Home / Thriller / Collateral / CHAPTER III : JUST NORMAL SATURDAY

Share

CHAPTER III : JUST NORMAL SATURDAY

Author: bubblejuni
last update publish date: 2026-08-17 17:31:33

Sara tengah menikmati hari Sabtunya yang indah di sebuah kafe yang terletak di pinggiran jalan area Lower Manhattan—satu-satunya hari dalam seminggu ketika ia mengizinkan dirinya sendiri untuk benar-benar tidak menjadi siapa-siapa.

Bukan Sara Riders, sekretaris pribadi Walikota yang tersenyum tepat pada waktunya dan tahu persis kapan harus menuang ulang gelas anggur seseorang. Bukan juga aset The Forge, nama sandi yang cuma dikenal segelintir orang lewat radio enkripsi dan pesan berkode di balik panel dapur. Cuma seorang perempuan dengan rambut lurus asli tanpa catokan, memakai jaket denim yang sudah ia pakai sejak entah kapan di kehidupan mana, duduk di meja kecil paling pojok sebuah kedai kopi yang menunya lebih mahal dari yang seharusnya tapi croissant-nya cukup enak untuk membuat harga itu terasa hampir masuk akal.

Distrik finansial di hari Sabtu punya energi yang aneh—kosong dari jas dan dasi yang biasa memenuhi trotoarnya hari kerja, digantikan turis yang berfoto di depan patung banteng dengan ekspresi yang terlalu bersemangat, dan joggers yang mengira mereka satu-satunya orang cukup rajin untuk lari jam delapan pagi. Sara suka distrik ini justru karena kekosongan itu. Gedung-gedung yang selama seminggu penuh menyimpan uang orang lain dalam jumlah yang tidak masuk akal, hari ini cuma jadi latar belakang fotogenik buat orang-orang yang tidak tahu—dan tidak perlu tahu—apa yang sebenarnya bergerak di balik jendela kaca gelap itu.

Ia menyesap kopinya, membalik halaman buku yang sudah dua minggu ia coba selesaikan tanpa banyak kemajuan—bukan karena bukunya buruk, tapi karena bagian otaknya yang biasa mencerna informasi lebih suka mencerna wajah orang-orang yang lewat, pola langkah mereka, siapa yang berjalan terlalu lambat untuk sekadar lewat, siapa yang memegang ponsel dengan cara yang lebih seperti kamera daripada telepon.

Kebiasaan itu, ia sudah lama berhenti berharap bisa dimatikan.

"Ini kursi kosong?"

Sara tidak perlu mengangkat kepala untuk tahu siapa yang bertanya. Ia mengenali suara itu sekarang—cukup untuk membedakannya dari suara lain di kedai yang mulai ramai, cukup untuk merasakan sesuatu di dadanya yang, kalau ia jujur pada diri sendiri, bukan sepenuhnya kekesalan.

"Kursi itu kosong," katanya, tanpa mengangkat mata dari bukunya, "sampai lima detik lalu, waktu kau memutuskan hari Sabtuku bukan urusanmu."

James duduk saja tanpa menunggu izin lebih lanjut, meletakkan secangkir kopi hitam di meja—entah kapan ia sempat memesan, atau apakah ia memang sengaja masuk lewat pintu belakang lima menit lebih dulu hanya untuk membuat kedatangannya terlihat kebetulan. Ia mengenakan kaus polos dan jaket kulit yang, Sara akui dalam hati dengan enggan, jauh lebih pas dengan tubuhnya dibanding setelan department store yang ia pakai waktu pertama kali mereka bertemu.

"Aku nggak tau kau baca buku," kata James, melirik ke sampul yang menghadap ke arahnya. "Kupikir orang-orang macam kita cuma baca berkas dan laporan intelijen."

"Orang-orang macam kita juga butuh hobi supaya nggak jadi gila," kata Sara, akhirnya menutup bukunya, menyerah pada kenyataan bahwa hari Sabtunya baru saja resmi berakhir. "Gimana kau nemuin aku."

"Aku nggak nemuin kau." James menyesap kopinya, ekspresinya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja berbohong. "Kebetulan."

"James."

"Oke, fine. Kau check-in di aplikasi kopi ini tiap Sabtu jam sembilan pagi, tiga minggu berturut-turut, cukup konsisten buat siapa pun yang punya akses ke metadata lokasi buat nandain itu sebagai pola." Ia mengangkat bahu, tidak terlihat menyesal sama sekali. "Kebiasaan yang buruk buat orang di posisimu, ngomong-ngomong."

"Aku catat itu buat lain kali," kata Sara, datar, meski di dalam kepalanya ia sudah menyusun ulang seluruh rutinitas Sabtunya dari minggu depan. "Kau ganggu waktu liburku buat ngomongin metadata, atau ada alasan lain?"

Wajah James berubah sedikit, kehilangan nada bercanda yang tadi—cukup untuk membuat Sara duduk sedikit lebih tegak, insting lamanya langsung menyala.

"Ada pergerakan dana semalam," katanya, suaranya turun, meski kedai ini cukup ramai untuk membuat percakapan mereka tenggelam di antara obrolan orang lain. "Kecil. Nyaris nggak kentara kalau kau nggak tau apa yang harus dicari. Tapi rutenya lewat salah satu dari tiga clearing house yang aku sebutin di ruang arsip itu."

Sara merasakan sesuatu yang dingin menjalar lagi di tengkuknya, jenis dingin yang sudah mulai terasa familiar sejak tiga hari lalu. "Berapa banyak."

"Nggak banyak. Itu yang bikin ini lebih menakutkan daripada kalau jumlahnya besar." James memutar cangkir kopinya di atas meja, tidak benar-benar meminumnya. "Sembilan ratus dolar. Dipindah dari satu rekening ke rekening lain, terus balik lagi, empat kali dalam dua menit, lewat jalur yang seharusnya cuma bisa diakses pakai kredensial darurat itu."

"Tes," kata Sara pelan, memahami sebelum James sempat mengucapkannya.

"Tes," James mengangguk. "Seseorang lagi coba tau apakah kunci itu masih berfungsi. Kalau nominal kecil kayak gini lolos tanpa kena alarm sistem manapun, langkah berikutnya bakal jauh lebih besar dari sembilan ratus dolar."

Sara menyandarkan punggungnya ke kursi kayu kedai yang tidak nyaman itu, pikirannya bergerak lebih cepat daripada yang bisa diimbangi kopi pagi ini. "Jadi siapa pun yang punya kunci itu sekarang, mereka udah cukup nyaman buat mulai eksperimen."

"Atau," kata James, "mereka lagi ngetes seberapa cepat kita bakal notice."

Kalimat itu menggantung di antara mereka, dan untuk sesaat Sara nyaris lupa bahwa mereka sedang duduk di kedai kopi hari Sabtu, dikelilingi turis yang berfoto dan pasangan yang berbagi satu croissant dengan cara yang terlalu manis untuk ditonton jam sembilan pagi. Dunia normal itu terasa seperti panggung teater yang mereka berdua tonton dari balik tirai, tanpa benar-benar jadi bagian darinya.

"Kalau begitu," kata Sara akhirnya, "kita—"

Ledakan itu datang tanpa peringatan.

Berbeda dengan laki-laki dihadapannya yang nampak kaget dengan suara ledakan tersebut, Sara masih menyesap kopinya yang mulai dingin sembari terus membaca buku yang ada dipangkuannya. Beberapa orang juga nampak sedikit penasaran atas apa yang terjadi di dua blok dari sini.  Namun beberapa juga nampak tak peduli apa yang terjadi, tetap melanjutkan kegiatan mereka. Sama seperti Sara.

James sudah setengah berdiri, satu tangan terangkat entah menuju arah pinggang atau arah dada—refleks lama yang, Sara curigai, sudah jadi bagian dari tulang belakangnya sejak lama—matanya menyapu cepat setiap sudut kedai, setiap wajah, setiap kemungkinan ancaman lanjutan yang mungkin menyusul ledakan pertama.

"Sara." Suaranya tajam, hampir seperti perintah. "Itu ledakan beneran. Kau denger itu, kan?"

"Aku denger," kata Sara, tanpa mengangkat kepala dari halaman yang sedang ia baca, menyesap kopinya sekali lagi dengan ketenangan yang, kalau ia jujur, sudah lama berhenti terasa seperti sesuatu yang perlu dipertanyakan olehnya sendiri. "Volumenya cukup sedang buat radius dua blok. Bukan bom kendaraan—terlalu terkontrol buat itu. Kemungkinan besar muatan kecil ditempatkan di titik struktural."

James menatapnya, ekspresi antara ngeri dan bingung yang, sejauh yang Sara ingat, belum pernah ia lihat di wajah laki-laki itu sebelumnya—bukan ngeri soal ledakannya, tapi ngeri soal betapa santainya perempuan di depannya menganalisis jenis bahan peledak sambil masih memegang cangkir kopi dengan jari kelingking sedikit terangkat.

"Ada orang yang baru aja ngebom sesuatu dua blok dari sini," katanya, "dan kau lagi—apa, mengkritik teknik peledakannya?"

“Bukan mengkritik, memuji.” kata Sara, akhirnya menutup bukunya, meski gerakannya masih terlalu santai untuk situasi yang, ia akui, cukup mendesak. “Presisinya sangat pas, kau lihat saja nanti di berita lokal tentang ledakan tersebut walau aku bisa bilang nantinya mereka tidak akan memberitakan hal sebenarnya—mungkin cuma kebocoran gas. Tapi lihat bagiamana efek dan lokasi, perfect.”

“You did that?”

“Jangan keras-keras, orang mungkin saja sedang menguping.” kata Sara dengan santai, kembali menyesap kopinya untuk terakhir kalinya. “Walau orang disini lebih masa bodoh dengan percakapan yang dilakukan orang lain, tidak seperti di negara asalmu.”

Ada nada sarkasme di kalimat terakhir yang Sara ucapkan, sengaja. James menatap Sara lebih lama dari yang seharusnya nyaman, mencoba mencerna kalimat terakhir itu—antara bercanda atau pengakuan setengah serius yang dibungkus nada santai.

"Kau bercanda," katanya akhirnya, meski nadanya tidak sepenuhnya yakin.

Sara menaikkan alisnya. “Am i?”

Sara membiarkan jeda itu bertahan sedikit lebih lama dari yang seharusnya, sudut bibirnya nyaris tidak bergerak—cukup ambigu untuk membuat James benar-benar tidak yakin apakah ia baru saja bercanda dengan agen intelijen yang punya alibi sempurna, atau baru saja duduk dua blok dari orang yang benar-benar meledakkan sebuah gedung.

"Sara."

"Apa," katanya, akhirnya berdiri, menyampirkan tas kanvasnya ke bahu dengan gerakan yang terlalu santai untuk situasi ini.

"Itu bukan jenis pertanyaan yang kau jawab pakai pertanyaan lagi."

"Justru itu jenis pertanyaan paling tepat buat dijawab pakai pertanyaan," kata Sara, mulai melangkah keluar dari kedai tanpa menunggu jawabannya. Suara sirene sudah mulai mendekat dari kejauhan, samar bercampur dengan keributan orang-orang yang berhenti dari aktivitas mereka untuk menonton asap hitam yang naik dua blok dari sana. "Kalau aku bilang 'tidak,' kau bakal percaya begitu saja? Kalau aku bilang 'iya,' kau bakal percaya itu juga? Kau baru kenal aku empat hari, James. Jawabanku nggak akan bikin bedanya apa-apa selain bikin kau merasa lebih tenang atau lebih nggak tenang—dan aku belum tau kau lebih pantas dapat yang mana."

“Kau tau apa yang ada disana?”

“Aku tinggal gak jauh dari sini, James.” kata Sara. Mereka berdua akhirnya meninggalkan area tersebut menuju taman yang letaknya tak jauh dari sana. Sebuah taman yang berada di tepat di depan gedung dinas Walikota. “Akan aneh kalau aku tidak hafal area sekitar sini. Aku tinggal dekat sini, bekerja juga di daerah ini, jangan lupakan pekerjaan utamaku sebagai mata-mata.”

James mengikuti langkah Sara tanpa protes lebih jauh, meski matanya masih sesekali melirik ke belakang, mengecek apayang terjadi di belakang mereka. Ada banyak ambulans yang berjejer di sepanjang jalan menuju lokasi ledakan, lampu merah-birunya berkedip tanpa suara di kejauhan, cukup jauh untuk tidak mengganggu ketenangan taman tempat mereka duduk, tapi cukup dekat untuk terus mengingatkan bahwa dua blok dari sini, sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar "kebocoran gas" baru saja terjadi. 

“Apakah agen intelijen swasta selalu sesantai ini?”

“Disini, iya.” kata Sara. “People here couldn't give less of a fuck about what's happening around them. Kau bisa saja berteriak kalau di tengah-tengah mal mengatakan kalau kau adalah alien, dan people just continue their business. Why? Berbeda sekali dengan kultur yang ada di badan intelijen milik negara? Kalian lebih fokus pada laporan seabrek daripada operasi yang kalian jalankan.”

James menaikkan alis, setengah tersinggung setengah geli. "Itu tuduhan yang cukup berani buat orang yang belum pernah lihat cara kami kerja."

"Aku nggak perlu lihat," kata Sara, menyandarkan punggungnya ke bangku taman, kaki masih disilangkan dengan santai yang nyaris mengejek situasi di sekitar mereka. "Aku cuma perlu lihat caramu masuk ke lobi kantor Walikota hari itu—kartu nama kekinclong itu, cerita keluarga fiktif yang bahkan nggak sempat kau riset dengan benar. Itu bukan kesalahan orang lapangan, James. Itu kesalahan orang yang kebanyakan duduk di balik meja nulis laporan buat atasan yang lebih peduli format font daripada isi operasinya."

Rahang James mengeras sedikit, tapi ia tidak membantah—karena, sialnya, ada bagian dari dirinya yang tahu Sara tidak sepenuhnya salah.

"Divisi kami baru dibentuk ulang tiga tahun lalu," katanya akhirnya, nadanya sedikit defensif. "Belum semua orang terbiasa kerja di lapangan asing tanpa protokol berlapis. Beda sama—apa pun itu tempatmu, yang jelas kelewat santai buat urusan seserius ini."

“Tempat asalku—dimana aku dilatih untuk menjadi seperti ini juga tidak dibentuk belasan tahun yang lalu,”kata Sara, kini ia berjalan mundur menghadap laki-laki tersebut. “Tempatku berasal sudah ada bahkan jauh sebelum negaramu itu dinyatakan merdeka. Tapi bedanya kami dengan kalian adalah kami dilatih untuk gak buang-buang waktu. buat hal-hal yang nggak penting. Laporan cuma dibuat kalau ada yang perlu dilaporkan. Kalau nggak, kami kerja, selesai, pulang, nggak ada rapat evaluasi tiga jam buat bahas kenapa gelas anggur yang pecah di gala nggak masuk dalam catatan insiden." 

James mengikuti langkahnya, sedikit mempercepat jalan agar tetap sejajar meski Sara berjalan mundur menghadapnya—gerakan yang, ia akui dalam hati, seharusnya terlihat konyol tapi entah kenapa malah terlihat seperti Sara sepenuhnya menguasai ruang di sekelilingnya, bahkan sambil berjalan mundur di tengah taman. 

Bahkan ketika ada ranting pohon yang jatuh ke jalanan, Sara mampu menghindarinya tanpa erlu menoleh sedikit pun ke belakang, hanya menggeser tubuhnya beberapa senti ke kiri di detik yang tepat, seolah ranting itu sudah memberi tahu dirinya sendiri kapan akan jatuh. Satu gerakan yang bahkan James—seorang agen intelijen profesional, melihatnya bukan sesuatu yang menakjubkan. 

Melainkan sesuatu yang mengerikan. Karena reflek tersebut tidak bisa dibentuk tiga atau empat tahun, melainkan belasan tahun. Dan melihat usia yang ditampilkan perempuan tersebut, kesimpulannya adalah siapapun yang merekrut perempuan ini melakukannya ketika perempuan itu masih di usia anak-anak.

“So, what else did you get from your mission besides the fact that they already have the key and tried to use it?" tanya Sara, memecah keheningan.

James tidak langsung menjawab. Ia meraih ponselnya yang bergetar pelan di saku jaketnya—pesan masuk, cukup singkat untuk dibaca dalam dua detik, tapi cukup untuk membuat alisnya berkerut dalam.

"Selain itu?" katanya akhirnya, menoleh ke arah Sara, suaranya lebih pelan sekarang, seolah taman kosong di depan gedung Walikota ini masih belum cukup sepi baginya. "Timku di lapangan baru aja kirim laporan awal dari lokasi. Katanya ada saksi—pemilik toko bunga di seberang gedung."

"Dan?"

“Do you trying to interrogate me? Mencoba untuk menggali informasi secara gratis?”

Sara menghela nafas panjang dan menatap James dengan pandangan tak percaya. “That's not how I obtain my intel. Biasanya aku ancam dulu orang yang memiliki informasi yang aku butuhkan, kemudian eliminate them. It’s more entertaining, more cinematic.”

"You sound like someone I know."

"Well, I hope they're worth knowing.”

James mengangkat alis, tapi tidak membantah. Ada jeda sebentar—cukup lama untuk membuat Sara berpikir dia sudah menang argumen ini—sebelum akhirnya dia mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya dan menggeser layar untuk membuka laporan.

“Toko bunga di depan Gracie Mansion? Tidak ada toko apapun disana. Kau yakin informasi itu benar?”

“Bukan toko, tapi penjual bunga dengan sepeda—kau tahu, ada seorang perempuan tua yang kemungkinan memang tengah lewat ketika Samuel menaiki taksinya malam itu.”

“Area Gracie Mansion malam itu steril.” kata Sara dengan wajahnya yang serius. “Kayaknya informanmu membebarkan informasi yang salah.”

James memasukkan ponselnya kembali ke saku, tidak terganggu oleh nada Sara. "Informanku nggak pernah salah soal detail sekecil ini. Dia yang paling teliti dari semua orang yang aku punya."

"Semua orang bisa salah, James. Apalagi kalau informasinya datang dari seseorang yang nggak ada di lokasi malam itu."

"Dia ada di lokasi." James menatap Sara lurus. "Itu masalahnya. Dia salah satu tim pengawasanmu sendiri."

“Sebutkan namanya.”

"Aku nggak bisa kasih tahu namanya. Bukan karena aku nggak percaya kamu, tapi karena aku janji sama dia." James mengangkat bahu, meski matanya nggak lepas dari reaksi Sara. 

“I need a name, James.”

“Nicholas ‘Nick’ Bennett , Nick Bennett.” kata James pada akhirnya. “Kau tidak mungkin mengingat semua orang yang hadir pada malam itu.”

“Wanna bet?”

“50 bucks.”

“Deal,” kata Sara dengan senyum penuh kemenangan. “Kau baru saja menantang seseorang dengan kemampuan fotografik memori untuk mengingat. So give me your fifty—nevermind, take me to dinner. And, there is no Bennett, parahnya lagi tidak ada satupun orang dengan surname berawal ‘B’ yang hadir malam itu.”

James terdiam sejenak, senyum kecil yang tadi sempat muncul di wajahnya perlahan menghilang. "Kau yakin?"

"Aku barusan bilang aku punya ingatan fotografis., James, bukan lagi mabuk anggur di pesta amal." Sara menyilangkan tangan di depan dada. "Aku hafal setiap nama di daftar hadir malam itu, termasuk yang datang telat, yang nyelinap lewat pintu belakang buat ngerokok, dan satu pelayan yang ganti shift jam 11. Nggak ada Bennett. Nggak ada satupun huruf B."

"Itu nggak masuk akal. Aku baru aja bicara sama dia via telepon dua jam lalu."

"Coba pikir lagi, James." Sara melangkah lebih dekat, suaranya turun jadi hampir berbisik, tapi tajam. "Nama itu ada di sistem timmu? Di payroll? Di badge akses malam itu?"

James membuka mulut untuk menjawab, lalu berhenti. Sara bisa melihat momen itu—detik ketika keyakinannya mulai retak.

"Dia... dia ada di grup chat tim lapangan. Aku nggak pernah cek badge-nya secara langsung, itu bukan kerjaanku."

"Siapa yang menambahkan dia ke grup itu?"

Keheningan James kali ini lebih lama, dan lebih berat.

"Aku nggak inget," katanya pelan. "Aku pikir dia udah ada di situ dari awal."

Sara menatapnya lurus, dan untuk pertama kalinya malam itu, nada suaranya kehilangan semua unsur bercandanya. “Kau memang belajar dari orang yang salah. Hal pertama yang harus kau kerjakan dalam misi adalah mencari tahu tentang rekan timmu.”

“Kita tidak dianjurkan untuk saling kenal.”

“Then screw your country.”

James nyaris tersedak tawa yang ditahannya. "Itu treason, Sara. Aku bisa laporin kamu."

"Silakan. Laporin aku ke atasanmu yang sama, yang mungkin juga nggak pernah cek badge orang-orangnya sendiri." Sara nggak ikut tersenyum. Dia sudah kembali menatap ponselnya sendiri, jarinya bergerak cepat mengetik sesuatu—sepertinya pesan ke seseorang di luar percakapan ini. "Kalau Nick Bennett beneran cuma nama, aku mau tahu siapa yang bikin dia."

James mengamatinya bekerja, kesalnya tadi udah berganti jadi sesuatu yang lebih dekat dengan kekhawatiran. "Kalau ini yang aku pikirkan—"

"Ghost protocol," Sara memotong, nggak mengangkat wajah dari layar. "Seseorang bikin identitas palsu, nyusup ke channel komunikasi internal, dan nunggu waktu yang pas buat nyebarin informasi yang kelihatan sah. Informasi soal penjual bunga itu—itu bukan detail random, James. Itu dikasih ke kamu on purpose."

"Buat apa?"

Sara akhirnya mendongak, dan matanya penuh dengan sesuatu yang jauh lebih dingin dari kekhawatiran biasa. "Buat bikin kita ngabisin waktu ngejar bayangan, sementara orang yang beneran ada di lokasi malam itu—yang beneran tahu sesuatu—punya cukup waktu buat menghilang."

Dia mengirim pesannya, memasukkan ponsel ke saku, dan mulai berjalan ke arah mobil.

"Sara—"

"Kita perlu ke kantor sekarang, James. Dan kamu perlu mulai mikir ulang siapa aja yang sebenarnya ada di grup chat itu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Collateral   CHAPTER XXXI : SETTLEMENT DATE

    Perjalanan dari Rumania ke Indonesia butuh waktu hampir dua puluh dua jam, terhitung dua kali transit dan satu kali pergantian identitas kecil di tengah jalan—bukan nama baru, cuma penyesuaian kecil di gaya rambut dan cara berjalan, cukup untuk membuat kamera pengenal wajah di Istanbul dan Doha melihat dua perempuan yang sedikit berbeda alih-alih satu orang yang sama melintasi tiga benua dalam sehari.Sara tidur sedikit di pesawat kedua, sesuatu yang jarang sekali dia izinkan dirinya lakukan di tengah perjalanan operasional, tapi tubuhnya sudah terlalu lelah untuk protes lebih jauh—empat bulan koordinasi dari balik meja, lima hari di peternakan yang jauh lebih menenangkan daripada yang dia akui, dan dua puluh dua jam terakhir yang menghapus semua sisa ketenangan itu sampai ke akarnya.Dia terbangun waktu pengumuman pendaratan berbunyi dalam bahasa yang, anehnya, terasa asing di telinganya sendiri meski itu bahasa yang lahir bersamanya—bahasa yang, kalau kata-kata Amaruddin Adnan di ka

  • Collateral   CHAPTER XXX : FARM

    Yelena ternyata benar mengenai kondisi sekarang dimana tidak memungkinkan untuk mencetak atau menerbitkan sebuah identitas baru bagi Sara. Akhirnya dirinya memutuskan untuk tinggal di rumah itu untuk beberapa hari.Hari pertama dia habiskan cuma buat memastikan tidak ada satu pun kendaraan asing lewat jalan setapak menuju rumah itu lebih dari sekali dalam sehari—duduk di jendela lantai atas dengan segelas air yang tidak pernah benar-benar dia minum, menghitung setiap traktor tua yang lewat, setiap anjing gembala yang menggonggong ke arah yang salah. Insting yang selama ini jadi alarm otomatis di kepalanya tetap menyala, meski di sekelilingnya cuma ada padang rumput dan bau kotoran sapi yang, entah kenapa, lama-lama jadi lumayan biasa dia cium tanpa mengernyit.Hari kedua, dia menyerah dan mulai membersihkan rumah seperti yang disuruh Yelena—bukan karena dia peduli soal debu, tapi karena tangannya butuh sesuatu untuk dikerjakan, dan ternyata menyapu lantai kayu tua jauh lebih menenangk

  • Collateral   CHAPTER XXIX : SAFE HOUSE

    Rumah tersebut masih sangat terawat, mungkin hanya ada beberapa sarang laba-laba di sudut ruangan yang tampaknya sengaja dibiarkan—detail kecil yang, kalau dipikir lebih jauh, justru terlalu rapi untuk sebuah rumah yang katanya "terbengkalai."Ia melangkah lebih dalam, matanya menyapu setiap sudut dengan kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar mati. Perapian di sudut ruang tamu bersih dari abu lama, tapi ada tumpukan kayu bakar kering tersusun rapi di sampingnya—cukup untuk beberapa minggu, bukan sesuatu yang ditinggalkan begitu saja bertahun-tahun. Lemari kayu tua di dekat dapur, waktu ia buka, ternyata berisi kaleng-kaleng makanan yang tanggal kedaluwarsanya masih jauh, tersusun rapi seperti seseorang baru saja mengisinya ulang beberapa minggu lalu."Safehouse," gumamnya, lebih ke dirinya sendiri, sudut bibirnya bergerak sedikit—bukan senyum penuh, tapi sesuatu yang mendekati rasa hormat yang enggan. "Kau enggak pernah berhenti punya rencana cadangan, ya, Vostokoff."Ia menemuk

  • Collateral   CHAPTER XXVIII : HOME FIRE

    Hanya butuh lima belas menit buat Sara untuk menghabisi Elena Voicu dan seluruh penjaga di markas besar Forge.Bukan lima belas menit yang penuh teriakan atau kekacauan yang bisa didengar dari lantai lain. Justru sebaliknya—lima belas menit paling sunyi yang pernah dia ciptakan, karena setiap gerakan yang dia lakukan sudah dihitung untuk tidak menyisakan waktu bagi siapa pun berteriak cukup lama untuk didengar.Dia tidak ingat persis kapan tangannya berhenti terasa seperti miliknya sendiri. Mungkin di detik dia melihat wajah Voicu—wajah yang, untuk pertama kalinya sejak percakapan ini dimulai, tidak lagi berusaha menyembunyikan sesuatu, hanya menatap balik dengan ekspresi seseorang yang sudah lama menunggu ini terjadi, seolah dia sendiri lelah membawa kebenaran itu sendirian.Sara keluar dari ruangan itu dengan tangan yang gemetar untuk alasan yang sama sekali berbeda dari biasanya.Koridor di luar sudah sunyi—bukan sunyi karena tidak ada yang tersisa untuk bersuara, tapi sunyi karena

  • Collateral   CHAPTER XXVII : THE REAL COLLATERAL

    Sara tidak pernah bermimpi sebelumnya, tidak sejelas sekarang. Entah ini karena kedatangan Yelena yang perlahan membuka beberapa memori lama—yang dirinya sendiri lupa miliki. Ia mimpikan sebuah ruangan serba putih, terlalu putih karena ada puluhan lampu yang juga entah kenapa menyoroti langsung kearahnya. Dia enam tahun—atau mungkin lima, usia yang bahkan di dalam mimpi ini terasa kabur, seperti angka yang ditulis di atas kertas basah. Tubuhnya kecil, kakinya menggantung dari meja logam yang dingin menembus piyama tipis bercorak entah apa, corak yang sudah pudar dimakan waktu dan cucian berkali-kali di tempat yang tidak pernah benar-benar dia ingat sebagai rumah.Ada tali di pergelangan tangannya. Bukan tali kasar, justru terlalu lembut untuk sesuatu yang menahan gerak—jenis pengikat yang dirancang orang yang tahu persis bagaimana caranya menahan tubuh kecil tanpa meninggalkan memar yang bisa jadi bukti."Diam sebentar, sayang," kata seorang perempuan berjas putih, suaranya lembut d

  • Collateral   CHAPTER XXVI : SECRET FILE

    Apartmen yang Sara huni adalah sebuah apartemen sederhana yang terletak diatas sebuah toko roti. Letaknya juga tak jauh dari kaki gunung—yang mana juga tak jauh dari markas utama The Forge. Membuat dirinya mudah untuk sekedar berjalan kaki dari apartemennya.Bau manis dari panggangan di pagi hari sudah seperti alarm pagi baginya. Sama seperti pegawai kantoran biasanya, hari minggu selalu sedikit lebih tenang daripada hari-hari biasa. Sara bahkan merasa seperti liburan alih-alih sebuah hukuman, walau terkadang jari tangannya sedikit gatal untuk tidak beraksi.Pagi ini berbeda dengan minggu seperti biasanya. Tidak ada pagi yang tenang dimana ia dibangunkan dengan bau harum pemanggangan roti. Hari memang sudah berganti, namun matahari belum terbit. Namun sepertinya hal itu tidak berlaku dengan sosok perempuan baru yang tiba-tiba sudah duduk di depan kasurnya.Sara tidak bergerak dari posisi berbaringnya. Insting pertamanya bukan panik—empat bulan menjalani kehidupan yang nyaris membosank

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status