MasukCai Kang was a young martial artist from Shenmi China who is coming to a different country to be engaged but there is a secret. They can change their gender based on the environment. They have no problem with it but it's an inconvenience in everyday life. How could they balance their life as a martial artist and a normal kid?
Lihat lebih banyakLuna mengeratkan rangkulannya di lengan sang ayah. Dia perlu pegangan agar tidak terjatuh karena gugup, dadanya berdebar sangat kencang, sampai dia takut sewaktu-waktu akan jatuh ke tanah.
Pesta malam ini begitu meriah, lampu-lampu yang tertata apik menambah semarak suasana. Ini bukan kali pertama Luna menemani sang ayah ke sebuah pesta, tapi ini pertama kalinya Luna akan bertemu lagi dengan Laksamana Sanjaya. Laki-laki yang sangat dikaguminya dan selalu menghiasi setiap mimpi-mimpi indahnya. Luna ingat sekali saat sang ayah memberikan selembar foto padanya. Dia menatap foto itu dengan tak percaya. Luna mencubit lengannya sekedar meyakinkan diri, bahwa ini semua nyata. Rasanya dia ingin tertawa bahagia saat dirasakannya sakit di lengannya. Ini memang nyata dan matanya masih cukup normal untuk mengenali foto laki-laki tampan yang menjadi bunga-bunga tidurnya, yang membuatnya seolah terbang ke awan meski hanya melihat kelebat bayangnya. “Bagaimana, Nak, apa kamu mau? Ayah tidak akan memaksa jika ka–“ "Luna mau, Yah.” Sang ayah melotot mendengar Luna memotong ucapannya. Luna dididik dengan baik oleh sang ayah, dan memotong pembicaraan orang yang lebih tua, terlebih ayahnya sangat bertentangan dengan didikan itu. Luna hanya nyengir mendapati ayahnya melotot padanya. Luna terlalu senang, jadi dia tak sadar telah berbuat tak sopan. Tapi ayahnya tersayang pasti akan memaafkannya jika Luna meminta maaf. “Maaf, Yah,” kata Luna sambil menundukkan kepalanya dalam penuh penyesalan. “Kamu itu,” Sang ayah hanya bisa menggelengkan kepala tak habis pikir. Dan benar saja sang ayah tak marah. "Tanganmu Dingin, kamu baik-baik saja, Nak?" pertanyaan sang ayah berhasil mengembalikan Luna pada saat sekarang. Ah, dia melamun ternyata sampai tak sadar kalau mereka sudah memasuki ruang pesta. Nyonya Widia Sanjaya, yang Luna tahu ibu dari Laksa, sedang berulang tahun hari ini dan tentu saja Luna dan ayahnya juga diundang. "Luna hanya gugup, Yah," jawabnya terus terang yang membuat sang ayah tertawa. "Tenang saja ada ayah di sini, tidak ada yang perlu kamu takutkan." "Luna tahu ayahkan pahlawan bertopeng untuk Luna." "Padahal ayah lebih suka superman." "Idih Luna enggak suka superman dia tidak bisa pake celana dengan benar." Sang ayah tertawa mendengar alasan Luna. Sapaan tuan rumah menghentikan pembicaraan mereka. "Ini yang namanya Luna, cantik sekali." Luna menyalami pasangan paruh baya itu dan tangannya bertambah dingin saat harus bersalaman dengan Laksamana Sanjaya. Laki-laki itu masih setampan yang Luna ingat, tatapan matanya yang tajam membuat Luna seolah menggelepar, Ya Tuhan laki-laki ini akan jadi suaminya. Betapa indahnya hidup ini. *** Para orang tua membiarkan dua orang itu saling mengenal satu sama lain. "Aku ingin bicara, ikut aku." Luna menganggukkan kepalanya dia terlalu senang untuk hanya sekedar bertanya. Laksa membawanya ke taman belakang rumah, memintanya duduk di bangku panjang di sana. Di bawah payungan lembutnya sinar bulan, mereka duduk bersebelahan, tangan Luna yang dari tadi sudah dingin sekarang makin dingin. Luna tidak tahu apa yang harus dilakukan pasangan yang dijodohkan. Jadi dia hanya bisa duduk diam sambil menenangkan debar jantungnya yang menggila. "Langsung saja aku tak ingin berbasa basi, aku menolak perjodohan ini. Aku punya seseorang yang aku inginkan untuk menjadi istri dan itu bukan kamu." Duar! Bagai petir di siang bolong, Luna begitu terkejut dengan ucapan Laksa, dia hanya bisa menatap laki-laki itu dengan nanar. Mimpi indahnya langsung hancur seketika, salahnya juga yang terlalu berharap. Laki-laki seperti Laksa tak mungkin melirik dirinya yang hanya pegawai biasa. Sedapat mungkin Luna berusaha menelan air matanya, Laksa berhak menolak memang. "Terima kasih untuk kejujuranmu, aku sadar aku hanya wanita biasa, kamu yang dari dulu di kelilingi wanita cantik tentu tak kesulitan menemukan pasangan." Laksa mengerutkan keningnya. "Apa kita saling kenal?" Luna tersenyum, dia memang bukan cewek populer dulu jadi wajar kalau Laksa lupa. "Kita satu kampus dulu, mungkin kamu lupa dan aku juga bekerja di hotel keluarga kalian." Laksa menatap wanita di depannya dengan seksama. "Ah ya aku ingat kamu adek tinggatku," katanya, wajahnya yang tadi dingin sedikit lebih ramah. Luna mengangguk senang. "Maafkan aku, kita tidak bisa bersama mungkin kita bisa berteman saja. Aku tahu orang tua kita pasti kecewa tapi aku akan menjelaskannya." Laksa mengulurkan tangan, mengajaknya bersalaman. Luna hanya bisa menyambut tangan itu dengan pahit. Dia ditolak, bahkan sebelum berkenalan. Rasanya sakit, tapi Luna tidak akan memaksa. Dia sudah kalah sebelum berperang. "Aku mengerti." Dengan canggung Luna akhirnya berdiri dan melangkah mencari ayahnya. Setetes air bening bening mengalir di pipinya, tapi Luna berusaha meyakinkan diri bahwa dia baik-baik saja. Dia bukan gadis lemah. Tapi entah kemana sang ayah, Luna bahkan sudah lelah berkeliling tempat pesta ini tapi tidak juga bertemu ayahnya. Dan itu membuatnya capek dan kehausan. "Silahkan Nona." seorang pelayan memberikan segelas minuman berwarna Orange yang terlihat sangat menggoda. "Terima kasih." Luna langsung mengambil dua buah gelas sekaligus, siapa tahu nanti ayahnya juga haus, jadi dia bisa memberikannya. Tapi sekarang dia ingin mencari tempat duduk terlebih dulu, ayah akan marah kalau dia minum sambil berdiri. "Boleh saya duduk di sini?" tanya Luna saat menemukan sebuah kursi panjang untuk duduk, tapi di sana juga ada seorang laki-laki yang sudah duduk terlebih dahulu. Luna merutuki pesta yang bahkan tak mau repot-repot menyediakan kursi. "Luna." Rasanya Luna ingin menghilang saja, sifat cerobohnya kenapa tidak juga hilang, dari semua orang kenapa dia harus bertemu Laksa lagi, orang yang baru saja menolaknya dengan kejam. "Itu untukku." Laksa mengambil gelas di tangan Luna dan meneguknya dengan rakus, sepertinya dia haus. Ya sudahlah nanti dia bisa mengambil lagi untuk ayahnya. Sekarang yang penting menyelamatkan diri dulu, hatinya masih tidak baik-baik saja oleh penolakan tadi. "Kamu mau kemana?" "Eh?" Luna yang sudah berdiri menoleh pada Laksa yang terlihat sangat tidak nyaman. Tapi belum juga Luna berpikir lebih jauh tangannya sudah ditarik kasar. "Pak Laksa kita mau kemana? Saya harus mencari ayah saya." Luna bergetar ketakukan tatapan Laksa sangat tidak biasa, dan Luna sangat takut, tubuhnya dingin dan gemetar, dan dia bersumpah bukan karena dekat dengan Laksa. Tanpa mempedulikan penolakan Luna, Laksa menariknya ke lantai dua rumah ini. Kaki kecilnya terseok-seok mengimbangi langkah panjang Laksa, tangannya sakit oleh cengkraman laki-laki itu. Laksa menariknya ke sebuah kamar, dan tanpa basa basi berusaha menyentuh Luna. Merasa bahaya mengancamnya Luna tentu saja memberontak lebih keras, tapi itu malah membuat Laksa bersemangat menyentuhnya di semua sisi, pakaiannya bahkan sudah tak berbentuk lagi. Dan saat sadar Laksa sudah menyatukan tubuh mereka, membuat Luna merasakan sakit yang luar biasa, di hati dan tubuhnya. Luna hancur.He watched from a distance as the cannons behind him fire. Everyone who can fly join him in the skies while those stuck on the ground and water remain there.Cai Kang feels like he's on fire. He is feeling the most out of this. The thrill, the excitement, the need to cry for blood, it's exhilarating. He told everyone to stand back. He volunteered on this part of the island because it is their weakest point. Looking forward, there are too many demons for him to see if Lufen is there. As much as he enjoys a good massacre, he would rather get it over with and join the others. This is the perfect opportunity try something first. He stared at Kazuha who is feeling the water below her. She is powerful but no one else has sensory abilities like her so she is delegated to staying behind and not on the front lines. That's good. Now that she's here, it looks like he is going to try that move now. He flew up in the air and with a deep breath, he says softly to the approaching invaders,"die"The
Cai Kang was looking around, realizing he is in front of the Furukawa pharmacy. It was dark out with barely any light. He has no trouble seeing in the dark yet he has a foreboding feeling as he heard something in the distance; the sound of crying. He slowly head towards there to see Kazuha, on her knees and in tears. Her hair appears to be a bit longer in length. She is in the arms of another boy he doesn't recognize who attempts to comfort her and hum a song which got her to stop for a bit and take it in. The boy has his hair in a short ponytail and has dark eyes. He seems to be intimate with her as she didn't push him away. He appears to have the same pained expression. Cai Kang can't even feel jealous right now. Whatever they are going through, it must especially hurt if she cries like this. He has seen her cry before not appearing this vulnerable.Then the two looked up to see Cai Kang. Their faces grimaced upon seeing him. Taken aback, he then looked around to see a mysterious fi
Kazuha drank the tea and is surprised by the taste and covered her mouth in surprise. "Wow, you're right. This is really good." she puts down the cup. "So this is what the legendary tea of the gods taste like. I never thought I would ever try this.""No kidding." Nuying said while stuffing her mouth with a pastry. "If I were you, I would've hoard it all. You don't seem like the type to share." she said.Kurai smirked with pride. "Well, we are all gonna need it. You might as well try something good before we all die." he joked but the girls didn't find that funny."Sorry," he quickly apologized."I'm surprised you invited me. You and I don't exactly have had a casual conversation in a while." Kazuha said while taking a sip."Actually there is something I need to talk to you about. I met the benefactor." he said."Really? Who does he look like?""Just some british explorer who looks like he's from Tarzan.""Tarzan?" Nuying bemused."British explorer?" Kazuha repeated."It's just a disgui
Both Kurai and Cai Kang are unsure on what to make of this. The girl on the other hand is quite enthusiastic."You called her Run'er. I thought she has no name." Cai Kang said, hesitantly sitting on his seat. What is with this Alice tea party nonsense? he thought."That is her name, of course.""I thought Ignorance aren't allowed to have one." Kurai said with suspicious eyes."They are not allowed to have mortal names every time they reincarnate." the figure said pouring tea and handed the cups to them. "That doesn't mean she doesn't need to be referred to the name of her first life even when she's only half a soul."The girl ate and sipped her tea with surprisingly good manners."She's not scared of me at all." Kurai noted while stuffing his mouth."I had to temporarily erase her fear of you when we're in here. Besides it is a dream, she is well mannered in her dreams than in real life." then he stopped for a brief moment before talking, "We're supposed to meet Avoidance as well but i
Cai Kang read through the three volumes of his formerly favorite manga. He saw the Chinese southern isles, the sudden kidnapping of girls in their school as well as the rescue, the prophecy of Wings but worded differently.To explain the premise, Purple Dawn is about a new era of an entire generation
Warning: mention of sexual assaultAfter Kurai asked Hoshino to draw him his past, he and Cai Kang left the room leaving her to her work. "You know, you may not like what you hear." Cai Kang said.Kurai shrugged. "I heard worse. The worst thing I could hear is that my mom is dead.""And if she's not?"K
Warning: suicide and death mentionLaughter and small praises, baby talk, cries, light, toys, a soothing and familiar scent, a warm embrace, a smile"It is better to think she has abandoned you. It is less painful that way.""What will you do when you do find her? She wouldn't want to come back even
Kurai was meditating with his right palm facing out and his left palm folded. His eyes are closed and his mind is calm."Align the bridge to your flaming heart and reach to the home of the starsas the stars also contain fire thus fire can exist beyond the sky.Elements are the same in Heaven and Ea






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan