LOGINSara juga memiliki kemampuan untuk muncul di ruangan seolah dia bagian dari furniturnya sejak awal—bukan berteleportasi (itu sesuatu yang tidak mungkin terjadi di dunia ini), melainkan hasil dari bertahun-tahun mempelajari satu kebenaran sederhana yang kebanyakan orang tidak pernah sadari: tidak ada yang benar-benar memperhatikan siapa yang membawa nampan, siapa yang memegang clipboard, atau siapa yang berdiri di sudut ruangan dengan earpiece kecil di telinga. Orang-orang penting terlalu sibuk merasa penting untuk bertanya-tanya siapa yang melayani kepentingan mereka.
Ada banyak hal yang tidak disadari kebanyakan orang, apalagi pada kerumunan orang penting. Orang-orang penting terlalu sibuk merasa penting untuk bertanya-tanya siapa yang melayani kepentingan mereka. Juga terlalu sibuk pada pikiran mereka sendiri sehingga mengabaikan kalau ada manusia yang mampu menyelinap masuk kemana saja.
Ia sudah berada di sebuah kamar hotel mewah, jauh sebelum resepsi di lantai bawah bahkan mencapai putaran toast pertama. Tepat ketika pemilik kamar meninggalkan kamar ini. Sara mengamati hal-hal yang ada di kamar tersebut. Tablet yang terbuka dan sedang menampilkan coretan yang membuat kepalanya pusing.
Pelajaran selanjutnya adalah jangan pernah mengotak-atik barang elektronik pribadi milik seseorang yang mahir dalam teknologi. Jadi walau sebuah tablet tergeletak begitu saja, Sara tidak menyentuhnya—bahkan tidak mendekatkan tangannya lebih dari tiga puluh senti dari permukaan layar. Ia sudah cukup lama di bidang ini untuk mengenali jenis paranoia yang dimiliki orang-orang macam Amaruddin Adnan: pendiri perusahaan teknologi tidak meninggalkan perangkat menyala begitu saja tanpa alasan, kecuali alasan itu sendiri adalah jebakan.
Pemilik kamar tersebut bahkan tidak meyadari keberadaanya ketika pintu itu terbuka. Terlalu sibuk dengan ponsel di tangannya, juga menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan dari seseorang—yang Sara duga sebagai asisten pribadinya, dari balik pintu kamar hotel.
"Aku tau jadwalnya padat, Nanang," kata Amar, melempar kunci kartu ke meja dengan gerakan kasar yang tidak biasa untuk seseorang yang selama ini Sara amati selalu terkontrol di depan publik. "Tapi aku nggak peduli soal jadwal sekarang. Batalin semua pertemuan besok pagi sampai aku bilang lain."
Suara di seberang telepon—Nanang,asisten pribadinya, kalau tebakan Sara benar—terdengar samar, tidak cukup jelas untuk ditangkap kata per kata dari balik pintu kamar mandi, hanya nada yang jelas kebingungan, mungkin sedikit khawatir.
"Aku tau ini nggak biasa," lanjut Amar, suaranya turun sedikit, seolah baru sadar dinding hotel tidak setebal yang ia kira. "Tapi ada sesuatu yang perlu aku pastiin dulu sebelum aku lanjut sama Mercer soal apa pun. Kalau dia tanya kenapa, bilang aku nggak enak badan."
Ketika Amar menoleh kearah sofa yang ada di ujung kamar, ekspresinya berubah terkejut seperkian detik—lalu secepat itu juga menghilang, digantikan topeng tenang yang sudah ia pakai bertahun-tahun di depan kamera, di depan wartawan, di depan siapa pun yang tidak boleh tahu apa yang sebenarnya ia rasakan.
"Kau," katanya, suaranya turun jadi bisikan tajam yang jelas tidak ditujukan untuk didengar siapa pun selain orang yang duduk di sana. "Bagaimana kau masuk."
kata Sara dengan senyum ramah, kaki disilangkan santai di atas sofa seolah ruangan ini memang miliknya sejak awal, seolah tidak ada satu pun alasan bagi seorang gubernur untuk merasa terganggu menemukan orang asing duduk di kamar hotelnya sendiri jam segini. "Sara Riders. Staf protokol Walikota, kalau Bapak lupa. Meski aku ragu Bapak beneran lupa—orang seperti Bapak nggak pernah benar-benar lupa wajah siapa pun yang cukup penting untuk diingat."
Amar berdiri diam di ambang pintu kamar mandi, satu tangan masih setengah terangkat di udara—gestur yang terhenti di tengah jalan, entah menuju ponsel di sakunya atau menuju sesuatu yang lebih defensif, Sara tidak yakin dan tidak berniat menunggu untuk tahu.
"Staf protokol," ulang Amar, suaranya mencoba kembali ke nada tenang yang tadi ia pakai di balkon, tapi kali ini keretakannya jauh lebih jelas, seperti kaca yang sudah diketuk terlalu banyak kali di titik yang sama, "nggak masuk kamar hotel pribadi tanpa izin, Nona Riders. Dan mereka juga nggak biasanya tahu nama teknologi yang belum pernah diumumkan ke publik."
“Bapak tidak melakukan pencarian mengenai diriku?” tanya Sara.
“Saya lebih suka kalau orang bersangkutan yang memperkenalkan diri, itu terlihat sopan di mata saya.” kata Amar, duduk di sofa yang berada di depan kasur berukuran king.
“Indonesian and all theri kindshit.”gumam Sara, tidak cukup pelan karena perkataan tersebut mampu didengar lawan bicaranya.
Amar terkekeh mendengar gumaman Sara. “Bukankah kau juga orang Indonesia?”
“It was your people who drove us out back in 1998, I am not Indonesian anymore.” kata Sara. “Benar, kalau saya dilahirkan disana. Tapi saya besar di negara lain. Sekarang bahkan saya tidak bisa berbicara bahasa indonesia—lebih ke tidak mau.”
Tawa Amar terhenti di tenggorokannya.
Ia menatap Sara lebih lama dari yang seharusnya nyaman bagi keduanya, dan untuk pertama kalinya sejak pintu kamar mandi terbuka, ekspresinya bukan lagi ketakutan seorang pejabat yang tersudut, melainkan sesuatu yang lebih dekat dengan rasa malu yang tidak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.
“Dan untuk apa kau kesini?” tanya Amar, berjalan kearah pantri. Laki-laki itu melempar sebotol air mineral dingin yang ditangkap sempurna oleh Sara. “Bukan untuk trauma dumping, kan? Karena saya engineer bukan psikiater.”
“Saya ingin tahu apa yang Anda bicarakan dengan Samuel White malam itu.” kata Sara tegas, membuka tutup botol dengan satu gerakan tanpa mengalihkan pandangan dari Amar.
Amar mengambil botolnya sendiri, bersandar ke meja pantri, jarak yang sengaja ia jaga—cukup jauh untuk terasa seperti dia masih memegang kendali ruangan, meski keduanya tahu itu cuma ilusi kecil yang ia pertahankan demi harga dirinya sendiri.
“Bukan bertanya tentang kematiannya?”
“Kita berdua tahu siapa yang membunuh.” kata Sara dengan santai. “Tidak seperti agen amatiran dari badan intelijen negara anda yang bodoh.”
“Gilang mencari pembunuh Samuel—”
“Jadi nama aslinya Gilang.” kata Sara. “Aku lebih suka dengan nama James, kedengaran seperti nama seorang idiot.”
"BIN tentunya sangat terpukul dengan kematian Samuel," lanjut Amar, mengabaikan komentar Sara barusan meski sudut bibirnya sempat bergerak sedikit, hampir seperti senyum yang buru-buru ia tahan. "Delapan tahun aset itu mereka bina, dan hilang dalam satu malam gala yang bahkan bukan operasi mereka sendiri yang mengatur. Gilang dikirim buru-buru, itu jelas kelihatan dari caranya bekerja. Terlalu terburu-buru buat orang yang katanya sudah lama di divisi luar negeri."
“James tentunya mengumpulkan segala informasi tentang pembunuh Samuel.” kata Sara, dirinya masih memanggil pria itu dengan nama samarannya. “Semua informasinya fraud. Dan yang paling bodoh adalah dia tidak sadar sedang berbicara dengan pembunuhnya selama seharian penuh.”
Amar tidak terkejut dengan pengakuan tersebut. Karena tiga hari di negeri orang, Amar juga tidak tinggal diam—sebuah kebiasaan yang sulit hilang, untuk ikut campur pada urusan yang menurutnya menarik.
"Saya tahu," katanya sederhana, menyesap air mineralnya seolah baru saja mengonfirmasi cuaca besok, bukan identitas seorang pembunuh yang berdiri tiga meter darinya. "Atau lebih tepatnya, saya curiga sejak Anda muncul di balkon tadi dan menyebut nama Samuel dengan cara yang terlalu tepat buat sekadar staf protokol yang kebetulan lewat."
Sara menatapnya, alis terangkat sedikit—reaksi kecil, tapi cukup untuk membuat Amar tahu ia baru saja mengejutkan perempuan yang sejauh ini selalu berhasil satu langkah di depan siapa pun di ruangan ini.
"Saya juga bukan sekadar gubernur yang duduk manis nunggu laporan orang lain, Nona Riders," lanjut Amar, meletakkan botolnya di meja pantri. "Waktu Samuel cerita ke saya soal apa yang dia tahu, saya minta timku sendiri gali latar belakang setiap orang yang ada di ruangan gala malam itu—bukan cuma tamu penting, tapi staf, katering, siapa pun yang punya akses ke Samuel dalam radius yang cukup dekat buat berbahaya. Sara Riders, sekretaris pribadi Walikota, hampir setahun bekerja, catatan kerja sempurna, tanpa satu pun cela." Ia berhenti, matanya menyipit sedikit. "Terlalu sempurna, sebenarnya. Jenis kesempurnaan yang cuma dimiliki orang yang dilatih khusus buat terlihat sempurna."
"Jadi Anda sudah curiga sejak awal."
"Saya curiga," Amar mengoreksi, "bukan yakin. Ada beda antara keduanya, seperti yang Anda bilang sendiri soal fakta dan kesimpulan tadi." Ia melipat tangan di dada. "Tapi sekarang Anda baru saja menghilangkan bedanya sendiri, dengan mulut Anda sendiri, tanpa saya perlu memaksa."
Ruangan itu diam sejenak. Sara tidak bergerak dari posisinya dekat pintu, menghitung ulang—untuk kesekian kalinya malam ini—berapa banyak kendali yang sebenarnya ia pegang di percakapan ini, dan berapa banyak yang, ternyata, sudah lebih dulu berada di tangan pria yang duduk tenang di depannya.
"Anda nggak kelihatan takut," katanya akhirnya, "untuk seseorang yang baru saja tahu dia sendirian di kamar hotel dengan orang yang membunuh asetnya sendiri."
"Saya takut," kata Amar, jujur, tanpa berusaha menyembunyikannya. “Tapi kau tidak keliatan seperti orang yang ingin membunuh seseorang, kau datang dengan tangan kosong.”
“Saya bisa membunuh dengan tangan kosong, juga tanpa meninggalkan setitik bukti.” kata Sara. Ia melemparkan botol mineral itu pada tempat sampah yang ada di seberangnya, merayakan sedikit ketika botol itu berhasil memasuki tempat sampah dengan sempurna. Kemudian perempuan itu menambahkan, “kalau saya mau. Hari ini saya sedang tidak mood untuk membunuh atau menyerang orang. Saya datang murni untuk menggali informasi. Apa yang kalian bicarakan malam itu?”
"Ini dan itu," jawab Amar dengan cepat. "Detailnya mungkin membuatmu pusing namun intinya adalah saya mengajak Samuel untuk berkunjung dengan ADN Tower di Semarang. Saya takjub bagaimana dia menciptakan dinding enkripsi yang menjebak serangan cyber—dia sebut sendiri sebagai 'honeypot berlapis', desain yang bahkan tim keamanan saya sendiri belum berhasil tembus setelah tiga minggu mencoba, cuma buat latihan internal."
"Itu bukan alasan seorang gubernur mengundang konsultan cybersecurity FBI berkunjung ke gedung perusahaannya sendiri," kata Sara, menyilangkan tangan, matanya tidak lepas dari wajah Amar.
"I am a tech-nerd, Miss Riders." kata Amar. "Begitu juga dengan Samuel. Saya berencana untuk mengekspansi AI milik saya agar bisa menghandle seluruh divisi di perusahaan saya, membuatnya menjadi satu sistem yang benar-benar otonom—bukan cuma asisten digital biasa, tapi sesuatu yang bisa mengambil keputusan operasional tanpa campur tangan manusia di lapisan bawah. Proyek itu sudah jalan diam-diam selama dua tahun terakhir, jauh sebelum nama Mercer atau Axiom pernah masuk radar saya."
"Dan Samuel," kata Sara, "cukup penting buat proyek itu sampai Anda rela ambil risiko mengundangnya secara personal, di luar jalur resmi."
"Samuel salah satu dari segelintir orang di dunia yang paham betul bagaimana sistem otonom sebesar itu bisa disusupi—bukan cuma diserang dari luar, tapi dimanipulasi dari dalam, pelan-pelan, sampai sistem itu sendiri nggak sadar dia sudah nggak lagi bekerja buat kepentingan yang seharusnya." Amar menatap ke luar jendela sebentar, ke arah lampu-lampu Manhattan yang berkelap-kelip jauh di bawah sana. "Saya nggak cuma butuh dia mengaudit firewall, Nona Riders. Saya butuh dia meyakinkan saya bahwa AI yang saya bangun ini nggak akan berubah jadi sesuatu yang nggak bisa saya kendalikan lagi begitu dia cukup pintar buat berpikir sendiri."
Sara diam sejenak, sesuatu di kepalanya bergerak lebih cepat dari yang ia tunjukkan di wajahnya. "Anda takut sama ciptaan Anda sendiri."
"Saya realistis soal ciptaan saya sendiri," koreksi Amar, meski nadanya tidak sepenuhnya membantah tuduhan itu. "Ada beda antara membangun sesuatu yang powerful dan membangun sesuatu yang masih bisa Anda matikan kalau perlu. Saya nggak mau ADN Corp jadi cerita peringatan yang diajarkan di kelas etika AI sepuluh tahun dari sekarang."
"Jadi kalau Mercer benar-benar berencana mengintegrasikan sistem Anda ke dalam sesuatu yang lebih besar—verifikasi terpadu globalnya itu—dan sistem itu terhubung ke AI otonom yang bahkan penciptanya sendiri nggak sepenuhnya percaya bisa dikendalikan..."
"Maka itu bukan cuma soal uang yang bisa dicuri atau dibekukan lagi," Amar menyelesaikan kalimatnya, suaranya berat. "Itu soal siapa pun yang megang kunci itu berpotensi mengontrol sistem yang bisa berpikir sendiri, di infrastruktur finansial paling sensitif di dunia. Dan itu, Nona Riders, adalah jenis mimpi buruk yang bahkan saya nggak sanggup bayangkan skalanya."
“Jadi menurut anda, Samuel tidak hanya menyembunyikan kunci finansial global.”
“Itu adalah salah satu hal yang Samuel pegang. Namun lebih dari itu, Samuel menjadi pemegang kunci keamanan siber terhadap sistem finansial global yang ia bangun sendiri. Samuel juga mengatakan kalau hanya diri yang mampu membuka kunci tersebut, orang mungkin berhasil memindahkan dan mencuri segelintir uang dari rekening satu ke rekening yang lain. Tapi membuatnya porak poranda, hanya Samuel yang bisa lakukan itu.”
“Kode biometrik,” kata Sara. “Dia mengunci program itu dengan biometrik miliknya sendiri
Amar mengangguk pelan, ekspresinya semakin berat setiap detik yang berlalu. "Sidik jari, retina, dan satu lapisan lagi yang bahkan Samuel sendiri nggak jelaskan detailnya ke saya—entah karena dia nggak sempat, atau karena dia sengaja nggak mau saya tahu semuanya. Yang saya tahu, sistem itu dirancang supaya nggak ada satu institusi pun, nggak ada satu pemerintah pun, yang bisa mengaktifkan protokol darurat itu tanpa kehadiran fisik Samuel sendiri. Bukan password yang bisa dicuri. Bukan kredensial yang bisa disalin. Tubuhnya sendiri jadi kuncinya."
“Jadi keputusanku untuk membunuh Samuel adalah keputusan tepat.” kata Sara.
Perjalanan dari Rumania ke Indonesia butuh waktu hampir dua puluh dua jam, terhitung dua kali transit dan satu kali pergantian identitas kecil di tengah jalan—bukan nama baru, cuma penyesuaian kecil di gaya rambut dan cara berjalan, cukup untuk membuat kamera pengenal wajah di Istanbul dan Doha melihat dua perempuan yang sedikit berbeda alih-alih satu orang yang sama melintasi tiga benua dalam sehari.Sara tidur sedikit di pesawat kedua, sesuatu yang jarang sekali dia izinkan dirinya lakukan di tengah perjalanan operasional, tapi tubuhnya sudah terlalu lelah untuk protes lebih jauh—empat bulan koordinasi dari balik meja, lima hari di peternakan yang jauh lebih menenangkan daripada yang dia akui, dan dua puluh dua jam terakhir yang menghapus semua sisa ketenangan itu sampai ke akarnya.Dia terbangun waktu pengumuman pendaratan berbunyi dalam bahasa yang, anehnya, terasa asing di telinganya sendiri meski itu bahasa yang lahir bersamanya—bahasa yang, kalau kata-kata Amaruddin Adnan di ka
Yelena ternyata benar mengenai kondisi sekarang dimana tidak memungkinkan untuk mencetak atau menerbitkan sebuah identitas baru bagi Sara. Akhirnya dirinya memutuskan untuk tinggal di rumah itu untuk beberapa hari.Hari pertama dia habiskan cuma buat memastikan tidak ada satu pun kendaraan asing lewat jalan setapak menuju rumah itu lebih dari sekali dalam sehari—duduk di jendela lantai atas dengan segelas air yang tidak pernah benar-benar dia minum, menghitung setiap traktor tua yang lewat, setiap anjing gembala yang menggonggong ke arah yang salah. Insting yang selama ini jadi alarm otomatis di kepalanya tetap menyala, meski di sekelilingnya cuma ada padang rumput dan bau kotoran sapi yang, entah kenapa, lama-lama jadi lumayan biasa dia cium tanpa mengernyit.Hari kedua, dia menyerah dan mulai membersihkan rumah seperti yang disuruh Yelena—bukan karena dia peduli soal debu, tapi karena tangannya butuh sesuatu untuk dikerjakan, dan ternyata menyapu lantai kayu tua jauh lebih menenangk
Rumah tersebut masih sangat terawat, mungkin hanya ada beberapa sarang laba-laba di sudut ruangan yang tampaknya sengaja dibiarkan—detail kecil yang, kalau dipikir lebih jauh, justru terlalu rapi untuk sebuah rumah yang katanya "terbengkalai."Ia melangkah lebih dalam, matanya menyapu setiap sudut dengan kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar mati. Perapian di sudut ruang tamu bersih dari abu lama, tapi ada tumpukan kayu bakar kering tersusun rapi di sampingnya—cukup untuk beberapa minggu, bukan sesuatu yang ditinggalkan begitu saja bertahun-tahun. Lemari kayu tua di dekat dapur, waktu ia buka, ternyata berisi kaleng-kaleng makanan yang tanggal kedaluwarsanya masih jauh, tersusun rapi seperti seseorang baru saja mengisinya ulang beberapa minggu lalu."Safehouse," gumamnya, lebih ke dirinya sendiri, sudut bibirnya bergerak sedikit—bukan senyum penuh, tapi sesuatu yang mendekati rasa hormat yang enggan. "Kau enggak pernah berhenti punya rencana cadangan, ya, Vostokoff."Ia menemuk
Hanya butuh lima belas menit buat Sara untuk menghabisi Elena Voicu dan seluruh penjaga di markas besar Forge.Bukan lima belas menit yang penuh teriakan atau kekacauan yang bisa didengar dari lantai lain. Justru sebaliknya—lima belas menit paling sunyi yang pernah dia ciptakan, karena setiap gerakan yang dia lakukan sudah dihitung untuk tidak menyisakan waktu bagi siapa pun berteriak cukup lama untuk didengar.Dia tidak ingat persis kapan tangannya berhenti terasa seperti miliknya sendiri. Mungkin di detik dia melihat wajah Voicu—wajah yang, untuk pertama kalinya sejak percakapan ini dimulai, tidak lagi berusaha menyembunyikan sesuatu, hanya menatap balik dengan ekspresi seseorang yang sudah lama menunggu ini terjadi, seolah dia sendiri lelah membawa kebenaran itu sendirian.Sara keluar dari ruangan itu dengan tangan yang gemetar untuk alasan yang sama sekali berbeda dari biasanya.Koridor di luar sudah sunyi—bukan sunyi karena tidak ada yang tersisa untuk bersuara, tapi sunyi karena
Sara tidak pernah bermimpi sebelumnya, tidak sejelas sekarang. Entah ini karena kedatangan Yelena yang perlahan membuka beberapa memori lama—yang dirinya sendiri lupa miliki. Ia mimpikan sebuah ruangan serba putih, terlalu putih karena ada puluhan lampu yang juga entah kenapa menyoroti langsung kearahnya. Dia enam tahun—atau mungkin lima, usia yang bahkan di dalam mimpi ini terasa kabur, seperti angka yang ditulis di atas kertas basah. Tubuhnya kecil, kakinya menggantung dari meja logam yang dingin menembus piyama tipis bercorak entah apa, corak yang sudah pudar dimakan waktu dan cucian berkali-kali di tempat yang tidak pernah benar-benar dia ingat sebagai rumah.Ada tali di pergelangan tangannya. Bukan tali kasar, justru terlalu lembut untuk sesuatu yang menahan gerak—jenis pengikat yang dirancang orang yang tahu persis bagaimana caranya menahan tubuh kecil tanpa meninggalkan memar yang bisa jadi bukti."Diam sebentar, sayang," kata seorang perempuan berjas putih, suaranya lembut d
Apartmen yang Sara huni adalah sebuah apartemen sederhana yang terletak diatas sebuah toko roti. Letaknya juga tak jauh dari kaki gunung—yang mana juga tak jauh dari markas utama The Forge. Membuat dirinya mudah untuk sekedar berjalan kaki dari apartemennya.Bau manis dari panggangan di pagi hari sudah seperti alarm pagi baginya. Sama seperti pegawai kantoran biasanya, hari minggu selalu sedikit lebih tenang daripada hari-hari biasa. Sara bahkan merasa seperti liburan alih-alih sebuah hukuman, walau terkadang jari tangannya sedikit gatal untuk tidak beraksi.Pagi ini berbeda dengan minggu seperti biasanya. Tidak ada pagi yang tenang dimana ia dibangunkan dengan bau harum pemanggangan roti. Hari memang sudah berganti, namun matahari belum terbit. Namun sepertinya hal itu tidak berlaku dengan sosok perempuan baru yang tiba-tiba sudah duduk di depan kasurnya.Sara tidak bergerak dari posisi berbaringnya. Insting pertamanya bukan panik—empat bulan menjalani kehidupan yang nyaris membosank