مشاركة

Crimson League: Pakta Dendam di Puncak Kekuasaan
Crimson League: Pakta Dendam di Puncak Kekuasaan
مؤلف: ruruna

Prolog

مؤلف: ruruna
last update تاريخ النشر: 2024-12-27 15:14:40

Seorang pemuda berdiri di ujung lorong yang gelap. Udara di sekitarnya terasa dingin, menusuk hingga ke tulang. Keheningan membungkus tempat itu, hanya dipecahkan oleh suara langkah-langkah yang bergema di kejauhan. Langkah itu bukan miliknya. Ia mengikuti suara langkah itu.

Sosok familiar terlihat di depannya.

Ia tahu siapa itu.

"Ivana..." bisiknya pelan, seperti sebuah doa yang kehilangan harapan.

Pemuda itu kemudian berteriak tanpa ragu saat sosok itu mulai kembali menjauh, "Berhenti!" Suaranya menggema, memantul di antara dinding-dinding lorong yang terasa semakin sempit. Namun, sosok itu terus berjalan. Samar-samar dapat terlihat kondisi gadis itu dengan seragam sekolah yang kusam dan rambut hitam tergerai acak menutupi sebagian wajahnya. Langkah-langkahnya pelan tetapi tak terhentikan, seperti bayangan yang bergerak di antara gelap.

Pemuda itu masih mencoba mengejarnya. Namun, setiap langkahnya terasa berat, seperti berlari di atas pasir hisap. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak, tetapi dia tidak peduli. Dia harus menghentikan gadis itu, apapun yang terjadi.

"Ivana, tunggu!" teriaknya lagi, kali ini dengan nada putus asa.

Sosok itu akhirnya berhenti di depan sebuah tangga panjang yang muncul entah dari mana. Tangga itu menjulur ke dalam kegelapan yang seolah tak berujung, seperti pintu menuju kehampaan. Pemuda itu terpaku saat Ivana berbalik perlahan.

Dia berharap melihat wajah yang dikenalnya—wajah ceria gadis itu yang selalu bersinar. Tapi yang dilihatnya adalah mimpi buruk yang hidup. Wajah Ivana penuh luka, seolah-olah baru saja melalui sesuatu yang tak manusiawi. Darah kering menodai pipinya dan matanya, yang dulu selalu bersinar, kini kosong. Hampa. Tak ada kehidupan di sana, hanya pantulan gelap seperti kaca retak yang menyimpan ribuan rasa sakit.

"Kamu terlambat, Evan," kata Ivana. Suaranya tenang, terlalu tenang, seperti angin dingin yang menyusup melalui celah dinding.

"Ivana, jangan lakukan ini. Kumohon... Kemarilah!" Pemuda itu, Evan, mengulurkan tangannya, mencoba meraih gadis itu. Tapi jarak di antara mereka terasa semakin jauh. Kakinya tetap berat, seperti ada kekuatan tak terlihat yang menahannya.

Ivana hanya tersenyum tipis. Senyum itu tidak lagi membawa kehangatan seperti seharusnya—hanya dingin. "Sudah terlambat, Kak," gumamnya pelan. Lalu, dengan gerakan yang begitu tiba-tiba, Ivana menjatuhkan tubuhnya ke belakang, menghilang ke dalam kegelapan yang tak berbatas. Cahaya terakhir yang ada di lorong itu ikut lenyap bersamanya, meninggalkan Evan dengan mata terbelalak.

"Tidak!" Evan berteriak sekuat tenaga pada kehampaan yang tak berujung.

.

.

.

.

.

Evan terbangun dengan napas tersengal, tubuhnya basah oleh keringat dingin. Ruangan yang gelap menyambutnya dengan keheningan, seolah mimpi tadi belum benar-benar berakhir. Dia menatap langit-langit, mencoba mengatur nafas yang terasa berat. Itu hanya mimpi, pikirnya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Tapi bayangan Ivana yang jatuh ke dalam kegelapan terus terulang di pikirannya, seperti sebuah rekaman yang diputar tanpa henti.

Tangannya gemetar saat meraih liontin kecil yang tergantung di lehernya. Itu satu-satunya peninggalan Ivana, benda yang selalu membuatnya merasa bahwa gadis itu masih ada di sisinya.

Evan tahu mimpi itu bukan sekadar bunga tidur. Itu adalah pengingat. Luka di hatinya kembali terasa, luka yang tidak akan pernah sembuh.

Dia bersumpah pada dirinya sendiri—pada Ivana. Dia tidak akan berhenti sampai mereka yang telah menghancurkan hidup Ivana membayar harga yang setimpal. Evan mengepalkan tangannya, membulatkan tekad.

Hari pembalasan itu akan tiba.

_____

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Crimson League: Pakta Dendam di Puncak Kekuasaan   The Deal (5)

    “Dante! Tidak tahu kalau kau akan begitu tertarik dengan siapa aku bergaul,” Kael menanggapi dengan nada main-main.“Oh ya! bukan emas, tapi berlian,” lanjut Kael sambil mengedipkan matanya pada pemuda jangkung itu. Ia kemudian terkekeh sendiri dengan leluconnya sementara Evan menatapnya aneh. Ia tidak mengerti apa yang lucu.Dante hanya menatap datar pada Kael, mengabaikan ucapannya kemudian mengalihkan pandangannya pada Evan.“Kau sudah berapa lama berlatih?”“Baru satu tahun terakhir,”“Sesuai dugaanku, kau punya potensi yang besar. Sayang sekali baru mulai, kau akan bisa mengalahkan Jun kalau mulai berlatih lebih awal.”“Terima kasih?”“Oh ini menarik, hebat sekali Evan, kau bisa membuat orang ini memuji mu.”Dante sama sekali tidak menghiraukan ucapan Kael. Menurutnya waktunya terlalu berharga untuk menanggapi pemuda itu. Ia tetap fokus berbicara pada Evan.“Teruskan latihannya, mungkin kau bisa bergabung untuk tim turnamen tahun ini,” katanya.“Tentu saja,” balas Evan dengan sedi

  • Crimson League: Pakta Dendam di Puncak Kekuasaan   The Deal (4)

    “Mulai!”Pemuda berbaju merah itu tidak membuang-buang waktu. Segera setelah mendengar aba-aba, ia langsung bergerak cepat ke arah Jun. Dia mencoba menangkap Jun dengan tangannya untuk menjatuhkannya langsung ke matras. Begitulah Evan dan juga yang lainnya menyadari kalau dasar bela diri yang lebih muda adalah Judo.Evan seperti beberapa orang lainnya di situ punya pikiran yang hampir sama. Jun akan langsung kalah saat pemuda itu berhasil menangkap dan mengunci pergerakannya. Perbedaan ukuran tubuh keduanya jelas menguntungkan pemuda yang lebih muda.Namun, hal yang mengejutkan kemudian terjadi. Seakan sudah mengantisipasi gerakan itu, Jun tetap tenang saat pemuda itu mencoba menangkapnya. Ia kemudian menangkis kedua tangan pemuda itu dengan lengannya dan kemudian menendang dadanya, membuatnya terdorong ke belakang beberapa langkah sementara Jun tetap di posisinya.Pemuda itu tak menyerah. Ia sekali lagi maju dengan serius, berusaha menjepit Jun untuk melakukan lemparan. Akan tetapi,

  • Crimson League: Pakta Dendam di Puncak Kekuasaan   The Deal (3)

    Bunyi bel terakhir berdentang nyaring, menandai berakhirnya jam pelajaran hari itu. Siswa-siswi di Crimson Ridge Academy bergegas keluar dari kelas mereka masing-masing untuk jadwal kegiatan ekstrakurikuler mereka. Beberapa tampak langsung menuju arah lapangan atau aula tempat berbagai kegiatan ekstrakurikuler diadakan, sementara yang lain tampak berjalan ke asrama terlebih dahulu. Evan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, lalu berdiri dan melangkah keluar kelas dengan tenang. Di tangannya tergenggam sehelai kertas berwarna krem dengan cap resmi Crimson Ridge di sudut kanannya. Tulisan "Pendaftaran Ekstrakurikuler Bela Diri" tercetak jelas di bagian atas kertas itu. Jika mengikuti ucapan Sera yang menyarankannya untuk memilih ekskul yang bisa menunjang nilai akhirnya, maka Evan akan memilih ekskul Sains atau Matematika. Namun, sejak awal prioritasnya bukanlah nilai. ‘Tempat paling tepat untuk mencari tahu tentang lawanmu adalah di sarang mereka sendiri,’ begitulah pikirnya. Dari h

  • Crimson League: Pakta Dendam di Puncak Kekuasaan   The Deal (2)

    Sera menyeka sudut bibirnya dengan tisu, lalu melirik ke arah jam tangan mungil di pergelangan tangan kirinya. “Sudah jam segini. Aku duluan ya. Kau juga, kalau sudah selesai cepatlah ke kelas. Jangan sampai terlambat!” ujar Sera sambil merapikan nampan sarapannya. Evan mengangguk kecil. “Oke!” balasnya. Sera berdiri, bersiap untuk pergi. Namun, sebelum itu ia menoleh kembali ke arah Evan. “Oh, satu hal lagi. Kau sudah tahu mau ikut ekstrakurikuler apa?” “Ahh... belum,” Evan berkata sedikit canggung. “Aku masih sedikit bingung ingin bergabung dengan klub mana.” Sera tersenyum maklum. “Batas pendaftarannya sampai akhir minggu ini. Sekedar saran dariku, pilih dengan baik klub yang akan kau ikuti. Bagaimanapun juga kegiatan ekstrakurikuler ini akan mempengaruhi nilai akhirmu nanti.” “Baiklah! Terima kasih untuk sarannya, Sera,” Evan membalas sambil tersenyum pada gadis itu. Sera mengangguk pelan pada Evan sebelum akhirnya beranjak pergi. Ia membawa nampan bekas sarapannya menuju

  • Crimson League: Pakta Dendam di Puncak Kekuasaan   The Deal (1)

    Kantin pagi itu sudah mulai dipenuhi siswa. Suara denting alat makan, obrolan ringan, dan tawa pelan bersatu dalam hiruk pikuk yang khas. Bau roti panggang dan kopi menguar di udara. Evan melangkah gontai memasuki kantin untuk sarapan. Malam sebelumnya cukup membuatnya kewalahan secara mental. Setelah mengisi nampannya dengan sepotong roti lapis, beberapa potong buah dan mengambil sekotak jus, ia berdiri sejenak di depan deretan meja. Pandangannya menyapu ke seluruh ruangan, mencari tempat duduk yang kosong. Saat itulah ia melihat sosok yang familiar. Pemuda itu melangkah mendekati meja tersebut. "Sera! keberatan kalau aku bergabung?" Sera yang tengah menusuk potongan buah di piringnya, menoleh ke arahnya. “Oh, Evan! Sama sekali tidak, duduk saja!” jawabnya dengan ramah disertai senyum tipis. Evan mengangguk singkat, lalu menarik kursi di depannya. Mereka duduk berhadapan. Ia mulai menikmati roti lapis miliknya dengan tenang sebelum suara Sera memecah keheningan. “Kau baik-baik

  • Crimson League: Pakta Dendam di Puncak Kekuasaan   A Chance (3)

    "Ivana..." bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.Namun, itu saja cukup untuk membuat waktu seakan berhenti bagi Evan.Mendengar nama itu, hati Evan berdegup kencang. Ia mengendurkan cengkeramannya sedikit, cukup untuk memungkinkan Rai bergerak lebih leluasa namun tetap dalam kendalinya....Kini keduanya tengah duduk di ranjang masing-masing, saling berhadapan namun sibuk dengan pikiran mereka sendiri-sendiri. Tidak ada dari mereka yang berniat memecah keheningan yang menggantung di kamar itu.Evan akhirnya berdiri, menghela napas sebelum meraih kursinya yang terjatuh akibat dorongan mendadak dari Rai tadi. Ia membetul

  • Crimson League: Pakta Dendam di Puncak Kekuasaan   Crimson Royal (2)

    Evan saat ini berada di salah satu sudut perpustakaan akademi. Ruangan yang sunyi terlepas dari beberapa murid yang terlihat. Terdapat rak-rak buku yang menjulang tinggi juga beberapa perangkat komputer. Di meja tempatnya duduk, ponsel milik Evan tergeletak dengan layar menyala, menampilkan percaka

  • Crimson League: Pakta Dendam di Puncak Kekuasaan   Crimson Royal (1)

    Ares.Evan ragu sejenak. Ia tahu Ares mungkin tidak mengingat dirinya—karena pemuda itu bukan tipe orang yang peduli dengan lingkungan sekitar.Dengan langkah hati-hati, Evan berjalan ke meja kosong di samping Ares. "Permisi," katanya sambil duduk.Ares, yang sebelumnya tampak tenggelam dalam pikir

  • Crimson League: Pakta Dendam di Puncak Kekuasaan   Behind the Kindness

    Pagi itu, udara terasa segar dan dingin, menyapa kulit Evan yang baru terbangun. Angin pagi menyusup melalui jendela yang sedikit terbuka, membawa aroma segar rumput basah dan tanah yang masih diliputi embun. Sinar matahari yang mulai menembus celah tirai memberikan nuansa hangat pada ruangan. Evan

  • Crimson League: Pakta Dendam di Puncak Kekuasaan   Fading Light

    “Evan!” Suara seorang gadis menghentikan langkah Evan yang hampir sampai di ruang makan. Ia menoleh dan mendapati Sasha melambaikan tangan ke arahnya.“Sasha.” Evan menyapa singkat sambil menunggu gadis itu menyusulnya."Mau makan malam ya?" tanya Sasha setel

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status