LOGINCeklek.Pintu kamarku tertutup rapat, menyisakan keheningan yang langsung menyergap.Tanganku masih menahan kenop pintu dari dalam.Aku berdiri mematung, menahan napas, mencoba mendengarkan apa yang terjadi di luar sana.Satu detik. Dua detik.Tidak ada suara langkah kaki yang menjauh.Mas Tian masih berdiri di balik pintu ini.Aku memejamkan mata erat-erat.Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya lolos begitu saja, membasahi pipiku dalam diam.Beberapa saat kemudian, terdengar suara helaan napas berat dari balik pintu, disusul derap langkah kaki yang perlahan menjauh hingga tenggelam di ujung lorong.Ia pergi.Tubuhku seketika merosot.Aku bersandar pada daun pintu, memeluk lututku sendiri.Rasa perih di dada akibat tumpahan kopi panas seolah berlomba dengan rasa ngilu yang mencengkeram hatiku.Aku harus terbiasa.Mulai sekarang, aku harus benar-benar menganggapnya hanya sebagai seorang kakak.Tidak lebih.Keesokan paginya, aku terbangun dengan kepala yang terasa berat.Setelah man
Deru mesin mobil membelah jalanan kota yang mulai padat menjelang sore. Aku duduk diam di kursi belakang, masih mengenakan jas hitam milik Mas Tian untuk menutupi bagian bajuku yang terkena tumpahan kopi panas. Di balik kemudi, Pak Sopir sesekali melirikku melalui kaca spion tengah. Raut cemasnya terlihat jelas, mungkin karena masih mengingat ucapan Mas Tian. Belum sempat ia mengatakan sesuatu, handphone nya tiba-tiba berdering. Pak Sopir melirik layar handphone nya sebelum mengangkat panggilan tersebut. “Selamat sore, Tuan Sebastian.” Aku tetap diam. Suara orang di seberang telepon tidak terdengar olehku, tetapi beberapa saat kemudian, suara Pak Sopir kembali memecah keheningan. “Baik, Tuan. Kami masih dalam perjalanan menuju rumah sakit.” Ia terdiam sejenak, mendengarkan lawan bicaranya. “Baik, Tuan. Saya akan memastikan Nona Rania segera mendapatkan penanganan dokter begitu kami tiba.” Pak Sopir kembali mendengarkan selama beberapa detik sebelum menjawab,
Aroma wewangian elegan dan sejuknya pendingin ruangan dilobi menyapa kulitku saat melintasi pintu kaca otomatis. Karena jarang berkunjung ke kantor pusat, aku sama sekali tidak mengenali wajah para pegawai yang berlalu-lalang. Aku hanya melangkah cepat menuju lift khusus eksekutif.Ting.Pintu lift terbuka halus di lantai paling atas. Di ujung lorong, seorang wanita berpenampilan rapi berdiri di balik meja kerja. Aku mendekatinya seraya mengeluarkan dokumen tebal dari dalam tas."Permisi... aku mau mengantarkan berkas untuk Papa," ucapku pelan seraya menyerahkan map biru itu."Astaga, terima kasih banyak, Nona Rania. Berkasnya akan langsung saya antarkan ke dalam untuk Pak Alexander," sahutnya ramah seraya menerima map itu dengan sigap."Sama-sama."Tanpa bertanya atau meminta izin lebih lanjut, aku memutar tumitku dan melangkah menyusuri lorong eksekutif menuju toilet wanita yang terletak di ujung koridor. Langkah kakiku teredam karpet tebal yang melapisi lantai. Rasa pening di
Keheningan menyelimuti kamar itu. Aku menunduk, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang masih tersisa setelah mimpi buruk yang kualami.Pertanyaan Kak Gavin terdengar lembut, tetapi entah mengapa terasa begitu sulit untuk kujawab. Aku menatap matanya yang dipenuhi perhatian.Tidak ada tuduhan ataupun desakan di sana.Hanya kekhawatiran tulus dari seseorang yang ingin memahami apa yang sedang terjadi padaku. Genggaman tangannya pada jemariku tetap hangat, berbanding terbalik dengan telapak tanganku yang terasa dingin. “A-aku cuma mimpi buruk aja, kok, Kak,” jawabku pelan, berusaha terdengar tenang.“Mungkin karena kemarin aku kecapekan, jadi tidurnya nggak nyenyak dan kepikiran macam-macam. Nggak usah dipikirin, ya.” Kak Gavin memperhatikanku selama beberapa saat.Sepertinya ia masih menyadari ada sesuatu yang menggangguku, tetapi ia tidak memaksaku untuk bercerita. Ia hanya mengembuskan napas perlahan, kemudian mengusap puncak kepalaku dengan lembut. “Ya udah kalau memang cuma
Mobil Kak Gavin perlahan memasuki area parkir unit apartemen miliknya. Suasana sekitar yang hening dan remang seolah memberiku jeda sebentar dari kebisingan ballroom yang meremukkan dadaku. Kak Gavin membukakan pintu mobil untukku, lalu menuntun langkahku yang gontai menuju lift. Sepanjang perjalanan hingga tiba di unit apartemennya yang berada di lantai belasan, ia tidak pernah melepas genggaman tangannya. Hangat dan dipenuhi perlindungan. "Masuk, Sayang," bisik Kak Gavin lembut seraya menggeser pintu utama. Ia menyalakan lampu ruang tengah, lalu membawakan satu setel baju kaus oversized beserta celana sweatpants miliknya untukku. "Kamu ganti baju dulu ya, Ran. Pakai baju aku aja biar longgar. Kamu pakai kamar tamu yang di sebelah ya, udah aku rapihin. Aku udah kirim pesan ke Ayah untuk bilang ke Kak Noah kalau kamu nginep di sini karena ketiduran di mobil." Aku berganti pakaian di kamar mandi dengan jemari yang masih bergetar. Ketika keluar, Kak Gavin sedang menyeduh secangk
Punggung tegap Mas Tian dan keanggunan Kak Giselle perlahan menyatu di antara kerumunan tamu VIP.Aku masih berdiri mematung di ambang pintu ballroom, menatap kosong ke arah lorong karpet merah tempat mereka berlalu.Rasanya ada sesuatu yang ditarik paksa dari dalam dadaku, menyisakan rongga hampa yang teramat dingin dan menyiksa."Ran? Kamu beneran nggak apa-apa?" Suara Kak Gavin terdengar begitu dekat, bergetar oleh kepanikan yang sangat nyata.Jemarinya yang hangat mengusap tanganku yang saling mencengkeram kaku.Saat ibu jarinya menyentuh kulitku, ia tersentak kecil."Ran... tangan kamu dingin banget. Sampai gemetar gini."Aku menoleh perlahan, berusaha memaksakan seulas senyum kaku, walau aku tahu betul betapa berantakannya penampilanku saat ini."A-aku cuma... masih agak mual, Kak. Kepala aku juga mendadak pusing banget."Kak Gavin tidak percaya begitu saja.Sorot matanya yang selalu teduh kini dipenuhi kecemasan yang teramat sangat. "Udah, kita keluar dari sini sekarang. Kamu







