Compartilhar

Bab 2

Autor: Rumput
Ketika ibuku melihat semua itu, dia sungguh merasa kasihan.

Malam itu, dia kembali memelukku. Air matanya jatuh dan membasahi pundakku.

"Jasmine-ku, kenapa kamu nggak bisa berbicara?"

"Meskipun cuma satu kata saja, cukup satu kata saja, Mama juga rela untuk mati."

Aku bisa merasakan tubuhnya yang gemetar.

Itu adalah keputusasaan dari seorang ibu.

Hatiku juga bukan terbuat dari besi.

Pada saat ini, hatiku mulai sedikit goyah.

Mungkin sudah saatnya aku berbicara.

Aku berencana untuk membuka mulutku dan mencoba untuk mengucapkan suku kata yang terasa asing itu.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki buru-buru dari luar ruang baca.

Pengurus rumah tangga, Petra, berlari ke dalam dengan tergesa-gesa hingga hampir terjatuh.

"Nyonya, gawat!"

"Ada orang dari Negara Inggaria!"

"Predator finansial paling ganas di Wall Street, Charles Kimiardi, sudah tiba di perusahaan!"

Raut wajah ibuku memucat.

Charles Kimiardi.

Nama itu bagaikan awan gelap yang terus membayangi Grup Sebastian.

Dia adalah tokoh yang paling ganas di Wall Street, yang khusus melakukan aksi short selling terhadap perusahaan-perusahaan keluarga di Benua Arnada.

Beberapa tahun belakangan ini, dia sudah mengambil alih tiga perusahaan yang memiliki skala setara dengan Grup Sebastian.

"Untuk apa dia kemari?" tanya ibuku.

Suara Petra terdengar bergetar.

"Dia … dia datang untuk membahas akuisisi. Ucapannya sangat nggak sopan. Dia bilang ingin membuat Grup Sebastian ‘meninggalkan panggung sejarah dengan terhormat’!"

Ibuku terhuyung, lalu menopang sudut meja.

Apa yang disebut "membahas akuisisi" sebenarnya adalah istilah lain untuk "pengambilalihan secara paksa".

Sebuah badai besar akan segera datang.

Aku mengangkat kepala dan memandang langit mendung di luar jendela.

Sepertinya, sudah saatnya aku mengakhiri kehidupan tenangku untuk menjadi orang tidak berguna.

Baiklah.

Selalu ada beberapa lalat tidak tahu diri yang bersikeras membuka paksa mata singa yang sedang tertidur.

Ayahku segera memanggil seluruh anggota keluarga dan para eksekutif inti untuk menghadiri rapat darurat di ruang rapat lantai paling atas gedung Grup Sebastian.

Aku juga dibawa ke sana dan berdiri di sudut ruangan.

Ini adalah sebuah aturan. Cucu perempuan tertua harus ikut menyimak urusan penting keluarga.

Biasanya, aku selalu mencari tempat di sudut ruangan, berdiri di sana sepanjang pagi, sementara pikiranku melayang ke mana-mana.

Namun hari ini, suasananya terasa berbeda.

Seluruh ruang rapat terasa sangat hening. Wajah semua orang tampak kelam karena menahan amarah dan rasa terhina.

Ayahku duduk di kursi utama. Raut wajahnya kelihatan sangat muram.

Di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya berbadan tinggi yang mengenakan setelan formal.

Di balik kacamata bingkai emasnya terdapat sepasang mata setajam elang.

Pria itu tidak lain adalah Charles Kimiardi. Wajahnya khas keturunan Negara Tamara, tetapi merupakan predator yang dibesarkan di Wall Street.

"Pak Andreas, apa begini cara Grup Sebastian menjamu tamu?"

Charles angkat bicara. Dia berbicara dalam bahasa Tamara yang sangat fasih, tetapi nada suaranya penuh ejekan.

"Aku terbang selama 14 jam dari New Iwara kemari. Kalian hanya memperlihatkan ini kepadaku?"

Charles mengulurkan jari tangan panjangnya menunjuk para eksekutif yang sedang ketakutan.

"Mereka hanyalah sekumpulan kutu buku yang bisa membaca angka-angka dalam laporan keuangan saja!"

"Aku sedang membahas soal modal kepada kalian, tapi kalian malah membahas soal perasaan kepadaku."

"Saat aku sedang membahas soal aturan pasar, kalian malah bicara soal fondasi bisnis yang sudah dibangun selama seratus tahun."

"Konyol!"

"Benar-benar konyol!"

Charles tertawa dengan lantang. Suara tawanya yang menggema di seluruh ruang rapat hening ini terdengar sangat menusuk telinga.

"Pak Charles!"

Direktur keuangan merasa marah hingga sekujur tubuhnya gemetar. Dia pun berdiri.

"Ini adalah rapat dewan direksi Grup Sebastian. Jangan bertindak semena-mena!"

Charles meliriknya sekilas. Raut wajahnya kelihatan sinis.

"Wulio, aku mengenalmu."

"Kemarin, kamulah yang mengatakan kepadaku sesuatu tentang ‘kehangatan perusahaan keluarga’."

"Asal kamu tahu, aturan dari Wall Street kami adalah, kehangatan tanpa keuntungan hanyalah awal mula dari kematian!"

"Hanya orang lemah saja yang perlu menutupi ketidakberdayaannya dengan perasaan!"

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Cucu Perempuan Tertua yang Membisu   Bab 11

    Dia sedang berpikir.Dia sedang menimbang.Dia sedang menilai kebenaran di dalam ucapanku.Seorang putri yang "dirasuki dewa" seperti monster.Atau seorang putri yang "kecerdasannya nyaris seperti monster, serta memiliki pikiran yang penuh perhitungan".Mana yang mendatangkan ancaman lebih kecil untuk bisnisnya?Jawabannya … sudah jelas.Waktu berlalu cukup lama.Saking lamanya, aku mengira ayahku akan marah dan mengurungku.Namun, dia malah tiba-tiba tertawa.Suara tawanya sangat ringan dan rendah.Seperti sejenis rasa lega seolah beban berat telah terangkat dari pundaknya."Baik.""Kamu pintar dalam menyembunyikan."Dia bangkit dari kursi, lalu berjalan ke hadapanku untuk membantuku berdiri."Putriku bisa berbicara di usia tiga tahun, kemudian bisa menyelesaikan 3.000 buku di usia delapan tahun.""Kamu bukan idiot, melainkan anak genius yang langka.""Kamu nggak melakukan kesalahan, justru sudah melakukan jasa besar!"Dia menepuk-nepuk pundakku dengan tenaga sangat kuat."Mengenai al

  • Cucu Perempuan Tertua yang Membisu   Bab 10

    "Jasmine, apa semua ini … juga diajarkan dewa di dalam mimpimu?"Pertanyaan ayahku seperti sebilah pisau dingin.Dalam sesaat, menghancurkan suasana harmonis di dalam ruangan.Senyum di wajah ibuku juga terkaku.Dia memang tidak mengerti bisnis, tetapi dia dapat merasakan sedikit kecurigaan dan sikap menguji yang tersembunyi begitu dalam di balik perkataan ayahku.Udara di dalam ruangan seolah-olah membeku.Aku menatap ayahku.Aku tahu bahwa alasan "petunjuk dewa di dalam mimpi" yang baru saja kugunakan sudah mulai menunjukkan celah.Menjelaskan satu keajaiban masih bisa mengandalkan alasan bahwa itu adalah petunjuk dari para dewa.Namun, jika harus terus-menerus menjelaskan kecerdasan dan strategi yang jauh melampaui usiaku, semuanya tidak mungkin hanya mengandalkan para dewa.Seorang pebisnis memang penuh kecurigaan.Terutama ayahku yang merintis dari nol dan membangun kerajaan bisnis bernilai fantastis dengan tangannya sendiri.Dia bisa saja sangat bahagia karena mendapatkan seorang

  • Cucu Perempuan Tertua yang Membisu   Bab 9

    Seolah-olah ini pertama kalinya dia mengenal putrinya."Jasmine, kamu … sejak kapan kamu bisa bicara? Kenapa … kenapa kamu nggak pernah beri tahu Mama?"Terdengar rasa penuh hati-hati dalam suara ibuku.Aku menatapnya. Sebenarnya aku sudah mempersiapkan penjelasan sebelumnya.Jawabannya hampir mirip dengan jawaban yang kuberikan kepada ayahku.Semua ini karena ada seorang dewa yang mengajarkan semua itu kepadaku di dalam mimpi. Aku sendiri juga tidak tahu alasannya, tetapi dalam keadaan terdesak hari ini, tiba-tiba saja aku mendapat pencerahan dan semuanya menjadi jelas.Penjelasan ini memang terdengar sangat mistis dan sulit dipercaya.Hanya saja, bagi seorang ibu yang begitu mencintai putrinya, penjelasan itu justru paling mudah diterima dan paling menenangkan hatinya.Sesuai dugaanku.Setelah mendengar ucapanku, ibuku tidak merasa curiga sama sekali.Dia hanya mengatupkan kedua tangannya, menghadap jendela untuk berdoa."Terima kasih atas perlindungan Yang Maha Kuasa. Terima kasih a

  • Cucu Perempuan Tertua yang Membisu   Bab 8

    Para eksekutif yang barusan dipermalukan Charles hingga tidak berani mengangkat kepala, kini satu per satu menegakkan punggung. Wajah mereka memerah karena semangat, seolah-olah semua rasa kesal dan amarah yang telah terpendam selama bertahun-tahun telah tersingkirkan.Ayahku juga berdiri, berjalan ke hadapanku, lalu menepuk pundakku dengan kuat."Bagus! Ide akuisisi balik yang bagus! Kita harus menunjukkan wibawa kita!""Kamu memang darah daging Keluarga Sebastian!"Ayahku langsung memerintah di tempat."Petra, segera susun sebuah surat perjanjian. Isinya sesuai dengan yang dikatakan Jasmine tadi. Jangan sampai mengubah satu kata pun!""Hardy, kamu pimpin sendiri timnya. Bawa beberapa orang yang kompeten, lalu temani Charles kembali ke New Iwara!""Aku ingin Wall Street tahu bahwa Grup Sebastian bukanlah pihak lemah yang bisa dipermainkan sesuka hati!"Serangkaian perintah itu disampaikan dengan tegas dan penuh wibawa.Suasana di seluruh Grup Sebastian langsung berubah drastis.Dari y

  • Cucu Perempuan Tertua yang Membisu   Bab 7

    Tubuh ayahku kembali gemetar.Dia sedang menatapku. Rasa bingung di dalam tatapannya mulai menghilang, berubah menjadi sejenis cahaya penuh rasa semangat.Dia mendongak dan tertawa terbahak-bahak.Suara tawa terdengar lantang, penuh dengan rasa lega dan gembira yang telah dipendam cukup lama. "Hahahaha!""Bagus! Petunjuk dewa dalam mimpi! Sudah mengetahuinya sejak lahir!""Ternyata putriku bukan anak idiot!""Putri dari Andreas Sebastian adalah seorang genius bisnis!"Dia langsung menggendongku.Tubuhku sangat kecil. Aku pun diangkatnya ke atas kepala dengan gampang.Andreas berbalik, lalu menghadap semua orang di dalam rumah. Suaranya terdengar sangat lantang, penuh dengan rasa arogan dan wibawa yang tidak terpancar sebelumnya."Semuanya harap dengarkan dengan bagus!""Mulai hari ini, Jasmine Sebastian resmi masuk ke jajaran inti Grup Sebastian!""Semua keputusan besar harus mendapatkan persetujuannya!"Begitu ucapan dilontarkan, semua orang di dalam ruangan merasa kaget!Seorang ana

  • Cucu Perempuan Tertua yang Membisu   Bab 6

    Pembantu di samping segera memapahnya.Aku dapat mendengar suara isak tangis bahagia yang bercampur haru yang sedang ditahannya.Beberapa sepupu perempuanku memasang ekspresi yang benar-benar sulit dideskripsikan.Ekspresi ejekan dan rasa bersenang-senang ketika melihat penderitaanku yang sebelumnya terpancar di wajah mereka telah lenyap tanpa jejak.Sebagai gantinya, yang tersisa adalah keterkejutan seolah-olah mereka baru saja melihat hantu, sama sepertiku.Selain itu, ada juga sedikit rasa takut … yang tidak bisa disembunyikan.Tatapan mereka ketika melihatku tidak seperti sedang menatap seorang anak idiot.Melainkan seperti sedang memandang sosok mengerikan yang sama sekali tidak mampu mereka pahami.Sementara, ayahku.Dia sedang berdiri di depan meja rapat. Tubuhnya yang tinggi dan besar itu sedikit bergetar.Bukan karena marah, melainkan karena sangat gembira.Sepasang mata yang telah lama ditempa dunia bisnis itu, kini tampak lebih bercahaya dari sebelumnya.Di dalamnya terdapat

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status