تسجيل الدخولFilm thriller berdurasi lebih dari dua jam itu sukses membuat kami terpaku di depan layar.Plotnya yang penuh kejutan membuat kami beberapa kali saling melempar komentar dan tebakan.Ditambah camilan yang terus berpindah dari meja ke mulut, waktu berlalu tanpa terasa.Namun, saat credit title mulai bergulir di layar TV, perhatian kami teralihkan oleh suara gemuruh yang cukup keras dari luar jendela.Aku menoleh ke arah balkon.Langit yang tadinya hanya mendung kini berubah menjadi kelabu pekat.Rintik hujan mulai menghantam kaca jendela dengan kasar, disusul kilatan petir yang menyambar di kejauhan.Kak Gavin meraih remote dan mengganti saluran TV ke siaran berita lokal."Peringatan dini cuaca ekstrem. Badai angin kencang disertai hujan lebat diperkirakan akan melanda sejumlah wilayah mulai sore ini hingga malam nanti. Warga diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan..."Suara presenter berita itu beradu dengan derau hujan yang semakin lama semakin deras menampar kaca aparteme
Tepat pukul dua belas siang, kelasku akhirnya bubar.Aku merapikan buku-buku dan melangkah keluar dari gedung fakultas dengan perasaan lega.Helaan napas panjang meluncur dari bibirku.Setidaknya, selama beberapa jam terakhir, kesibukan di ruang kelas lumayan berhasil mengalihkan pikiranku dari suasana meja makan tadi pagi.Saat aku menghidupkan layar handphone, sebuah pesan dari Kak Gavin sudah menanti.Kak Gavin:Aku udah di kafe depan kampus. Makanannya juga udah kupesankan sekalian."Oke, Kak. Aku jalan ke sana sekarang."Hanya butuh waktu lima menit berjalan kaki untuk sampai di kafe langganan yang terletak tepat di seberang gerbang kampus.Begitu mendorong pintu kaca, aroma kopi dan mentega panggang yang menguar dari dapur sedikit mengurai ketegangan di bahuku.Aku langsung menemukan Kak Gavin.Ia duduk di sudut ruangan.Begitu melihatku mendekat, ia menarik kursi di hadapannya."Pas banget makanannya baru diantar," ucapnya.Dua piring fettuccine carbonara dan dua gelas iced car
Ceklek.Pintu kamarku tertutup rapat, menyisakan keheningan yang langsung menyergap.Tanganku masih menahan kenop pintu dari dalam.Aku berdiri mematung, menahan napas, mencoba mendengarkan apa yang terjadi di luar sana.Satu detik. Dua detik.Tidak ada suara langkah kaki yang menjauh.Mas Tian masih berdiri di balik pintu ini.Aku memejamkan mata erat-erat.Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya lolos begitu saja, membasahi pipiku dalam diam.Beberapa saat kemudian, terdengar suara helaan napas berat dari balik pintu, disusul derap langkah kaki yang perlahan menjauh hingga tenggelam di ujung lorong.Ia pergi.Tubuhku seketika merosot.Aku bersandar pada daun pintu, memeluk lututku sendiri.Rasa perih di dada akibat tumpahan kopi panas seolah berlomba dengan rasa ngilu yang mencengkeram hatiku.Aku harus terbiasa.Mulai sekarang, aku harus benar-benar menganggapnya hanya sebagai seorang kakak.Tidak lebih.Keesokan paginya, aku terbangun dengan kepala yang terasa berat.Setelah man
Deru mesin mobil membelah jalanan kota yang mulai padat menjelang sore. Aku duduk diam di kursi belakang, masih mengenakan jas hitam milik Mas Tian untuk menutupi bagian bajuku yang terkena tumpahan kopi panas. Di balik kemudi, Pak Sopir sesekali melirikku melalui kaca spion tengah. Raut cemasnya terlihat jelas, mungkin karena masih mengingat ucapan Mas Tian. Belum sempat ia mengatakan sesuatu, handphone nya tiba-tiba berdering. Pak Sopir melirik layar handphone nya sebelum mengangkat panggilan tersebut. “Selamat sore, Tuan Sebastian.” Aku tetap diam. Suara orang di seberang telepon tidak terdengar olehku, tetapi beberapa saat kemudian, suara Pak Sopir kembali memecah keheningan. “Baik, Tuan. Kami masih dalam perjalanan menuju rumah sakit.” Ia terdiam sejenak, mendengarkan lawan bicaranya. “Baik, Tuan. Saya akan memastikan Nona Rania segera mendapatkan penanganan dokter begitu kami tiba.” Pak Sopir kembali mendengarkan selama beberapa detik sebelum menjawab,
Aroma wewangian elegan dan sejuknya pendingin ruangan dilobi menyapa kulitku saat melintasi pintu kaca otomatis. Karena jarang berkunjung ke kantor pusat, aku sama sekali tidak mengenali wajah para pegawai yang berlalu-lalang. Aku hanya melangkah cepat menuju lift khusus eksekutif.Ting.Pintu lift terbuka halus di lantai paling atas. Di ujung lorong, seorang wanita berpenampilan rapi berdiri di balik meja kerja. Aku mendekatinya seraya mengeluarkan dokumen tebal dari dalam tas."Permisi... aku mau mengantarkan berkas untuk Papa," ucapku pelan seraya menyerahkan map biru itu."Astaga, terima kasih banyak, Nona Rania. Berkasnya akan langsung saya antarkan ke dalam untuk Pak Alexander," sahutnya ramah seraya menerima map itu dengan sigap."Sama-sama."Tanpa bertanya atau meminta izin lebih lanjut, aku memutar tumitku dan melangkah menyusuri lorong eksekutif menuju toilet wanita yang terletak di ujung koridor. Langkah kakiku teredam karpet tebal yang melapisi lantai. Rasa pening di
Keheningan menyelimuti kamar itu. Aku menunduk, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang masih tersisa setelah mimpi buruk yang kualami.Pertanyaan Kak Gavin terdengar lembut, tetapi entah mengapa terasa begitu sulit untuk kujawab. Aku menatap matanya yang dipenuhi perhatian.Tidak ada tuduhan ataupun desakan di sana.Hanya kekhawatiran tulus dari seseorang yang ingin memahami apa yang sedang terjadi padaku. Genggaman tangannya pada jemariku tetap hangat, berbanding terbalik dengan telapak tanganku yang terasa dingin. “A-aku cuma mimpi buruk aja, kok, Kak,” jawabku pelan, berusaha terdengar tenang.“Mungkin karena kemarin aku kecapekan, jadi tidurnya nggak nyenyak dan kepikiran macam-macam. Nggak usah dipikirin, ya.” Kak Gavin memperhatikanku selama beberapa saat.Sepertinya ia masih menyadari ada sesuatu yang menggangguku, tetapi ia tidak memaksaku untuk bercerita. Ia hanya mengembuskan napas perlahan, kemudian mengusap puncak kepalaku dengan lembut. “Ya udah kalau memang cuma







