Accueil / Romansa / DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU / 68. KEMBALI KE MANSION

Partager

68. KEMBALI KE MANSION

Auteur: QUILLDREN
last update Date de publication: 2026-08-11 18:01:00

Suasana di mansion terasa jauh lebih tenang hari ini.

Badai besar yang sempat menghantam perlahan mulai mereda, meninggalkan kelegaan yang begitu terasa di dalam dada.

Terutama setelah melihat Mas Noah dan Kak Mira mulai memperbaiki hubungan mereka yang sempat berada di ambang kehancuran.

Siang menjelang sore, aku memutuskan pergi ke ruang baca keluarga.

Aku membutuhkan tempat yang tenang untuk menjernihkan pikiran sekaligus mencari beberapa buku referensi yang sedang kubutuhkan.

Aku berja
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   152

    Kegelapan menyelimuti kamar saat aku perlahan membuka mata. Hanya cahaya temaram dari gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang menembus tirai kaca raksasa, menerangi sebagian ruangan.Aku mencoba menggerakkan tubuh, tetapi rasa nyeri dan pegal langsung menjalar, membuatku meringis pelan.Dengan susah payah, aku menoleh ke arah nakas. Jam digital di sana menunjukkan pukul sembilan malam.Aku tertidur cukup lama.Tubuhku terasa lengket dan tidak nyaman. Ingatan tentang kejadian sebelum aku terlelap kembali bermunculan, membuat dadaku mendadak sesak. Dua putaran yang menguras seluruh tenagaku, napas Mas Tian yang memburu, serta dekapannya yang begitu erat masih membekas jelas dalam pikiranku.Refleks, aku menarik selimut hingga menutupi tubuhku. Mataku menyapu sekeliling kamar yang sunyi, mencari sosok yang sejak tadi memenuhi pikiranku."Sudah bangun?"Suara bariton itu terdengar dari arah jendela.Aku tersentak.Mas Tian berdiri membelakangiku, menatap gemerlap lampu kota di kejauha

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   151. (WARNING 21+)

    Mas Tian membawa tubuhku tanpa pernah melepaskan ciumannya.Pintu kamar utama terbuka dengan dorongan kaki, lalu tertutup kembali.Ia meletakkanku di atas tempat tidur yang familiar.Cahaya kota dari jendela kaca besar membasahi sisi wajahnya, membuat sorot matanya tampak lebih gelap dan lapar.Tanpa berkata apa-apa, Mas Tian naik ke atas kasur dan berlutut di antaraku.Jari-jarinya yang panjang dan hangat mulai membuka pakaianku.Gerakannya sangat pelan, hampir penuh kehati-hatian, seolah takut aku akan berubah pikiran di detik terakhir. Pakaianku tersingkap.Ia menariknya pelan dari tubuhku, lalu melemparkannya ke lantai.Tangannya naik ke belakang punggungku, membuka kait bra dengan satu gerakan mahir.Bra hitam itu terlepas, dan udara dingin langsung menyentuh payudaraku yang sudah mengeras.Mas Tian menunduk.Bibirnya mendarat di tulang selangka, lalu turun pelan ke puncak payudara.Ia menghisap salah satu puting dengan sangat lembut, lidahnya memutar pelan, seolah sedang mengec

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   150

    Bunyi denting halus memecah keheningan yang mencekik.Pintu lift bergeser terbuka tanpa suara, langsung menyajikan akses pribadi menuju bagian dalam penthouse Mas Tian.Pria itu melangkah keluar lebih dulu.Aku menarik napas dalam-dalam, mengencangkan pelukanku pada tasku, lalu mengikutinya dengan langkah berat.Begitu kakiku menginjak lantai berlapis karpet tebal, hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut.Ini bukan pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sini.Kenyataannya, aku terlalu sering datang ke tempat ini.Jauh sebelum rencana pertunangannya dengan Kak Giselle menyadarkanku akan realita, penthouse ini adalah saksi bisu dari kegilaan kami.Di tempat inilah kami berulang kali menanggalkan status persaudaraan kami, bersembunyi dari pandangan keluarga, dan tenggelam dalam hubungan fisik yang terlarang dan penuh dosa.Menyadari bahwa Mas Tian membawaku kembali ke tempat ini, membuat lututku terasa lemas.Memori tentang apa saja yang biasa kami lakukan di balik pintu

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   149

    Pintu mobil tertutup, memisahkanku dari hiruk-pikuk area kampus. Udara sejuk dari AC langsung menyentuh kulitku. Aku duduk di kursi penumpang dengan tas di atas paha, berusaha menenangkan pikiran yang sejak tadi terasa kacau. Mas Tian berjalan memutari mobil, lalu masuk ke kursi kemudi. Dengan gerakan tenang, ia membawa sedan mewah itu meninggalkan area kampus dan memasuki jalanan kota yang mulai padat. Selama beberapa menit pertama, tak ada percakapan di antara kami. Aku menatap lurus ke depan, merasakan sisa-sisa kesabaran yang mulai menipis, sebelum akhirnya memutuskan untuk memecah kesunyian. "Kenapa Mas tiba-tiba menjemputku?" Mas Tian tidak langsung menjawab. Matanya tetap tertuju pada jalanan, sementara rahangnya tampak mengeras. Jemarinya mencengkeram kemudi sedikit lebih erat. "Memangnya aku tidak boleh menjemput adikku sendiri?" tanyanya balik dengan suara rendah. Aku mengembuskan napas, berusaha menahan kejengkelan yang mulai memuncak. "Aku sudah mau pulang

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   148

    Aku menghabiskan sekitar lima belas menit di dalam kamar tamu untuk menenangkan diri.Jantungku masih berdebar tidak beraturan sejak kejadian semalam.Berkali-kali aku memeriksa layar handphone, mengantisipasi pesan atau panggilan dari Mas Tian.Namun, tidak ada satu pun notifikasi yang muncul.Anehnya, keheningan itu justru membuatku semakin gelisah. Setelah memastikan wajahku tidak terlihat terlalu pucat, aku meraih tas kuliah dan bergegas turun.Mas Noah sudah menungguku di ruang depan.Kunci mobilnya berputar-putar di jari telunjuk, sementara penampilannya terlihat rapi dalam balutan jas kasual abu-abu dan kemeja navy."Udah siap? Ayo, berangkat sekarang. Mumpung belum macet," ajaknya.Sebelum melangkah keluar, Mas Noah sempat mengecup pipi Kak Mira yang mengantarnya sampai ke ruang depan.Aku mengikuti langkahnya tanpa banyak bicara.Sepanjang perjalanan menuju kampus, Mas Noah menyalakan radio dengan volume sedang.Sesekali ia bersenandung mengikuti lagu yang diputar, sementara

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   147

    Langit di luar jendela kamarku masih berwarna biru gelap kemerahan saat aku menarik ritsleting koperku. Pukul lima pagi. Semalaman aku nyaris tidak memejamkan mata. Sebelum langit benar-benar terang, aku sudah memaksakan diri untuk mandi air dingin, berharap rasa beku yang menjalar di kulitku bisa meredam gemuruh panik di dalam dada. Aku menatap pantulan diriku di cermin lemari untuk terakhir kalinya. Kaus lengan panjang, celana jeans, kardigan panjang, dan wajah pucat yang tak bisa disembunyikan oleh bedak tipis sekalipun. Di tangan kiriku, boneka beruang pemberian Kak Gavin bertengger dengan aman di atas tas jinjing. Dengan langkah sepelan mungkin, aku membuka pintu kamar dan menggeret koper berukuran sedang itu keluar. Aku harus mengangkatnya sedikit agar roda koper tidak menimbulkan suara gesekan yang bisa membangunkan penghuni rumah, terutama pria yang kamarnya berada di ujung lorong seberang sana. Di ruang keluarga yang remang-remang, gelas kristal berisi alkohol

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status