kau ganggu waktu liburku buat ngomongin metadata, atau ada alasan lain?"
Wajah James berubah sedikit, kehilangan nada bercanda yang tadi—cukup untuk membuat Sara duduk sedikit lebih tegak, insting lamanya langsung menyala.
"Ada pergerakan dana semalam," katanya, suaranya turun, meski kedai ini cukup ramai untuk membuat percakapan mereka tenggelam di antara obrolan orang lain. "Kecil. Nyaris nggak kentara kalau kau nggak tau apa yang harus dicari. Tapi rutenya lewat salah satu dari tiga clearing house yang aku sebutin di ruang arsip itu."
Sara merasakan sesuatu yang dingin menjalar lagi di tengkuknya, jenis dingin yang sudah mulai terasa familiar sejak tiga hari lalu. "Berapa banyak."
"Nggak banyak. Itu yang bikin ini lebih menakutkan daripada kalau jumlahnya besar." James memutar cangkir kopinya di atas meja, tidak benar-benar meminumnya. "Sembilan ratus dolar. Dipindah dari satu rekening ke rekening lain, terus balik lagi, empat kali dalam dua menit, lewat jalur yang seharusnya cuma bisa diakses pakai kredensial darurat itu."
"Tes," kata Sara pelan, memahami sebelum James sempat mengucapkannya.
"Tes," James mengangguk. "Seseorang lagi coba tau apakah kunci itu masih berfungsi. Kalau nominal kecil kayak gini lolos tanpa kena alarm sistem manapun, langkah berikutnya bakal jauh lebih besar dari sembilan ratus dolar."
Sara menyandarkan punggungnya ke kursi kayu kedai yang tidak nyaman itu, pikirannya bergerak lebih cepat daripada yang bisa diimbangi kopi pagi ini. "Jadi siapa pun yang punya kunci itu sekarang, mereka udah cukup nyaman buat mulai eksperimen."
"Atau," kata James, "mereka lagi ngetes seberapa cepat kita bakal notice."
Kalimat itu menggantung di antara mereka, dan untuk sesaat Sara nyaris lupa bahwa mereka sedang duduk di kedai kopi hari Sabtu, dikelilingi turis yang berfoto dan pasangan yang berbagi satu croissant dengan cara yang terlalu manis untuk ditonton jam sembilan pagi. Dunia normal itu terasa seperti panggung teater yang mereka berdua tonton dari balik tirai, tanpa benar-benar jadi bagian darinya.
"Kalau begitu," kata Sara akhirnya, "kita—"
Ledakan itu datang tanpa peringatan.
Berbeda dengan laki-laki dihadapannya yang nampak kaget dengan suara ledakan tersebut, Sara masih menyesap kopinya yang mulai dingin sembari terus membaca buku yang ada dipangkuannya. Beberapa orang juga nampak sedikit penasaran atas apa yang terjadi di dua blok dari sini. Namun beberapa juga nampak tak peduli apa yang terjadi, tetap melanjutkan kegiatan mereka. Sama seperti Sara.
James sudah setengah berdiri, satu tangan terangkat entah menuju arah pinggang atau arah dada—refleks lama yang, Sara curigai, sudah jadi bagian dari tulang belakangnya sejak lama—matanya menyapu cepat setiap sudut kedai, setiap wajah, setiap kemungkinan ancaman lanjutan yang mungkin menyusul ledakan pertama.
"Sara." Suaranya tajam, hampir seperti perintah. "Itu ledakan beneran. Kau denger itu, kan?"
"Aku denger," kata Sara, tanpa mengangkat kepala dari halaman yang sedang ia baca, menyesap kopinya sekali lagi dengan ketenangan yang, kalau ia jujur, sudah lama berhenti terasa seperti sesuatu yang perlu dipertanyakan olehnya sendiri. "Volumenya cukup sedang buat radius dua blok. Bukan bom kendaraan—terlalu terkontrol buat itu. Kemungkinan besar muatan kecil ditempatkan di titik struktural."
James menatapnya, ekspresi antara ngeri dan bingung yang, sejauh yang Sara ingat, belum pernah ia lihat di wajah laki-laki itu sebelumnya—bukan ngeri soal ledakannya, tapi ngeri soal betapa santainya perempuan di depannya menganalisis jenis bahan peledak sambil masih memegang cangkir kopi dengan jari kelingking sedikit terangkat.
"Ada orang yang baru aja ngebom sesuatu dua blok dari sini," katanya, "dan kau lagi—apa, mengkritik teknik peledakannya?"
“Bukan mengkritik, memuji.” kata Sara, akhirnya menutup bukunya, meski gerakannya masih terlalu santai untuk situasi yang, ia akui, cukup mendesak. “Presisinya sangat pas, kau lihat saja nanti di berita lokal tentang ledakan tersebut walau aku bisa bilang nantinya mereka tidak akan memberitakan hal sebenarnya—mungkin cuma kebocoran gas. Tapi lihat bagiamana efek dan lokasi, perfect.”
“You did that?”
“Jangan keras-keras, orang mungkin saja sedang menguping.” kata Sara dengan santai, kembali menyesap kopinya untuk terakhir kalinya. “Walau orang disini lebih masa bodoh dengan percakapan yang dilakukan orang lain, tidak seperti di negara asalmu.”
Ada nada sarkasme di kalimat terakhir yang Sara ucapkan, sengaja. James menatap Sara lebih lama dari yang seharusnya nyaman, mencoba mencerna kalimat terakhir itu—antara bercanda atau pengakuan setengah serius yang dibungkus nada santai.
"Kau bercanda," katanya akhirnya, meski nadanya tidak sepenuhnya yakin.
Sara menaikkan alisnya. “Am i?”
Sara membiarkan jeda itu bertahan sedikit lebih lama dari yang seharusnya, sudut bibirnya nyaris tidak bergerak—cukup ambigu untuk membuat James benar-benar tidak yakin apakah ia baru saja bercanda dengan agen intelijen yang punya alibi sempurna, atau baru saja duduk dua blok dari orang yang benar-benar meledakkan sebuah gedung.
"Sara."
"Apa," katanya, akhirnya berdiri, menyampirkan tas kanvasnya ke bahu dengan gerakan yang terlalu santai untuk situasi ini.
"Itu bukan jenis pertanyaan yang kau jawab pakai pertanyaan lagi."
"Justru itu jenis pertanyaan paling tepat buat dijawab pakai pertanyaan," kata Sara, mulai melangkah keluar dari kedai tanpa menunggu jawabannya. Suara sirene sudah mulai mendekat dari kejauhan, samar bercampur dengan keributan orang-orang yang berhenti dari aktivitas mereka untuk menonton asap hitam yang naik dua blok dari sana. "Kalau aku bilang 'tidak,' kau bakal percaya begitu saja? Kalau aku bilang 'iya,' kau bakal percaya itu juga? Kau baru kenal aku empat hari, James. Jawabanku nggak akan bikin bedanya apa-apa selain bikin kau merasa lebih tenang atau lebih nggak tenang—dan aku belum tau kau lebih pantas dapat yang mana."
“Kau tau apa yang ada disana?”
“Aku tinggal gak jauh dari sini, James.” kata Sara. Mereka berdua akhirnya meninggalkan area tersebut menuju taman yang letaknya tak jauh dari sana. Sebuah taman yang berada di tepat di depan gedung dinas Walikota. “Akan aneh kalau aku tidak hafal area sekitar sini. Aku tinggal dekat sini, bekerja juga di daerah ini, jangan lupakan pekerjaan utamaku sebagai mata-mata.”
James mengikuti langkah Sara tanpa protes lebih jauh, meski matanya masih sesekali melirik ke belakang, mengecek apayang terjadi di belakang mereka. Ada banyak ambulans yang berjejer di sepanjang jalan menuju lokasi ledakan, lampu merah-birunya berkedip tanpa suara di kejauhan, cukup jauh untuk tidak mengganggu ketenangan taman tempat mereka duduk, tapi cukup dekat untuk terus mengingatkan bahwa dua blok dari sini, sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar "kebocoran gas" baru saja terjadi.
“Apakah agen intelijen swasta selalu sesantai ini?”
“Disini, iya.” kata Sara. “People here couldn't give less of a fuck about what's happening around them. Kau bisa saja berteriak kalau di tengah-tengah mal mengatakan kalau kau adalah alien, dan people just continue their business. Why? Berbeda sekali dengan kultur yang ada di badan intelijen milik negara? Kalian lebih fokus pada laporan seabrek daripada operasi yang kalian jalankan.”
James menaikkan alis, setengah tersinggung setengah geli. "Itu tuduhan yang cukup berani buat orang yang belum pernah lihat cara kami kerja."
"Aku nggak perlu lihat," kata Sara, menyandarkan punggungnya ke bangku taman, kaki masih disilangkan dengan santai yang nyaris mengejek situasi di sekitar mereka. "Aku cuma perlu lihat caramu masuk ke lobi kantor Walikota hari itu—kartu nama kekinclong itu, cerita keluarga fiktif yang bahkan nggak sempat kau riset dengan benar. Itu bukan kesalahan orang lapangan, James. Itu kesalahan orang yang kebanyakan duduk di balik meja nulis laporan buat atasan yang lebih peduli format font daripada isi operasinya."
Rahang James mengeras sedikit, tapi ia tidak membantah—karena, sialnya, ada bagian dari dirinya yang tahu Sara tidak sepenuhnya salah.
"Divisi kami baru dibentuk ulang tiga tahun lalu," katanya akhirnya, nadanya sedikit defensif. "Belum semua orang terbiasa kerja di lapangan asing tanpa protokol berlapis. Beda sama—apa pun itu tempatmu, yang jelas kelewat santai buat urusan seserius ini."
“Tempat asalku—dimana aku dilatih untuk menjadi seperti ini juga tidak dibentuk belasan tahun yang lalu,”kata Sara, kini ia berjalan mundur menghadap laki-laki tersebut. “Tempatku berasal sudah ada bahkan jauh sebelum negaramu itu dinyatakan merdeka. Tapi bedanya kami dengan kalian adalah kami dilatih untuk gak buang-buang waktu. buat hal-hal yang nggak penting. Laporan cuma dibuat kalau ada yang perlu dilaporkan. Kalau nggak, kami kerja, selesai, pulang, nggak ada rapat evaluasi tiga jam buat bahas kenapa gelas anggur yang pecah di gala nggak masuk dalam catatan insiden."
James mengikuti langkahnya, sedikit mempercepat jalan agar tetap sejajar meski Sara berjalan mundur menghadapnya—gerakan yang, ia akui dalam hati, seharusnya terlihat konyol tapi entah kenapa malah terlihat seperti Sara sepenuhnya menguasai ruang di sekelilingnya, bahkan sambil berjalan mundur di tengah taman.
Bahkan ketika ada ranting pohon yang jatuh ke jalanan, Sara mampu menghindarinya tanpa erlu menoleh sedikit pun ke belakang, hanya menggeser tubuhnya beberapa senti ke kiri di detik yang tepat, seolah ranting itu sudah memberi tahu dirinya sendiri kapan akan jatuh. Satu gerakan yang bahkan James—seorang agen intelijen profesional, melihatnya bukan sesuatu yang menakjubkan.
Melainkan sesuatu yang mengerikan. Karena reflek tersebut tidak bisa dibentuk tiga atau empat tahun, melainkan belasan tahun. Dan melihat usia yang ditampilkan perempuan tersebut, kesimpulannya adalah siapapun yang merekrut perempuan ini melakukannya ketika perempuan itu masih di usia anak-anak.
“So, what else did you get from your mission besides the fact that they already have the key and tried to use it?" tanya Sara, memecah keheningan.
James tidak langsung menjawab. Ia meraih ponselnya yang bergetar pelan di saku jaketnya—pesan masuk, cukup singkat untuk dibaca dalam dua detik, tapi cukup untuk membuat alisnya berkerut dalam.
"Selain itu?" katanya akhirnya, menoleh ke arah Sara, suaranya lebih pelan sekarang, seolah taman kosong di depan gedung Walikota ini masih belum cukup sepi baginya. "Timku di lapangan baru aja kirim laporan awal dari lokasi. Katanya ada saksi—pemilik toko bunga di seberang gedung."
"Dan?"
“Do you trying to interrogate me? Mencoba untuk menggali informasi secara gratis?”
Sara menghela nafas panjang dan menatap James dengan pandangan tak percaya. “That's not how I obtain my intel. Biasanya aku ancam dulu orang yang memiliki informasi yang aku butuhkan, kemudian eliminate them. It’s more entertaining, more cinematic.”
"You sound like someone I know."
"Well, I hope they're worth knowing.”
James mengangkat alis, tapi tidak membantah. Ada jeda sebentar—cukup lama untuk membuat Sara berpikir dia sudah menang argumen ini—sebelum akhirnya dia mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya dan menggeser layar untuk membuka laporan.
“Toko bunga di depan Gracie Mansion? Tidak ada toko apapun disana. Kau yakin informasi itu benar?”
“Bukan toko, tapi penjual bunga dengan sepeda—kau tahu, ada seorang perempuan tua yang kemungkinan memang tengah lewat ketika Samuel menaiki taksinya malam itu.”
“Area Gracie Mansion malam itu steril.” kata Sara dengan wajahnya yang serius. “Kayaknya informanmu membebarkan informasi yang salah.”
James memasukkan ponselnya kembali ke saku, tidak terganggu oleh nada Sara. "Informanku nggak pernah salah soal detail sekecil ini. Dia yang paling teliti dari semua orang yang aku punya."
"Semua orang bisa salah, James. Apalagi kalau informasinya datang dari seseorang yang nggak ada di lokasi malam itu."
"Dia ada di lokasi." James menatap Sara lurus. "Itu masalahnya. Dia salah satu tim pengawasanmu sendiri."
“Sebutkan namanya.”
"Aku nggak bisa kasih tahu namanya. Bukan karena aku nggak percaya kamu, tapi karena aku janji sama dia." James mengangkat bahu, meski matanya nggak lepas dari reaksi Sara.
“I need a name, James.”
“Nicholas ‘Nick’ Bennett , Nick Bennett.” kata James pada akhirnya. “Kau tidak mungkin mengingat semua orang yang hadir pada malam itu.”
“Wanna bet?”
“50 bucks.”
“Deal,” kata Sara dengan senyum penuh kemenangan. “Kau baru saja menantang seseorang dengan kemampuan fotografik memori untuk mengingat. So give me your fifty—nevermind, take me to dinner. And, there is no Bennett, parahnya lagi tidak ada satupun orang dengan surname berawal ‘B’ yang hadir malam itu.”
James terdiam sejenak, senyum kecil yang tadi sempat muncul di wajahnya perlahan menghilang. "Kau yakin?"
"Aku barusan bilang aku punya ingatan fotografis., James, bukan lagi mabuk anggur di pesta amal." Sara menyilangkan tangan di depan dada. "Aku hafal setiap nama di daftar hadir malam itu, termasuk yang datang telat, yang nyelinap lewat pintu belakang buat ngerokok, dan satu pelayan yang ganti shift jam 11. Nggak ada Bennett. Nggak ada satupun huruf B."
"Itu nggak masuk akal. Aku baru aja bicara sama dia via telepon dua jam lalu."
"Coba pikir lagi, James." Sara melangkah lebih dekat, suaranya turun jadi hampir berbisik, tapi tajam. "Nama itu ada di sistem timmu? Di payroll? Di badge akses malam itu?"
James membuka mulut untuk menjawab, lalu berhenti. Sara bisa melihat momen itu—detik ketika keyakinannya mulai retak.
"Dia... dia ada di grup chat tim lapangan. Aku nggak pernah cek badge-nya secara langsung, itu bukan kerjaanku."
"Siapa yang menambahkan dia ke grup itu?"
Keheningan James kali ini lebih lama, dan lebih berat.
"Aku nggak inget," katanya pelan. "Aku pikir dia udah ada di situ dari awal."
Sara menatapnya lurus, dan untuk pertama kalinya malam itu, nada suaranya kehilangan semua unsur bercandanya. “Kau memang belajar dari orang yang salah. Hal pertama yang harus kau kerjakan dalam misi adalah mencari tahu tentang rekan timmu.”
“Kita tidak dianjurkan untuk saling kenal.”
“Then screw your country.”
James nyaris tersedak tawa yang ditahannya. "Itu treason, Sara. Aku bisa laporin kamu."
"Silakan. Laporin aku ke atasanmu yang sama, yang mungkin juga nggak pernah cek badge orang-orangnya sendiri." Sara nggak ikut tersenyum. Dia sudah kembali menatap ponselnya sendiri, jarinya bergerak cepat mengetik sesuatu—sepertinya pesan ke seseorang di luar percakapan ini. "Kalau Nick Bennett beneran cuma nama, aku mau tahu siapa yang bikin dia."
James mengamatinya bekerja, kesalnya tadi udah berganti jadi sesuatu yang lebih dekat dengan kekhawatiran. "Kalau ini yang aku pikirkan—"
"Ghost protocol," Sara memotong, nggak mengangkat wajah dari layar. "Seseorang bikin identitas palsu, nyusup ke channel komunikasi internal, dan nunggu waktu yang pas buat nyebarin informasi yang kelihatan sah. Informasi soal penjual bunga itu—itu bukan detail random, James. Itu dikasih ke kamu on purpose."
"Buat apa?"
Sara akhirnya mendongak, dan matanya penuh dengan sesuatu yang jauh lebih dingin dari kekhawatiran biasa. "Buat bikin kita ngabisin waktu ngejar bayangan, sementara orang yang beneran ada di lokasi malam itu—yang beneran tahu sesuatu—punya cukup waktu buat menghilang."
Dia mengirim pesannya, memasukkan ponsel ke saku, dan mulai berjalan ke arah mobil.
"Sara—"
"Kita perlu ke kantor sekarang, James. Dan kamu perlu mulai mikir ulang siapa aja yang sebenarnya ada di grup chat itu."
Pintu apartemen 1803 baru saja menutup di belakangnya waktu James mendengar decit sepatunya sendiri di karpet abu-abu, satu-satunya suara di koridor sepi itu selain dengungan AC yang tidak pernah benar-benar berhenti. Ia berjalan menuju lift dengan kepala penuh—Sara, Samuel White, nama yang belum ia dengar, laporan yang harus ia susun tanpa benar-benar tahu apa yang harus ia tulis di dalamnya.Ponselnya bergetar di saku jaket. Ia meraihnya, layar menyala dengan pesan dari atasannya, dan itulah alasan kenapa matanya sempat teralih dari jendela besar di ujung koridor—jendela kaca setinggi langit-langit yang menghadap ke arah gedung apartemen lain di seberang jalan, salah satu fitur "mewah" yang selalu dibanggakan brosur properti New York, pemandangan kota di malam hari yang berkelap-kelip tanpa peduli apa pun yang terjadi di baliknya.Kaca itu pecah sepersekian detik sebelum suara tembakan sampai ke telinganya.Bukan urutan yang seharusnya masuk akal—James tahu itu, bagian otaknya yang
Butuh tiga hari bagi James untuk berhenti mencari alasan supaya jantung Samuel White berhenti berdetak secara wajar.Tiga hari itu ia habiskan sendirian di ruang aman kedutaan, membongkar ulang setiap laporan toksikologi yang bisa ia akses—resmi maupun yang seharusnya tidak pernah keluar dari server BIN sama sekali—sampai akhirnya ia menemukan satu nama teknik yang cuma pernah ia baca sekali di modul pelatihan lanjutan, jenis yang diajarkan sebagai referensi, bukan sebagai keahlian yang harus dikuasai: serangan jantung yang diinduksi lewat titik tekanan saraf tertentu, nyaris mustahil dideteksi kecuali autopsi dilakukan dalam enam jam pertama oleh seseorang yang tahu persis apa yang harus dicari.The Forge mengajarkan itu. Bukan BIN, bukan CIA, bukan satu pun agensi yang pernah masuk radar James sepanjang kariernya.Ia tidak butuh bukti lagi setelah itu. Ia cuma butuh alamat.Dan percakapan di kamar hotel Amar tiga hari lalu—yang sebagiannya ia dengar sendiri lewat sadapan yang seharu
Sara juga memiliki kemampuan untuk muncul di ruangan seolah dia bagian dari furniturnya sejak awal—bukan berteleportasi (itu sesuatu yang tidak mungkin terjadi di dunia ini), melainkan hasil dari bertahun-tahun mempelajari satu kebenaran sederhana yang kebanyakan orang tidak pernah sadari: tidak ada yang benar-benar memperhatikan siapa yang membawa nampan, siapa yang memegang clipboard, atau siapa yang berdiri di sudut ruangan dengan earpiece kecil di telinga. Orang-orang penting terlalu sibuk merasa penting untuk bertanya-tanya siapa yang melayani kepentingan mereka. Ada banyak hal yang tidak disadari kebanyakan orang, apalagi pada kerumunan orang penting. Orang-orang penting terlalu sibuk merasa penting untuk bertanya-tanya siapa yang melayani kepentingan mereka. Juga terlalu sibuk pada pikiran mereka sendiri sehingga mengabaikan kalau ada manusia yang mampu menyelinap masuk kemana saja. Ia sudah berada di sebuah kamar hotel mewah, jauh sebelum resepsi di lantai bawah bahkan menc
"Kita perlu lacak sumber transaksinya," kata Sara, sudah berdiri, jarinya bergerak ke salah satu keyboard sambil separuh badannya masih menghadap James. "Tapi nggak dari sini. Fed Reserve pasti udah mulai audit internal begitu ada percobaan akses kayak gitu, dan kalau timku ikut nongol di log mereka sekarang, itu bakal jadi pertanyaan yang nggak perlu.""Jadi kita nunggu?""Kita nunggu jejaknya dingin dulu," kata Sara, "baru kita masuk lewat pintu belakang yang nggak ninggalin catatan kunjungan."James menyandarkan diri ke meja, mengamatinya bekerja—dan untuk pertama kalinya sejak mereka masuk ke ruangan ini, ia membiarkan dirinya benar-benar diam cukup lama untuk memperhatikan, bukan cuma mendengarkan“James, kau kenal Amaruddin Adnan.” kata Sara secara tiba-tiba.“Semua orang kenal dia, Sara.” kata James, bahunya sedikit rileks daripada ketika dia memasuki ruangan ini. “Orang terkaya se Asia, masuk top 50 orang terkaya di dunia. Orang-orang bilang kalau dirinya itu Tony Stark yang k
Kantor yang dimaksud Sara bukan gedung Walikota.James baru sadar itu ketika mobil yang mereka naiki—Sara yang menyetir, tentu saja, dengan cara yang membuat James diam-diam berpegangan pada pegangan pintu selama dua blok pertama—berbelok menjauh dari arah City Hall, masuk ke jalan sempit di sisi selatan Financial District, berhenti di depan bangunan tanpa papan nama, hanya nomor 47 yang nyaris pudar di atas pintu logam yang terlihat seperti pintu masuk gudang biasa."Ini bukan kantor Walikota," katanya, lebih sebagai observasi daripada pertanyaan."Kau pintar juga," kata Sara, sudah keluar dari mobil, tidak menunggu James untuk membuka pintunya sendiri. "Kantor Walikota itu tempat aku kerja jadi Sara Riders. Ini tempat aku kerja jadi diriku sendiri."Bagian dalam bangunan itu jauh lebih rapi daripada yang seharusnya dimiliki gudang biasa—lorong pendek dengan pencahayaan yang terlalu terang untuk terasa nyaman, tiga lapis pintu yang masing-masing membutuhkan kombinasi berbeda untuk di
Sara tengah menikmati hari Sabtunya yang indah di sebuah kafe yang terletak di pinggiran jalan area Lower Manhattan—satu-satunya hari dalam seminggu ketika ia mengizinkan dirinya sendiri untuk benar-benar tidak menjadi siapa-siapa.Bukan Sara Riders, sekretaris pribadi Walikota yang tersenyum tepat pada waktunya dan tahu persis kapan harus menuang ulang gelas anggur seseorang. Bukan juga aset The Forge, nama sandi yang cuma dikenal segelintir orang lewat radio enkripsi dan pesan berkode di balik panel dapur. Cuma seorang perempuan dengan rambut lurus asli tanpa catokan, memakai jaket denim yang sudah ia pakai sejak entah kapan di kehidupan mana, duduk di meja kecil paling pojok sebuah kedai kopi yang menunya lebih mahal dari yang seharusnya tapi croissant-nya cukup enak untuk membuat harga itu terasa hampir masuk akal.Distrik finansial di hari Sabtu punya energi yang aneh—kosong dari jas dan dasi yang biasa memenuhi trotoarnya hari kerja, digantikan turis yang berfoto di depan patung







