Home / Rumah Tangga / DALAM DEKAP LUKA / BAB 49 - GHAIDAN RESAH

Share

BAB 49 - GHAIDAN RESAH

Author: Sally Diandra
last update publish date: 2025-11-30 00:57:35

“Menarik, Arga. Sangat menarik,” desis Onella, menikmati kilauan strategis di mata Arga. Mereka bertemu di salah satu sudut cafe.

“Jadi, kontrak pernikahan mereka didasarkan pada kewajiban ahli waris dan pelunasan hutang. Kalau kita bisa merusak proses ini, kita nggak hanya melukai Ghaidan, tapi kita juga menghancurkan pondasi keberadaannya, yaitu kewajiban ahli waris dan kepastian emosional yang mulai dia bangun. Katakan padaku, Arga, bagaimana kita bisa memastikan Ghaidan berhenti melihat Hyr
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DALAM DEKAP LUKA    BAB 55 - Restu Oma Dayana

    Setibanya di kediaman utama keluarga Sumitra di kawasan Menteng yang terlihat megah dengan arsitektur kolonial yang terawat sempurna. Pohon-pohon beringin besar tampak berdiri kokoh dan memberikan kesan teduh sekaligus misterius pada mansion tersebut. Ghaidan bergegas turun dari mobil, lallu memutari kendaraan untuk membukakan pintu untuk Hyra. Pria itu bahkan mengulurkan tangannya, membantu sang istri untuk berdiri dengan penuh kehati-hatian. Hyra merasa apa yang dilakukan oleh suaminya ini terlalu berlebihan, karena dia merasa kalau dirinya baik-baik saja, semuanya masih bisa dia lakukan sendiri. Bapak dan Ibu Sumitra sudah menunggu di teras luas yang pilar-pilarnya menjulang megah. Ekspresi mereka adalah campuran antara senang dan bingung. "Kalian pulang secepat ini?" tanya Bu Sumitra setelah memeluk Hyra erat. "Baru dua bulan di Singapura…. Ibu pikir urusan bisnis di sana akan memakan waktu yang cukup lama, yaa… setahun." Pak Sumitra yang saat itu sedang menyesap kopi, ma

  • DALAM DEKAP LUKA    BAB 54 - Pengakuan Di Marina Bay

    Malam itu, angin laut berembus cukup kencang menyapu area promenade Marina Bay. Lampu-lampu dari Marina Bay Sands memantulkan cahaya indah di permukaan air. Ghaidan sengaja menyewa kapal pesiar yacht mini secara privat untuk makan malam mereka, sekadar merayakan keberhasilan kontrak bisnisnya hari ini sekaligus menebus rasa bersalahnya karena sempat membentak Hyra pagi tadi. Namun, sejak mereka menikmati hidangan salmon en papillote, Hyra hanya terdiam. Perempuan itu lebih banyak mengaduk makanannya dengan garpu, tatapannya kosong menembus lautan gelap di luar sana. Ghaidan meletakkan gelas anggurnya. Insting tajamnya langsung menangkap ada sesuatu yang tidak beres. "Ada apa, Hyra?" tanya Ghaidan lembut, lalu mendekat ke kursi Hyra dan menggeser tempat duduknya agar lebih dekat dengan sang istri. "Kamu diam saja sejak sore tadi. Kenapa? Apa mualmu belum hilang? Kalau gitu … kita batalkan saja pelayaran ini dan kembali ke darat sekarang." Ghaidan baru saja hendak memanggil kapten

  • DALAM DEKAP LUKA    BAB 53 - Rahasia Dua Kantung Janin

    Tiga minggu telah berlalu sejak malam panjang di Marina Bay dan pembatalan sepihak prosedur IVF tersebut. Kehidupan mereka di apartemen mewah kawasan elit Singapura terasa seperti bulan madu yang tertunda. Ghaidan sering pulang lebih awal, membawa makanan kesukaan Hyra, dan menghabiskan malam-malam panas yang menguras tenaga mereka berdua di ranjang. Namun, pagi ini terasa berbeda. Pagi itu, Hyra sedang berdiri di dapur apartemen yang megah, berniat membuatkan espresso untuk Ghaidan yang sedang bersiap di kamar mandi. Saat aroma kopi yang pekat dan pahit itu menguar di udara, perut Hyra tiba-tiba bergejolak hebat. Gelombang mual yang luar biasa kuat menghantamnya. Dibekap mulutnya dengan kedua tangan, lalu berlari tergopoh-gopoh menuju wastafel kamar mandi tamu, dan memuntahkan cairan pahit dari perutnya yang belum terisi makanan. "Hyra?" Suara berat Ghaidan terdengar mendekat. Pria itu berdiri di ambang pintu kamar mandi, jas mahalnya belum terpasang sempurna, wajahnya

  • DALAM DEKAP LUKA    BAB 52 - Tarian Pertama Tanpa Syarat

    Alunan musik jazz dari denting piano di sudut restoran Art di Estro masih mengalun lembut, mengisi celah-celah keheningan di antara napas Ghaidan dan Hyra. Di tengah lantai dansa dengan latar belakang gemerlap cahaya malam Marina Bay yang menembus dinding kaca raksasa, dunia seakan hanya milik mereka berdua. Ghaidan menarik pinggang Hyra lebih merapat, menghapus jarak fisik yang selama ini selalu menjadi dinding yang tidak kasat mata di antara mereka. Aroma maskulin dari parfum cedarwood dan vetiver yang menguar dari tubuh Ghaidan memenuhi indra penciuman Hyra, membuatnya sedikit mabuk kepayang tanpa perlu menyentuh anggur Barolo di meja mereka. "Kamu yakin ingin dilihat banyak orang seperti ini, Mas?" bisik Hyra, mendongak menatap rahang tegas suaminya. "Biarkan saja," jawab Ghaidan dengan suara baritonnya yang serak dan dalam, "biar mereka melihat seorang pria yang akhirnya bisa bernapas setelah tenggelam sekian lama." Hyra tersenyum tipis, matanya yang masih sedikit sembab

  • DALAM DEKAP LUKA    BAB 51 - MEMBUKA DIRI

    Dua jam kemudian, Ghaidan dan Hyra duduk di meja paling sudut di Art di Estro, sebuah restoran Italia mewah di atap gedung yang menawarkan pemandangan malam gemerlap Marina Bay. Lampu kristal tampak memancarkan cahaya keemasan yang lembut, dihiasi musik jazz yang halus mengalun indah, dan aroma basil serta truffle yang menggiurkan memenuhi udara.Meskipun suasananya romantis luar biasa, kecanggungan di antara Ghaidan dan Hyra lebih tebal daripada piring risotto yang baru disajikan. Mereka memesan hidangan laut, dan Ghaidan memilih sebotol Barolo tua, anggur mahal yang sama sekali tidak Hyra sentuh. Dokter muda itu hanya menyesap air mineral, sementara Ghaidan sesekali menatap keluar jendela, atau menyibukkan diri dengan pisau dan garpunya, menikmati makanan yang mereka pesan.“Makanannya enak, Mas,” ujar Hyra, mencoba memecah keheningan yang panjang setelah lima belas menit berlalu. Dia lalu menyentuh gelas airnya, seolah meminta pegangan.“Ya,” jawab Ghaidan singkat, laki-laki itu

  • DALAM DEKAP LUKA    BAB 50 - PROVOKATOR

    Kembali ke kantornya di Sumitra Tower, nasihat Profesor Zamar masih bergema di benaknya, membenturkan logika teknis Ghaidan dengan tuntutan emosional yang terasa menakutkan. “Berikan kepercayaan ke Hyra.” Ghaidan termenung seraya berfikir, “Kalau Hyra aman secara fisik, bisakah aku mempercayainya secara emosional?” Ghaidan duduk, memaksakan diri untuk bekerja, tetapi benaknya kembali pada ketenangan Hyra yang mencurigakan di rumah sakit. Kepercayaan berarti melepas kendali yang artinya membiarkan dirinya dihancurkan, sama seperti ibunya yang telah menghancurkan masa kecilnya. Bukankah Hyra menikahinya karena motif transaksional murni? Hanya karena uang? “Kalau kamu menghukumnya sebelum dia berbuat salah, kamu menghukum dirimu sendiri.” Kata-kata Profesor Zamar bagaikan kutukan yang mendesak Ghaidan untuk berani. Namun, naluri bertahan hidupnya menolak risiko tersebut. Ditekannya tombol interkom. “Panggil Daniel masuk,” perintah Ghaidan, suaranya kering dan tajam. Beber

  • DALAM DEKAP LUKA    BAB 10 - Roller Coaster

    “Memastikan mereka tidak bisa mengikuti kita lagi,” jawab Ghaidan singkat, sebelum menekan pedal gas hingga mobil mereka melesat ke depan.Suara deru mesin mobil menggema di antara gedung-gedung kota. Ghaidan mengarahkan mobilnya dengan kecepatan tinggi, matanya tajam mengawasi jalan. Beberapa mobi

  • DALAM DEKAP LUKA    BAB 9 - Dia Normal Kan?

    Raut wajah Profesor Zamar berubah sejenak, tapi ia segera mengangguk sambil tersenyum kecil. “Kenal. Tentu saja. Dia salah satu pasien istimewaku.”Hyra terdiam, mencerna jawaban itu. “Jadi, Anda tahu tentang rencana pernikahan kami?”Zamar menghela napas, lalu menjawab, “Ya, saya tahu. Ghaidan sud

  • DALAM DEKAP LUKA    BAB 8 - Penasaran

    “Buat apa?” sela Hyra kesal. “Agra, aku minta dengan amat sangat, tolong jangan ikut campur dalam masalahku ini! Aku mohon, please…” “Nggak, Ra. Aku ingin bertemu sama pria itu. Aku akan mencicil hutang kamu ke dia,” ujar Agra ketus. “Karena sebenarnya masalah hutangmu ini bisa diselesaikan dengan

  • DALAM DEKAP LUKA    BAB 7 - Panggilan Dari Masa Lalu

    Hyra tiba di rumah sakit sekitar pukul sebelas siang, terlambat dari jam kerjanya yang seharusnya dimulai pada pukul delapan pagi. Untungnya, ia sudah meminta izin terlebih dulu ke pihak rumah sakit. Begitu sampai, dokter muda itu langsung menuju ruang ganti, mencoba menghilangkan rasa lelah dari p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status