Share

Bab 4

Author: Kak Wina
last update publish date: 2026-05-04 10:29:10

​​Setelah urusan riasan selesai, Ana melangkah ke ruang ganti. Di sana, gaun hitam berbahan sutra itu sudah tergantung rapi.

Saat dia mengenakannya, kain dingin itu terasa seperti kulit ular yang membelit tubuhnya. Potongan lehernya memang cukup rendah, mengekspos tulang selangkanya yang indah, persis seperti yang diinginkan Ibu Dewi untuk menarik perhatian Pak Gery.

​Dia keluar dari salon dengan penampilan yang sempurna secara visual, namun hancur secara batin. Orang-orang yang berpapasan dengannya menoleh, mengagumi kecantikannya, namun tak satu pun dari mereka melihat jeritan yang tertahan di tenggorokannya.

​Di dalam mobil, Ana menatap dirinya sekali lagi di spion tengah. Dia nyaris tidak mengenali wanita di cermin itu. Wanita itu tampak elegan, mahal, dan siap untuk dihidangkan.

​"Ini demi Nia, ini demi keluarga."

bisik Ana pada dirinya sendiri, dan mencoba menanamkan mantra itu ke dalam pikirannya agar dia tidak memutar kemudi dan pergi sejauh mungkin dari kota ini.

Tapi, jauh di lubuk hatinya, sebuah suara kecil terus berbisik bahwa apa pun yang dia dapatkan malam ini, ada sesuatu yang jauh lebih berharga yang akan hilang selamanya, kepingan terakhir dari harga dirinya yang ia serahkan pada tangan-tangan yang mengaku mencintainya.

Lampu lalu lintas berubah menjadi merah yang pekat, memaksa mobil Ana berhenti di tengah deretan kendaraan yang mengular di bawah langit senja yang mulai berubah jingga keunguan.

Suara klakson yang bersahut-sahutan di luar sana terasa seperti dengung lebah yang jauh, kalah oleh gemuruh kecemasan di dalam dadanya.

​Ana melirik jam di dasbor. Masih ada waktu tiga puluh menit sebelum pertemuan itu dimulai. Ia menarik napas panjang, mencoba merasakan aroma parfum mahal yang kini melekat di tubuhnya, sebuah aroma yang asing dan menyesakkan.

​Tiba-tiba, sebuah ketukan kecil terdengar di kaca jendela sampingnya. Ana menoleh dan mendapati seorang anak perempuan kecil, mungkin seumuran dengan Nia, berdiri di sela-sela knalpot motor yang mengepulkan asap hitam.

Anak itu memegang beberapa bungkus tisu dengan tangan yang dekil, wajahnya yang penuh keringat tampak kusam tersengat matahari seharian.

​"Tisu, Bu? Dua puluh ribu dapat tiga, Bu," suara kecil itu masuk melalui celah kaca yang tertutup rapat, lirih namun menusuk.

​Ana menatap mata anak itu. Mata yang seharusnya penuh dengan binar keceriaan sekolah dan mainan, kini hanya berisi keletihan dan tuntutan untuk menyambung hidup.

Ana menurunkan kaca mobilnya sedikit, membiarkan udara panas dan bau asap masuk ke dalam kabinnya yang sejuk.

​"Sini, Nak," bisik Ana.

Dia merogoh tasnya, mengambil lembaran uang lima puluh ribu dan menyerahkannya tanpa mengambil satu bungkus tisu pun.

​"Terima kasih, Bu! Semoga rezekinya lancar ya, Bu!" Ucap Anak penjual tisu dengan senyum lebar, menunjukkan deretan gigi yang tidak rata sebelum berlari menuju mobil di belakangnya.

​Ana terus mengikuti gerak-gerik anak itu melalui spion. Pemandangan itu seolah menjadi tamparan keras bagi logikanya yang sedang goyah.

Dia membayangkan Nia. Bagaimana jika ramalan buruk Ibu Dewi menjadi kenyataan? Bagaimana jika semua kemewahan yang melindungi Nia selama ini runtuh?

​"Apa aku tega melihat Nia berdiri di sana? Apa aku sanggup melihat putriku kehilangan tempat tidurnya yang nyaman, kehilangan pendidikannya, dan harus bertarung dengan kerasnya jalanan karena aku terlalu egois mempertahankan harga diriku?” gumam Ana pada dirinya sendiri.

​Pertanyaan-pertanyaan itu menghujamnya bertubi-tubi. Dia merasa dunia ini memang tempat yang kejam, sebuah tempat di mana keadilan seringkali kalah oleh kebutuhan perut.

Dia mulai melihat rencana Raka dan mertuanya bukan lagi sebagai penghinaan pribadi, melainkan sebagai sebuah pengorbanan suci seorang ibu untuk melindungi anaknya dari jurang kemiskinan yang menganga di depan mata.

​Lampu berubah hijau. Ana melajukan mobilnya perlahan, meninggalkan anak penjual tisu itu di belakang, namun bayangan kebangkrutan itu tetap menempel di benaknya.

​"Mungkin ini jalanku, Jika harga yang harus kubayar untuk masa depan Nia adalah satu malam yang memuakkan ini, maka biarlah aku hancur, asal dia tetap utuh." Gumam Ana dengan nada yang pasrah.

​Dia menggenggam kemudi lebih erat. Rasa jijik itu masih ada, mengendap di dasar hatinya, tapi kini tertutup oleh lapisan tekad yang pahit.

Dia merasa seperti seorang prajurit yang dikirim ke medan perang tanpa senjata, hanya berbekal paras dan kepatuhan yang dipaksakan.

​Di persimpangan jalan menuju hotel tempat Pak Gery menunggu, Ana sempat menepi sejenak. Dia mengambil lipstik merah dari tasnya, memulas kembali bibirnya agar terlihat lebih tajam dan memikat.

Dia merapikan gaun hitamnya, memastikan potongan lehernya berada tepat di posisi yang paling menarik menurut instruksi mertuanya.

​"Lakukan saja, Ana. Masuk, tersenyum, dapatkan tanda tangan itu, dan lupakan segalanya besok pagi," Ana berbisik pada bayangannya di cermin.

​Air mata yang hampir jatuh dia usap dengan perlahan agar tidak merusak riasan mahalnya.

Dengan berat hati yang terasa seperti bongkahan batu, Ana memacu mobilnya memasuki lobi hotel.

Di sana, di lantai paling atas, seorang pria sedang menunggunya, pria yang memegang kunci masa depan keluarganya, sekaligus pria yang akan menjadi saksi jatuhnya martabat seorang istri yang tak punya lagi pilihan.

Langkah kaki Ana di atas lantai marmer lobby hotel yang mengkilap terdengar berirama, tapi di balik suara sepatu hak tingginya yang tegas, lututnya terasa lemas.

Setiap hembusan nafas yang dia ambil terasa pendek dan tidak tuntas.

Dia bisa merasakan tatapan beberapa pasang mata yang mengagumi keanggunannya, tapi bagi Ana, gaun hitam yang membalut tubuhnya itu terasa seperti kain kafan yang membungkus harga dirinya hidup-hidup.

​Dia menaiki lift menuju lantai teratas. Di dalam kotak besi yang berdinding kaca itu, dia melihat bayangan dirinya yang sempurna. Wajah yang cantik, rambut yang tertata elegan, tapi sorot matanya kosong, seperti sebuah boneka porselen yang kehilangan nyawa.

​Pintu lift berdenting terbuka, menyajikan pemandangan restoran rooftop yang mewah dengan latar belakang lampu-lampu kota yang gemerlap.

Udara malam yang berhembus melalui ventilasi membawa aroma masakan mahal dan parfum berkelas. Seorang pelayan dengan setelan jas rapi segera menghampirinya.

​"Selamat malam, Nyonya. Meja atas nama Bapak Gery?" tanya seorang pelayan dengan sopan.

​Ana hanya mengangguk kecil, tak sanggup mengeluarkan suara. Dia mengikuti pelayan itu melewati deretan meja yang dihiasi bunga-bunga segar, menuju sebuah sudut yang lebih privat, jauh dari keramaian pelanggan lain.

Di sana, di sebuah meja bundar dengan dua kursi yang saling berhadapan, seorang pria seumuran suaminya sedang duduk sambil memutar-mutar gelas berisi cairan keemasan.

Pria itu tampak berwibawa dengan setelan jas abu-abu tua, tapi ada sesuatu di balik senyum tipisnya yang membuat bulu kuduk Ana meremang.

​Begitu melihat Ana mendekat, Pak Gery segera berdiri. Matanya menyisir penampilan Ana dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan yang sangat jelas menunjukkan kepuasan.

​“Ah, Nyonya Ana,” Ucap Pak Gery dengan suara yang terdengar penuh percaya diri.

Dia melangkah mendekat dan, sebelum Ana sempat menghindar, dia meraih tangan Ana, lalu mengecup punggung tangannya sedikit lebih lama dari yang seharusnya dianggap sopan.

“Raka benar-benar beruntung memiliki istri sepertimu. Kecantikanmu jauh lebih memukau daripada yang kudengar di ruang rapat.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 67

    Satu minggu setelah momen lamaran yang mengharukan di teras belakang rumah orang tua Ana, Gery memutuskan bahwa langkah selanjutnya yang paling penting adalah membawa Ana ke hadapan sang ayah. Hubungan Gery dengan ayahnya, Pak Handoko, memang sempat menegang akibat keberadaan Ibu Mia, tapi setelah insiden serangan jantung tiga bulan lalu, prioritas Gery sepenuhnya berubah. Dia ingin ayahnya menyaksikan dan merestui kebahagiaan barunya sebelum waktu bergulir lebih jauh.​Sore itu, langit Jakarta diselimuti mendung tipis yang membawa udara sejuk. Gery mengemudikan mobilnya dengan tenang menuju kawasan perumahan elite di daerah Kebayoran Baru, tempat kediaman utama Pak Handoko. Di kursi penumpang, Ana sesekali merapikan rok batik modern yang ia kenakan. Guratan gugup tidak bisa disembunyikan dari wajah cantiknya.​Gery yang menyadari hal itu perlahan menurunkan kecepatan mobilnya, lalu tangan kirinya bergerak menggenggam jemari Ana yang terasa agak dingin.​"Tenang, Ana. Ayah saya suda

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 66

    Hari-hari setelah malam lamaran itu berjalan dengan ritme yang jauh lebih tenang. Gery benar-benar membuktikan ucapannya dia tidak pernah mengungkit kembali soal cincin di dalam kotak beludru merah itu, juga tidak menunjukkan perubahan sikap yang membuat Ana merasa tertekan. Pria itu tetap menjadi Gery yang biasa, menjadi sosok pelindung yang hangat bagi Ana dan paman yang menyenangkan bagi Nia. Kebebasan yang diberikan Gery justru membuat batin Ana bekerja lebih aktif. Di bawah pendar lampu kamar tidurnya yang temaram setiap malam, setelah Nia terlelap di sampingnya, Ana sering kali termenung menatap langit-langit. Dia mengurai kembali setiap jengkal perasaannya. Ketakutan akan masa lalu itu memang masih ada, samar-samar menyelinap di sudut hati, tapi setiap kali bayangan Gery hadir, ketakutan itu perlahan terkikis oleh rasa aman yang teramat nyata. ​Hingga pada suatu akhir pekan, Ana memutuskan bahwa dia tidak boleh membiarkan pria sebaik Gery menunggu terlalu lama tanpa kepasti

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 65

    Tiga bulan telah berlalu sejak keputusan resmi dari Pengadilan Agama mengetuk palu kebebasan bagi Ana. Waktu yang berjalan lambat itu digunakannya untuk menata kembali serpihan hidup, fokus mengasuh Nia, dan perlahan menyembuhkan trauma masa lalunya. Sepanjang waktu itu pula, Gery menjadi sosok yang konstan hadir, memberikan ketenangan tanpa pernah menuntut apapun sebagai balasan. ​Malam itu, Gery mengundang Ana untuk makan malam di sebuah restoran privat yang terletak di lantai atas salah satu gedung pencakar langit Jakarta.​Setelah hidangan utama selesai dinikmati dan pelayan membawa pergi piring-piring kosong, suasana di meja mereka mendadak berubah menjadi lebih sunyi. Alunan musik instrumental yang samar di latar belakang menambah kesan intim yang kian terasa pekat. ​Gery membenarkan posisi duduknya, menatap Ana yang malam itu tampak sangat anggun dengan gaun berwarna biru dongker. Sepasang mata Gery yang biasanya memancarkan ketegasan seorang pebisnis, kini melunak sepenuhnya

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 64

    Satu bulan sejak ketukan palu hakim di Pengadilan Agama, kehidupan Ana perlahan-lahan menemukan ritme barunya yang meneduhkan. Tidak ada lagi ketakutan malam hari, tidak ada lagi air mata tersembunyi di balik pintu kamar, dan yang paling penting, tidak ada lagi bayang-bayang kebohongan. Jiwanya yang sempat layu kini mekar kembali, terutama karena kehadiran sosok pria yang dengan sabar menemaninya menata ulang setiap serpihan hidup yang sempat porak-poranda.​Hubungan Ana dan Gery bertransformasi dengan sangat alami. Tanpa ada ketergesaan, tanpa ada tuntutan. Gery selalu tahu cara menempatkan diri, dia menghormati ruang sendiri bagi Ana untuk menyembuhkan luka batinnya, namun ia selalu ada di sana setiap kali Ana membutuhkan bahu untuk bersandar.​Sore itu, langit Jakarta tampak begitu bersih, dihiasi semburat warna jingga dan merah muda yang memanjakan mata. Gery mengajak Ana dan Nia untuk menghabiskan akhir pekan di sebuah taman bermain terbuka yang asri di kawasan Jakarta Selatan.

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 63

    Hari yang paling dinantikan sekaligus mendebarkan itu akhirnya tiba. Dua minggu sejak mediasi yang alot dan penuh manipulasi dari pihak Raka, ruang sidang utama Pengadilan Agama Jakarta Selatan kembali menjadi saksi bisu dari akhir sebuah ikatan pernikahan.​Pagi itu, udara di dalam ruang sidang terasa begitu dingin. Ana duduk di kursi penggugat dengan setelan blazer abu-abu yang rapi, memancarkan aura ketenangan dan ketegaran yang luar biasa. Di sampingnya, Pak Baskoro bersiap dengan tumpukan berkas pamungkas. Dan tepat di baris kursi penonton di belakangnya, sosok Gery duduk dengan setia. Kehadiran pria itu, dengan tatapan matanya yang teduh tapi kokoh, menjadi jangkar emosional yang membuat Ana tidak goyah sedikit pun.​Di seberang ruangan, Raka duduk didampingi kuasa hukumnya. Tidak ada lagi sisa-sisa keangkuhan atau bujukan manis di wajahnya. Kerugian bisnis yang makin menggulung dan penolakan mutlak dari Ana selama dua minggu terakhir membuat pria itu tampak pasrah, meski gurat

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 62

    Pagi hari harinya, setelah semalaman menemani Gery di rumah sakit hingga kondisi Pak Handoko benar-benar dinyatakan melewati masa kritis, Ana akhirnya melangkah pulang. Tubuhnya terasa begitu lelah, tapi pikirannya dipenuhi oleh rasa hangat yang aneh setelah momen kedekatan mereka di kantin semalam.​Langkah kaki Ana melambat saat dia membuka pintu pagar rumah orang tuanya. Suasana teras tampak sepi, tapi begitu dia mendorong pintu depan yang tidak terkunci, sebuah pemandangan di ruang tengah seketika membuat langkahnya terhenti kaku.​Di atas karpet bulu abu-abu, Raka sedang duduk bersila. Pria itu tampak sedang menyusun beberapa balok mainan kayu bersama Nia. Tawa melengking khas anak kecil memenuhi ruangan yang biasanya sunyi itu. Raka terlihat begitu telaten, mencium puncak kepala Nia setiap kali putri kecilnya berhasil menyusun balok dengan tinggi.​"Lihat, Ayah! Rumahnya sudah jadi besar sekali!" seru Nia dengan mata berbinar-binar, wajahnya memancarkan keceriaan yang sudah semi

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 51

    Malam semakin larut, dan dinginnya angin malam mulai menusuk kulit. Tapi, Ana seolah mati rasa. Dia masih terduduk di atas aspal dengan tatapan kosong, sementara Gery mengeluarkan ponsel pribadinya, lalu menekan sebuah nomor panggilan cepat. Wajahnya seketika berubah menjadi sangat serius, memancar

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 48

    Di dalam ruang VIP kafe yang bernuansa kayu hangat dan temaram, suasana terasa begitu hening. Hanya terdengar dentingan pelan sendok yang mengaduk cangkir kopi dan desah halus pendingin ruangan. Di atas meja kaca panjang, beberapa berkas hukum dan map cokelat berisi bukti-bukti pengkhianatan Raka s

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 2

    ​Pagi harinya tidak membawa ketenangan bagi Ana. Cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden kamar terasa menyilaukan dan menyakitkan, seolah memaksa Ana untuk bangun dan menghadapi kenyataan yang ingin dia hindari. Belum sempat dia menata hatinya setelah pertengkaran hebat semalam, suara ketu

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 1

    Gelas kristal di atas meja makan memantulkan cahaya lampu gantung yang dingin. Ana menatap bayangannya sendiri di sana, dengan riasan yang sedikit terlalu tebal atas permintaan ibu mertuanya. Di sampingnya, Raka sibuk dengan tabletnya, jemarinya bergerak lincah memeriksa grafik pertumbuhan saham A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status