Home / Romansa / DALAM DEKAPAN MAFIA / 36. Tidak Bernama Ampunan

Share

36. Tidak Bernama Ampunan

last update publish date: 2026-01-16 13:37:06

Chapter 36

Tidak Bernama Ampunan

Luna duduk sendiri di ruang kerja sementara yang disiapkan panitia lelang untuk pemilik acara, lampu kristal di langit-langit memantulkan cahaya hangat, kontras dengan hawa dingin yang masih menempel di kulitnya sejak berdiri di podium. Di atas meja dokumen-dokumen legal tersusun rapi—rekap hasil lelang, daftar pemenang, dan tanda tangan. Semua berjalan sesuai rencana dan nyaris terlalu sempurna.

Luna menatap tumpukan map paling atas, map yang diletakkan salah s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Kenzien Yodha
sudah ku duga, audrey hanya bersandiwara
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   END

    ENDHujan tipis menyapu kaca mobil saat kendaraan hitam itu melaju meninggalkan Sisilia. Jalanan basah memantulkan lampu-lampu kota yang semakin lama semakin jarang hingga berganti gelap jalan raya dan bayangan bukit-bukit yang tertutup kabut. Di kursi belakang, Luna memangku seorang bayi perempuan yang tertidur pulas di lengannya. Tubuh kecil itu dibungkus selimut putih lembut, wajahnya nyaris tenggelam di antara lipatan kain mahal yang terlalu bersih untuk kisah kelahirannya. Kulitnya pucat, bulu matanya halus, dan napasnya teratur tanpa tahu dunia seperti apa yang menunggunya. Luna menunduk lama memandangi wajah mungil itu. Ada sesuatu di garis tipis matanya yang mengingatkannya pada Audrey. Bukan Audrey yang dingin dan licik, bukan Audrey yang memandang dunia seperti papan catur, melainkan Audrey yang pernah duduk diam di depan piano dengan bahu lurus dan mata kosong, memainkan nada-nada indah untuk menyembunyikan kehancuran yang tumbuh di dalam dadanya.Audrey telah mati tiga ha

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   82. Menyerah

    Chapter 82MenyerahLuna tidak langsung menemui Audrey setelah mendengar kabar itu. Ia memberi waktu, bukan karena ragu dan bukan pula karena kasihan semata, melainkan karena Luna tahu seperti apa rasanya menerima kenyataan yang datang seperti petir di tengah reruntuhan hidup. Luna teringat saat kehamilan pertamanya, dirinya baru saja dijual oleh ayahnya lalu diusir dari rumahnya.Sekarang Audrey baru saja mengetahui ada kehidupan lain di dalam tubuhnya, di saat ia sendiri sedang berada di titik terendah, terkunci sendirian, dibenci, dan tidak lagi memiliki siapa pun. Dalam keadaan seperti itu, manusia tidak akan bicara jujur. Yang keluar hanya akan teriakan, penolakan, atau kebohongan yang lahir dari kepanikan.Jadi Luna menunggu hingga beberapa saat hingga langit di luar mulai berubah jingga dan ia berjalan menyusuri koridor bawah tanah markas Genevece. Cahaya matahari yang tersisa masuk samar melalui jendela-jendela kecil di atas lorong memantul di lantai batu yang dingin dan di be

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   81. Menunggu Kematian

    Chapter 81Menunggu Kematian Beberapa hari setelah peti mati yang dikirim ke depan rumah Pietro, hidup Draco runtuh lebih cepat dari yang ia bayangkan. Uang yang diberikan Diego San Lorenzo perlahan menguap dalam hitungan hari. Biaya rumah duka tidak sedikit dan ia harus membeli peti yang lebih layak karena keluarga Beata menolak pemakaman sederhana, belum lagi biaya transportasi jenazah, biaya administrasi makam, dan tuntutan kecil lain yang datang bertubi-tubi membuat lembaran-lembaran euro itu menipis cepat.Keluarga Beata yang tersisa kini sama miskinnya, meskipun begitu masih memelihara gengsi yang menyebalkan. Mereka menangis sambil memaki Draco, menyebutnya tak becus, tak tahu diri, dan tak punya hati karena hendak menguburkan Beata seperti gelandangan. Mereka menuntut upacara yang menurut mereka layak, menuntut bunga, peti mahal, dan misa yang pantas membuat Draco terpojok hingga tak punya pilihan, akhirnya Draco yang putus asa meminjam uang pada lintah darat.Sekarang tanah

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   80. Pamit

    Chapter 80PamitMalam telah turun sepenuhnya di markas keluarga San Lorenzo. Dari jendela-jendela tinggi di lantai paling atas, lampu kota tampak seperti lautan bintang yang jatuh ke bumi, dan berkedip samar di kejauhan. Di balik pintu kayu tua yang berat, ruang kerja kepala keluarga berdiri dalam kemegahan yang nyaris menyesakkan, rak-rak buku dari kayu ek tua memenuhi dinding, aroma tembakau dan kulit masih tertinggal di udara, sementara meja besar berukir di tengah ruangan tampak seperti singgasana yang diwariskan turun-temurun.Ruangan itu dulu milik kepala keluarga lama tetapi kini meskipun tanpa upacara resmi, dan tanpa pengumuman besar, ruangan itu telah menjadi milik Diego San Lorenzo.Ayahnya belum benar-benar menyerahkan gelar, tetapi semua orang tahu keputusan itu hanya tinggal menunggu waktu. Usia telah membuat sang kepala keluarga memilih mundur perlahan, dan di mata semua orang, terutama di mata ayahnya, Diego lebih dari pantas duduk di kursi itu.Diego duduk di balik m

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   79. Pengakuan Diego

    Chapter 79 Pengakuan DiegoPagi di rumah Pietro terasa sunyi, langit Sisilia masih pucat ketika lelaki tua itu membuka pintu depan dengan wajah kusut dan tubuh yang dibungkus jubah tidur lusuh. Ia berniat mengambil koran pagi yang biasanya dilempar ke halaman sekaligus menghirup udara sebelum kembali masuk dan melanjutkan ocehannya pada Draco.Namun, begitu pintu terbuka napas Pietro tersekat karena mendapati sebuah peti mati dari kayu gelap berukuran besar berada di ambang pintu seperti ancaman yang dikirim langsung dari neraka. Tidak ada pita dan nama maupun kartu.Pietro mundur satu langkah dengan wajahnya memucat. "Draco!" teriaknya dan suara tua itu pecah. "Draco!"Tak lama kemudian terdengar langkah tergesa dari dalam rumah, Draco muncul dengan rambut berantakan dan kaus kusut, wajahnya masih penuh sisa kantuk dan kejengkelan."Apa lagi sekarang...." Kalimat Draco terhenti dan matanya membelalak menatap peti itu beberapa detik, seolah tubuhnya menolak memahami apa yang dilihatn

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   78. Sesuatu yang Sudah Selesai

    Chapter 78Sesuatu yang Sudah Selesai Pintu tertutup di belakang Luna dengan bunyi pelan yang hampir tidak terdengar, namun cukup untuk menandai bahwa sesuatu telah benar-benar berakhir di dalam ruangan itu. Ia berdiri beberapa detik tanpa bergerak, seolah tubuhnya butuh waktu untuk menyesuaikan diri kembali dengan dunia di luar. Koridor di depanya sunyi diterangi lampu redup yang tidak menyilaukan, dan Luke berdiri di ujungnya, bersandar dengan tenang menunggunya.Luke tidak langsung mendekati Luna, tetapi tatapannya jatuh pada istrinya dan mengamati tanpa bertanya seolah ia tahu bahwa kata-kata bukan hal pertama yang dibutuhkan Luna saat ini. Tidak ada rasa penasaran di wajahnya, Luke hanya ada di sana dengan sangat tenang dan stabil seperti tidak akan goyah walau apa pun yang terjadi.Luna lalu melangkah, gerakannya tidak terburu-buru, tapi ada sesuatu yang berbeda. Ketegangan yang selama ini tersembunyi kini perlahan terlihat dan ketika jarak di antara mereka tinggal beberapa lan

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   17. Bukan Nona Muda

    Chapter 17 Bukan Nona Muda Selain menawarkan tubuhnya, memangnya apa yang bisa Luna tawarkan? Juga bukankah Luke yang membuat perjanjian akan membantunya dengan imbalan tidur dengannya? Luna mengangguk, sementara Luke tersenyum miring lalu mengukurkan busur panahnya kepada Luna. “Untuk yang

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   16. Tiga Transaksi

    Chapter 16Tiga TransaksiCarlo San Lorenzo mematikan panggilan telepon, sorot mata pria berambut putih itu tidak mampu menyembunyikan bara amarah. Memberi 300.000 Euro pada Luciano Genevece seperti memberikan 10% keuntungannya, tetapi jika tidak melakukan ia bisa kehilangan lebih banyak karena har

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   15. Pernikahan Antar Klan

    Chapter 15Pernikahan Antar KlanAudrey keluar dari kamarnya, ia sudah menunggu saat di mana Luna datang lagi—mungkin bersama Luke. Wanita itu berpura-pura terburu-buru menuruni tangga hanya dengan mengenakan pakaian tidur tipis yang ia sembunyikan di balik jubahnya.Sayangnya ketika tiba di lantai

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   14. Mengambil Hak

    Chapter 14Mengambil HakLuna membuka matanya dan mendapati Luke tidak berada di tempat tidur, ketika hendak menyibakkan selimut, ia menyadari jika dirinya masih bertelanjang.Sial, batinnya. Tadi malam Luke memasukinya dan terus menekannya, bahkan seperti tidak pernah lelah dan tidak juga puas. T

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status