MasukAna merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel yang terus-menerus bergetar.
“Na, kok belum sampai kantor? Jangan lupa, jam satu nanti Ibu menunggumu di salon. Jangan telat, Pak Gery itu orang yang sangat menghargai waktu.” Pesan Raka dari layar ponsel Ana. Ana hanya menatap layar itu dengan tatapan kosong. Jarinya bergerak mengetik balasan, namun ia menghapusnya kembali. Apa yang harus dikatakan? Bahwa dia merasa seperti pelacur yang dilegalkan oleh ikatan pernikahan? Bahwa dia merasa jijik melihat suaminya sendiri begitu antusias mendandaninya untuk pria lain? "Apakah ini harga yang harus kubayar?" bisik Ana pada dirinya sendiri. Dia mencoba menimbang-nimbang. Di satu sisi, gambaran kebangkrutan yang digambarkan Ibu Dewi begitu menakutkan. Dia membayangkan rumahnya disita, Nia harus pindah sekolah ke tempat yang tidak memadai, dan wajah Raka yang hancur karena kegagalan. Sebagai istri, bukankah tugasnya adalah menjadi penyokong di masa sulit? Dia membayangkan pertemuannya nanti malam. Sebuah restoran mewah, cahaya lilin yang temaram, dan tatapan lapar Pak Gery, pria yang sudah dikenal di kalangan pengusaha memiliki selera khusus pada wanita-wanita yang membawa proposal kepadanya. Jika dia tersenyum dan membiarkan tangannya disentuh, apakah itu berarti dia telah mengkhianati dirinya sendiri? Ataukah itu hanya sekedar akting profesional seperti yang dikatakan Raka? Keheningan Ana terpecah ketika seorang wanita tua penjual bunga sisa semalam berjalan melintas dan berhenti di depannya. "Bunga, Mbak? Masih segar, untuk mendinginkan hati yang sedang panas," ujar ibu penjual bunga dengan senyum tulus yang sangat kontras dengan senyum penuh rencana milik Ibu Dewi. "Terima kasih, Bu." Ucap Ana sambil tersenyum getir, merogoh dompetnya dan membeli setangkai mawar putih. "Mbaknya kelihatan sedang banyak pikiran, kadang-kadang, apa yang kita pikir benar menurut orang lain, belum tentu benar di sini,” lanjut ibu itu sambil menunjuk dadanya sendiri. Ana hanya tersenyum kecil, rasanya dia tak sanggup mengeluarkan suara. "Hati itu tidak bisa berbohong, Mbak. Kalau dipaksa, dia akan luka." Lanjut ibu penjual bunga dengan tatapan yang seolah mengerti keadaan Ana. Setelah ibu itu pergi, Ana menatap mawar putih di tangannya. Putih, bersih, dan rapuh. Persis seperti harga dirinya yang kini sedang diletakkan di atas meja judi oleh keluarganya sendiri. Dia kembali teringat ucapan Ibu Dewi tadi pagi. Jika dia menolak, dan perusahaan benar-benar bangkrut, dia akan disalahkan seumur hidup. Dia akan dianggap sebagai penyebab penderitaan Nia dan kehancuran marga suaminya. Ana membayangkan dirinya duduk di depan Pak Gery. Dia membayangkan bagaimana ia harus tertawa pada lelucon pria itu, bagaimana dia harus memakai gaun dengan potongan leher rendah yang disiapkan mertuanya, dan bagaimana dia harus menulikan nuraninya saat tangan pria itu mulai merayap di atas meja. "Raka... bagaimana mungkin kau sanggup membayangkan itu dan tetap menyebut dirimu suamiku?" Bisik Ana dengan lirih. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya luruh, jatuh tepat di atas kelopak mawar putih yang dia pegang. Dia merasa terjepit di antara dua tebing yang tinggi. Kembali ke rumah berarti menyerah pada intimidasi, pergi ke salon berarti menyerahkan martabatnya, namun melarikan diri pun dia tak punya tempat tujuan. Di taman yang sunyi itu, Ana menyadari bahwa keputusan yang dia ambil hari ini tidak hanya akan menentukan nasib perusahaan Raka, tapi juga akan menentukan siapa dirinya di hadapan cermin selama sisa hidupnya. Ponselnya bergetar lagi. Kali ini telepon dari Ibu Dewi. Ana menatap layar itu dengan perasaan mual yang kembali memuncak. Dia menarik napas panjang, mencoba mencari setitik keberanian di tengah kepungan rasa takut yang luar biasa. Layar ponsel itu terus menyala, menampilkan nama "Ibu Mertua" dengan nada dering yang terasa seperti alarm peringatan bagi Ana. Dengan jari yang masih gemetar, Ana akhirnya menggeser ikon hijau tersebut. Dia mendekatkan ponsel ke telinganya, tapi tidak segera bersuara. "Halo, Ana? Kamu di mana? Raka bilang kamu belum sampai kantor. Jangan bilang kamu sedang mencoba melarikan diri dari tanggung jawab ini." Suara Ibu Dewi langsung menyambar, tanpa basa-basi. "Aku hanya sedang mencari udara segar sebentar, Bu. Kepalaku pening.” Jawab Ana dengan memejamkan mata erat, menghirup aroma mawar putih di tangannya yang mulai layu terkena panas matahari. "Pening itu karena kamu terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak!” sahut Ibu Dewi dengan nada otoriter yang dibungkus perhatian palsu. “Tapi bu…” Ucapan Ana terpenggal oleh suara rayuan ibu mertuanya. "Dengarkan Ibu, Nak. Ibu sudah membayar mahal untuk janji temu di salon itu. Mbak Maya sudah menunggu untuk merawat wajah dan rambutmu. Ini bukan hanya soal bisnis, tapi soal martabat keluarga. Kau harus tampil sempurna di depan pak Gery. Kau tidak mau kan, dia melihatmu dengan wajah kusam dan mata sembab seperti itu?" Ujar ibu Dewi dengan nada lembut merayu Ana. "Apakah tidak ada cara lain, Bu? Apakah harus aku yang melakukan ini?" Tanya Ana dengan menghela napas, suaranya nyaris hilang. "Ana, sayang... Ibu tahu ini sulit bagimu. Tapi pikirkan Nia. Apa kau mau melihatnya kehilangan segala fasilitasnya? Apa kau tega melihat Raka hancur dan depresi karena kegagalan ini? Kadang, seorang wanita harus menjadi pahlawan di balik layar. Ibu pun dulu pernah melakukan pengorbanan yang sama untuk almarhum Bapak. Itu adalah bagian dari menjadi istri yang berbakti.” suara Ibu Dewi semakin melunak, sebuah taktik manipulasi yang selalu berhasil meruntuhkan pertahanan Ana. Kalimat itu menghujam jantung Ana. Dia merasa seolah-olah seluruh sejarah keluarga ini dibangun di atas pundak wanita-wanita yang dipaksa menyerah pada keadaan. “Baik, Bu, aku akan pergi ke salon setelah menjemput nia sekolah.” jawab Ana lirih, hampir berupa bisikan. "Nah, begitu dong. Itu baru menantu kesayangan Ibu. Cepat ya, jangan sampai terlambat. Ingat, gaun hitamnya sudah Ibu siapkan di kursi belakang mobilmu, kan? Pakailah setelah selesai dari salon." Telepon ditutup sepihak oleh suara ibu Dewi. Ana melajukan mobilnya menuju sekolah untuk menjemput Nia dan mengantarkannya pulang ke rumah. Dengan berat hati Ana berangkat menuju kawasan elit tempat salon langganan mertuanya berada. Langkah kakinya terasa berat saat memasuki ruangan beraroma lavender dan melati tersebut. Mbak Maya, sang kapster, menyambutnya dengan senyum profesional yang lebar. "Mari, Bu Ana. Sudah ditunggu. Ibu Dewi minta perawatan lengkap ya? Mulai dari facial, hair spa, sampai make-up malam," ujar Maya sambil menuntun Ana ke kursi empuk yang terasa seperti kursi pesakitan baginya. Selama tiga jam berikutnya, Ana menjalani proses yang baginya terasa seperti ritual memandikan sesaji. Rambutnya dicuci, dipijat, dan diberi vitamin hingga berkilau. Wajahnya dipoles dengan berbagai krim mahal untuk menutupi jejak lelah dan tangisnya. Tapi, di balik masker wajah yang dingin, hati Ana terasa terbakar. Dia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Wajah yang ada di sana tampak semakin cantik, namun matanya kehilangan binar kehidupan. Dia melihat Mbak Maya mulai mengaplikasikan lipstik merah menyala pada bibirnya, warna yang dipilihkan Ibu Dewi melalui pesan singkat kepada sang perias. "Wah, cantik sekali, Bu Ana. Pak Raka pasti makin sayang kalau melihat Ibunya secantik ini," puji Maya tulus, tanpa tahu bahwa pujian itu terasa seperti hinaan bagi Ana.Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang membelah pinggiran kota, sedan mewah hitam itu akhirnya melambat dan berbelok memasuki area proyek. Hamparan tanah merah yang luas, deretan tiang pancang yang kokoh, serta suara bising dari alat berat yang sedang beroperasi langsung menyambut mereka. Debu-debu jalanan berterbangan saat ban mobil melindas permukaan tanah yang belum rata.Mobil berhenti tepat di depan sebuah bangunan semi permanen yang berfungsi sebagai kantor direksi keet lapangan. Gery turun terlebih dahulu, disusul oleh Ana yang langsung merapikan blazer hitamnya, mencoba menghalau rasa cemas yang sejak tadi menggerogoti dadanya.Sopir mobil segera membuka bagasi, dibantu oleh beberapa staf lapangan yang berada di dekat sana. Kardus-kardus besar berisi makanan mewah dari restoran kolonial tadi dikeluarkan satu per satu.Gery melambaikan tangannya kepada mandor utama, menginstruksikan sesuatu dengan suara yang cukup lantang di antara deru mesin penanam paku bumi.
Langkah kaki Ana terasa berat saat dia berjalan beriringan dengan Gery menuruni lift menuju basement gedung. Setiap ketukan tumit sepatunya di atas lantai beton yang dingin seolah bergema, mengingatkannya bahwa dia sedang melangkah semakin jauh ke dalam rencana pria di sampingnya. Di area parkir khusus eksekutif, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam legam sudah menunggu dengan mesin yang menyala halus.Sebelum Ana sempat meraih gagang pintu belakang, Gery sudah melangkah lebih cepat. Dengan gerakan yang terkesan sangat sopan tapi terasa dominan bagi Ana, pria itu membukakan pintu mobil untuknya."Silakan masuk, Ana. Perjalanan ke lokasi proyek agak sedikit jauh, jadi pastikan kamu duduk dengan nyaman," ucap Gery, lengkap dengan senyuman tipis yang tak pernah lepas dari wajahnya."Terima kasih, Pak," jawab Ana pendek.Ana segera masuk dan menggeser duduknya sedekat mungkin ke arah jendela kiri, sengaja menyisakan jarak yang lebar di kursi belakang.Gery menyusul masuk dan men
Di dalam kamar rumah orang tuanya, Ana menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Wajah yang beberapa jam lalu pucat dan sembab, kini telah tertutup oleh lapisan kosmetik yang tebal. Ana sengaja memilih setelan blazer formal berwarna hitam dengan kemeja putih di dalamnya, sebuah zirah yang dia harapkan bisa melindunginya dari pandangan-pandangan yang merendahkan martabatnya.Setiap gerakan tangannya saat merapikan rambut atau memoles lipstik terasa begitu mekanis dan hambar. Pikirannya masih tertinggal di ruang trauma rumah sakit, di samping tubuh Raka yang tak berdaya. Tapi, jam di pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul dua belas lewat empat puluh menit. Waktu tidak menunggunya, dan kesepakatan pahit ini harus segera dia tunaikan.Tepat pukul satu siang, mobil Ana memasuki pelataran gedung perkantoran milik Gery yang menjulang tinggi di pusat kota. Begitu melangkah masuk melewati pintu kaca besar di lobi, atmosfer kemewahan korporat langsung menyergapnya. Lantai mar
Ibu Dewi menepuk-nepuk bahu Ana dengan kelembutan yang terasa asing.“Sekarang, kamu pulang dulu, Ana. Ganti pakaianmu, rapikan riasanmu yang luntur itu. Kamu harus terlihat segar dan profesional saat menemui Pak Gery nanti. Ibu yang akan menjaga Raka di sini bersama ayahmu." Ucap Ibu Dewi dengan lembut.Ana hanya mengangguk patuh bagai kerbau dicocok hidung. Tapi, baru saja dia berbalik hendak melangkah meninggalkan selasar ruang trauma, ponsel milik Raka yang berada di dalam tas milik Ana kembali bergetar hebat. Nama Pak Gery berkedip di layarnya.Ana menarik napas panjang, menatap layar itu dengan perasaan campur aduk sebelum akhirnya menggeser tombol hijau."Halo, Raka? Di mana posisi kamu? Dokumen amandemen kontrak yang semalam sudah saya siapkan di meja. Jam satu tepat kita bahas di ruangan saya, jangan terlambat," suara berat Pak Gery langsung terdengar mendominasi di seberang telepon, tanpa basa-basi.Ana menjauhkan ponsel itu sejenak dari telinganya yang berdengung, lal
Di koridor rumah sakit yang sunyi, keheningan terasa begitu menindas. Suara langkah perawat yang tergesa-gesa di kejauhan dan dengung mesin dari ruang trauma menjadi satu-satunya latar belakang dari drama yang tengah mengoyak batin Ana. Ibu Dewi sudah duduk membelakangi mereka di ujung lorong, menunjukkan sikap acuh tak acuh yang sengaja dipasang untuk menekan mental menantunya.Pak Anton mendatangi Ana yang masih berdiri mematung di depan kaca ruang trauma. Wajah pria tua itu tampak letih, gurat-gurat kecemasan bercampur kepasrahan menghiasi wajahnya. Pak Anton menyentuh pundak Ana dengan lembut, mencoba menarik perhatian putrinya yang tatapannya mulai kosong."Ana... Dengar Ayah, Nak." panggil Pak Anton, suaranya pelan dan berat.Ana tidak menoleh. Matanya tetap terpaku pada tubuh Raka yang dipenuhi selang di balik kaca. "Ayah juga mau menyuruhku pergi?" bisik Ana dengan lirih, hampir tak terdengar.Pak Anton menghela napas panjang, meremas pundak Ana sedikit lebih erat. "A
Ana terjebak dalam pusaran rasa bersalah yang diciptakan oleh orang-orang di sekitarnya, tepat di saat suaminya sedang bertaruh nyawa di balik dinding pembatas.Kata-kata Ibu Dewi barusan benar-benar meremukkan sisa-sisa kekuatan jiwa Ana.Pak Anton berusaha menarik lengan putrinya agar kembali berdiri, Tapi Ana seolah kehilangan tulang-tulangnya. Dia merasa terlalu lumpuh untuk menghadapi kenyataan di depannya.Ibu Dewi tidak membiarkan tangisan Ana menyurutkan amarahnya. Alih-alih luluh melihat menantunya yang hancur, mata wanita tua itu justru menyipit, memancarkan kalkulasi bisnis yang dingin bahkan di depan ruang gawat darurat.Ibu Dewi menghapus air matanya sendiri dengan tisu, lalu melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Ana yang masih menunduk."Bangun, Ana. Jangan cuma bisa menangis!" Ucap Ibu Dewi.Suara Ibu Dewi mendadak berubah, tidak lagi menjerit histeris, pelan tapi penuh penekanan yang kejam. "Menangis tidak akan membayar biaya pengobatan Raka, dan tidak akan men







