Share

115

Author: QUILLDREN
last update publish date: 2026-09-10 04:43:30
Sejak telepon dari Bunda berakhir, pikiranku terus dipenuhi satu hal.

Makan malam minggu depan.

Aku masih duduk di sofa penthouse dengan handphone di tangan, menatap layar yang sudah kembali gelap.

“Minggu depan ada acara makan malam di restoran.”

Kalimat Bunda terus terngiang-ngiang di kepalaku.

Perasaanku semakin tidak enak ketika ingatan tentang Kak Giselle kembali muncul.

Aku mendengar dia membicarakan acara makan malam.

Aku menggigit bibir.

Makan malam itu pasti ada hubungan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   123.

    Aku meringkuk di atas kasur, menarik selimut hingga menutupi tubuhku. Tanganku masih gemetar, sementara pikiranku terus kembali pada kejadian beberapa saat lalu.Aku tidak ingin mengingatnya.Namun semakin berusaha mengusirnya, semakin jelas semuanya berputar di kepalaku.Malam ini berbeda.Amarah dan kecemburuan Mas Tian telah membuat semuanya berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa kuanggap biasa.Aku memejamkan mata.Air mata kembali mengalir.Di tengah kekacauan pikiranku, wajah Kak Gavin tiba-tiba muncul.Kak Gavin.Rasa bersalah langsung memenuhi dadaku.Dia tidak tahu apa pun.Dia tidak tahu tentang rahasia yang selama ini kusimpan.Dia juga tidak tahu betapa rumitnya kehidupanku di rumah ini.“Kak Gavin…”Suaraku bergetar.“Maaf…”Aku menenggelamkan wajah ke bantal.Sampai beberapa saat kemudian—Tring... Tring...Suara dering handphone membuatku mengangkat kepala.Aku terdiam.Dering itu kembali terdengar.Tring... Tring...Dengan susah payah aku mencoba bangun.Aku dud

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   122. 🔞🔞🔞

    Aku menatap matanya yang gelap itu. Kemarahannya sudah tidak lagi bisa ditahan. Rahangnya menegang, napasnya berat, dan tatapannya begitu tajam hingga aku merasa seperti sedang dilahap hidup-hidup. “Kamu milikku, Rania,” katanya dengan suara rendah yang menggetarkan. “Tidak ada laki-laki lain yang boleh-.” Nama itu terucap dengan penuh kebencian. Aku mendorong dadanya sekuat tenaga. Kali ini lebih keras. Tubuhnya sedikit terangkat, cukup memberiku ruang untuk berbicara dengan jelas. “Aku bukan milik Mas!” suaraku tegas, meski bergetar hebat. Mas Tian terdiam. Tatapannya berubah tajam. “Jangan coba-coba melawanku, Rania.” Aku terus mendorong, mencoba melepaskan cengkeraman di pergelangan tanganku. Air mata sudah mulai menggenang, mendesak di pelupuk mata, tapi aku menahannya sekuat tenaga. Mas Tian menatapku dalam diam beberapa detik. Lalu, seolah amarah dan rasa kepemilikannya meledak tanpa sisa, ia menekan tubuhku kembali ke kasur dengan lebih kuat. Satu ta

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   121

    “Dari mana saja kamu sampai baru pulang jam segini, Rania?” Suara Mas Tian terdengar dari belakangku. Aku terdiam. Aku tahu dia sedang menungguku menjawab, tetapi aku tidak ingin menjelaskan apa pun. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, aku langsung melangkah masuk ke dalam mansion. Untungnya, Bunda sedang duduk di ruang tengah bersama Kak Mira. “Rania?” Kak Mira langsung tersenyum begitu melihatku. “Baru pulang?” Aku mengangguk. “Iya, Kak.” Aku segera duduk di samping Bunda. “Kak Mira datang dari kapan?” “Baru saja. Kakak mau kasih bingkisan buat Bunda.” Aku melihat bingkisan di atas meja, lalu tersenyum. “Mas Noah nggak ikut?” “Enggak. Dia masih ada urusan.” “Oh.” Aku mengangguk. “Nanti kalau ada waktu, aku boleh mampir ke rumah Kak Mira sama Mas Noah?” “Tentu saja boleh. Datang saja.” Aku tersenyum kecil. Suasana di ruang tengah terasa jauh lebih nyaman dibanding beberapa menit lalu. Sampai Bunda tiba-tiba berkata, “Tadi pagi ada yang datang jemput Rania.” Ka

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   120

    Deruman mesin motor sport Kak Gavin membelah jalanan pagi yang cukup lengang. Tubuhku refleks sedikit condong ke depan ketika motor mulai melaju. Kedua tanganku pun melingkar di pinggangnya agar tetap seimbang. Angin pagi terasa cukup dingin meskipun matahari sudah mulai meninggi. Anehnya, perjalanan pagi itu terasa menyenangkan. Tidak lama kemudian, motor Kak Gavin memasuki area parkir kampus. Ia mematikan mesin, lalu melepas helm full-face miliknya. Aku ikut turun dan melepas helm. Begitu melihatku, Kak Gavin langsung tersenyum lebar. “Nyaman, ya? Meluknya erat banget tadi,” godanya. Tangannya kemudian terulur untuk merapikan beberapa helai rambutku yang berantakan karena tertiup angin. Pipiku seketika terasa hangat. “Biar nggak masuk angin aja, Kak,” jawabku pelan. Kak Gavin tertawa. “Alasan.” Ia menatapku dengan senyum jahil. “Tapi aku suka.” Aku hanya menggelengkan kepala, lalu berjalan bersamanya menuju gedung fakultas. Hari itu berjalan cukup menyenangkan. Saa

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   119

    “Aku… aku mau menjadi pacar Kakak.” Hening. Tidak ada jawaban dari seberang sana. Aku menahan napas, menggenggam ujung selimut dengan erat. Jantungku berdetak begitu cepat sampai rasanya memenuhi seluruh kamar. Beberapa detik kemudian, terdengar suara helaan napas panjang. “Rania…” Nada suara Kak Gavin terdengar berbeda. Tidak lagi bercanda seperti beberapa detik sebelumnya. “Iya?” “Coba ulangi.” Aku menelan ludah. “Aku bilang… aku mau menjadi pacar Kakak.” Kali ini aku mendengar suara tawanya yang pelan. Bukan tawa mengejek, melainkan tawa seseorang yang seperti masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Serius?” Aku mengangguk, meskipun dia tidak mungkin melihatnya. “Serius.” “Jangan bercanda sama aku, Ran.” “Aku nggak bercanda.” Hening kembali. Lalu suaranya terdengar lebih lembut. “Aku senang banget.” Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat dadaku terasa sesak. Aku menunduk. Air mata yang sejak tadi jatuh masih m

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   118.

    Aku terbangun perlahan. Cahaya pagi masih sangat redup di balik gorden. Tubuhku terasa hangat. Wajahku tertanam di dada bidang Mas Tian, dan lengan kokohnya masih melingkari pinggangku. Napasnya yang teratur terdengar di atas kepalaku. Dia masih di sini. Masih di kasurku. Masih memelukku seperti semalam, ketika dia enggan menjawab pertanyaanku dan memilih menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku. Aku bergerak sedikit. Dia langsung terbangun. Matanya yang masih berat oleh tidur menatapku dalam diam beberapa detik, lalu tanpa berkata apa-apa dia menarikku lebih dekat. Bibirnya menyentuh keningku dulu, pelan. Lalu turun ke pelipis, ke ujung mataku, sebelum akhirnya menempel di bibirku. Ciuman itu lembut, dalam, dan penuh penahanan. Seolah dia ingin mengatakan sesuatu yang tidak sanggup diucapkan dengan kata-kata. Aku membalasnya. Tanganku naik ke tengkuknya, jari-jariku menyusuri rambutnya yang sedikit berantakan. Dia menghela napas pelan di sela ciuman, lalu memperdalamnya sebe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status