LOGINValeska berlutut dengan gugup. "Ampun Alpha. Saya menemukan sesuatu, tapi belum sempat melaporkannya."Zevko menatap Alec dengan wajah serius. "Ada apa, Alec? Apa kamu juga tidak tahu?"Alec menggeleng seraya mendekati Valeska. "Vale, kamu belum memberikan laporan mengenai wilayah perbatasan utara. Apa di sana tidak aman?""Maafkan aku, Alec. Belakangan kita sangat sibuk, jadi aku lupa menceritakan tentang ini.""Hmh, baiklah, Vale. Sekarang ceritakan ada apa?""Beberapa waktu lalu, anak buahku melaporkan adanya serangan kecil di sana. Aku sudah memeriksa. Ada serangan sihir yang mencoba menerobos wilayah kita."Hening sejenak, semua terdiam mendengarkan laporan Valeska. "Apa kamu bisa mengatasinya?""Ya, tapi…""Tapi apa, Vale?" potong Alec tak sabar."Aku merasa serangan itu hanya penjajakan. Tapi aku merasakan energinya cukup besar. Aku berencana melaporkan ini kepada dewan tetua karena aku merasakan aliran sihir yang terasa asing.""Jangan ceritakan kepada siapa pun di dewan tetua
Zevko segera menghubungi Alec melalui mind-link. "Alec, segera ke perbatasan timur. Ada yang tidak beres di sini," titah Zevko, penuh tuntutan. "Zev, biar aku yang hadapi mereka. Anggap saja praktik lapangan," ujar Clara santai. "Tidak, Cla. Meskipun kamu memiliki kekuatan, tapi kamu belum terbiasa bertarung." "Ya, makanya aku harus sering terjun ke pertarungan yang sesungguhnya, kan? Supaya punya pengalaman. Lagi pula ada kamu yang akan memback-up-ku," Clara masih bersikukuh. Zevko terdiam, ia masih nampak ragu. "Tapi, Cla. Pamanmu mengingatkan kamu tidak boleh sembarang atau sering-sering menggunakan kekuatanmu—" "Itu kan kalau di depan tetua nanti," potong Clara cepat. Zevko menghela napas. "Baiklah, kita ke sana bersama," ujar Zevko, menyerah pada desakan mate-nya. Clara dan Zevko menoleh kembali pada pengeroyokan itu, namun mereka terkejut karena para pengeroyok itu mulai melakukan penyerangan. Tiga orang menyerang pemuda, dan dua orang lainnya menyerang si wanita. Melihat
Seorang gadis dengan riasan tebal dan pakaian mewah melangkah dengan anggun mendekati mereka. Tentu saja Valdas dan Valida mengenalinya. Dia adalah Thalia, putri salah seorang anggota dewan tetua, sekaligus keponakan Silas, pimpinan dewan tetua Pack Volkov."Thalia? Kamu Thalia, kan?" tanya Valida memastikan."Benar, bibi. Aku Thalia," jawab gadis itu seraya mendekat, lalu memeluk Valida. "Apa kabar, Bi. Senang sekali mendengarnya. Ternyata Bibi masih mengenaliku.""Kabar baik, Ta. Tentu saja bibi masih ingat. Kamu teman kecil Zev. Dulu kalian sering bermain bersama Alec juga, kan?" sahut Valida sambil melirik Alec. Sedangkan Alec hanya terdiam, wajahnya datar tanpa ekspresi. "Kamu makin cantik saja, Ta."Thalia tersipu malu, namun juga tersenyum bangga. "Ah, terima kasih, Bi. Bibi juga masih terlihat cantik dan awet muda." "Ah, kamu bisa aja," sahut Valida sambil tersenyum. "Oh ya, bagaimana kabar ibumu?""Ibu sudah meninggal, Bi. Sekarang aku tinggal bersama Bibi Camilla.""Oh, maa
Gideon tidak serta-merta menjawab. Ia menghela napas sambil menatap Zevko dan Clara bergantian sebelum akhirnya berkata, "Jika tidak, marking Anda akan gagal. Karena perlindungan kalung ini akan menolak energi Anda, bahkan bisa berakibat fatal.""Berakibat fatal?" Clara dan Zevko bertanya serentak. Gideon mengangguk pelan."Maksudnya bagaimana, Paman?" tanya Clara bingung. Sedangkan Zevko terdiam, seketika dia ingat kejadian saat ia mencoba nekat menandai Clara yang sedang tertidur dalam pengaruh mantra sihir ibunya. Saat itu tubuh Zevko terpental."Maksudnya, aku tidak akan bisa menandaimu, sayang. Jangankan menandai, baru mendekati lehermu saja aku akan terpental," sela Zevko menjelaskan."Hah? Benarkah?" seloroh Clara, merasa hal itu konyol. "Bagaimana mungkin, Zev? Seorang Alpha perkasa sepertimu bisa terpental, kamu bercanda, ya?" Clara tertawa kecil."Itu fakta, sayang. Aku pernah mencobanya," sahut Zevko serius."Benarkah kamu mencoba menandaiku? Kapan, Zev?"Zevko menghela nap
"Ibu yang mengajarkanku," jawab Clara sambil tersenyum."Ibumu?" tanya Zevko bingung. Sedangkan Gideon tetap termangu dengan reaksi yang tidak bisa ditebak."Ya, kemarin ibu mendatangiku, lalu membawaku ke suatu tempat, sepertinya mirip kastil ini." Clara mengedarkan pandangannya ke sekeliling."Lalu?" desak Zevko tak sabar. Dia ingin tahu bagaimana Clara bisa mempelajari sihir perubahan wujud itu dengan cepat. Karena secara alami seseorang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mempelajarinya. Sebab itu tergolong sihir tingkat tinggi. "Ibu menggenggam tanganku, lalu menuntunku membaca mantera dan memperagakannya. Kata ibu, fokusnya ada di pikiranku. Aku hanya mengikuti apa yang Ibu lakukan."Zevko terdiam. Dia tidak bisa lagi berkata-kata. Sedangkan Gideon hanya menganggukkan kepala. "Ve benar-benar ingin menurunkan seluruh kekuatannya padamu, Cla. Nanti akan paman bantu menyempurnakannya lagi.""Apa itu belum sempurna, Gid?" tanya Zevko penasaran."Sebenarnya itu sudah cukup bag
Terdengar helaan napas berat dari Ayah Zevko. Beliau tahu persis putranya tidak sedang bercanda. Sebagai seorang mantan pemimpin yang kenyang pengalaman, Alpha Valdas langsung mencium bau ketidakberesan di dalam pack."Ayah," panggil Zevko dengan nada tidak sabar."Ya, Zev. Ayah sedang berpikir, apa yang sebenarnya terjadi di pack?""Maksud Ayah?""Zev, pack akan menggelar pernikahanmu—upacara penobatan Luna. Tapi kamu sendiri tidak tahu tentang undangan itu. Apa itu tidak aneh?""Hmm, sekarang aku mengerti. Pasti undangan itu dikirim oleh dewan tetua, kan, Yah?""Ya. Berarti kamu tahu?""Tidak, Yah. Aku baru tahu dari laporan Alec." Zevko pun membeberkan situasi yang sesungguhnya terjadi di barisan dewan tetua."Kurang ajar! Lancang sekali mereka!" umpat Valdas berang. "Berarti Thalia bukan mate-mu?!""Tentu saja bukan, Yah. Moon Goddess tahu apa yang terbaik untukku.""Mereka sudah menyebarkan berita kalau Thalia adalah calon Luna Volkov berikutnya. Lalu siapa mate-mu yang sebenarny
"Tidak ada," jawab Zevko datar. "Mungkin kamu salah lihat."Clara terdiam, mencoba mengingat kejadian malam tadi. Suasana saat itu memang sangat kacau, hujan turun sangat deras bercampur angin. Bisa jadi dia memang salah lihat, ditambah kepalanya terasa berat karena masih diserang kantuk."Hmm, mung
Zevko berdiri tegak, sorot matanya bersinar tajam. Wajahnya memancarkan aura keagungan dan kewibawaan. Ia menatap sekeliling penuh kewaspadaan, namun ia tahu siapa yang ia perintahkan.Tidak lama berselang, tiga sosok muncul dari balik semak-semak. Mereka melangkah mendekati Zevko, lalu menundukan k
Zevko tak menggubris pertanyaan Clara. Alih-alih menjawab ia langsung membuka pintu dan meletakkan Clara di kursi penumpang, lalu duduk di belakang kemudi. Zevko masih terdiam setelah menyalakan mesin. Tangannya menggenggam kemudi sambil mengetuk-ngetukan satu jarinya. Namun kemudian dia berkata de
"Suara apa itu?" gumam Clara pelan. Ia menghentikan langkahnya dan mempertajam pendengarannya. Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar dan dekat. Suara geraman. Jantung Clara berdegup keras, ia memperhatikan sekeliling. Sunyi, bahkan tidak ada suara burung-burung ataupun serangga. Pohon-poho







