Home / Romansa / DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU / 93. DALAM KEHANGATAN

Share

93. DALAM KEHANGATAN

Author: QUILLDREN
last update publish date: 2026-08-22 08:22:40

Di perjalanan pulang, Mas Tian tidak membawa kami ke mansion.

Mobilnya berbelok ke arah yang berbeda.

Aku menoleh.

“Mas… kita tidak pulang?”

“Tidak.”

Suaranya rendah.

“Kita ke penthouse.”

Aku terdiam.

Beberapa menit kemudian, kami sudah berada di dalam lift yang membawa kami ke lantai tertinggi.

Begitu pintu penthouse terbuka, Mas Tian menarikku masuk.

Pintu ditutup dengan pelan. Kunci diputar.

Ruangan itu sunyi. Hanya suara napas kami yang terdengar.

Aku berdiri kaku di tengah ruang tamu. Kali
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   98. KOPI YANG DIJANJIKAN

    Sepulang kuliah, aku masih memikirkan kejadian pagi tadi. Sepanjang kelas Teori Musik, konsentrasiku beberapa kali buyar, bukan karena materinya sulit, tetapi karena bayangan wajah Kak Gavin yang menyeringai jahil terus muncul di kepalaku. Handphone-ku bergetar di dalam tas. Aku buru-buru mengeluarkannya. Seketika, dadaku berdegup sedikit lebih cepat saat melihat nama yang muncul di layar. Kak Gavin "Kelas terakhir jam berapa?" Aku mengetuk-ngetukkan jari ke layar sebelum akhirnya membalas. "Baru aja selesai. Kenapa?" Balasannya datang hampir seketika. "Kebetulan. Aku juga baru selesai kelas. Gimana kalau sekarang aja kamu tepatin janjimu?" Aku tertawa kecil membaca pesan itu. Entah kenapa, aku bisa membayangkan wajah jahilnya saat mengetik pesan tersebut. Rasanya aneh. Kami baru beberapa jam saling mengenal, tetapi Kak Gavin sudah terasa begitu akrab. Seolah-olah kami sudah lama mengenal satu sama lain. "Boleh." Tidak lama kemudian, balasannya kembali masuk. "Aku

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   97. PERTEMUAN DIKAMPUS

    Pagi itu, langit Jakarta terlihat cerah.Papa dan Mas Tian sedang ada rapat pagi ini, jadi aku berangkat naik mobil dengan sopir. Mobil yang membawaku berhenti tepat di depan gerbang kampus."Makasih Pak, Nanti jam pulang kayak biasa, ya," ucapku sambil membuka pintu mobil.Aku berjalan menyusuri jalan setapak menuju gedung fakultas.Earphone terpasang di telingaku, memutar playlist lagu-lagu klasik yang biasa kudengarkan sebelum kelas praktik. Sebagai mahasiswi jurusan Musik, pagiku sering dimulai dengan mendengarkan komposisi-komposisi yang akan kupelajari hari itu.Sebelum masuk ke gedung, aku menyempatkan diri mampir ke cafe kecil di sudut jalan tempat langgananku untuk membeli kopi sebelum kelas pagi dimulai."Satu caramel latte, panas, ya, Kak," ucapku kepada barista sambil tersenyum ramah.Sambil menunggu pesananku, kucek jam di handphone.Sepuluh menit lagi sebelum kelas Teori Musik dimulai, dan dosennya terkenal galak soal keterlambatan.Begitu gelas kopi diserahkan, aku lan

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   96. TIDAK ADA STATUS

    Pertanyaan itu menggantung di udara di antara kami. “Kamu cemburu?” Suara Mas Tian pelan, tapi setiap katanya terasa menusuk. Matanya tidak lepas dari wajahku. Tangannya masih di atas tanganku, ibu jarinya berhenti mengusap, seolah menunggu jawabanku. Aku membuka mulut. Lalu menutupnya lagi. Tidak ada kata yang keluar. Karena apa yang harus kukatakan? Bahwa ya, aku cemburu? Bahwa setiap kali melihatnya duduk di samping Kak Giselle, dadaku terasa digenggam erat? Bahwa aku membenci senyum manis yang Kak Giselle berikan kepadanya, dan lebih membenci lagi fakta bahwa Mas Tian tidak menolaknya mentah-mentah? Tapi aku tidak punya hak. Sama sekali tidak. Aku hanya adik tirinya. Gadis yang tinggal di mansion ini karena Bunda. Bukan kekasih. Bukan tunangan. Bukan siapa-siapa yang berhak melarangnya dekat dengan perempuan lain. Apalagi dengan Kak Giselle perempuan pilihan Bunda yang akan menjadi calon tunangannya kelak. Aku menunduk, menarik tanganku perlahan dari genggamannya. Hang

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   95. RASA CEMBURU

    Hari demi hari berlalu dengan tenang di permukaan, namun di bawahnya ada sesuatu yang terus menggerogoti. Mas Tian semakin sering pulang lebih sore. Kadang ia langsung naik ke kamar, kadang berhenti sebentar di ruang keluarga hanya untuk menanyakan apakah aku sudah makan. Namun belakangan ini, kehadirannya di mansion selalu diikuti oleh satu hal yang sama. Kak Giselle. Bunda yang memintanya. Aku mendengar sendiri percakapan mereka suatu malam di ruang kerja. Bunda berbicara tentang kepentingan perusahaan, tentang citra keluarga, tentang bagaimana kehadiran Kak Giselle di sisi Mas Tian akan menenangkan investor yang masih ragu. Mas Tian tidak menjawab panjang. Hanya “Baik, Bunda” yang terdengar datar, lalu pintu tertutup. Sejak itu, Kak Giselle datang hampir setiap sore. Dan Mas Tian… menemaninya. Sore itu aku duduk di sofa ruang keluarga dengan laptop yang sama, seolah dunia di luar layar itu tidak ada. Namun pandanganku terus teralihkan ke arah ruang tamu. Mereka duduk berseb

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   94. SIKAP KAK GISELLE

    Beberapa hari kemudian...... Kak Giselle jadi sering datang ke mansion. Mobilnya yang selalu terparkir di barisan paling depan, suara heels-nya yang berdentum percaya diri di lantai marmer, dan senyum manisnya yang hanya muncul saat ada Bunda di dekatnya. Di luar itu, tatapannya selalu dingin setiap kali bertemu denganku. Sore itu aku sedang duduk di ruang keluarga dengan laptop di pangkuanku ketika suara mereka terdengar samar dari ruang tamu. Aku tidak bermaksud menguping, tetapi pintu yang sedikit terbuka membuat sebagian percakapan mereka sampai ke telingaku. “…terlalu bebas bergaul di rumah ini,” suara Kak Giselle terdengar lembut, penuh perhitungan. “Aku khawatir orang luar salah paham… dan skandal yang dulu sempat terjadi tidak kembali terulang.” Dadaku sesak sebentar. Lalu suara Bunda menjawab dengan tenang. “Rania memang dekat dengan kakak-kakak tirinya. Tidak ada yang aneh. Soal skandal itu sudah selesai.” Aku menunduk, menatap layar laptop yang sebenar

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   93. DALAM KEHANGATAN

    Di perjalanan pulang, Mas Tian tidak membawa kami ke mansion.Mobilnya berbelok ke arah yang berbeda.Aku menoleh.“Mas… kita tidak pulang?”“Tidak.”Suaranya rendah.“Kita ke penthouse.”Aku terdiam.Beberapa menit kemudian, kami sudah berada di dalam lift yang membawa kami ke lantai tertinggi.Begitu pintu penthouse terbuka, Mas Tian menarikku masuk.Pintu ditutup dengan pelan. Kunci diputar.Ruangan itu sunyi. Hanya suara napas kami yang terdengar.Aku berdiri kaku di tengah ruang tamu. Kalimat Bunda dan jawaban Mas Tian masih berputar di kepalaku, menusuk, membuat dadaku sesak. Air mata yang sempat kutahan sepanjang malam kini mulai mengancam kembali.Mas Tian berdiri di hadapanku. Ia tidak langsung berbicara. Ia hanya menatapku lama, seolah sudah tahu persis apa yang sedang kucoba sembunyikan.Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia melangkah mendekat dan menarikku ke dalam pelukannya.Pelukannya erat. Hangat. Kokoh.Aku terdiam sejenak, lalu tubuhku melemah. Tanganku naik, memeluk pungg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status