แชร์

93. DALAM KEHANGATAN

ผู้เขียน: QUILLDREN
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-22 08:22:40

Di perjalanan pulang, Mas Tian tidak membawa kami ke mansion.

Mobilnya berbelok ke arah yang berbeda.

Aku menoleh.

“Mas… kita tidak pulang?”

“Tidak.”

Suaranya rendah.

“Kita ke penthouse.”

Aku terdiam.

Beberapa menit kemudian, kami sudah berada di dalam lift yang membawa kami ke lantai tertinggi.

Begitu pintu penthouse terbuka, Mas Tian menarikku masuk.

Pintu ditutup dengan pelan. Kunci diputar.

Ruangan itu sunyi. Hanya suara napas kami yang terdengar.

Aku berdiri kaku di tengah ruang tamu. Kali
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   170

    Aku terdiam sejenak, tak berani membalas tatapan matanya yang dipenuhi kekhawatiran pekat. Jari-jariku mencengkeram ujung handuk semakin erat. Aku bingung harus menjawab apa. Menjelaskan secara rinci hanya akan mengungkit kembali insiden dengan Kak Giselle dan reaksi Mas Tian yang membuat dadaku sesak. "Ran?" panggil Kak Gavin lembut, menyadarkanku dari lamunan. "I-ini... ketumpahan kopi panas, Kak," jawabku akhirnya, memilih setengah jujur tanpa menyebutkan siapa pelakunya. "Kemarin ada sedikit kecelakaan di rumah." Kak Gavin menghela napas panjang. Ia menatap permukaan kulitku yang memerah dengan raut wajah pias. "Kopi panas? Sampai begini?" gumamnya tak percaya. "Pasti rasanya perih." "Awalnya iya, tapi sekarang udah mendingan kok, Kak. Ini juga udah diresepkan salep sama dokter," sahutku berusaha menenangkannya, meski suaraku masih terdengar sedikit bergetar. Mata Kak Gavin beralih dari lukaku ke arah tube salep yang kupegang dengan tangan gemetar. Ia tahu aku sedang

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   169

    Film thriller berdurasi lebih dari dua jam itu sukses membuat kami terpaku di depan layar.Plotnya yang penuh kejutan membuat kami beberapa kali saling melempar komentar dan tebakan.Ditambah camilan yang terus berpindah dari meja ke mulut, waktu berlalu tanpa terasa.Namun, saat credit title mulai bergulir di layar TV, perhatian kami teralihkan oleh suara gemuruh yang cukup keras dari luar jendela.Aku menoleh ke arah balkon.Langit yang tadinya hanya mendung kini berubah menjadi kelabu pekat.Rintik hujan mulai menghantam kaca jendela dengan kasar, disusul kilatan petir yang menyambar di kejauhan.Kak Gavin meraih remote dan mengganti saluran TV ke siaran berita lokal."Peringatan dini cuaca ekstrem. Badai angin kencang disertai hujan lebat diperkirakan akan melanda sejumlah wilayah mulai sore ini hingga malam nanti. Warga diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan..."Suara presenter berita itu beradu dengan derau hujan yang semakin lama semakin deras menampar kaca aparteme

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   168

    Tepat pukul dua belas siang, kelasku akhirnya bubar.Aku merapikan buku-buku dan melangkah keluar dari gedung fakultas dengan perasaan lega.Helaan napas panjang meluncur dari bibirku.Setidaknya, selama beberapa jam terakhir, kesibukan di ruang kelas lumayan berhasil mengalihkan pikiranku dari suasana meja makan tadi pagi.Saat aku menghidupkan layar handphone, sebuah pesan dari Kak Gavin sudah menanti.Kak Gavin:Aku udah di kafe depan kampus. Makanannya juga udah kupesankan sekalian."Oke, Kak. Aku jalan ke sana sekarang."Hanya butuh waktu lima menit berjalan kaki untuk sampai di kafe langganan yang terletak tepat di seberang gerbang kampus.Begitu mendorong pintu kaca, aroma kopi dan mentega panggang yang menguar dari dapur sedikit mengurai ketegangan di bahuku.Aku langsung menemukan Kak Gavin.Ia duduk di sudut ruangan.Begitu melihatku mendekat, ia menarik kursi di hadapannya."Pas banget makanannya baru diantar," ucapnya.Dua piring fettuccine carbonara dan dua gelas iced car

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   167

    Ceklek.Pintu kamarku tertutup rapat, menyisakan keheningan yang langsung menyergap.Tanganku masih menahan kenop pintu dari dalam.Aku berdiri mematung, menahan napas, mencoba mendengarkan apa yang terjadi di luar sana.Satu detik. Dua detik.Tidak ada suara langkah kaki yang menjauh.Mas Tian masih berdiri di balik pintu ini.Aku memejamkan mata erat-erat.Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya lolos begitu saja, membasahi pipiku dalam diam.Beberapa saat kemudian, terdengar suara helaan napas berat dari balik pintu, disusul derap langkah kaki yang perlahan menjauh hingga tenggelam di ujung lorong.Ia pergi.Tubuhku seketika merosot.Aku bersandar pada daun pintu, memeluk lututku sendiri.Rasa perih di dada akibat tumpahan kopi panas seolah berlomba dengan rasa ngilu yang mencengkeram hatiku.Aku harus terbiasa.Mulai sekarang, aku harus benar-benar menganggapnya hanya sebagai seorang kakak.Tidak lebih.Keesokan paginya, aku terbangun dengan kepala yang terasa berat.Setelah man

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   166

    Deru mesin mobil membelah jalanan kota yang mulai padat menjelang sore. Aku duduk diam di kursi belakang, masih mengenakan jas hitam milik Mas Tian untuk menutupi bagian bajuku yang terkena tumpahan kopi panas. Di balik kemudi, Pak Sopir sesekali melirikku melalui kaca spion tengah. Raut cemasnya terlihat jelas, mungkin karena masih mengingat ucapan Mas Tian. Belum sempat ia mengatakan sesuatu, handphone nya tiba-tiba berdering. Pak Sopir melirik layar handphone nya sebelum mengangkat panggilan tersebut. “Selamat sore, Tuan Sebastian.” Aku tetap diam. Suara orang di seberang telepon tidak terdengar olehku, tetapi beberapa saat kemudian, suara Pak Sopir kembali memecah keheningan. “Baik, Tuan. Kami masih dalam perjalanan menuju rumah sakit.” Ia terdiam sejenak, mendengarkan lawan bicaranya. “Baik, Tuan. Saya akan memastikan Nona Rania segera mendapatkan penanganan dokter begitu kami tiba.” Pak Sopir kembali mendengarkan selama beberapa detik sebelum menjawab,

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   165

    Aroma wewangian elegan dan sejuknya pendingin ruangan dilobi menyapa kulitku saat melintasi pintu kaca otomatis. Karena jarang berkunjung ke kantor pusat, aku sama sekali tidak mengenali wajah para pegawai yang berlalu-lalang. Aku hanya melangkah cepat menuju lift khusus eksekutif.Ting.Pintu lift terbuka halus di lantai paling atas. Di ujung lorong, seorang wanita berpenampilan rapi berdiri di balik meja kerja. Aku mendekatinya seraya mengeluarkan dokumen tebal dari dalam tas."Permisi... aku mau mengantarkan berkas untuk Papa," ucapku pelan seraya menyerahkan map biru itu."Astaga, terima kasih banyak, Nona Rania. Berkasnya akan langsung saya antarkan ke dalam untuk Pak Alexander," sahutnya ramah seraya menerima map itu dengan sigap."Sama-sama."Tanpa bertanya atau meminta izin lebih lanjut, aku memutar tumitku dan melangkah menyusuri lorong eksekutif menuju toilet wanita yang terletak di ujung koridor. Langkah kakiku teredam karpet tebal yang melapisi lantai. Rasa pening di

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status