LOGIN
"Suara apa itu?" gumam Clara pelan. Ia menghentikan langkahnya dan mempertajam pendengarannya. Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar dan dekat. Suara geraman.
Jantung Clara berdegup keras, ia memperhatikan sekeliling. Sunyi, bahkan tidak ada suara burung-burung ataupun serangga. Pohon-pohon di sekitarnya tinggi menjulang dengan semak-semak rimbun diantara pepohonan. Clara mengotak atik ponselnya untuk menghubungi tim lainnya, namun tak ada sinyal. Kini ia sadar sepertinya ia sudah tersesat jauh ke dalam hutan. Suara geraman itu kembali terdengar dari arah samping tempatnya berdiri. Clara membalikan badan ke arah semak yang mulai bergerak. Dan seperdetik kemudian matanya terbelalak demi melihat sesosok makhluk yang keluar dari semak-semak itu. "Oh, tidak!! Apa itu?!" Clara mematung, mulutnya ternganga lebar. Ia ingin kabur, tapi kakinya seakan menempel di tanah tempatnya berdiri. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Dari semak-semak itu, seekor serigala besar melangkah keluar. Ukurannya jauh di atas normal. Bulunya kelabu gelap menyelimuti tubuhnya, dan sepasang mata kuningnya menatap Clara dengan tajam. "Ti-tidak! Jangan mendekat!" Clara berkata dengan gemetar. Spontan kakinya bergerak mundur. Serigala itu kembali menggeram, namun makhluk itu tertegun sejenak, menghirup aroma tubuh Clara sebelum akhirnya ia merendahkan tubuhnya bersiap hendak menerkam. "Ja-jangan…!!" Clara menjadi panik, kakinya tersandung akar hingga ia jatuh terduduk. Clara memejamkan mata pasrah, sadar tak ada celah untuk selamat. Air mata membasahi wajahnya. Namun di saat yang genting itu, tepat saat serigala itu melompat untuk menerkamnya, seseorang berlari dari samping dan menariknya menjauh. Tubuh keduanya jatuh berguling, namun selamat dari cakar tajam makhluk buas itu yang menghantam tanah tepat di tempat Clara tadi berada. "Clara, Bangun! Ngapain kamu di sini?!" Terdengar teriakan dingin seorang pria. Clara mendongak, Zevko Volkov, rekan sekantor sekaligus supervisornya itu sudah berdiri tegap, tubuhnya seolah jadi tameng. Ia menatap tajam pada Clara, lalu berbalik menghadap serigala lapar itu. "Sial! Mengapa dia ada di sini? Tamatlah aku, dia pasti akan memecatku karena kecerobohanku ini, atau melaporkannya pada direksi," gumam Clara pelan, nyaris tak terdengar. Perlahan Clara berdiri, ia memperhatikan tubuh pria yang berdiri membelakanginya. Samar-samar terdengar suara geraman dari mulut Zev, tapi sayang dia tidak bisa melihat ekspresi wajahnya. Dan anehnya, serigala buas itu mundur beberapa langkah, merasa gagal menerkam buruannya. Zevko meraih dahan patah dan mengayunkannya dengan keras ketika makhluk itu kembali mendekat. Pukulan telak mengenai moncongnya, dan cukup membuat makhluk buas itu mundur sedikit menjauh. "Clara, bersiaplah! Kita akan keluar dari tempat ini." Zevko berkata tanpa menoleh, suaranya dingin, namun sikapnya sangat tenang. Dan ketika ada kesempatan, Zevko langsung menggenggam tangan Clara, lalu menariknya. “Lari! Sekarang!” Clara mengangguk dan mengikuti gerakan Zevko. Mereka berlari menembus semak belukar, melompati akar besar, dan berbelok cepat di jalur yang nyaris tak terlihat bahkan oleh penjelajah hutan sekalipun. Clara mencoba menoleh ke belakang, samar-samar terlihat jika serigala itu masih mengejar, namun langkahnya melambat. Bahkan Clara melihat ada beberapa serigala lainnya seperti menghadang langkah serigala yang memburu mereka. "Clara, jangan menoleh ke belakang! Fokus saja dengan jalan di depan," bentak Zev mengingatkan, ia seperti tahu apa yang dipikirkan Clara. "P-pak, Anda tahu jalan keluar?" tanya Clara dengan napas terengah-engah. "Ikuti saja kalau ingin selamat," jawab Zevko acuh. Namun sikapnya masih tetap tenang dan fokus, hal yang terasa aneh di situasi genting seperti itu. Beberapa menit kemudian, lampu-lampu dari pemukiman penduduk terlihat di kejauhan. Akhirnya mereka keluar dari batas hutan. Clara menoleh kembali ke belakang, serigala itu sudah tidak lagi mengejar. Keduanya berhenti, Clara nyaris ambruk, tubuhnya gemetar, kakinya tak kuat lagi untuk berdiri. Zev menopangnya, membantunya duduk bersandar di sebuah batang pohon. "Sekarang sudah aman," ucap Zevko datar, wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Ia kembali berdiri menghadap ke arah hutan. "Te-terima kasih." Clara berkata pelan, namun terdengar jelas di telinga Zevko. Perlahan lelaki itu berbalik menghadap Clara, tatapannya dingin dan tajam, seakan sedang menguliti gadis di hadapannya yang masih gemetar ketakutan. "Terima kasih? Apa itu perlu?" tanya Zevko penuh intimidasi. "Clara, jawab! Apa yang kamu lakukan sendirian di tengah hutan sana!" Clara terkesiap, pria yang baru saja menyelamatkan nyawanya kini membentaknya dengan marah. Kilatan kemarahan terlintas di matanya yang terasa begitu mengerikan. Sekilas, pupil mata itu menyempit seperti mata predator yang sedang marah, sebelum akhirnya kembali normal. Clara menggigil, ia merasa baru selamat dari mulut serigala kini jatuh ke dalam mulut harimau. "S-saya, tadi saya bersama tim dan pemandu. Saya hanya berhenti sebentar untuk mengambil gambar lokasi, dan tidak sadar jika sudah terpisah dengan tim." Zevko mendengus mendengar jawaban Clara. "Di mana otakmu Clara! Kamu adalah seorang analis senior, tapi kelakuanmu seperti anak magang yang tidak paham SOP keselamatan lapangan!" Clara tertunduk, ia meremas tangannya yang terasa dingin, bahkan ia merasakan sekujur tubuhnya seperti diguyur air es yang membekukan tulang belulangnya. Namun, ia berusaha mengendalikan dirinya, ia tidak mau diintimidasi, karena itu bukan mutlak kesalahannya. Perlahan ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat wajahnya menatap pria angkuh yang sedang menatapnya dengan tajam. "Ya, saya akui tadi saya sedikit lalai. Tapi bukan berarti saya tidak tahu SOP lapangan," bantah Clara sengit. "Anda sendiri, apa yang Anda lakukan di dalam hutan sana? Mengapa Anda tiba-tiba muncul? Bukankah Anda tidak termasuk dalam rombongan tim hari ini?" Zevko tidak menjawab, ia menatap Clara dengan tatapan aneh yang sulit ditebak. Namun Clara bukanlah gadis yang mudah diintimidasi, ia menantang tatapan pria di hadapannya. Dia tahu, Zevko Volkov adalah atasannya, tapi rasa penasarannya membuatnya menegakkan kepalanya. Untuk sesaat, tatapan keduanya bertemu, namun Zevko kembali mendengus dan berkata dengan tajam. "Bukan urusanmu!" Zevko segera berdiri, lalu melangkah meninggalkan Clara yang masih termangu sendirian. Tanpa sadar, tatapan Clara mengarah ke hutan, seketika nyalinya menjadi ciut, di benaknya berkelebat kembali kejadian yang nyaris merenggut nyawanya tadi. Dengan bersusah payah Clara bangkit, ia berusaha mengejar Zevko. "Pak Zevko, tunggu!" 'Sial, kenapa harus seperti ini?' bathin Clara merutuk. Hari ini, dia mendapatkan tugas survey lapangan untuk proyek pembangunan sebuah resort di tepi hutan. Sebagai seorang analyst projek, ia biasa melakukan survey lapangan untuk memastikan kelayakan proyek tersebut. Pagi menjelang siang tadi, dia berangkat dari kantor bersama beberapa orang tim tekhnis dan pemandu lokal. Namun ia terpisah dari tim saat ia mencoba mengambil gambar beberapa titik lokasi yang menarik perhatiannya. Dan ia baru menyadari jika ia tersesat ke wilayah yang semakin jauh ke dalam hutan saat sinyal di ponselnya menghilang. Clara menghela napas dalam. Hari ini, dia nyaris tewas menjadi santapan binatang buas. Bulu kuduknya meremang jika mengingat kembali kejadian tadi. Andai saja Zevko tidak datang tepat waktu, mungkin kini Clara hanya tinggal nama. Namun masalahnya sekarang bukan soal serigala yang nyaris menerkamnya tadi, tapi Zevko sang supervisor yang bertanggung jawab penuh atas tugasnya. Karier Clara bisa tamat di tangan pria dingin itu. Zevko menghentikan langkahnya, sedangkan Clara berjalan tertatih-tatih. Kakinya terkilir, saat berlari tadi ia tersangkut akar pohon besar. Jika tidak ditarik Zevko dia sudah jatuh terguling di tanah. "Zev, eh, pak Zevko, maaf. Saya tidak bermaksud…." Belum sempat Clara melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba Zev berbalik dan dengan cepat mengangkat tubuh Clara. "Hey, apa yang Anda lakukan! Turunkan!" Zev tidak menjawab, dia terus berjalan sambil menggendong Clara. "Turunkan! Saya bisa jalan sendiri." Zev berhenti sejenak, tatapannya tetap lurus ke depan. Wajahnya kaku dan dingin seperti arca batu. "Kalau kamu tidak bisa diam, aku lempar kembali ke dalam hutan." "Oh, ti-tidak. I-iya, saya akan diam." Clara tidak berani buka suara lagi. Dia mengerutkan tubuhnya dalam gendongan pria aneh yang jadi penyelamatnya itu. Sebenarnya Clara tidak suka dekat-dekat dengan Zevko. Pria itu sangat sombong dan bertingkah misterius, sangat tidak suka dibantah. Tapi, projek itu mengharuskan Clara berada langsung di bawah pengawasan Zevko. Zevko membawa Clara ke mobilnya. Namun, belum sempat dia membuka pintu mobil, seorang pria tergopoh-gopoh menghampiri mereka. "Nona Morgan, Anda tidak apa-apa?" Clara mendongakkan kepalanya, ia ingin turun namun Zev tidak hendak menurunkannya. Clara mengenali lelaki paruh baya itu, dia adalah pemandu lokal yang tadi mendampingi tim Clara. "Tidak apa-apa, Pak. Hanya terkilir." "Apa yang sebenarnya terjadi, nona? Tadi teman-teman Anda sangat panik mencari Anda." "Oh iya, di mana teman-teman saya yang lain, Pak?" "Mereka sudah kembali ke kota. Saya baru saja akan meminta bantuan tim penyelamat untuk mencari Anda." "Tidak perlu!" potong Zev tajam. Lelaki pemandu itu terkesiap. Dia sangat gembira bisa melihat Clara selamat hingga tidak menyadari siapa pria yang membopong Clara. Spontan pemandu itu menatap Zev. Seketika wajah lelaki tambun itu memucat, keringat dingin mengucur di pelipisnya. Zev menatapnya tajam, penuh peringatan. Matanya berkilat seolah sedang mengancam, yang membuat lelaki itu menggigil ketakutan. "Oh, i-iya, tidak perlu. Te-tentu tidak. Karena nona Clara sudah selamat." Lelaki itu berkata dengan terbata-bata, ia menunduk, tidak berani lagi menatap Zevko. "Sa-saya permisi." Tanpa menunggu jawaban, pemandu lokal itu segera berbalik, bergegas menjauhi Zevko. Langkahnya goyah, bahkan nyaris terjatuh. Melihat pemandangan itu Clara mengerutkan kening. Ia sangat heran, mengapa pemandu itu sangat ketakutan melihat Zev. Dia adalah penduduk lokal yang terbiasa dengan lokasi sekitar hutan, tapi mengapa sangat takut kepada Zev yang orang kantor? "Pak, apa pemandu tadi mengenal Anda? Apa yang Anda lakukan padanya sampai dia ketakutan begitu?"'Zev, tolong fokus. Sekarang sentuh liontin itu dan dekatkan ke penciumanmu,' bisik Clara melalui mind-link pada Zevko.'Ada apa, Cla? Apakah ada serangan sihir?' tanya Zevko bingung."Lakukan sekarang, Zev. Nanti kamu akan tahu.'Zevko mengangguk, ia membuka sedikit mantelnya lalu menggenggam liontin perak yang mulai berpendar. Zevko mengecup liontin itu dan menghirupnya dalam-dalam.Suasana di meja makan itu seketika terasa menegangkan. Valdas dan Valida yang tidak menyadari hanya termangu bingung. Mereka memperhatikan apa yang dilakukan Zevko dan Clara. Zevko fokus menggenggam kalung yang memendarkaan cahaya keperakan. Sedangkan Clara memejamkan mata. Satu tangannya disilangkan di dada. Ia nampak sedang berkonsentrasi."Valeska, aku Cla. Tolong bantu amankan tempat ini dari serangan luar. Gunakan sihir perlindungan. Aku harus melindungi Zev dan orang tuanya serta semua yang ada di mansion ini,"Valeska sedikit terkejut, karena Clara bisa menghubunginya melalui tautan batin. Namund
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, ketika sinar matahari baru saja menerobos celah tirai, suara ketukan pelan di pintu kamar terdengar.Clara terbangun dan perlahan membuka matanya. Ia merasakan lengan kekar Zevko masih melingkar erat di pinggangnya, memeluknya hangat. Pria itu masih terpejam lelap dengan napas yang teratur. Clara tersenyum tipis, lalu mengusap lembut pipi Zevko untuk membagungkannya."Zev... Zev, bangun. Ada yang mengetuk pintu," bisik Clara pelan.Zevko melenguh pelan, mempererat pelukannya sebentar sebelum akhirnya membuka mata menatap Clara. Ia mengecup kening Clara singkat, lalu beranjak dari tempat tidur dan berjalan membukakan pintu.Ternyata yang datang adalah seorang pelayan mansion. Dengan sikap sangat sopan dan menunduk hormat, pelayan itu membawa gaun indah lengkap dengan kotak perhiasan mewah."Maaf mengganggu, Alpha. Saya diutus oleh Luna Valida untuk menyerahkan gaun dan perhiasan ini kepada Nona Clavira," ujar pelayan tersebut.Zevko menerima barang-b
Dari balik tempat tersembunyi, seorang pria menatap Zevko dan Clara dengan tajam. Ia memperhatikan interaksi manis antara Zevko dan Clara. Pria itu menyaksikan sendiri bagaimana sang Alpha merengkuh pinggang gadis itu dengan begitu protektif, seolah ia adalah sosok berharga yang tak boleh tersentuh sedikit pun. Tanpa membuang waktu, pria itu berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan malam, bergegas menemui Thalia yang memberinya imbalan emas. Thalia berjalan bolak-balik di kamarnya dengan gelisah. Pikirannya dipenuhi rasa kesal atas sikap dingin orang tua Zevko dan sindiran Alec tadi. Namun, ketukan pelan di jendela kamarnya langsung memotong kegelisahannya. Thalia bergegas membuka jendela, mendapati mata-matanya berdiri di bawah bayangan pohon. "Ada berita apa? Apakah Zevko sudah kembali?" desak Thalia cepat. "Sudah, Nona. Alpha Zevko baru saja tiba di mansion utama," lapor pria itu setengah berbisik. "Tapi... beliau membawa seorang gadis. Alpha sendiri yang menuntunnya masuk ke
Valeska berlutut dengan gugup. "Ampun Alpha. Saya menemukan sesuatu, tapi belum sempat melaporkannya."Zevko menatap Alec dengan wajah serius. "Ada apa, Alec? Apa kamu juga tidak tahu?"Alec menggeleng seraya mendekati Valeska. "Vale, kamu belum memberikan laporan mengenai wilayah perbatasan utara. Apa di sana tidak aman?""Maafkan aku, Alec. Belakangan kita sangat sibuk, jadi aku lupa menceritakan tentang ini.""Hmh, baiklah, Vale. Sekarang ceritakan ada apa?""Beberapa waktu lalu, anak buahku melaporkan adanya serangan kecil di sana. Aku sudah memeriksa. Ada serangan sihir yang mencoba menerobos wilayah kita."Hening sejenak, semua terdiam mendengarkan laporan Valeska. "Apa kamu bisa mengatasinya?""Ya, tapi…""Tapi apa, Vale?" potong Alec tak sabar."Aku merasa serangan itu hanya penjajakan. Tapi aku merasakan energinya cukup besar. Aku berencana melaporkan ini kepada dewan tetua karena aku merasakan aliran sihir yang terasa asing.""Jangan ceritakan kepada siapa pun di dewan tetua
Zevko segera menghubungi Alec melalui mind-link. "Alec, segera ke perbatasan timur. Ada yang tidak beres di sini," titah Zevko, penuh tuntutan. "Zev, biar aku yang hadapi mereka. Anggap saja praktik lapangan," ujar Clara santai. "Tidak, Cla. Meskipun kamu memiliki kekuatan, tapi kamu belum terbiasa bertarung." "Ya, makanya aku harus sering terjun ke pertarungan yang sesungguhnya, kan? Supaya punya pengalaman. Lagi pula ada kamu yang akan memback-up-ku," Clara masih bersikukuh. Zevko terdiam, ia masih nampak ragu. "Tapi, Cla. Pamanmu mengingatkan kamu tidak boleh sembarang atau sering-sering menggunakan kekuatanmu—" "Itu kan kalau di depan tetua nanti," potong Clara cepat. Zevko menghela napas. "Baiklah, kita ke sana bersama," ujar Zevko, menyerah pada desakan mate-nya. Clara dan Zevko menoleh kembali pada pengeroyokan itu, namun mereka terkejut karena para pengeroyok itu mulai melakukan penyerangan. Tiga orang menyerang pemuda, dan dua orang lainnya menyerang si wanita. Melihat
Seorang gadis dengan riasan tebal dan pakaian mewah melangkah dengan anggun mendekati mereka. Tentu saja Valdas dan Valida mengenalinya. Dia adalah Thalia, putri salah seorang anggota dewan tetua, sekaligus keponakan Silas, pimpinan dewan tetua Pack Volkov."Thalia? Kamu Thalia, kan?" tanya Valida memastikan."Benar, bibi. Aku Thalia," jawab gadis itu seraya mendekat, lalu memeluk Valida. "Apa kabar, Bi. Senang sekali mendengarnya. Ternyata Bibi masih mengenaliku.""Kabar baik, Ta. Tentu saja bibi masih ingat. Kamu teman kecil Zev. Dulu kalian sering bermain bersama Alec juga, kan?" sahut Valida sambil melirik Alec. Sedangkan Alec hanya terdiam, wajahnya datar tanpa ekspresi. "Kamu makin cantik saja, Ta."Thalia tersipu malu, namun juga tersenyum bangga. "Ah, terima kasih, Bi. Bibi juga masih terlihat cantik dan awet muda." "Ah, kamu bisa aja," sahut Valida sambil tersenyum. "Oh ya, bagaimana kabar ibumu?""Ibu sudah meninggal, Bi. Sekarang aku tinggal bersama Bibi Camilla.""Oh, maa
"Tidak ada," jawab Zevko datar. "Mungkin kamu salah lihat."Clara terdiam, mencoba mengingat kejadian malam tadi. Suasana saat itu memang sangat kacau, hujan turun sangat deras bercampur angin. Bisa jadi dia memang salah lihat, ditambah kepalanya terasa berat karena masih diserang kantuk."Hmm, mung
Zevko berdiri tegak, sorot matanya bersinar tajam. Wajahnya memancarkan aura keagungan dan kewibawaan. Ia menatap sekeliling penuh kewaspadaan, namun ia tahu siapa yang ia perintahkan.Tidak lama berselang, tiga sosok muncul dari balik semak-semak. Mereka melangkah mendekati Zevko, lalu menundukan k
Untuk sesaat Clara membeku. Zevko ini benar-benar gila. Baru saja dia kembali dari hutan itu, besok harus kembali lagi ke sana? Namun, Clara tak punya pilihan selain mengikuti kemauan Zevko. Selain untuk membuktikan profesionalitasnya, dia juga memang ingin ke sana, untuk mencari tahu rahasia apa ya
Clara terdiam sesaat, ia menjadi bingung dengan sikap Zevko. Rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan pria ini. Bukankah seharusnya dia senang jika project ini sukses. Tapi mengapa dia bilang tidak peduli dengan project?"Lalu bagaimana dengan rapat nanti siang? Tidak mungkin untuk dibatalkan karen







