Share

Bab 3

Author: Rumput
Wajah direktur keuangan langsung memerah. Dia langsung menunjuk Charles. "Kamu … Kamu …." Namun setelah beberapa saat, dia kehabisan napas dan tiba-tiba ambruk ke belakang.

"Pak Wulio!"

Orang di samping segera memapahnya.

Suasana di dalam ruang rapat menjadi ricuh.

Ayahku menggebrak meja, lalu menjerit dengan murka, "Cukup!"

Kali ini, Charles baru menjaga sikapnya, tetapi masih terlihat ekspresi meremehkan di wajahnya.

Dia menangkupkan tangannya ke arah ayahku dengan sikap ala kadarnya.

"Pak Andreas, aku juga nggak bertele-tele dengan kalian."

"Komite investasi kami sudah memutuskan bahwa harga saham Grup Sebastian nggak akan bisa bertahan sampai tahun depan."

"Kalau kalian menjual sekarang, kalian masih bisa menjualnya dengan harga enam triliun."

"Begitu kami mulai melakukan short selling, aku khawatir nilainya nggak sampai dua triliun."

"Selain itu, kami tertarik dengan tanah milik Grup Sebastian di kawasan selatan kota. Tanah itu bisa kami gunakan untuk mengembangkan perumahan kelas atas."

"Aku juga dengar-dengar tim teknologi perusahaan kalian cukup bagus. Kami ingin membajak seluruh tim …."

Charles masih belum menyelesaikan omongannya.

Namun, suasana seluruh ruang rapat langsung gempar.

Menekan harga untuk mengakuisisi perusahaan, merampas lahan, bahkan membajak tim inti perusahaan!

Apa ini yang disebut datang untuk membahas akuisisi?

Jelas-jelas dia datang untuk menghancurkan Grup Sebastian!

"Keterlaluan!"

"Sialan, keluar dari sini!"

"Kak, ayo kita lawan dia!"

Di pihak Paman Kedua, beberapa pemegang saham sudah tidak mampu menahan amarah mereka.

Charles mencibir.

"Melawanku?"

"Oke."

Dia menatap Paman Kedua yang berada di posisi terdepan.

"Aku kenal denganmu, kamu anak kedua dari Keluarga Sebastian, ‘kan? Tiga tahun lalu, kamu yang memimpin proyek properti itu. Berapa besar kerugiannya? Rugi 400 miliar? Atau 600 miliar?"

Wajah Paman Kedua seketika memerah, seolah-olah baru saja ditampar keras di depan umum. Dia mengepal erat tangannya hingga terlihat urat hijau menonjol di atasnya, tetapi dia tidak mengatakan sepatah kata pun.

Charles kembali mengalihkan pandangannya kepada seorang eksekutif lainnya.

"Kamu itu direktur pemasaran, ‘kan? Pada Harbolnas tahun lalu, berapa besar biaya pemasaran yang kalian keluarkan? Berapa tingkat konversi yang berhasil kalian dapatkan? Pertumbuhan kinerja yang menyedihkan itu, memangnya cukup untuk membayar biaya iklan?"

Direktur tersebut juga menundukkan kepalanya. Wajahnya dipenuhi rasa malu.

Tatapan Charles menyapu seluruh ruangan. Semua orang yang tadi berteriak-teriak kini langsung bungkam.

Ruang rapat kembali diliputi keheningan seperti kematian.

Keheningan yang dipenuhi penghinaan dan ketidakberdayaan.

Aku berdiri di sudut ruangan dan menyaksikan semua ini.

Mereka adalah elite dari Grup Sebastian.

Departemen keuangan tidak mampu membantahnya, sementara departemen pemasaran telah ditusuk tepat pada titik kelemahannya.

Semua orang di ruangan itu ternyata dibuat tidak berkutik oleh predator Wall Street, sampai tidak ada seorang pun berani mengangkat kepala.

Aku mulai mengantuk.

Sungguh.

Situasi ini bahkan lebih buruk daripada yang kubayangkan.

Rasanya seperti sekelompok orang dewasa yang diadang seorang preman jalanan di sebuah gang, ditampar satu per satu, tetapi tidak satu pun yang berani melawan atau mengeluarkan suara.

Dada ayahku naik turun dengan hebat.

Aku tahu, amarahnya sudah di ujung tanduk.

Hanya saja, dia tidak boleh meluapkannya.

Sebab, semua yang dikatakan Charles adalah kenyataan.

Kinerja Grup Sebastian memang menurun.

Inilah kesedihan menjadi orang yang lemah.

Charles sangat puas melihat hasil seperti ini.

Dia berdeham, bersiap-siap mengajukan tuntutan yang lebih keterlaluan.

"Berhubung nggak ada yang berbicara, itu berarti semuanya sudah setuju, ‘kan?"

"Pihak investasi kami juga menuntut …."

Suara Charles yang tak henti-hentinya mengoceh terdengar seperti dengungan seekor lalat di telingaku.

Sebenarnya, aku hanya ingin diam-diam menjadi penonton.

Namun, lalat ini benar-benar terlalu berisik.

Aku sudah muak.

Aku benar-benar sudah muak.

Di dalam ruang rapat yang begitu hening, semua orang sedang menunduk, tidak ada yang memperhatikan aku di sudut ruangan.

Aku bergerak.

Aku bergerak maju satu langkah.

Hanya satu langkah.

Aku pun berjalan dari sudut yang gelap ke bawah cahaya lampu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cucu Perempuan Tertua yang Membisu   Bab 11

    Dia sedang berpikir.Dia sedang menimbang.Dia sedang menilai kebenaran di dalam ucapanku.Seorang putri yang "dirasuki dewa" seperti monster.Atau seorang putri yang "kecerdasannya nyaris seperti monster, serta memiliki pikiran yang penuh perhitungan".Mana yang mendatangkan ancaman lebih kecil untuk bisnisnya?Jawabannya … sudah jelas.Waktu berlalu cukup lama.Saking lamanya, aku mengira ayahku akan marah dan mengurungku.Namun, dia malah tiba-tiba tertawa.Suara tawanya sangat ringan dan rendah.Seperti sejenis rasa lega seolah beban berat telah terangkat dari pundaknya."Baik.""Kamu pintar dalam menyembunyikan."Dia bangkit dari kursi, lalu berjalan ke hadapanku untuk membantuku berdiri."Putriku bisa berbicara di usia tiga tahun, kemudian bisa menyelesaikan 3.000 buku di usia delapan tahun.""Kamu bukan idiot, melainkan anak genius yang langka.""Kamu nggak melakukan kesalahan, justru sudah melakukan jasa besar!"Dia menepuk-nepuk pundakku dengan tenaga sangat kuat."Mengenai al

  • Cucu Perempuan Tertua yang Membisu   Bab 10

    "Jasmine, apa semua ini … juga diajarkan dewa di dalam mimpimu?"Pertanyaan ayahku seperti sebilah pisau dingin.Dalam sesaat, menghancurkan suasana harmonis di dalam ruangan.Senyum di wajah ibuku juga terkaku.Dia memang tidak mengerti bisnis, tetapi dia dapat merasakan sedikit kecurigaan dan sikap menguji yang tersembunyi begitu dalam di balik perkataan ayahku.Udara di dalam ruangan seolah-olah membeku.Aku menatap ayahku.Aku tahu bahwa alasan "petunjuk dewa di dalam mimpi" yang baru saja kugunakan sudah mulai menunjukkan celah.Menjelaskan satu keajaiban masih bisa mengandalkan alasan bahwa itu adalah petunjuk dari para dewa.Namun, jika harus terus-menerus menjelaskan kecerdasan dan strategi yang jauh melampaui usiaku, semuanya tidak mungkin hanya mengandalkan para dewa.Seorang pebisnis memang penuh kecurigaan.Terutama ayahku yang merintis dari nol dan membangun kerajaan bisnis bernilai fantastis dengan tangannya sendiri.Dia bisa saja sangat bahagia karena mendapatkan seorang

  • Cucu Perempuan Tertua yang Membisu   Bab 9

    Seolah-olah ini pertama kalinya dia mengenal putrinya."Jasmine, kamu … sejak kapan kamu bisa bicara? Kenapa … kenapa kamu nggak pernah beri tahu Mama?"Terdengar rasa penuh hati-hati dalam suara ibuku.Aku menatapnya. Sebenarnya aku sudah mempersiapkan penjelasan sebelumnya.Jawabannya hampir mirip dengan jawaban yang kuberikan kepada ayahku.Semua ini karena ada seorang dewa yang mengajarkan semua itu kepadaku di dalam mimpi. Aku sendiri juga tidak tahu alasannya, tetapi dalam keadaan terdesak hari ini, tiba-tiba saja aku mendapat pencerahan dan semuanya menjadi jelas.Penjelasan ini memang terdengar sangat mistis dan sulit dipercaya.Hanya saja, bagi seorang ibu yang begitu mencintai putrinya, penjelasan itu justru paling mudah diterima dan paling menenangkan hatinya.Sesuai dugaanku.Setelah mendengar ucapanku, ibuku tidak merasa curiga sama sekali.Dia hanya mengatupkan kedua tangannya, menghadap jendela untuk berdoa."Terima kasih atas perlindungan Yang Maha Kuasa. Terima kasih a

  • Cucu Perempuan Tertua yang Membisu   Bab 8

    Para eksekutif yang barusan dipermalukan Charles hingga tidak berani mengangkat kepala, kini satu per satu menegakkan punggung. Wajah mereka memerah karena semangat, seolah-olah semua rasa kesal dan amarah yang telah terpendam selama bertahun-tahun telah tersingkirkan.Ayahku juga berdiri, berjalan ke hadapanku, lalu menepuk pundakku dengan kuat."Bagus! Ide akuisisi balik yang bagus! Kita harus menunjukkan wibawa kita!""Kamu memang darah daging Keluarga Sebastian!"Ayahku langsung memerintah di tempat."Petra, segera susun sebuah surat perjanjian. Isinya sesuai dengan yang dikatakan Jasmine tadi. Jangan sampai mengubah satu kata pun!""Hardy, kamu pimpin sendiri timnya. Bawa beberapa orang yang kompeten, lalu temani Charles kembali ke New Iwara!""Aku ingin Wall Street tahu bahwa Grup Sebastian bukanlah pihak lemah yang bisa dipermainkan sesuka hati!"Serangkaian perintah itu disampaikan dengan tegas dan penuh wibawa.Suasana di seluruh Grup Sebastian langsung berubah drastis.Dari y

  • Cucu Perempuan Tertua yang Membisu   Bab 7

    Tubuh ayahku kembali gemetar.Dia sedang menatapku. Rasa bingung di dalam tatapannya mulai menghilang, berubah menjadi sejenis cahaya penuh rasa semangat.Dia mendongak dan tertawa terbahak-bahak.Suara tawa terdengar lantang, penuh dengan rasa lega dan gembira yang telah dipendam cukup lama. "Hahahaha!""Bagus! Petunjuk dewa dalam mimpi! Sudah mengetahuinya sejak lahir!""Ternyata putriku bukan anak idiot!""Putri dari Andreas Sebastian adalah seorang genius bisnis!"Dia langsung menggendongku.Tubuhku sangat kecil. Aku pun diangkatnya ke atas kepala dengan gampang.Andreas berbalik, lalu menghadap semua orang di dalam rumah. Suaranya terdengar sangat lantang, penuh dengan rasa arogan dan wibawa yang tidak terpancar sebelumnya."Semuanya harap dengarkan dengan bagus!""Mulai hari ini, Jasmine Sebastian resmi masuk ke jajaran inti Grup Sebastian!""Semua keputusan besar harus mendapatkan persetujuannya!"Begitu ucapan dilontarkan, semua orang di dalam ruangan merasa kaget!Seorang ana

  • Cucu Perempuan Tertua yang Membisu   Bab 6

    Pembantu di samping segera memapahnya.Aku dapat mendengar suara isak tangis bahagia yang bercampur haru yang sedang ditahannya.Beberapa sepupu perempuanku memasang ekspresi yang benar-benar sulit dideskripsikan.Ekspresi ejekan dan rasa bersenang-senang ketika melihat penderitaanku yang sebelumnya terpancar di wajah mereka telah lenyap tanpa jejak.Sebagai gantinya, yang tersisa adalah keterkejutan seolah-olah mereka baru saja melihat hantu, sama sepertiku.Selain itu, ada juga sedikit rasa takut … yang tidak bisa disembunyikan.Tatapan mereka ketika melihatku tidak seperti sedang menatap seorang anak idiot.Melainkan seperti sedang memandang sosok mengerikan yang sama sekali tidak mampu mereka pahami.Sementara, ayahku.Dia sedang berdiri di depan meja rapat. Tubuhnya yang tinggi dan besar itu sedikit bergetar.Bukan karena marah, melainkan karena sangat gembira.Sepasang mata yang telah lama ditempa dunia bisnis itu, kini tampak lebih bercahaya dari sebelumnya.Di dalamnya terdapat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status