Home / Thriller / Collateral / CHAPTER VII : OVERDUE

Share

CHAPTER VII : OVERDUE

Author: bubblejuni
last update publish date: 2026-08-27 16:59:25

Butuh tiga hari bagi James untuk berhenti mencari alasan supaya jantung Samuel White berhenti berdetak secara wajar.

Tiga hari itu ia habiskan sendirian di ruang aman kedutaan, membongkar ulang setiap laporan toksikologi yang bisa ia akses—resmi maupun yang seharusnya tidak pernah keluar dari server BIN sama sekali—sampai akhirnya ia menemukan satu nama teknik yang cuma pernah ia baca sekali di modul pelatihan lanjutan, jenis yang diajarkan sebagai referensi, bukan sebagai keahlian yang harus dikuasai: serangan jantung yang diinduksi lewat titik tekanan saraf tertentu, nyaris mustahil dideteksi kecuali autopsi dilakukan dalam enam jam pertama oleh seseorang yang tahu persis apa yang harus dicari.

The Forge mengajarkan itu. Bukan BIN, bukan CIA, bukan satu pun agensi yang pernah masuk radar James sepanjang kariernya.

Ia tidak butuh bukti lagi setelah itu. Ia cuma butuh alamat.

Dan percakapan di kamar hotel Amar tiga hari lalu—yang sebagiannya ia dengar sendiri lewat sadapan yang seharusnya tidak pernah ia pasang, sebagian lagi ia rekonstruksi dari nada suara Amar yang berubah setiap kali menyebut nama Sara di telepon dengan Nanang keesokan paginya—cukup untuk mengonfirmasi apa yang sudah lama menggantung di kepalanya sejak grup chat palsu itu terbongkar: metode yang sama, tangan yang sama, alasan yang masih sepenuhnya gelap baginya.

Ia menemukan Sara jam sembilan malam, keluar dari minimarket di ujung blok apartemennya, dua kantong belanja di masing-masing tangan—susu, telur, sekotak teh chamomile, benda-benda paling tidak-mata-mata yang pernah James lihat dibeli seorang pembunuh dalam satu transaksi yang sama.

Sara melihatnya bersandar di dinding sebelah pintu masuk gedung bahkan sebelum James sempat buka mulut, dan ia tidak berhenti jalan, tidak juga mempercepat langkah—cuma menyesuaikan rute sedikit, cukup untuk lewat tepat di depannya alih-alih memutar menghindar.

"What?" katanya, tanpa menoleh penuh, mata masih ke arah pintu kaca gedungnya. "You gonna ask me why I'm in Manhattan at nine PM buying chamomile tea? I have a life, you know. Believe it or not."

"Oh," kata James, mendorong dirinya menjauh dari dinding, mengikuti langkahnya tanpa terburu-buru—jenis langkah yang justru lebih mengintimidasi karena sama sekali tidak terburu-buru. "I'm way past that conversation."

Itu cukup untuk membuat Sara berhenti.

Bukan berhenti penuh—cuma jeda setengah langkah, cukup singkat hingga orang lain tidak akan sadar, tapi cukup lama bagi James, yang sudah menghabiskan seminggu terakhir mempelajari setiap mikroekspresi milik perempuan ini, untuk tahu ia baru saja menyentuh sesuatu.

"What now," katanya, akhirnya menoleh penuh, suaranya masih ringan, tapi matanya sudah berubah—kalkulasi, bukan kekhawatiran. Belum.

James tidak menjawab di lobi. Ia menunggu sampai pintu kaca gedung menutup di belakang mereka, sampai Sara menekan tombol lift dan pintu logamnya terbuka dengan bunyi decit pelan, dan baru setelah keduanya berdiri di dalam kotak sempit itu, pintu tertutup, lampu neon di atas kepala berkedip sekali sebelum stabil, ia bicara.

"Kau sudah tahu siapa aku," katanya, suaranya rendah, terkendali dengan cara yang jelas menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih panas di bawahnya, "jauh sebelum aku masuk ke lobi gedung Walikota waktu itu."

Sara tidak jawab langsung. Ia menekan tombol lantai delapan belas, meletakkan kantong belanjanya di lantai lift dengan gerakan yang terlalu tenang untuk situasi yang, ia tahu persis, baru saja berubah jadi sesuatu yang jauh dari obrolan basa-basi di lobi.

"I don't know what you're talking about," katanya akhirnya, bersandar ke dinding lift, lengan disilangkan, ekspresinya nyaris bosan—topeng yang, James mulai sadar, dipakainya jauh lebih sering daripada wajah aslinya sendiri.

"You knew exactly what I'm talking about." James melangkah lebih dekat, cukup dekat untuk membuat ruang di antara mereka terasa jauh lebih kecil daripada ukuran lift yang sebenarnya. "You knew everything about me. That's why you sent Bennett into my team—to mess things up. To keep me chasing a ghost while you did whatever the hell you needed to do."

Untuk pertama kalinya sejak pintu lift tertutup, sesuatu di wajah Sara bergeser—bukan pengakuan, belum, tapi celah kecil, cukup untuk membuat James yakin ia sedang berdiri di jalur yang benar untuk pertama kalinya sejak kasus ini dimulai.

"Bennett," ulang Sara, pelan, seolah mencicipi nama itu di lidahnya sebelum memutuskan apa yang mau ia lakukan dengannya. "Kau yakin itu aku, bukan salah satu dari lima puluh orang lain yang punya alasan buat bikin kau kelihatan bodoh di depan atasanmu sendiri?"

"Metodenya cocok sama semua yang kau tunjukin ke aku minggu lalu," kata James. "Enam proxy, waktu pembuatan akun yang dijadwalin biar kelihatan organik—kau sendiri yang bilang itu metode yang diajarin di tempat kau dilatih."

"Aku juga bilang metode bisa dicuri," kata Sara, tapi suaranya sudah kehilangan sedikit nada ringan yang tadi ada—bukan panik, James cukup yakin perempuan ini tidak tahu caranya panik, tapi sesuatu yang lebih dekat dengan kewaspadaan seorang pemain catur yang baru sadar lawannya baru saja belajar cara membaca papan.

Lift berhenti sebentar di lantai sepuluh, berdenting, tapi tidak ada yang masuk. Pintu terbuka ke koridor kosong selama tiga detik sebelum menutup lagi, dan dalam tiga detik itu tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak, tidak ada satu pun yang berkedip lebih dari yang seharusnya.

"You could've just told me," kata James, suaranya lebih pelan sekarang, lebih dekat dengan sesuatu yang mendekati luka daripada amarah murni. "Kalau kau tahu aku bakal jalanin investigasi ini ke arah yang salah, kau bisa aja bilang, 'James, jangan buang waktu.' Instead you let me run around for days chasing a florist that doesn't exist."

Sara menatapnya lama—cukup lama untuk membuat James merasakan sesuatu yang aneh di dadanya, sesuatu yang jelas bukan bagian dari protokol interogasi mana pun yang pernah ia pelajari.

"Kalau aku kasih tahu kau semuanya dari awal," katanya akhirnya, suaranya turun jadi hampir lembut, "kau bakal ngerti semuanya terlalu cepat. Dan aku belum tahu apa aku mau kau ngerti semuanya, James." Ia memiringkan kepala sedikit, sudut bibirnya bergerak—bukan senyum penuh, tapi cukup untuk membuat James sadar mereka berdiri jauh lebih dekat daripada yang seharusnya nyaman untuk sebuah interogasi. "Lagian, kau lebih menarik pas lagi ngejar bayangan yang salah. Marahmu ada sesuatunya—apa istilahnya—endearing."

"Jangan lakuin itu," kata James, meski suaranya sudah kehilangan sebagian ketegasannya.

"Lakuin apa?"

"Ngalihin. Kau selalu ngalihin pas udah kepepet."

Lift berdenting, pintu terbuka ke lantai delapan belas—koridor sempit dengan karpet abu-abu pudar dan satu lampu yang berkedip di ujung, satu-satunya penanda bahwa dunia di luar kotak logam ini masih berjalan seperti biasa.

Sara mengambil kantong belanjanya dari lantai, melangkah keluar tanpa menoleh ke belakang. Tapi James tidak berhenti di ambang lift seperti seharusnya. Langkahnya terus mengikuti, sampai bayangannya jatuh di karpet abu-abu tepat di sebelah bayangan Sara sendiri, sampai keduanya berhenti di depan pintu apartemen nomor delapan belas-oh-tiga, kunci sudah setengah masuk ke lubangnya.

"Aku serius, Sara."

Ia berhenti, tangan masih di gagang kunci, pintu apartemennya sendiri sudah terbuka setengah, cahaya remang dari dalam menumpahkan garis kuning tipis ke koridor. Ia bisa saja masuk. Ia bisa saja menutup pintu itu tepat di depan wajah James dan biar laki-laki itu berdiri sendirian di koridor sepi sampai capek sendiri dan pulang. Tapi ada sesuatu—entah rasa penasaran, entah sesuatu yang lebih berbahaya dari itu—yang membuatnya malah berbalik, bersandar ke bingkai pintunya sendiri, menyilangkan tangan.

"Aku juga serius soal tehku keburu dingin," katanya, meski nadanya tidak seringan yang ia coba tunjukkan.

James tidak mundur. Ia berhenti tepat di depan pintu, cukup dekat untuk menutup satu-satunya jalan keluar dari koridor itu tanpa benar-benar menyentuhnya—jenis jarak yang, kalau Sara benar-benar mau, bisa ia patahkan dalam dua detik seperti yang sudah pernah ia buktikan di ruang arsip. Tapi ia tidak bergerak. Ia cuma berdiri di sana, membiarkan dirinya sendiri terjebak dalam ilusi kecil bahwa untuk sekali ini, ia yang memegang kendali ruangan.

"Why did you do that?" katanya akhirnya, suaranya rendah, tidak lagi mencoba terdengar tenang.

Sara menatapnya, kepala miring sedikit, ekspresi yang terlalu santai untuk pertanyaan seberat itu. "Do what? Come on, James, kau harus lebih spesifik. Aku ngelakuin banyak hal minggu ini."

"Killing him." Rahang James mengeras. "Samuel White."

Ada jeda. Bukan jeda seseorang yang kaget ketahuan—Sara sudah lama berhenti kaget soal apa pun yang keluar dari mulut James malam ini—tapi jeda yang lebih terasa seperti seseorang yang akhirnya, setelah lelah menunggu, merasa sedikit lega pertanyaan itu akhirnya diucapkan keras-keras.

"Finally," katanya, sudut bibirnya bergerak, hampir jadi senyum penuh untuk pertama kalinya malam ini. "Found something useful now, huh?"

"Just—" James menghela napas, satu tangan terangkat menggosok wajahnya sendiri, gestur yang mulai Sara hafal luar kepala. "Why. It wasn't your mission. Kau bilang sendiri, tugasmu cuma ngawasin. Bukan eliminasi."

"Misi berubah, James," kata Sara, ringan, seolah sedang menjelaskan kenapa ia pindah meja di kafe. "Itu terjadi. Dunia kita tidak seindah brosur rekrutmen."

"Itu bukan jawaban."

"Itu jawaban yang cukup buat orang yang belum jelasin ke aku kenapa dia tiba-tiba tahu detail sedalam ini soal siapa aku." Sara melangkah satu inci lebih dekat ke bingkai pintunya sendiri, matanya tidak lepas dari wajah James. "How do you know that about me, hm? Were you checking up on me?" Jeda, sengaja, sebelum suaranya turun jadi hampir menggoda. "How romantic, James."

"Jangan," kata James, tapi suaranya sudah kehilangan sebagian ketegasannya lagi, persis seperti di lift tadi—setiap kali Sara membelokkan percakapan ke arah ini, ada bagian dari dirinya yang, sialnya, ikut terseret. "Jangan lakuin itu lagi. Kau bunuh orang, Sara. Aset negara lain, orang yang FBI percaya, orang yang punya—" ia berhenti, mencari kata yang tepat, "—orang yang punya keluarga yang mikir dia mati kena serangan jantung biasa."

"Dia tidak punya keluarga," kata Sara, datar. "Aku sudah baca berkasnya sebelum kau, ingat?"

"Kau tahu maksudku."

"Aku tahu maksudmu," kata Sara, dan untuk sesaat suaranya kehilangan nada main-mainnya sepenuhnya, cukup lama untuk membuat James memperhatikan pergeseran itu. "Dan aku juga tahu kau pikir kalau kau cukup keras nanya kenapa, aku bakal luluh dan kasih tahu semuanya di koridor apartemen jam sepuluh malam kayak adegan film."

"Bukan itu maksudku."

"Itu persis maksudmu." Sara mendekat lagi, cukup dekat sekarang untuk membuat James merasakan bau teh chamomile dari kantong belanjanya, cukup dekat untuk membuat jarak di antara mereka terasa jauh lebih pribadi daripada situasi yang seharusnya dituntut sebuah interogasi. "Kau pikir kalau kau tunjukin ke aku betapa kau peduli sama moralitas ini, aku bakal ngerasa bersalah terus buka mulut. Itu taktik yang lumayan, James. Tapi kau lupa satu hal."

"Apa?"

"Aku yang ngajarin taktik itu ke orang lain," kata Sara, "bukan sebaliknya."

James menatapnya lama, dan untuk pertama kalinya sejak percakapan ini dimulai, ekspresinya bukan lagi amarah atau kecurigaan murni—ada sesuatu yang lebih dekat dengan lelah, jenis lelah yang datang dari seseorang yang baru sadar ia sedang bermain di papan catur yang aturannya tidak pernah ia pahami sepenuhnya.

"Aku tidak butuh kau merasa bersalah," katanya akhirnya, pelan. "Aku cuma butuh mengerti. Itu saja, Sara. Sebelum aku pulang dan lapor ke atasanku bahwa aset yang mereka bina delapan tahun dibunuh oleh orang yang sekarang lagi berdiri semeter dariku, ngobrol soal teh, aku cuma—" ia berhenti, rahangnya mengeras lagi, "—aku cuma butuh tahu ini bukan cuma soal kontrak dan bayaran. Karena kalau iya, kalau ini cuma soal itu, maka semua yang terjadi minggu ini—kerja sama ini, semua obrolan ini—tidak berarti apa-apa buatmu selain cara buat mengontrol seberapa banyak yang aku tahu."

Ada sesuatu di kalimat itu yang menyentuh tempat yang Sara tidak siap disentuh malam ini—bukan karena kalimatnya salah, tapi karena terlalu dekat dengan benar.

Ia diam sebentar, cukup lama untuk James memperhatikan, cukup lama untuk suara AC koridor yang berdengung pelan jadi satu-satunya suara di antara mereka.

"Ini bukan cuma soal kontrak," katanya akhirnya, suaranya jauh lebih pelan daripada apa pun yang keluar dari mulutnya malam ini, kehilangan seluruh nada menggoda yang biasa jadi perisainya. "Tapi aku juga belum siap kasih tahu kau alasannya, James. Belum malam ini."

"Kenapa?"

"Karena begitu aku bilang," katanya, menatap lurus ke matanya, "kau bakal harus milih antara jadi agen BIN yang setia sama negaranya, atau jadi orang yang percaya sama alasan aku bunuh orang yang negaranya bina delapan tahun. Dan aku belum yakin kau siap milih yang mana malam ini."

James membuka mulut untuk membantah, tapi Sara sudah mundur satu langkah, tangannya kembali ke gagang pintu.

"Kau bilang kau tidak akan berhenti nanya," katanya, hampir seperti bisikan. "Bagus. Jangan berhenti. Tapi malam ini, pulang, James. Sebelum kau nanya sesuatu yang jawabannya bakal bikin kau menyesal tahu."

Pintu menutup pelan di depannya, meninggalkan James berdiri sendirian di koridor kosong lantai delapan belas dengan satu kepastian baru yang jauh lebih berat daripada sebelumnya: bahwa Sara Riders memang membunuh Samuel White, tanpa penyesalan yang terlihat, tanpa keraguan yang bisa ia baca di wajahnya sedikit pun. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Collateral   CHAPTER XXXI : SETTLEMENT DATE

    Perjalanan dari Rumania ke Indonesia butuh waktu hampir dua puluh dua jam, terhitung dua kali transit dan satu kali pergantian identitas kecil di tengah jalan—bukan nama baru, cuma penyesuaian kecil di gaya rambut dan cara berjalan, cukup untuk membuat kamera pengenal wajah di Istanbul dan Doha melihat dua perempuan yang sedikit berbeda alih-alih satu orang yang sama melintasi tiga benua dalam sehari.Sara tidur sedikit di pesawat kedua, sesuatu yang jarang sekali dia izinkan dirinya lakukan di tengah perjalanan operasional, tapi tubuhnya sudah terlalu lelah untuk protes lebih jauh—empat bulan koordinasi dari balik meja, lima hari di peternakan yang jauh lebih menenangkan daripada yang dia akui, dan dua puluh dua jam terakhir yang menghapus semua sisa ketenangan itu sampai ke akarnya.Dia terbangun waktu pengumuman pendaratan berbunyi dalam bahasa yang, anehnya, terasa asing di telinganya sendiri meski itu bahasa yang lahir bersamanya—bahasa yang, kalau kata-kata Amaruddin Adnan di ka

  • Collateral   CHAPTER XXX : FARM

    Yelena ternyata benar mengenai kondisi sekarang dimana tidak memungkinkan untuk mencetak atau menerbitkan sebuah identitas baru bagi Sara. Akhirnya dirinya memutuskan untuk tinggal di rumah itu untuk beberapa hari.Hari pertama dia habiskan cuma buat memastikan tidak ada satu pun kendaraan asing lewat jalan setapak menuju rumah itu lebih dari sekali dalam sehari—duduk di jendela lantai atas dengan segelas air yang tidak pernah benar-benar dia minum, menghitung setiap traktor tua yang lewat, setiap anjing gembala yang menggonggong ke arah yang salah. Insting yang selama ini jadi alarm otomatis di kepalanya tetap menyala, meski di sekelilingnya cuma ada padang rumput dan bau kotoran sapi yang, entah kenapa, lama-lama jadi lumayan biasa dia cium tanpa mengernyit.Hari kedua, dia menyerah dan mulai membersihkan rumah seperti yang disuruh Yelena—bukan karena dia peduli soal debu, tapi karena tangannya butuh sesuatu untuk dikerjakan, dan ternyata menyapu lantai kayu tua jauh lebih menenangk

  • Collateral   CHAPTER XXIX : SAFE HOUSE

    Rumah tersebut masih sangat terawat, mungkin hanya ada beberapa sarang laba-laba di sudut ruangan yang tampaknya sengaja dibiarkan—detail kecil yang, kalau dipikir lebih jauh, justru terlalu rapi untuk sebuah rumah yang katanya "terbengkalai."Ia melangkah lebih dalam, matanya menyapu setiap sudut dengan kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar mati. Perapian di sudut ruang tamu bersih dari abu lama, tapi ada tumpukan kayu bakar kering tersusun rapi di sampingnya—cukup untuk beberapa minggu, bukan sesuatu yang ditinggalkan begitu saja bertahun-tahun. Lemari kayu tua di dekat dapur, waktu ia buka, ternyata berisi kaleng-kaleng makanan yang tanggal kedaluwarsanya masih jauh, tersusun rapi seperti seseorang baru saja mengisinya ulang beberapa minggu lalu."Safehouse," gumamnya, lebih ke dirinya sendiri, sudut bibirnya bergerak sedikit—bukan senyum penuh, tapi sesuatu yang mendekati rasa hormat yang enggan. "Kau enggak pernah berhenti punya rencana cadangan, ya, Vostokoff."Ia menemuk

  • Collateral   CHAPTER XXVIII : HOME FIRE

    Hanya butuh lima belas menit buat Sara untuk menghabisi Elena Voicu dan seluruh penjaga di markas besar Forge.Bukan lima belas menit yang penuh teriakan atau kekacauan yang bisa didengar dari lantai lain. Justru sebaliknya—lima belas menit paling sunyi yang pernah dia ciptakan, karena setiap gerakan yang dia lakukan sudah dihitung untuk tidak menyisakan waktu bagi siapa pun berteriak cukup lama untuk didengar.Dia tidak ingat persis kapan tangannya berhenti terasa seperti miliknya sendiri. Mungkin di detik dia melihat wajah Voicu—wajah yang, untuk pertama kalinya sejak percakapan ini dimulai, tidak lagi berusaha menyembunyikan sesuatu, hanya menatap balik dengan ekspresi seseorang yang sudah lama menunggu ini terjadi, seolah dia sendiri lelah membawa kebenaran itu sendirian.Sara keluar dari ruangan itu dengan tangan yang gemetar untuk alasan yang sama sekali berbeda dari biasanya.Koridor di luar sudah sunyi—bukan sunyi karena tidak ada yang tersisa untuk bersuara, tapi sunyi karena

  • Collateral   CHAPTER XXVII : THE REAL COLLATERAL

    Sara tidak pernah bermimpi sebelumnya, tidak sejelas sekarang. Entah ini karena kedatangan Yelena yang perlahan membuka beberapa memori lama—yang dirinya sendiri lupa miliki. Ia mimpikan sebuah ruangan serba putih, terlalu putih karena ada puluhan lampu yang juga entah kenapa menyoroti langsung kearahnya. Dia enam tahun—atau mungkin lima, usia yang bahkan di dalam mimpi ini terasa kabur, seperti angka yang ditulis di atas kertas basah. Tubuhnya kecil, kakinya menggantung dari meja logam yang dingin menembus piyama tipis bercorak entah apa, corak yang sudah pudar dimakan waktu dan cucian berkali-kali di tempat yang tidak pernah benar-benar dia ingat sebagai rumah.Ada tali di pergelangan tangannya. Bukan tali kasar, justru terlalu lembut untuk sesuatu yang menahan gerak—jenis pengikat yang dirancang orang yang tahu persis bagaimana caranya menahan tubuh kecil tanpa meninggalkan memar yang bisa jadi bukti."Diam sebentar, sayang," kata seorang perempuan berjas putih, suaranya lembut d

  • Collateral   CHAPTER XXVI : SECRET FILE

    Apartmen yang Sara huni adalah sebuah apartemen sederhana yang terletak diatas sebuah toko roti. Letaknya juga tak jauh dari kaki gunung—yang mana juga tak jauh dari markas utama The Forge. Membuat dirinya mudah untuk sekedar berjalan kaki dari apartemennya.Bau manis dari panggangan di pagi hari sudah seperti alarm pagi baginya. Sama seperti pegawai kantoran biasanya, hari minggu selalu sedikit lebih tenang daripada hari-hari biasa. Sara bahkan merasa seperti liburan alih-alih sebuah hukuman, walau terkadang jari tangannya sedikit gatal untuk tidak beraksi.Pagi ini berbeda dengan minggu seperti biasanya. Tidak ada pagi yang tenang dimana ia dibangunkan dengan bau harum pemanggangan roti. Hari memang sudah berganti, namun matahari belum terbit. Namun sepertinya hal itu tidak berlaku dengan sosok perempuan baru yang tiba-tiba sudah duduk di depan kasurnya.Sara tidak bergerak dari posisi berbaringnya. Insting pertamanya bukan panik—empat bulan menjalani kehidupan yang nyaris membosank

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status