Share

Bab 5

Penulis: Kak Wina
last update Tanggal publikasi: 2026-05-04 10:30:24

"Terima kasih atas pujiannya, Pak Gery. Saya menghargai waktu Bapak untuk bertemu malam ini." Ucap ​Ana dengan menarik tangannya perlahan, mencoba memaksakan sebuah senyuman yang terasa kaku di wajahnya. 

​"Silakan duduk, Ana. Boleh saya panggil Ana saja, kan? Rasanya terlalu formal jika kita menggunakan embel-embel Nyonya di suasana seindah ini," ujar pak Gery sambil menarikkan kursi untuk Ana.

​Setelah memesan hidangan pembuka, keheningan yang canggung mulai menyelimuti meja tersebut. Ana meletakkan map hitam yang dibawanya di atas meja, seolah ingin segera menyelesaikan urusan ini.

​"Pak Gery, mengenai berkas yang saya bawa... Mas Raka bilang Bapak sudah meninjaunya," Ucap Ana untuk membuka pembicaraan ke arah profesional.

​Tapi, Pak Gery hanya melirik map itu sekilas, lalu kembali menatap wajah Ana. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak sangat santai.

​"Berkas itu bisa menunggu, Ana. Angka-angka hanya akan merusak suasana malam yang romantis ini. Aku lebih tertarik membicarakanmu. Raka bilang kau adalah jiwa dari bisnisnya, tapi aku melihat kau lebih dari sekadar asisten keuangan. Kau punya pesona yang... jarang kutemui." Jawab pak Gery dengan nada santainya.

“Saya hanya berusaha membantu suami saya, Pak. Bisnis ini sangat penting bagi keluarga kami.” ​Balas Ana sambil menelan ludah, serta tangannya meremas serbet di bawah meja.

​"Aku tahu seberapa pentingnya ini bagi Raka, dan aku tahu Raka adalah pria yang pintar. Dia tahu persis siapa yang harus dia kirim untuk meluluhkan hatiku.” sela pak Gery sambil sedikit condong ke depan, memperpendek jarak di antara mereka.

“Tapi maaf pak, saya disini hanya untuk…” Ucapan Ana terputus oleh pak Gery.

Kau tahu, Ana, di duniaku, segalanya adalah tentang pertukaran. Jika aku memberikan apa yang keluarga kalian butuhkan, investasi itu, kontrak itu, apa yang akan aku dapatkan sebagai balasannya?” Sahut pak Gery.

​Kalimat itu menggantung di udara seperti ancaman yang nyata. Ana bisa merasakan jantungnya berdegup sangat kencang hingga terasa sakit di dadanya. 

Dia teringat pesan Raka, tundukkan dia dengan sentuhan dan rayuan. Dia juga teringat wajah Nia dan anak penjual tisu di lampu merah tadi.

​"Saya rasa... Bapak akan mendapatkan mitra bisnis yang paling setia dan pekerja keras dalam diri Mas Raka," jawab Ana dengan suara yang diusahakan tetap tenang, meski hatinya menjerit ingin lari.

"Jawaban yang sangat diplomatis. Tapi aku tidak sedang mencari mitra yang pekerja keras, Ana. Aku mencari sesuatu yang lebih... pribadi. Sesuatu yang bisa membuatku merasa dihargai secara khusus." ​Ujar Pak Gery sambil meraih botol anggur dan menuangkannya ke gelas Ana.

​Pak Gery mengulurkan tangannya di atas meja, ujung jarinya menyentuh jemari Ana yang masih kaku. Ana membiarkan tangan pria itu menyentuhnya, meskipun rasa muak mulai merayapi tenggorokannya.

​"Malam ini masih panjang, Ana.. mari kita nikmati makan malamnya, dan setelah itu, kita akan lihat seberapa jauh kau mau berjuang untuk masa depan keluargamu." bisik Pak Gery dengan nada yang semakin rendah.

​Ana menatap gelas anggurnya, melihat pantulan dirinya yang kini benar-benar terjebak. Di bawah lampu remang restoran itu, dia menyadari bahwa dia bukan lagi seorang istri atau ibu, melainkan hanya sebuah pion yang sedang dipertaruhkan dalam permainan ego laki-laki di hadapannya.

Hidangan penutup berupa lava cake coklat yang manis baru saja disajikan, namun bagi Ana, rasanya sepahit empedu. 

Setiap kali Ana melirik ke arah Pak Gery, dia melihat pria itu menatapnya dengan binar mata yang membuat kulitnya terasa gatal. 

Ana tahu, waktu makan malam yang menjadi alasan formal ini sudah hampir habis. Ia harus segera menarik garis tegas.

​Dengan tangan yang masih sedikit gemetar di bawah meja, Ana meraih map kulit hitam yang sedari tadi tergeletak diam seperti bom waktu. Ia membukanya perlahan, mencoba mengalihkan atmosfer dari keintiman yang dipaksakan kembali ke ranah profesional.

​​"Pak Gery, makan malamnya sungguh luar biasa, terima kasih. Namun, sebelum malam semakin larut, saya benar-benar berharap Bapak bisa melihat poin-poin revisi yang Mas Raka buat di halaman terakhir ini. Kami telah menyelesaikan pembagian profitnya sesuai permintaan Bapak." Ucap Ana dengan suara sedikit serak.

​Dia menyodorkan berkas itu dengan gerakan yang sangat sopan, berharap Pak Gery akan mengambil pulpen dari saku jasnya. 

Tapi, pria itu bahkan tidak menunduk untuk melihat kertas putih yang disodorkan Ana.

​Pak Gery justru menyesap sisa anggur di gelasnya, matanya tetap terpaku pada wajah Ana yang sudah dipoles riasan sempurna. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang empuk, melepaskan satu kancing jasnya seolah ingin menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak terburu-buru.

​"Ana, Ana... Kenapa kau terburu-buru sekali? Berkas itu hanya benda mati. Dia tidak akan lari kemana-mana. Tapi momen seperti ini? Malam dengan angin sejuk dan wanita secantik dirimu di hadapanku? Ini adalah kelangkaan." Ucap pak Gery dengan suara yang terdengar seperti ejekan halus. 

​"Tapi Pak, minggu depan bapak akan ke luar negeri. Mas Raka bilang…” Ucapan Ana terpotong oleh suara pak Gery.

​"Lupakan sejenak apa yang dikatakan suamimu," potong pak Gery dengan tegas namun lembut. 

Pak Gery menggerakkan tangannya di atas meja, hampir menyentuh ujung map hitam itu hanya untuk menutupnya kembali. 

"Aku ingin bercerita padamu. Tentang bagaimana sulitnya aku berada di posisiku sekarang. Tentang betapa kesepiannya menjadi orang yang selalu memegang kendali. Kau tahu, Ana... jarang ada orang yang mau mendengarkanku tanpa melihat angka di rekeningku. Bisakah kau menjadi pendengar itu malam ini?" Tanya pak Gery dengan menatap tajam wajah Ana.

​​Ana tertegun. Dia merasa terjebak dalam perangkap psikologis. Jika ia memaksa bicara soal bisnis, dia akan dianggap tidak sopan dan berisiko merusak mood pria yang memegang nasib suaminya. Jika dia mendengarkan, dia akan terjebak lebih lama dalam pusaran manipulasi ini.

​Maka, selama satu jam berikutnya, Ana terpaksa duduk membeku. Pak Gery mulai bercerita, sebuah narasi panjang tentang masa mudanya, ambisinya yang tak terbendung, hingga kegagalan rumah tangganya yang ia bumbui dengan nada melankolis untuk memancing simpati.

​"Istriku dulu tidak seperti kau, dia tidak peduli pada perjuanganku. Dia hanya peduli pada apa yang bisa kubeli. Tapi kau... aku melihat ada pengabdian yang besar di matamu. Kau rela datang ke sini, berdandan secantik ini hanya untuk membantu suamimu. Itu adalah kualitas yang sangat langka, Ana. Sangat... menggairahkan bagi pria sepertiku." ujar pak Gery sambil menatap tajam ke arah mata Ana.

​Ana merasakan mual yang luar biasa di ulu hatinya. Setiap kata pujian dari mulut pria itu terasa seperti lumpur yang mengotori gaun hitamnya. Ia mencoba tersenyum, senyum kaku yang diminta oleh Raka dan Ibu Dewi, namun bibirnya terasa kebas.

​"Bapak terlalu berlebihan," sahut Ana singkat, mencoba menjaga jarak melalui bahasanya.

​​"Aku tidak berlebihan, aku hanya ingin tahu, seberapa jauh Raka menceritakan tentangku padamu? Apakah dia memberitahumu bahwa aku bisa memberikan apa saja yang kau minta... asalkan aku merasa senang?" Balas pak Gery dengan merendahkan suaranya hingga nyaris berbisik. 

Dia sedikit condong ke arah Ana, aroma cerutu dan alkohol mahal tercium dari napasnya. 

​Jantung Ana berdegup kencang, suaranya seolah tersangkut di tenggorokan. Dia teringat kata-kata suaminya di meja makan, ‘Hanya sedikit sentuhan, hanya sedikit keramahan.'

​"Suami saya hanya mengatakan bahwa Bapak adalah orang yang bijaksana dalam mengambil keputusan bisnis," jawab Ana dengan suara bergetar.

"Bijaksana? Raka memang pandai memilih kata. Tapi malam ini, Ana, kebijaksanaanku sedang tertidur. Yang ada hanyalah rasa kagumku padamu. Mari kita bicara sedikit lagi. Ceritakan padaku, apa yang membuat seorang wanita sehebat dirimu mau melakukan ini semua demi pria seperti Raka?" Balas ​Pak Gery dengan tertawa, suara tawanya membelah kesunyian sudut restoran itu.

​Ana menggenggam tasnya erat-erat di bawah meja. Dia merasa seperti sedang ditelanjangi oleh pertanyaan-pertanyaan pria itu.

Setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan yang lambat. Dia ingin berteriak, dia ingin menyiramkan air di gelasnya ke wajah pria sombong ini, tapi bayangan Nia dan ancaman kebangkrutan menahan lengannya. 

Dia tetap di sana, menjadi pendengar yang patuh, sementara kehormatannya perlahan-lahan terkikis oleh setiap menit kebersamaan yang dipaksakan ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 25

    Suasana di dalam Restoran Lavender terasa begitu kontras dengan hiruk-pikuk debu proyek yang mereka lalui sore tadi. Alunan musik jazz bertempo lambat mengalun lembut dari sudut ruangan, berpadu dengan temaram lampu gantung yang memberikan kesan mewah sekaligus intim. Di atas meja kayu mahoni di hadapan mereka, pelayan baru saja menyajikan dua porsi hidangan utama yang mengeluarkan aroma gurih, lengkap dengan segelas jus jeruk segar untuk Ana.​Gery tampak sangat menikmati suasana tersebut. Dengan gerakan yang tenang dan elegan, ia mulai memotong daging steaknya, lalu menyuapkannya ke dalam mulut dengan santai.​"Daging di sini selalu menjadi yang terbaik di kota ini, Ana," buka Gery setelah menelan makanannya.Gery matanya menatap Ana yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya tanpa gairah. "Kamu harus mencobanya. Jangan biarkan pikiranmu terus-menerus tertinggal di rumah sakit. Tubuhmu juga butuh energi untuk menghadapi hari esok." Lanjut Gery.​Ana memaksakan sebua

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 24

    Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, meninggalkan semburat warna jingga yang keunguan di atas hamparan tanah merah proyek. Kegiatan peninjauan lapangan yang menguras energi itu akhirnya selesai seiring dengan bergantinya sif kerja para buruh bangunan. Debu-debu yang beterbangan perlahan mengendap, digantikan oleh udara malam yang mulai terasa dingin.​Ana melangkah kembali menuju mobil sedan hitam mewah milik Gery. Blazer hitamnya kini sedikit berdebu di bagian ujung lengan, dan kakinya terasa pegal setelah berjam-jam berdiri serta berjalan mengitari area fondasi. Tapi, dibalik kelelahan fisiknya, ada sedikit rasa lega karena dia berhasil melewati ujian pertama di lapangan dengan sangat profesional.​Pintu mobil kembali dibukakan oleh sang sopir, dan Ana masuk ke dalam kabin yang sejuk, mengambil posisi duduk yang sama seperti siang tadi, sedekat mungkin dengan jendela kiri. Gery menyusul masuk tak lama kemudian. Mobil pun bergerak perlahan, meninggalkan area proyek yang mu

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 23

    Setelah santap siang yang terlambat itu selesai, suasana di bawah tenda berangsur-angsur kembali tenang. Para pekerja tampak lebih segar, sisa-sisa kelelahan di wajah mereka seolah tersapu oleh keramahan hidangan mewah dan obrolan santai tadi. Gery berdiri dari bangku kayunya, membersihkan tangannya dengan tisu, lalu kembali mengenakan jas hitamnya yang sempat disampirkan.​Dengan bahasa tubuh yang penuh wibawa, dia memberi isyarat kepada mandor utama untuk mengumpulkan seluruh jajaran staf administrasi, pengawas lapangan, hingga arsitek junior yang terlibat dalam proyek tersebut. Sekitar dua puluh orang kini berdiri melingkar di bawah naungan tenda, menciptakan atmosfer rapat lapangan yang serius namun kondusif.​Ana melangkah mendekat, berdiri sedikit di belakang Gery dengan buku catatan kecil di tangannya. Ana bersiap untuk mencatat poin-poin penting dari amandemen kontrak yang mungkin akan dibahas secara lisan terlebih dahulu.​Gery berdehem kecil, seketika menarik perhatian p

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 22

    Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang membelah pinggiran kota, sedan mewah hitam itu akhirnya melambat dan berbelok memasuki area proyek. Hamparan tanah merah yang luas, deretan tiang pancang yang kokoh, serta suara bising dari alat berat yang sedang beroperasi langsung menyambut mereka. Debu-debu jalanan berterbangan saat ban mobil melindas permukaan tanah yang belum rata.​Mobil berhenti tepat di depan sebuah bangunan semi permanen yang berfungsi sebagai kantor direksi keet lapangan. Gery turun terlebih dahulu, disusul oleh Ana yang langsung merapikan blazer hitamnya, mencoba menghalau rasa cemas yang sejak tadi menggerogoti dadanya.​Sopir mobil segera membuka bagasi, dibantu oleh beberapa staf lapangan yang berada di dekat sana. Kardus-kardus besar berisi makanan mewah dari restoran kolonial tadi dikeluarkan satu per satu.​Gery melambaikan tangannya kepada mandor utama, menginstruksikan sesuatu dengan suara yang cukup lantang di antara deru mesin penanam paku bumi.

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 21

    Langkah kaki Ana terasa berat saat dia berjalan beriringan dengan Gery menuruni lift menuju basement gedung. Setiap ketukan tumit sepatunya di atas lantai beton yang dingin seolah bergema, mengingatkannya bahwa dia sedang melangkah semakin jauh ke dalam rencana pria di sampingnya. Di area parkir khusus eksekutif, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam legam sudah menunggu dengan mesin yang menyala halus.​Sebelum Ana sempat meraih gagang pintu belakang, Gery sudah melangkah lebih cepat. Dengan gerakan yang terkesan sangat sopan tapi terasa dominan bagi Ana, pria itu membukakan pintu mobil untuknya.​"Silakan masuk, Ana. Perjalanan ke lokasi proyek agak sedikit jauh, jadi pastikan kamu duduk dengan nyaman," ucap Gery, lengkap dengan senyuman tipis yang tak pernah lepas dari wajahnya.​"Terima kasih, Pak," jawab Ana pendek.Ana segera masuk dan menggeser duduknya sedekat mungkin ke arah jendela kiri, sengaja menyisakan jarak yang lebar di kursi belakang.​Gery menyusul masuk dan men

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 20

    Di dalam kamar rumah orang tuanya, Ana menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Wajah yang beberapa jam lalu pucat dan sembab, kini telah tertutup oleh lapisan kosmetik yang tebal. Ana sengaja memilih setelan blazer formal berwarna hitam dengan kemeja putih di dalamnya, sebuah zirah yang dia harapkan bisa melindunginya dari pandangan-pandangan yang merendahkan martabatnya.​Setiap gerakan tangannya saat merapikan rambut atau memoles lipstik terasa begitu mekanis dan hambar. Pikirannya masih tertinggal di ruang trauma rumah sakit, di samping tubuh Raka yang tak berdaya. Tapi, jam di pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul dua belas lewat empat puluh menit. Waktu tidak menunggunya, dan kesepakatan pahit ini harus segera dia tunaikan.​Tepat pukul satu siang, mobil Ana memasuki pelataran gedung perkantoran milik Gery yang menjulang tinggi di pusat kota. Begitu melangkah masuk melewati pintu kaca besar di lobi, atmosfer kemewahan korporat langsung menyergapnya. Lantai mar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status