LOGIN"Kita perlu lacak sumber transaksinya," kata Sara, sudah berdiri, jarinya bergerak ke salah satu keyboard sambil separuh badannya masih menghadap James. "Tapi nggak dari sini. Fed Reserve pasti udah mulai audit internal begitu ada percobaan akses kayak gitu, dan kalau timku ikut nongol di log mereka sekarang, itu bakal jadi pertanyaan yang nggak perlu."
"Jadi kita nunggu?"
"Kita nunggu jejaknya dingin dulu," kata Sara, "baru kita masuk lewat pintu belakang yang nggak ninggalin catatan kunjungan."
James menyandarkan diri ke meja, mengamatinya bekerja—dan untuk pertama kalinya sejak mereka masuk ke ruangan ini, ia membiarkan dirinya benar-benar diam cukup lama untuk memperhatikan, bukan cuma mendengarkan
“James, kau kenal Amaruddin Adnan.” kata Sara secara tiba-tiba.
“Semua orang kenal dia, Sara.” kata James, bahunya sedikit rileks daripada ketika dia memasuki ruangan ini. “Orang terkaya se Asia, masuk top 50 orang terkaya di dunia. Orang-orang bilang kalau dirinya itu Tony Stark yang keluar dari komik, minusnya dia masuk ke dunia politik saja.”
“Maksudku, kenal secara dekat. Personal.”
James mengerutkan kening, mencoba membaca ke mana arah pertanyaan itu sebelum menjawab. "Kenapa tiba-tiba nanya itu?"
"Jawab dulu," kata Sara, nadanya tetap ringan, tapi matanya sudah kembali ke mode yang James mulai kenali—mode di mana setiap kata yang keluar dari mulutnya sudah dipertimbangkan tiga langkah ke depan.
James menghela napas, menyandarkan diri lebih dalam ke meja. "BIN punya file soal dia, jelas. Siapa pun yang punya perusahaan sebesar ADN Corp, apalagi yang bisnisnya nyerempet-nyerempet teknologi pertahanan, pasti masuk radar intelijen negara mana pun yang punya kepentingan di Asia Tenggara. Tapi personal?" Ia mengangkat bahu. "Aku pernah ada di ruangan yang sama waktu dia kunjungan kenegaraan ke New York, dua tahun lalu. Itu aja. Nggak pernah ngobrol empat mata."
“Kalau keluarganya?” tanya Sara. “Aku mengikuti tingkah laku anak bungsunya di sosial media, Orion Aksa Adnan, dia benar-benar anak yang gila. That kid was really menace, tapi lumayan menghibur. Tingkahnya ada saja.”
“Aku kenal secara personal ketiga anak Amaruddin Adnan.”kata James.
“Maksudmu, personal-personal?”
“Iya.” jawab James tanpa ragu. “Kenapa kau tanya begitu?”
“Amar Adnan jadi orang terakhir yang bicara dengan Samuel White, sebelum Samuel keluar dari gedung itu untuk pulang.” kata Sara.
James membeku sepersekian detik—reaksi kecil, tapi cukup untuk membuat Sara mencatatnya diam-diam, cara insting lamanya bekerja bahkan di tengah percakapan yang terasa hampir personal ini.
"Kau yakin," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan, kehilangan sedikit nada santai yang tadi sempat muncul waktu ia cerita soal Orion kabur beli es krim.
"Aku ada di ruangan itu, James," kata Sara. "Aku lihat mereka berdua ngobrol cukup lama—lebih lama dari basa-basi standar—dan aku lihat Samuel jalan keluar nggak sampai sepuluh menit setelah percakapan itu selesai. Nggak ada orang lain yang mendekat ke Samuel di antara waktu itu dan waktu dia naik taksi."
"Itu nggak otomatis berarti Amar yang—" James berhenti sendiri, seolah kalimat itu terlalu berat untuk diselesaikan dengan kata-kata yang benar. "Dia gubernur, Sara. Dia punya lima puluh alasan buat ngobrol sama siapa pun di acara kayak gitu. Itu bukan bukti."
"Aku nggak bilang itu bukti," kata Sara, nadanya tetap datar, terkendali. "Aku bilang itu fakta. Dan kau, dari semua orang, tahu bedanya fakta sama kesimpulan."
James menggosok wajahnya dengan satu tangan, gestur yang mulai Sara kenali sebagai tanda ia sedang mencoba menyusun sesuatu yang tidak ingin ia susun. "Kalau ini bener—kalau Amar orang terakhir yang ngobrol sama dia sebelum dia mati—itu artinya aku baru aja nawarin diri buat hubungin anak dari orang yang mungkin bertanggung jawab atas kematian aset delapan tahunku sendiri."
"Itu juga artinya," kata Sara, melangkah lebih dekat, "kalau kau beneran deket sama ketiga anaknya, kau punya akses yang nggak akan pernah aku punya. Bukan buat nyeret Orion ke tengah investigasi. Tapi buat ngerti pola—gimana Amar biasa kerja, siapa aja orang di lingkarannya, apa yang berubah belakangan ini yang mungkin keliatan aneh buat orang yang cukup deket buat notice."
"Kau minta aku mata-matai keluarga yang aku kenal dari mereka masih kecil."
"Aku minta kau bantu aku nyari kebenaran," kata Sara, "sebelum kebenaran itu nyari kita duluan, dengan cara yang jauh lebih buruk daripada sekadar pertanyaan nggak nyaman ke orang yang kau kenal."
James diam lama, menatap lantai ruangan yang tiba-tiba terasa lebih dingin dari sebelumnya. Ketika ia akhirnya bicara, suaranya jauh lebih pelan.
"Kalau Amar yang bunuh Samuel," katanya, "atau bahkan cuma tahu siapa yang bunuh dia—apa yang bakal terjadi ke keluarganya? Ke Jupiter, Venus, Orion?"
Sara tidak langsung menjawab. Untuk sesaat, ada sesuatu di wajahnya yang, kalau James cukup dekat untuk melihatnya dengan jelas, mungkin akan ia baca sebagai keraguan asli—bukan taktik, bukan permainan, tapi sesuatu yang lebih jujur daripada apa pun yang keluar dari mulut Sara sepanjang minggu ini.
“Itu bukan urusanku,” kata Sara pada akhirnya. “Walau aku sangat mengidolakan anak bungsunya.
James menatapnya, sedikit terkejut dengan pergeseran nada itu—dari apa yang tadi terasa seperti keraguan asli, sekarang berubah jadi sesuatu yang lebih dekat dengan gaya bicara Sara yang biasa: ringan, sedikit menggoda, seolah baru saja menutup pintu emosional yang sempat terbuka sedikit terlalu lebar.
"Kau ngidolain anak lima belas tahun," katanya, setengah tidak percaya, setengah geli. "Yang suka nyelinap keluar buat beli es krim dan ngerjain nilai matematika temannya."
"Aku ngidolain siapa pun yang cukup berani buat bikin kekacauan di tengah keluarga sebesar itu dan tetap keluar tanpa konsekuensi berarti," kata Sara, sudah kembali berjalan ke arah pintu, nada suaranya ringan lagi seolah percakapan berat beberapa detik lalu tidak pernah terjadi. "Itu bakat langka, James. Kebanyakan orang yang aku kenal di posisi setinggi itu terlalu takut buat sekadar salah langkah kecil, apalagi nyolong motor pengawal buat kabur."
"Kau ngikutin dia bukan cuma buat kerjaan, ya?"
"Aku bisa multitasking," kata Sara, tidak membantah, tidak juga mengiyakan sepenuhnya, yang bagi James—yang mulai belajar membaca pola bicaranya—sudah cukup jadi jawaban tersendiri.
Ia membuka pintu, menahannya sebentar, menunggu James yang masih berdiri di dekat meja, wajahnya masih menyimpan sisa pertanyaan yang belum sepenuhnya ia lepaskan.
"James." Suara Sara lebih pelan sekarang, cukup untuk membuatnya menoleh. "Aku nggak minta kau nyeret Orion ke tengah-tengah ini—yang mana gila untuk menyeret seorang remaja. Aku minta kau bantu aku ngerti pola. Ada beda antara dua hal itu, dan aku pikir kau cukup profesional buat tahu di mana batasnya—atau aku salah pilih orang buat kerja sama."
Perjalanan dari Rumania ke Indonesia butuh waktu hampir dua puluh dua jam, terhitung dua kali transit dan satu kali pergantian identitas kecil di tengah jalan—bukan nama baru, cuma penyesuaian kecil di gaya rambut dan cara berjalan, cukup untuk membuat kamera pengenal wajah di Istanbul dan Doha melihat dua perempuan yang sedikit berbeda alih-alih satu orang yang sama melintasi tiga benua dalam sehari.Sara tidur sedikit di pesawat kedua, sesuatu yang jarang sekali dia izinkan dirinya lakukan di tengah perjalanan operasional, tapi tubuhnya sudah terlalu lelah untuk protes lebih jauh—empat bulan koordinasi dari balik meja, lima hari di peternakan yang jauh lebih menenangkan daripada yang dia akui, dan dua puluh dua jam terakhir yang menghapus semua sisa ketenangan itu sampai ke akarnya.Dia terbangun waktu pengumuman pendaratan berbunyi dalam bahasa yang, anehnya, terasa asing di telinganya sendiri meski itu bahasa yang lahir bersamanya—bahasa yang, kalau kata-kata Amaruddin Adnan di ka
Yelena ternyata benar mengenai kondisi sekarang dimana tidak memungkinkan untuk mencetak atau menerbitkan sebuah identitas baru bagi Sara. Akhirnya dirinya memutuskan untuk tinggal di rumah itu untuk beberapa hari.Hari pertama dia habiskan cuma buat memastikan tidak ada satu pun kendaraan asing lewat jalan setapak menuju rumah itu lebih dari sekali dalam sehari—duduk di jendela lantai atas dengan segelas air yang tidak pernah benar-benar dia minum, menghitung setiap traktor tua yang lewat, setiap anjing gembala yang menggonggong ke arah yang salah. Insting yang selama ini jadi alarm otomatis di kepalanya tetap menyala, meski di sekelilingnya cuma ada padang rumput dan bau kotoran sapi yang, entah kenapa, lama-lama jadi lumayan biasa dia cium tanpa mengernyit.Hari kedua, dia menyerah dan mulai membersihkan rumah seperti yang disuruh Yelena—bukan karena dia peduli soal debu, tapi karena tangannya butuh sesuatu untuk dikerjakan, dan ternyata menyapu lantai kayu tua jauh lebih menenangk
Rumah tersebut masih sangat terawat, mungkin hanya ada beberapa sarang laba-laba di sudut ruangan yang tampaknya sengaja dibiarkan—detail kecil yang, kalau dipikir lebih jauh, justru terlalu rapi untuk sebuah rumah yang katanya "terbengkalai."Ia melangkah lebih dalam, matanya menyapu setiap sudut dengan kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar mati. Perapian di sudut ruang tamu bersih dari abu lama, tapi ada tumpukan kayu bakar kering tersusun rapi di sampingnya—cukup untuk beberapa minggu, bukan sesuatu yang ditinggalkan begitu saja bertahun-tahun. Lemari kayu tua di dekat dapur, waktu ia buka, ternyata berisi kaleng-kaleng makanan yang tanggal kedaluwarsanya masih jauh, tersusun rapi seperti seseorang baru saja mengisinya ulang beberapa minggu lalu."Safehouse," gumamnya, lebih ke dirinya sendiri, sudut bibirnya bergerak sedikit—bukan senyum penuh, tapi sesuatu yang mendekati rasa hormat yang enggan. "Kau enggak pernah berhenti punya rencana cadangan, ya, Vostokoff."Ia menemuk
Hanya butuh lima belas menit buat Sara untuk menghabisi Elena Voicu dan seluruh penjaga di markas besar Forge.Bukan lima belas menit yang penuh teriakan atau kekacauan yang bisa didengar dari lantai lain. Justru sebaliknya—lima belas menit paling sunyi yang pernah dia ciptakan, karena setiap gerakan yang dia lakukan sudah dihitung untuk tidak menyisakan waktu bagi siapa pun berteriak cukup lama untuk didengar.Dia tidak ingat persis kapan tangannya berhenti terasa seperti miliknya sendiri. Mungkin di detik dia melihat wajah Voicu—wajah yang, untuk pertama kalinya sejak percakapan ini dimulai, tidak lagi berusaha menyembunyikan sesuatu, hanya menatap balik dengan ekspresi seseorang yang sudah lama menunggu ini terjadi, seolah dia sendiri lelah membawa kebenaran itu sendirian.Sara keluar dari ruangan itu dengan tangan yang gemetar untuk alasan yang sama sekali berbeda dari biasanya.Koridor di luar sudah sunyi—bukan sunyi karena tidak ada yang tersisa untuk bersuara, tapi sunyi karena
Sara tidak pernah bermimpi sebelumnya, tidak sejelas sekarang. Entah ini karena kedatangan Yelena yang perlahan membuka beberapa memori lama—yang dirinya sendiri lupa miliki. Ia mimpikan sebuah ruangan serba putih, terlalu putih karena ada puluhan lampu yang juga entah kenapa menyoroti langsung kearahnya. Dia enam tahun—atau mungkin lima, usia yang bahkan di dalam mimpi ini terasa kabur, seperti angka yang ditulis di atas kertas basah. Tubuhnya kecil, kakinya menggantung dari meja logam yang dingin menembus piyama tipis bercorak entah apa, corak yang sudah pudar dimakan waktu dan cucian berkali-kali di tempat yang tidak pernah benar-benar dia ingat sebagai rumah.Ada tali di pergelangan tangannya. Bukan tali kasar, justru terlalu lembut untuk sesuatu yang menahan gerak—jenis pengikat yang dirancang orang yang tahu persis bagaimana caranya menahan tubuh kecil tanpa meninggalkan memar yang bisa jadi bukti."Diam sebentar, sayang," kata seorang perempuan berjas putih, suaranya lembut d
Apartmen yang Sara huni adalah sebuah apartemen sederhana yang terletak diatas sebuah toko roti. Letaknya juga tak jauh dari kaki gunung—yang mana juga tak jauh dari markas utama The Forge. Membuat dirinya mudah untuk sekedar berjalan kaki dari apartemennya.Bau manis dari panggangan di pagi hari sudah seperti alarm pagi baginya. Sama seperti pegawai kantoran biasanya, hari minggu selalu sedikit lebih tenang daripada hari-hari biasa. Sara bahkan merasa seperti liburan alih-alih sebuah hukuman, walau terkadang jari tangannya sedikit gatal untuk tidak beraksi.Pagi ini berbeda dengan minggu seperti biasanya. Tidak ada pagi yang tenang dimana ia dibangunkan dengan bau harum pemanggangan roti. Hari memang sudah berganti, namun matahari belum terbit. Namun sepertinya hal itu tidak berlaku dengan sosok perempuan baru yang tiba-tiba sudah duduk di depan kasurnya.Sara tidak bergerak dari posisi berbaringnya. Insting pertamanya bukan panik—empat bulan menjalani kehidupan yang nyaris membosank







