LOGINButuh tiga hari bagi James untuk berhenti mencari alasan supaya jantung Samuel White berhenti berdetak secara wajar.
Tiga hari itu ia habiskan sendirian di ruang aman kedutaan, membongkar ulang setiap laporan toksikologi yang bisa ia akses—resmi maupun yang seharusnya tidak pernah keluar dari server BIN sama sekali—sampai akhirnya ia menemukan satu nama teknik yang cuma pernah ia baca sekali di modul pelatihan lanjutan, jenis yang diajarkan sebagai referensi, bukan sebagai keahlian yang harus dikuasai: serangan jantung yang diinduksi lewat titik tekanan saraf tertentu, nyaris mustahil dideteksi kecuali autopsi dilakukan dalam enam jam pertama oleh seseorang yang tahu persis apa yang harus dicari.
The Forge mengajarkan itu. Bukan BIN, bukan CIA, bukan satu pun agensi yang pernah masuk radar James sepanjang kariernya.
Ia tidak butuh bukti lagi setelah itu. Ia cuma butuh alamat.
Dan percakapan di kamar hotel Amar tiga hari lalu—yang sebagiannya ia dengar sendiri lewat sadapan yang seharusnya tidak pernah ia pasang, sebagian lagi ia rekonstruksi dari nada suara Amar yang berubah setiap kali menyebut nama Sara di telepon dengan Nanang keesokan paginya—cukup untuk mengonfirmasi apa yang sudah lama menggantung di kepalanya sejak grup chat palsu itu terbongkar: metode yang sama, tangan yang sama, alasan yang masih sepenuhnya gelap baginya.
Ia menemukan Sara jam sembilan malam, keluar dari minimarket di ujung blok apartemennya, dua kantong belanja di masing-masing tangan—susu, telur, sekotak teh chamomile, benda-benda paling tidak-mata-mata yang pernah James lihat dibeli seorang pembunuh dalam satu transaksi yang sama.
Sara melihatnya bersandar di dinding sebelah pintu masuk gedung bahkan sebelum James sempat buka mulut, dan ia tidak berhenti jalan, tidak juga mempercepat langkah—cuma menyesuaikan rute sedikit, cukup untuk lewat tepat di depannya alih-alih memutar menghindar.
"What?" katanya, tanpa menoleh penuh, mata masih ke arah pintu kaca gedungnya. "You gonna ask me why I'm in Manhattan at nine PM buying chamomile tea? I have a life, you know. Believe it or not."
"Oh," kata James, mendorong dirinya menjauh dari dinding, mengikuti langkahnya tanpa terburu-buru—jenis langkah yang justru lebih mengintimidasi karena sama sekali tidak terburu-buru. "I'm way past that conversation."
Itu cukup untuk membuat Sara berhenti.
Bukan berhenti penuh—cuma jeda setengah langkah, cukup singkat hingga orang lain tidak akan sadar, tapi cukup lama bagi James, yang sudah menghabiskan seminggu terakhir mempelajari setiap mikroekspresi milik perempuan ini, untuk tahu ia baru saja menyentuh sesuatu.
"What now," katanya, akhirnya menoleh penuh, suaranya masih ringan, tapi matanya sudah berubah—kalkulasi, bukan kekhawatiran. Belum.
James tidak menjawab di lobi. Ia menunggu sampai pintu kaca gedung menutup di belakang mereka, sampai Sara menekan tombol lift dan pintu logamnya terbuka dengan bunyi decit pelan, dan baru setelah keduanya berdiri di dalam kotak sempit itu, pintu tertutup, lampu neon di atas kepala berkedip sekali sebelum stabil, ia bicara.
"Kau sudah tahu siapa aku," katanya, suaranya rendah, terkendali dengan cara yang jelas menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih panas di bawahnya, "jauh sebelum aku masuk ke lobi gedung Walikota waktu itu."
Sara tidak jawab langsung. Ia menekan tombol lantai delapan belas, meletakkan kantong belanjanya di lantai lift dengan gerakan yang terlalu tenang untuk situasi yang, ia tahu persis, baru saja berubah jadi sesuatu yang jauh dari obrolan basa-basi di lobi.
"I don't know what you're talking about," katanya akhirnya, bersandar ke dinding lift, lengan disilangkan, ekspresinya nyaris bosan—topeng yang, James mulai sadar, dipakainya jauh lebih sering daripada wajah aslinya sendiri.
"You knew exactly what I'm talking about." James melangkah lebih dekat, cukup dekat untuk membuat ruang di antara mereka terasa jauh lebih kecil daripada ukuran lift yang sebenarnya. "You knew everything about me. That's why you sent Bennett into my team—to mess things up. To keep me chasing a ghost while you did whatever the hell you needed to do."
Untuk pertama kalinya sejak pintu lift tertutup, sesuatu di wajah Sara bergeser—bukan pengakuan, belum, tapi celah kecil, cukup untuk membuat James yakin ia sedang berdiri di jalur yang benar untuk pertama kalinya sejak kasus ini dimulai.
"Bennett," ulang Sara, pelan, seolah mencicipi nama itu di lidahnya sebelum memutuskan apa yang mau ia lakukan dengannya. "Kau yakin itu aku, bukan salah satu dari lima puluh orang lain yang punya alasan buat bikin kau kelihatan bodoh di depan atasanmu sendiri?"
"Metodenya cocok sama semua yang kau tunjukin ke aku minggu lalu," kata James. "Enam proxy, waktu pembuatan akun yang dijadwalin biar kelihatan organik—kau sendiri yang bilang itu metode yang diajarin di tempat kau dilatih."
"Aku juga bilang metode bisa dicuri," kata Sara, tapi suaranya sudah kehilangan sedikit nada ringan yang tadi ada—bukan panik, James cukup yakin perempuan ini tidak tahu caranya panik, tapi sesuatu yang lebih dekat dengan kewaspadaan seorang pemain catur yang baru sadar lawannya baru saja belajar cara membaca papan.
Lift berhenti sebentar di lantai sepuluh, berdenting, tapi tidak ada yang masuk. Pintu terbuka ke koridor kosong selama tiga detik sebelum menutup lagi, dan dalam tiga detik itu tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak, tidak ada satu pun yang berkedip lebih dari yang seharusnya.
"You could've just told me," kata James, suaranya lebih pelan sekarang, lebih dekat dengan sesuatu yang mendekati luka daripada amarah murni. "Kalau kau tahu aku bakal jalanin investigasi ini ke arah yang salah, kau bisa aja bilang, 'James, jangan buang waktu.' Instead you let me run around for days chasing a florist that doesn't exist."
Sara menatapnya lama—cukup lama untuk membuat James merasakan sesuatu yang aneh di dadanya, sesuatu yang jelas bukan bagian dari protokol interogasi mana pun yang pernah ia pelajari.
"Kalau aku kasih tahu kau semuanya dari awal," katanya akhirnya, suaranya turun jadi hampir lembut, "kau bakal ngerti semuanya terlalu cepat. Dan aku belum tahu apa aku mau kau ngerti semuanya, James." Ia memiringkan kepala sedikit, sudut bibirnya bergerak—bukan senyum penuh, tapi cukup untuk membuat James sadar mereka berdiri jauh lebih dekat daripada yang seharusnya nyaman untuk sebuah interogasi. "Lagian, kau lebih menarik pas lagi ngejar bayangan yang salah. Marahmu ada sesuatunya—apa istilahnya—endearing."
"Jangan lakuin itu," kata James, meski suaranya sudah kehilangan sebagian ketegasannya.
"Lakuin apa?"
"Ngalihin. Kau selalu ngalihin pas udah kepepet."
Lift berdenting, pintu terbuka ke lantai delapan belas—koridor sempit dengan karpet abu-abu pudar dan satu lampu yang berkedip di ujung, satu-satunya penanda bahwa dunia di luar kotak logam ini masih berjalan seperti biasa.
Sara mengambil kantong belanjanya dari lantai, melangkah keluar tanpa menoleh ke belakang. Tapi James tidak berhenti di ambang lift seperti seharusnya. Langkahnya terus mengikuti, sampai bayangannya jatuh di karpet abu-abu tepat di sebelah bayangan Sara sendiri, sampai keduanya berhenti di depan pintu apartemen nomor delapan belas-oh-tiga, kunci sudah setengah masuk ke lubangnya.
"Aku serius, Sara."
Ia berhenti, tangan masih di gagang kunci, pintu apartemennya sendiri sudah terbuka setengah, cahaya remang dari dalam menumpahkan garis kuning tipis ke koridor. Ia bisa saja masuk. Ia bisa saja menutup pintu itu tepat di depan wajah James dan biar laki-laki itu berdiri sendirian di koridor sepi sampai capek sendiri dan pulang. Tapi ada sesuatu—entah rasa penasaran, entah sesuatu yang lebih berbahaya dari itu—yang membuatnya malah berbalik, bersandar ke bingkai pintunya sendiri, menyilangkan tangan.
"Aku juga serius soal tehku keburu dingin," katanya, meski nadanya tidak seringan yang ia coba tunjukkan.
James tidak mundur. Ia berhenti tepat di depan pintu, cukup dekat untuk menutup satu-satunya jalan keluar dari koridor itu tanpa benar-benar menyentuhnya—jenis jarak yang, kalau Sara benar-benar mau, bisa ia patahkan dalam dua detik seperti yang sudah pernah ia buktikan di ruang arsip. Tapi ia tidak bergerak. Ia cuma berdiri di sana, membiarkan dirinya sendiri terjebak dalam ilusi kecil bahwa untuk sekali ini, ia yang memegang kendali ruangan.
"Why did you do that?" katanya akhirnya, suaranya rendah, tidak lagi mencoba terdengar tenang.
Sara menatapnya, kepala miring sedikit, ekspresi yang terlalu santai untuk pertanyaan seberat itu. "Do what? Come on, James, kau harus lebih spesifik. Aku ngelakuin banyak hal minggu ini."
"Killing him." Rahang James mengeras. "Samuel White."
Ada jeda. Bukan jeda seseorang yang kaget ketahuan—Sara sudah lama berhenti kaget soal apa pun yang keluar dari mulut James malam ini—tapi jeda yang lebih terasa seperti seseorang yang akhirnya, setelah lelah menunggu, merasa sedikit lega pertanyaan itu akhirnya diucapkan keras-keras.
"Finally," katanya, sudut bibirnya bergerak, hampir jadi senyum penuh untuk pertama kalinya malam ini. "Found something useful now, huh?"
"Just—" James menghela napas, satu tangan terangkat menggosok wajahnya sendiri, gestur yang mulai Sara hafal luar kepala. "Why. It wasn't your mission. Kau bilang sendiri, tugasmu cuma ngawasin. Bukan eliminasi."
"Misi berubah, James," kata Sara, ringan, seolah sedang menjelaskan kenapa ia pindah meja di kafe. "Itu terjadi. Dunia kita tidak seindah brosur rekrutmen."
"Itu bukan jawaban."
"Itu jawaban yang cukup buat orang yang belum jelasin ke aku kenapa dia tiba-tiba tahu detail sedalam ini soal siapa aku." Sara melangkah satu inci lebih dekat ke bingkai pintunya sendiri, matanya tidak lepas dari wajah James. "How do you know that about me, hm? Were you checking up on me?" Jeda, sengaja, sebelum suaranya turun jadi hampir menggoda. "How romantic, James."
"Jangan," kata James, tapi suaranya sudah kehilangan sebagian ketegasannya lagi, persis seperti di lift tadi—setiap kali Sara membelokkan percakapan ke arah ini, ada bagian dari dirinya yang, sialnya, ikut terseret. "Jangan lakuin itu lagi. Kau bunuh orang, Sara. Aset negara lain, orang yang FBI percaya, orang yang punya—" ia berhenti, mencari kata yang tepat, "—orang yang punya keluarga yang mikir dia mati kena serangan jantung biasa."
"Dia tidak punya keluarga," kata Sara, datar. "Aku sudah baca berkasnya sebelum kau, ingat?"
"Kau tahu maksudku."
"Aku tahu maksudmu," kata Sara, dan untuk sesaat suaranya kehilangan nada main-mainnya sepenuhnya, cukup lama untuk membuat James memperhatikan pergeseran itu. "Dan aku juga tahu kau pikir kalau kau cukup keras nanya kenapa, aku bakal luluh dan kasih tahu semuanya di koridor apartemen jam sepuluh malam kayak adegan film."
"Bukan itu maksudku."
"Itu persis maksudmu." Sara mendekat lagi, cukup dekat sekarang untuk membuat James merasakan bau teh chamomile dari kantong belanjanya, cukup dekat untuk membuat jarak di antara mereka terasa jauh lebih pribadi daripada situasi yang seharusnya dituntut sebuah interogasi. "Kau pikir kalau kau tunjukin ke aku betapa kau peduli sama moralitas ini, aku bakal ngerasa bersalah terus buka mulut. Itu taktik yang lumayan, James. Tapi kau lupa satu hal."
"Apa?"
"Aku yang ngajarin taktik itu ke orang lain," kata Sara, "bukan sebaliknya."
James menatapnya lama, dan untuk pertama kalinya sejak percakapan ini dimulai, ekspresinya bukan lagi amarah atau kecurigaan murni—ada sesuatu yang lebih dekat dengan lelah, jenis lelah yang datang dari seseorang yang baru sadar ia sedang bermain di papan catur yang aturannya tidak pernah ia pahami sepenuhnya.
"Aku tidak butuh kau merasa bersalah," katanya akhirnya, pelan. "Aku cuma butuh mengerti. Itu saja, Sara. Sebelum aku pulang dan lapor ke atasanku bahwa aset yang mereka bina delapan tahun dibunuh oleh orang yang sekarang lagi berdiri semeter dariku, ngobrol soal teh, aku cuma—" ia berhenti, rahangnya mengeras lagi, "—aku cuma butuh tahu ini bukan cuma soal kontrak dan bayaran. Karena kalau iya, kalau ini cuma soal itu, maka semua yang terjadi minggu ini—kerja sama ini, semua obrolan ini—tidak berarti apa-apa buatmu selain cara buat mengontrol seberapa banyak yang aku tahu."
Ada sesuatu di kalimat itu yang menyentuh tempat yang Sara tidak siap disentuh malam ini—bukan karena kalimatnya salah, tapi karena terlalu dekat dengan benar.
Ia diam sebentar, cukup lama untuk James memperhatikan, cukup lama untuk suara AC koridor yang berdengung pelan jadi satu-satunya suara di antara mereka.
"Ini bukan cuma soal kontrak," katanya akhirnya, suaranya jauh lebih pelan daripada apa pun yang keluar dari mulutnya malam ini, kehilangan seluruh nada menggoda yang biasa jadi perisainya. "Tapi aku juga belum siap kasih tahu kau alasannya, James. Belum malam ini."
"Kenapa?"
"Karena begitu aku bilang," katanya, menatap lurus ke matanya, "kau bakal harus milih antara jadi agen BIN yang setia sama negaranya, atau jadi orang yang percaya sama alasan aku bunuh orang yang negaranya bina delapan tahun. Dan aku belum yakin kau siap milih yang mana malam ini."
James membuka mulut untuk membantah, tapi Sara sudah mundur satu langkah, tangannya kembali ke gagang pintu.
"Kau bilang kau tidak akan berhenti nanya," katanya, hampir seperti bisikan. "Bagus. Jangan berhenti. Tapi malam ini, pulang, James. Sebelum kau nanya sesuatu yang jawabannya bakal bikin kau menyesal tahu."
Pintu menutup pelan di depannya, meninggalkan James berdiri sendirian di koridor kosong lantai delapan belas dengan satu kepastian baru yang jauh lebih berat daripada sebelumnya: bahwa Sara Riders memang membunuh Samuel White, tanpa penyesalan yang terlihat, tanpa keraguan yang bisa ia baca di wajahnya sedikit pun.
Pintu apartemen 1803 baru saja menutup di belakangnya waktu James mendengar decit sepatunya sendiri di karpet abu-abu, satu-satunya suara di koridor sepi itu selain dengungan AC yang tidak pernah benar-benar berhenti. Ia berjalan menuju lift dengan kepala penuh—Sara, Samuel White, nama yang belum ia dengar, laporan yang harus ia susun tanpa benar-benar tahu apa yang harus ia tulis di dalamnya.Ponselnya bergetar di saku jaket. Ia meraihnya, layar menyala dengan pesan dari atasannya, dan itulah alasan kenapa matanya sempat teralih dari jendela besar di ujung koridor—jendela kaca setinggi langit-langit yang menghadap ke arah gedung apartemen lain di seberang jalan, salah satu fitur "mewah" yang selalu dibanggakan brosur properti New York, pemandangan kota di malam hari yang berkelap-kelip tanpa peduli apa pun yang terjadi di baliknya.Kaca itu pecah sepersekian detik sebelum suara tembakan sampai ke telinganya.Bukan urutan yang seharusnya masuk akal—James tahu itu, bagian otaknya yang
Butuh tiga hari bagi James untuk berhenti mencari alasan supaya jantung Samuel White berhenti berdetak secara wajar.Tiga hari itu ia habiskan sendirian di ruang aman kedutaan, membongkar ulang setiap laporan toksikologi yang bisa ia akses—resmi maupun yang seharusnya tidak pernah keluar dari server BIN sama sekali—sampai akhirnya ia menemukan satu nama teknik yang cuma pernah ia baca sekali di modul pelatihan lanjutan, jenis yang diajarkan sebagai referensi, bukan sebagai keahlian yang harus dikuasai: serangan jantung yang diinduksi lewat titik tekanan saraf tertentu, nyaris mustahil dideteksi kecuali autopsi dilakukan dalam enam jam pertama oleh seseorang yang tahu persis apa yang harus dicari.The Forge mengajarkan itu. Bukan BIN, bukan CIA, bukan satu pun agensi yang pernah masuk radar James sepanjang kariernya.Ia tidak butuh bukti lagi setelah itu. Ia cuma butuh alamat.Dan percakapan di kamar hotel Amar tiga hari lalu—yang sebagiannya ia dengar sendiri lewat sadapan yang seharu
Sara juga memiliki kemampuan untuk muncul di ruangan seolah dia bagian dari furniturnya sejak awal—bukan berteleportasi (itu sesuatu yang tidak mungkin terjadi di dunia ini), melainkan hasil dari bertahun-tahun mempelajari satu kebenaran sederhana yang kebanyakan orang tidak pernah sadari: tidak ada yang benar-benar memperhatikan siapa yang membawa nampan, siapa yang memegang clipboard, atau siapa yang berdiri di sudut ruangan dengan earpiece kecil di telinga. Orang-orang penting terlalu sibuk merasa penting untuk bertanya-tanya siapa yang melayani kepentingan mereka. Ada banyak hal yang tidak disadari kebanyakan orang, apalagi pada kerumunan orang penting. Orang-orang penting terlalu sibuk merasa penting untuk bertanya-tanya siapa yang melayani kepentingan mereka. Juga terlalu sibuk pada pikiran mereka sendiri sehingga mengabaikan kalau ada manusia yang mampu menyelinap masuk kemana saja. Ia sudah berada di sebuah kamar hotel mewah, jauh sebelum resepsi di lantai bawah bahkan menc
"Kita perlu lacak sumber transaksinya," kata Sara, sudah berdiri, jarinya bergerak ke salah satu keyboard sambil separuh badannya masih menghadap James. "Tapi nggak dari sini. Fed Reserve pasti udah mulai audit internal begitu ada percobaan akses kayak gitu, dan kalau timku ikut nongol di log mereka sekarang, itu bakal jadi pertanyaan yang nggak perlu.""Jadi kita nunggu?""Kita nunggu jejaknya dingin dulu," kata Sara, "baru kita masuk lewat pintu belakang yang nggak ninggalin catatan kunjungan."James menyandarkan diri ke meja, mengamatinya bekerja—dan untuk pertama kalinya sejak mereka masuk ke ruangan ini, ia membiarkan dirinya benar-benar diam cukup lama untuk memperhatikan, bukan cuma mendengarkan“James, kau kenal Amaruddin Adnan.” kata Sara secara tiba-tiba.“Semua orang kenal dia, Sara.” kata James, bahunya sedikit rileks daripada ketika dia memasuki ruangan ini. “Orang terkaya se Asia, masuk top 50 orang terkaya di dunia. Orang-orang bilang kalau dirinya itu Tony Stark yang k
Kantor yang dimaksud Sara bukan gedung Walikota.James baru sadar itu ketika mobil yang mereka naiki—Sara yang menyetir, tentu saja, dengan cara yang membuat James diam-diam berpegangan pada pegangan pintu selama dua blok pertama—berbelok menjauh dari arah City Hall, masuk ke jalan sempit di sisi selatan Financial District, berhenti di depan bangunan tanpa papan nama, hanya nomor 47 yang nyaris pudar di atas pintu logam yang terlihat seperti pintu masuk gudang biasa."Ini bukan kantor Walikota," katanya, lebih sebagai observasi daripada pertanyaan."Kau pintar juga," kata Sara, sudah keluar dari mobil, tidak menunggu James untuk membuka pintunya sendiri. "Kantor Walikota itu tempat aku kerja jadi Sara Riders. Ini tempat aku kerja jadi diriku sendiri."Bagian dalam bangunan itu jauh lebih rapi daripada yang seharusnya dimiliki gudang biasa—lorong pendek dengan pencahayaan yang terlalu terang untuk terasa nyaman, tiga lapis pintu yang masing-masing membutuhkan kombinasi berbeda untuk di
Sara tengah menikmati hari Sabtunya yang indah di sebuah kafe yang terletak di pinggiran jalan area Lower Manhattan—satu-satunya hari dalam seminggu ketika ia mengizinkan dirinya sendiri untuk benar-benar tidak menjadi siapa-siapa.Bukan Sara Riders, sekretaris pribadi Walikota yang tersenyum tepat pada waktunya dan tahu persis kapan harus menuang ulang gelas anggur seseorang. Bukan juga aset The Forge, nama sandi yang cuma dikenal segelintir orang lewat radio enkripsi dan pesan berkode di balik panel dapur. Cuma seorang perempuan dengan rambut lurus asli tanpa catokan, memakai jaket denim yang sudah ia pakai sejak entah kapan di kehidupan mana, duduk di meja kecil paling pojok sebuah kedai kopi yang menunya lebih mahal dari yang seharusnya tapi croissant-nya cukup enak untuk membuat harga itu terasa hampir masuk akal.Distrik finansial di hari Sabtu punya energi yang aneh—kosong dari jas dan dasi yang biasa memenuhi trotoarnya hari kerja, digantikan turis yang berfoto di depan patung







