MasukSetelah urusan riasan selesai, Ana melangkah ke ruang ganti. Di sana, gaun hitam berbahan sutra itu sudah tergantung rapi.
Saat dia mengenakannya, kain dingin itu terasa seperti kulit ular yang membelit tubuhnya. Potongan lehernya memang cukup rendah, mengekspos tulang selangkanya yang indah, persis seperti yang diinginkan Ibu Dewi untuk menarik perhatian Pak Gery. Dia keluar dari salon dengan penampilan yang sempurna secara visual, namun hancur secara batin. Orang-orang yang berpapasan dengannya menoleh, mengagumi kecantikannya, namun tak satu pun dari mereka melihat jeritan yang tertahan di tenggorokannya. Di dalam mobil, Ana menatap dirinya sekali lagi di spion tengah. Dia nyaris tidak mengenali wanita di cermin itu. Wanita itu tampak elegan, mahal, dan siap untuk dihidangkan. "Ini demi Nia, ini demi keluarga." bisik Ana pada dirinya sendiri, dan mencoba menanamkan mantra itu ke dalam pikirannya agar dia tidak memutar kemudi dan pergi sejauh mungkin dari kota ini. Tapi, jauh di lubuk hatinya, sebuah suara kecil terus berbisik bahwa apa pun yang dia dapatkan malam ini, ada sesuatu yang jauh lebih berharga yang akan hilang selamanya, kepingan terakhir dari harga dirinya yang ia serahkan pada tangan-tangan yang mengaku mencintainya. Lampu lalu lintas berubah menjadi merah yang pekat, memaksa mobil Ana berhenti di tengah deretan kendaraan yang mengular di bawah langit senja yang mulai berubah jingga keunguan. Suara klakson yang bersahut-sahutan di luar sana terasa seperti dengung lebah yang jauh, kalah oleh gemuruh kecemasan di dalam dadanya. Ana melirik jam di dasbor. Masih ada waktu tiga puluh menit sebelum pertemuan itu dimulai. Ia menarik napas panjang, mencoba merasakan aroma parfum mahal yang kini melekat di tubuhnya, sebuah aroma yang asing dan menyesakkan. Tiba-tiba, sebuah ketukan kecil terdengar di kaca jendela sampingnya. Ana menoleh dan mendapati seorang anak perempuan kecil, mungkin seumuran dengan Nia, berdiri di sela-sela knalpot motor yang mengepulkan asap hitam. Anak itu memegang beberapa bungkus tisu dengan tangan yang dekil, wajahnya yang penuh keringat tampak kusam tersengat matahari seharian. "Tisu, Bu? Dua puluh ribu dapat tiga, Bu," suara kecil itu masuk melalui celah kaca yang tertutup rapat, lirih namun menusuk. Ana menatap mata anak itu. Mata yang seharusnya penuh dengan binar keceriaan sekolah dan mainan, kini hanya berisi keletihan dan tuntutan untuk menyambung hidup. Ana menurunkan kaca mobilnya sedikit, membiarkan udara panas dan bau asap masuk ke dalam kabinnya yang sejuk. "Sini, Nak," bisik Ana. Dia merogoh tasnya, mengambil lembaran uang lima puluh ribu dan menyerahkannya tanpa mengambil satu bungkus tisu pun. "Terima kasih, Bu! Semoga rezekinya lancar ya, Bu!" Ucap Anak penjual tisu dengan senyum lebar, menunjukkan deretan gigi yang tidak rata sebelum berlari menuju mobil di belakangnya. Ana terus mengikuti gerak-gerik anak itu melalui spion. Pemandangan itu seolah menjadi tamparan keras bagi logikanya yang sedang goyah. Dia membayangkan Nia. Bagaimana jika ramalan buruk Ibu Dewi menjadi kenyataan? Bagaimana jika semua kemewahan yang melindungi Nia selama ini runtuh? "Apa aku tega melihat Nia berdiri di sana? Apa aku sanggup melihat putriku kehilangan tempat tidurnya yang nyaman, kehilangan pendidikannya, dan harus bertarung dengan kerasnya jalanan karena aku terlalu egois mempertahankan harga diriku?” gumam Ana pada dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan itu menghujamnya bertubi-tubi. Dia merasa dunia ini memang tempat yang kejam, sebuah tempat di mana keadilan seringkali kalah oleh kebutuhan perut. Dia mulai melihat rencana Raka dan mertuanya bukan lagi sebagai penghinaan pribadi, melainkan sebagai sebuah pengorbanan suci seorang ibu untuk melindungi anaknya dari jurang kemiskinan yang menganga di depan mata. Lampu berubah hijau. Ana melajukan mobilnya perlahan, meninggalkan anak penjual tisu itu di belakang, namun bayangan kebangkrutan itu tetap menempel di benaknya. "Mungkin ini jalanku, Jika harga yang harus kubayar untuk masa depan Nia adalah satu malam yang memuakkan ini, maka biarlah aku hancur, asal dia tetap utuh." Gumam Ana dengan nada yang pasrah. Dia menggenggam kemudi lebih erat. Rasa jijik itu masih ada, mengendap di dasar hatinya, tapi kini tertutup oleh lapisan tekad yang pahit. Dia merasa seperti seorang prajurit yang dikirim ke medan perang tanpa senjata, hanya berbekal paras dan kepatuhan yang dipaksakan. Di persimpangan jalan menuju hotel tempat Pak Gery menunggu, Ana sempat menepi sejenak. Dia mengambil lipstik merah dari tasnya, memulas kembali bibirnya agar terlihat lebih tajam dan memikat. Dia merapikan gaun hitamnya, memastikan potongan lehernya berada tepat di posisi yang paling menarik menurut instruksi mertuanya. "Lakukan saja, Ana. Masuk, tersenyum, dapatkan tanda tangan itu, dan lupakan segalanya besok pagi," Ana berbisik pada bayangannya di cermin. Air mata yang hampir jatuh dia usap dengan perlahan agar tidak merusak riasan mahalnya. Dengan berat hati yang terasa seperti bongkahan batu, Ana memacu mobilnya memasuki lobi hotel. Di sana, di lantai paling atas, seorang pria sedang menunggunya, pria yang memegang kunci masa depan keluarganya, sekaligus pria yang akan menjadi saksi jatuhnya martabat seorang istri yang tak punya lagi pilihan. Langkah kaki Ana di atas lantai marmer lobby hotel yang mengkilap terdengar berirama, tapi di balik suara sepatu hak tingginya yang tegas, lututnya terasa lemas. Setiap hembusan nafas yang dia ambil terasa pendek dan tidak tuntas. Dia bisa merasakan tatapan beberapa pasang mata yang mengagumi keanggunannya, tapi bagi Ana, gaun hitam yang membalut tubuhnya itu terasa seperti kain kafan yang membungkus harga dirinya hidup-hidup. Dia menaiki lift menuju lantai teratas. Di dalam kotak besi yang berdinding kaca itu, dia melihat bayangan dirinya yang sempurna. Wajah yang cantik, rambut yang tertata elegan, tapi sorot matanya kosong, seperti sebuah boneka porselen yang kehilangan nyawa. Pintu lift berdenting terbuka, menyajikan pemandangan restoran rooftop yang mewah dengan latar belakang lampu-lampu kota yang gemerlap. Udara malam yang berhembus melalui ventilasi membawa aroma masakan mahal dan parfum berkelas. Seorang pelayan dengan setelan jas rapi segera menghampirinya. "Selamat malam, Nyonya. Meja atas nama Bapak Gery?" tanya seorang pelayan dengan sopan. Ana hanya mengangguk kecil, tak sanggup mengeluarkan suara. Dia mengikuti pelayan itu melewati deretan meja yang dihiasi bunga-bunga segar, menuju sebuah sudut yang lebih privat, jauh dari keramaian pelanggan lain. Di sana, di sebuah meja bundar dengan dua kursi yang saling berhadapan, seorang pria seumuran suaminya sedang duduk sambil memutar-mutar gelas berisi cairan keemasan. Pria itu tampak berwibawa dengan setelan jas abu-abu tua, tapi ada sesuatu di balik senyum tipisnya yang membuat bulu kuduk Ana meremang. Begitu melihat Ana mendekat, Pak Gery segera berdiri. Matanya menyisir penampilan Ana dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan yang sangat jelas menunjukkan kepuasan. “Ah, Nyonya Ana,” Ucap Pak Gery dengan suara yang terdengar penuh percaya diri. Dia melangkah mendekat dan, sebelum Ana sempat menghindar, dia meraih tangan Ana, lalu mengecup punggung tangannya sedikit lebih lama dari yang seharusnya dianggap sopan. “Raka benar-benar beruntung memiliki istri sepertimu. Kecantikanmu jauh lebih memukau daripada yang kudengar di ruang rapat.”Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang membelah pinggiran kota, sedan mewah hitam itu akhirnya melambat dan berbelok memasuki area proyek. Hamparan tanah merah yang luas, deretan tiang pancang yang kokoh, serta suara bising dari alat berat yang sedang beroperasi langsung menyambut mereka. Debu-debu jalanan berterbangan saat ban mobil melindas permukaan tanah yang belum rata.Mobil berhenti tepat di depan sebuah bangunan semi permanen yang berfungsi sebagai kantor direksi keet lapangan. Gery turun terlebih dahulu, disusul oleh Ana yang langsung merapikan blazer hitamnya, mencoba menghalau rasa cemas yang sejak tadi menggerogoti dadanya.Sopir mobil segera membuka bagasi, dibantu oleh beberapa staf lapangan yang berada di dekat sana. Kardus-kardus besar berisi makanan mewah dari restoran kolonial tadi dikeluarkan satu per satu.Gery melambaikan tangannya kepada mandor utama, menginstruksikan sesuatu dengan suara yang cukup lantang di antara deru mesin penanam paku bumi.
Langkah kaki Ana terasa berat saat dia berjalan beriringan dengan Gery menuruni lift menuju basement gedung. Setiap ketukan tumit sepatunya di atas lantai beton yang dingin seolah bergema, mengingatkannya bahwa dia sedang melangkah semakin jauh ke dalam rencana pria di sampingnya. Di area parkir khusus eksekutif, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam legam sudah menunggu dengan mesin yang menyala halus.Sebelum Ana sempat meraih gagang pintu belakang, Gery sudah melangkah lebih cepat. Dengan gerakan yang terkesan sangat sopan tapi terasa dominan bagi Ana, pria itu membukakan pintu mobil untuknya."Silakan masuk, Ana. Perjalanan ke lokasi proyek agak sedikit jauh, jadi pastikan kamu duduk dengan nyaman," ucap Gery, lengkap dengan senyuman tipis yang tak pernah lepas dari wajahnya."Terima kasih, Pak," jawab Ana pendek.Ana segera masuk dan menggeser duduknya sedekat mungkin ke arah jendela kiri, sengaja menyisakan jarak yang lebar di kursi belakang.Gery menyusul masuk dan men
Di dalam kamar rumah orang tuanya, Ana menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Wajah yang beberapa jam lalu pucat dan sembab, kini telah tertutup oleh lapisan kosmetik yang tebal. Ana sengaja memilih setelan blazer formal berwarna hitam dengan kemeja putih di dalamnya, sebuah zirah yang dia harapkan bisa melindunginya dari pandangan-pandangan yang merendahkan martabatnya.Setiap gerakan tangannya saat merapikan rambut atau memoles lipstik terasa begitu mekanis dan hambar. Pikirannya masih tertinggal di ruang trauma rumah sakit, di samping tubuh Raka yang tak berdaya. Tapi, jam di pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul dua belas lewat empat puluh menit. Waktu tidak menunggunya, dan kesepakatan pahit ini harus segera dia tunaikan.Tepat pukul satu siang, mobil Ana memasuki pelataran gedung perkantoran milik Gery yang menjulang tinggi di pusat kota. Begitu melangkah masuk melewati pintu kaca besar di lobi, atmosfer kemewahan korporat langsung menyergapnya. Lantai mar
Ibu Dewi menepuk-nepuk bahu Ana dengan kelembutan yang terasa asing.“Sekarang, kamu pulang dulu, Ana. Ganti pakaianmu, rapikan riasanmu yang luntur itu. Kamu harus terlihat segar dan profesional saat menemui Pak Gery nanti. Ibu yang akan menjaga Raka di sini bersama ayahmu." Ucap Ibu Dewi dengan lembut.Ana hanya mengangguk patuh bagai kerbau dicocok hidung. Tapi, baru saja dia berbalik hendak melangkah meninggalkan selasar ruang trauma, ponsel milik Raka yang berada di dalam tas milik Ana kembali bergetar hebat. Nama Pak Gery berkedip di layarnya.Ana menarik napas panjang, menatap layar itu dengan perasaan campur aduk sebelum akhirnya menggeser tombol hijau."Halo, Raka? Di mana posisi kamu? Dokumen amandemen kontrak yang semalam sudah saya siapkan di meja. Jam satu tepat kita bahas di ruangan saya, jangan terlambat," suara berat Pak Gery langsung terdengar mendominasi di seberang telepon, tanpa basa-basi.Ana menjauhkan ponsel itu sejenak dari telinganya yang berdengung, lal
Di koridor rumah sakit yang sunyi, keheningan terasa begitu menindas. Suara langkah perawat yang tergesa-gesa di kejauhan dan dengung mesin dari ruang trauma menjadi satu-satunya latar belakang dari drama yang tengah mengoyak batin Ana. Ibu Dewi sudah duduk membelakangi mereka di ujung lorong, menunjukkan sikap acuh tak acuh yang sengaja dipasang untuk menekan mental menantunya.Pak Anton mendatangi Ana yang masih berdiri mematung di depan kaca ruang trauma. Wajah pria tua itu tampak letih, gurat-gurat kecemasan bercampur kepasrahan menghiasi wajahnya. Pak Anton menyentuh pundak Ana dengan lembut, mencoba menarik perhatian putrinya yang tatapannya mulai kosong."Ana... Dengar Ayah, Nak." panggil Pak Anton, suaranya pelan dan berat.Ana tidak menoleh. Matanya tetap terpaku pada tubuh Raka yang dipenuhi selang di balik kaca. "Ayah juga mau menyuruhku pergi?" bisik Ana dengan lirih, hampir tak terdengar.Pak Anton menghela napas panjang, meremas pundak Ana sedikit lebih erat. "A
Ana terjebak dalam pusaran rasa bersalah yang diciptakan oleh orang-orang di sekitarnya, tepat di saat suaminya sedang bertaruh nyawa di balik dinding pembatas.Kata-kata Ibu Dewi barusan benar-benar meremukkan sisa-sisa kekuatan jiwa Ana.Pak Anton berusaha menarik lengan putrinya agar kembali berdiri, Tapi Ana seolah kehilangan tulang-tulangnya. Dia merasa terlalu lumpuh untuk menghadapi kenyataan di depannya.Ibu Dewi tidak membiarkan tangisan Ana menyurutkan amarahnya. Alih-alih luluh melihat menantunya yang hancur, mata wanita tua itu justru menyipit, memancarkan kalkulasi bisnis yang dingin bahkan di depan ruang gawat darurat.Ibu Dewi menghapus air matanya sendiri dengan tisu, lalu melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Ana yang masih menunduk."Bangun, Ana. Jangan cuma bisa menangis!" Ucap Ibu Dewi.Suara Ibu Dewi mendadak berubah, tidak lagi menjerit histeris, pelan tapi penuh penekanan yang kejam. "Menangis tidak akan membayar biaya pengobatan Raka, dan tidak akan men







