Share

Bab 3

Author: Kak Wina
last update publish date: 2026-05-04 10:28:02

​Ana merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel yang terus-menerus bergetar.

“Na, kok belum sampai kantor? Jangan lupa, jam satu nanti Ibu menunggumu di salon. Jangan telat, Pak Gery itu orang yang sangat menghargai waktu.” Pesan Raka dari layar ponsel Ana.

​Ana hanya menatap layar itu dengan tatapan kosong. Jarinya bergerak mengetik balasan, namun ia menghapusnya kembali.

Apa yang harus dikatakan? Bahwa dia merasa seperti pelacur yang dilegalkan oleh ikatan pernikahan? Bahwa dia merasa jijik melihat suaminya sendiri begitu antusias mendandaninya untuk pria lain?

​"Apakah ini harga yang harus kubayar?" bisik Ana pada dirinya sendiri.

​Dia mencoba menimbang-nimbang. Di satu sisi, gambaran kebangkrutan yang digambarkan Ibu Dewi begitu menakutkan.

Dia membayangkan rumahnya disita, Nia harus pindah sekolah ke tempat yang tidak memadai, dan wajah Raka yang hancur karena kegagalan. Sebagai istri, bukankah tugasnya adalah menjadi penyokong di masa sulit?

​Dia membayangkan pertemuannya nanti malam. Sebuah restoran mewah, cahaya lilin yang temaram, dan tatapan lapar Pak Gery, pria yang sudah dikenal di kalangan pengusaha memiliki selera khusus pada wanita-wanita yang membawa proposal kepadanya.

Jika dia tersenyum dan membiarkan tangannya disentuh, apakah itu berarti dia telah mengkhianati dirinya sendiri? Ataukah itu hanya sekedar akting profesional seperti yang dikatakan Raka?

Keheningan Ana terpecah ketika seorang wanita tua penjual bunga sisa semalam berjalan melintas dan berhenti di depannya.

​"Bunga, Mbak? Masih segar, untuk mendinginkan hati yang sedang panas," ujar ibu penjual bunga dengan senyum tulus yang sangat kontras dengan senyum penuh rencana milik Ibu Dewi.

"Terima kasih, Bu." ​Ucap Ana sambil tersenyum getir, merogoh dompetnya dan membeli setangkai mawar putih. 

​"Mbaknya kelihatan sedang banyak pikiran, kadang-kadang, apa yang kita pikir benar menurut orang lain, belum tentu benar di sini,” lanjut ibu itu sambil menunjuk dadanya sendiri.

Ana hanya tersenyum kecil, rasanya dia tak sanggup mengeluarkan suara.

"Hati itu tidak bisa berbohong, Mbak. Kalau dipaksa, dia akan luka." Lanjut ibu penjual bunga dengan tatapan yang seolah mengerti keadaan Ana.

​Setelah ibu itu pergi, Ana menatap mawar putih di tangannya. Putih, bersih, dan rapuh. Persis seperti harga dirinya yang kini sedang diletakkan di atas meja judi oleh keluarganya sendiri.

​Dia kembali teringat ucapan Ibu Dewi tadi pagi. Jika dia menolak, dan perusahaan benar-benar bangkrut, dia akan disalahkan seumur hidup. Dia akan dianggap sebagai penyebab penderitaan Nia dan kehancuran marga suaminya.

Ana membayangkan dirinya duduk di depan Pak Gery. Dia membayangkan bagaimana ia harus tertawa pada lelucon pria itu, bagaimana dia harus memakai gaun dengan potongan leher rendah yang disiapkan mertuanya, dan bagaimana dia harus menulikan nuraninya saat tangan pria itu mulai merayap di atas meja.

​"Raka... bagaimana mungkin kau sanggup membayangkan itu dan tetap menyebut dirimu suamiku?" Bisik Ana dengan lirih. 

Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya luruh, jatuh tepat di atas kelopak mawar putih yang dia pegang.

​Dia merasa terjepit di antara dua tebing yang tinggi. Kembali ke rumah berarti menyerah pada intimidasi, pergi ke salon berarti menyerahkan martabatnya, namun melarikan diri pun dia tak punya tempat tujuan. 

Di taman yang sunyi itu, Ana menyadari bahwa keputusan yang dia ambil hari ini tidak hanya akan menentukan nasib perusahaan Raka, tapi juga akan menentukan siapa dirinya di hadapan cermin selama sisa hidupnya.

​Ponselnya bergetar lagi. Kali ini telepon dari Ibu Dewi.

Ana menatap layar itu dengan perasaan mual yang kembali memuncak. Dia menarik napas panjang, mencoba mencari setitik keberanian di tengah kepungan rasa takut yang luar biasa.

Layar ponsel itu terus menyala, menampilkan nama "Ibu Mertua" dengan nada dering yang terasa seperti alarm peringatan bagi Ana.

Dengan jari yang masih gemetar, Ana akhirnya menggeser ikon hijau tersebut. Dia mendekatkan ponsel ke telinganya, tapi tidak segera bersuara.

​"Halo, Ana? Kamu di mana? Raka bilang kamu belum sampai kantor. Jangan bilang kamu sedang mencoba melarikan diri dari tanggung jawab ini." Suara Ibu Dewi langsung menyambar, tanpa basa-basi.

"Aku hanya sedang mencari udara segar sebentar, Bu. Kepalaku pening.” Jawab ​Ana dengan memejamkan mata erat, menghirup aroma mawar putih di tangannya yang mulai layu terkena panas matahari. 

​"Pening itu karena kamu terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak!” sahut Ibu Dewi dengan nada otoriter yang dibungkus perhatian palsu. 

“Tapi bu…” Ucapan Ana terpenggal oleh suara rayuan ibu mertuanya.

"Dengarkan Ibu, Nak. Ibu sudah membayar mahal untuk janji temu di salon itu. Mbak Maya sudah menunggu untuk merawat wajah dan rambutmu. Ini bukan hanya soal bisnis, tapi soal martabat keluarga. Kau harus tampil sempurna di depan pak Gery. Kau tidak mau kan, dia melihatmu dengan wajah kusam dan mata sembab seperti itu?" Ujar ibu Dewi dengan nada lembut merayu Ana.

 "Apakah tidak ada cara lain, Bu? Apakah harus aku yang melakukan ini?" Tanya ​​Ana dengan menghela napas, suaranya nyaris hilang. 

​"Ana, sayang... Ibu tahu ini sulit bagimu. Tapi pikirkan Nia. Apa kau mau melihatnya kehilangan segala fasilitasnya? Apa kau tega melihat Raka hancur dan depresi karena kegagalan ini? Kadang, seorang wanita harus menjadi pahlawan di balik layar. Ibu pun dulu pernah melakukan pengorbanan yang sama untuk almarhum Bapak. Itu adalah bagian dari menjadi istri yang berbakti.” suara Ibu Dewi semakin melunak, sebuah taktik manipulasi yang selalu berhasil meruntuhkan pertahanan Ana.

​Kalimat itu menghujam jantung Ana. Dia merasa seolah-olah seluruh sejarah keluarga ini dibangun di atas pundak wanita-wanita yang dipaksa menyerah pada keadaan.

​“Baik, Bu, aku akan pergi ke salon setelah menjemput nia sekolah.” jawab Ana lirih, hampir berupa bisikan.

​"Nah, begitu dong. Itu baru menantu kesayangan Ibu. Cepat ya, jangan sampai terlambat. Ingat, gaun hitamnya sudah Ibu siapkan di kursi belakang mobilmu, kan? Pakailah setelah selesai dari salon." Telepon ditutup sepihak oleh suara ibu Dewi.

​Ana melajukan mobilnya menuju sekolah untuk menjemput Nia dan mengantarkannya pulang ke rumah. 

Dengan berat hati Ana berangkat menuju kawasan elit tempat salon langganan mertuanya berada. Langkah kakinya terasa berat saat memasuki ruangan beraroma lavender dan melati tersebut. 

Mbak Maya, sang kapster, menyambutnya dengan senyum profesional yang lebar.

​"Mari, Bu Ana. Sudah ditunggu. Ibu Dewi minta perawatan lengkap ya? Mulai dari facial, hair spa, sampai make-up malam," ujar Maya sambil menuntun Ana ke kursi empuk yang terasa seperti kursi pesakitan baginya.

​Selama tiga jam berikutnya, Ana menjalani proses yang baginya terasa seperti ritual memandikan sesaji. 

Rambutnya dicuci, dipijat, dan diberi vitamin hingga berkilau. Wajahnya dipoles dengan berbagai krim mahal untuk menutupi jejak lelah dan tangisnya.

Tapi, di balik masker wajah yang dingin, hati Ana terasa terbakar.

​Dia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Wajah yang ada di sana tampak semakin cantik, namun matanya kehilangan binar kehidupan. 

Dia melihat Mbak Maya mulai mengaplikasikan lipstik merah menyala pada bibirnya, warna yang dipilihkan Ibu Dewi melalui pesan singkat kepada sang perias.

​"Wah, cantik sekali, Bu Ana. Pak Raka pasti makin sayang kalau melihat Ibunya secantik ini," puji Maya tulus, tanpa tahu bahwa pujian itu terasa seperti hinaan bagi Ana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 67

    Satu minggu setelah momen lamaran yang mengharukan di teras belakang rumah orang tua Ana, Gery memutuskan bahwa langkah selanjutnya yang paling penting adalah membawa Ana ke hadapan sang ayah. Hubungan Gery dengan ayahnya, Pak Handoko, memang sempat menegang akibat keberadaan Ibu Mia, tapi setelah insiden serangan jantung tiga bulan lalu, prioritas Gery sepenuhnya berubah. Dia ingin ayahnya menyaksikan dan merestui kebahagiaan barunya sebelum waktu bergulir lebih jauh.​Sore itu, langit Jakarta diselimuti mendung tipis yang membawa udara sejuk. Gery mengemudikan mobilnya dengan tenang menuju kawasan perumahan elite di daerah Kebayoran Baru, tempat kediaman utama Pak Handoko. Di kursi penumpang, Ana sesekali merapikan rok batik modern yang ia kenakan. Guratan gugup tidak bisa disembunyikan dari wajah cantiknya.​Gery yang menyadari hal itu perlahan menurunkan kecepatan mobilnya, lalu tangan kirinya bergerak menggenggam jemari Ana yang terasa agak dingin.​"Tenang, Ana. Ayah saya suda

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 66

    Hari-hari setelah malam lamaran itu berjalan dengan ritme yang jauh lebih tenang. Gery benar-benar membuktikan ucapannya dia tidak pernah mengungkit kembali soal cincin di dalam kotak beludru merah itu, juga tidak menunjukkan perubahan sikap yang membuat Ana merasa tertekan. Pria itu tetap menjadi Gery yang biasa, menjadi sosok pelindung yang hangat bagi Ana dan paman yang menyenangkan bagi Nia. Kebebasan yang diberikan Gery justru membuat batin Ana bekerja lebih aktif. Di bawah pendar lampu kamar tidurnya yang temaram setiap malam, setelah Nia terlelap di sampingnya, Ana sering kali termenung menatap langit-langit. Dia mengurai kembali setiap jengkal perasaannya. Ketakutan akan masa lalu itu memang masih ada, samar-samar menyelinap di sudut hati, tapi setiap kali bayangan Gery hadir, ketakutan itu perlahan terkikis oleh rasa aman yang teramat nyata. ​Hingga pada suatu akhir pekan, Ana memutuskan bahwa dia tidak boleh membiarkan pria sebaik Gery menunggu terlalu lama tanpa kepasti

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 65

    Tiga bulan telah berlalu sejak keputusan resmi dari Pengadilan Agama mengetuk palu kebebasan bagi Ana. Waktu yang berjalan lambat itu digunakannya untuk menata kembali serpihan hidup, fokus mengasuh Nia, dan perlahan menyembuhkan trauma masa lalunya. Sepanjang waktu itu pula, Gery menjadi sosok yang konstan hadir, memberikan ketenangan tanpa pernah menuntut apapun sebagai balasan. ​Malam itu, Gery mengundang Ana untuk makan malam di sebuah restoran privat yang terletak di lantai atas salah satu gedung pencakar langit Jakarta.​Setelah hidangan utama selesai dinikmati dan pelayan membawa pergi piring-piring kosong, suasana di meja mereka mendadak berubah menjadi lebih sunyi. Alunan musik instrumental yang samar di latar belakang menambah kesan intim yang kian terasa pekat. ​Gery membenarkan posisi duduknya, menatap Ana yang malam itu tampak sangat anggun dengan gaun berwarna biru dongker. Sepasang mata Gery yang biasanya memancarkan ketegasan seorang pebisnis, kini melunak sepenuhnya

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 64

    Satu bulan sejak ketukan palu hakim di Pengadilan Agama, kehidupan Ana perlahan-lahan menemukan ritme barunya yang meneduhkan. Tidak ada lagi ketakutan malam hari, tidak ada lagi air mata tersembunyi di balik pintu kamar, dan yang paling penting, tidak ada lagi bayang-bayang kebohongan. Jiwanya yang sempat layu kini mekar kembali, terutama karena kehadiran sosok pria yang dengan sabar menemaninya menata ulang setiap serpihan hidup yang sempat porak-poranda.​Hubungan Ana dan Gery bertransformasi dengan sangat alami. Tanpa ada ketergesaan, tanpa ada tuntutan. Gery selalu tahu cara menempatkan diri, dia menghormati ruang sendiri bagi Ana untuk menyembuhkan luka batinnya, namun ia selalu ada di sana setiap kali Ana membutuhkan bahu untuk bersandar.​Sore itu, langit Jakarta tampak begitu bersih, dihiasi semburat warna jingga dan merah muda yang memanjakan mata. Gery mengajak Ana dan Nia untuk menghabiskan akhir pekan di sebuah taman bermain terbuka yang asri di kawasan Jakarta Selatan.

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 63

    Hari yang paling dinantikan sekaligus mendebarkan itu akhirnya tiba. Dua minggu sejak mediasi yang alot dan penuh manipulasi dari pihak Raka, ruang sidang utama Pengadilan Agama Jakarta Selatan kembali menjadi saksi bisu dari akhir sebuah ikatan pernikahan.​Pagi itu, udara di dalam ruang sidang terasa begitu dingin. Ana duduk di kursi penggugat dengan setelan blazer abu-abu yang rapi, memancarkan aura ketenangan dan ketegaran yang luar biasa. Di sampingnya, Pak Baskoro bersiap dengan tumpukan berkas pamungkas. Dan tepat di baris kursi penonton di belakangnya, sosok Gery duduk dengan setia. Kehadiran pria itu, dengan tatapan matanya yang teduh tapi kokoh, menjadi jangkar emosional yang membuat Ana tidak goyah sedikit pun.​Di seberang ruangan, Raka duduk didampingi kuasa hukumnya. Tidak ada lagi sisa-sisa keangkuhan atau bujukan manis di wajahnya. Kerugian bisnis yang makin menggulung dan penolakan mutlak dari Ana selama dua minggu terakhir membuat pria itu tampak pasrah, meski gurat

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 62

    Pagi hari harinya, setelah semalaman menemani Gery di rumah sakit hingga kondisi Pak Handoko benar-benar dinyatakan melewati masa kritis, Ana akhirnya melangkah pulang. Tubuhnya terasa begitu lelah, tapi pikirannya dipenuhi oleh rasa hangat yang aneh setelah momen kedekatan mereka di kantin semalam.​Langkah kaki Ana melambat saat dia membuka pintu pagar rumah orang tuanya. Suasana teras tampak sepi, tapi begitu dia mendorong pintu depan yang tidak terkunci, sebuah pemandangan di ruang tengah seketika membuat langkahnya terhenti kaku.​Di atas karpet bulu abu-abu, Raka sedang duduk bersila. Pria itu tampak sedang menyusun beberapa balok mainan kayu bersama Nia. Tawa melengking khas anak kecil memenuhi ruangan yang biasanya sunyi itu. Raka terlihat begitu telaten, mencium puncak kepala Nia setiap kali putri kecilnya berhasil menyusun balok dengan tinggi.​"Lihat, Ayah! Rumahnya sudah jadi besar sekali!" seru Nia dengan mata berbinar-binar, wajahnya memancarkan keceriaan yang sudah semi

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 51

    Malam semakin larut, dan dinginnya angin malam mulai menusuk kulit. Tapi, Ana seolah mati rasa. Dia masih terduduk di atas aspal dengan tatapan kosong, sementara Gery mengeluarkan ponsel pribadinya, lalu menekan sebuah nomor panggilan cepat. Wajahnya seketika berubah menjadi sangat serius, memancar

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 48

    Di dalam ruang VIP kafe yang bernuansa kayu hangat dan temaram, suasana terasa begitu hening. Hanya terdengar dentingan pelan sendok yang mengaduk cangkir kopi dan desah halus pendingin ruangan. Di atas meja kaca panjang, beberapa berkas hukum dan map cokelat berisi bukti-bukti pengkhianatan Raka s

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 26

    Gery menghentikan gerakan tangannya yang hendak memotong sisa daging di piringnya. Dia meletakkan pisau dan garpu perak itu perlahan di atas meja, menimbulkan bunyi dentingan halus yang memecah keheningan sesaat di antara mereka. Pria itu menyandarkan tubuhnya pada kursi kulit yang empuk, melipat

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 14

    Malam telah jatuh sepenuhnya, melingkupi rumah masa kecil Ana dengan kesunyian yang terasa asing dan menekan. Di dalam kamar belakang yang remang-remang, Ana sedang menemani Nia yang berbaring di tempat tidur. Nia belum bisa terlelap, matanya yang bulat menatap langit-langit kamar dengan pandangan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status