Home / Mafia / DI ATAS RANJANG MAFIA / 117. Ulang Tahun George

Share

117. Ulang Tahun George

Author: Dewa Amour
last update publish date: 2026-02-10 18:21:57

Musim dingin di Virginia tahun ini terasa jauh lebih menggigit daripada yang pernah dirasakan Meghan di Roma. Salju tebal membungkus kota seperti kain kafan putih, membekukan aktivitas, namun tidak mampu membekukan badai yang bergejolak di dalam dadanya.

Di atas penthouse mewah yang menghadap ke pusat kota, dekorasi pesta ulang tahun George telah tertata sempurna. Balon-balon berwarna biru dan perak memenuhi sudut ruangan, sementara meja-meja penuh camilan disiapkan dengan apik.

Meghan, dalam
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    215. Kegilaan Bella

    Di pusat kota Roma yang gemerlap, sebuah bar eksklusif bernama L'Olimpo menyajikan kemewahan yang sarat akan aroma uang dan kekuasaan hitam. Musik jazz bertempo rendah mengalun lembut, berbaur dengan kepulan asap cerutu mahal dan dentingan gelas kristal. ​Di dalam sebuah bilik VIP yang semi-terbuka, George Riciteli duduk dengan keanggunan seorang penguasa tertinggi. Di sampingnya, Bella Riciteli duduk dengan anggun, mengenakan gaun malam berbahan sutra merah marun berpotongan rendah yang memperlihatkan lekuk tubuh indahnya secara sempurna. George saat ini sedang terlibat perbincangan bisnis yang sangat serius dengan Marco, sekutu lama sekaligus kepala jaringan penyelundupan senjata dan kartel obat-obatan terlarang milik klan Riciteli di wilayah Sisilia. ​"Situasi di pelabuhan Palermo kian memanas, George," kata Marco, menyesap wiskinya dengan dahi berkerut. "Bisnis kita maju terlalu pesat hingga pasokan logistik saat ini kewalahan. Kita membutuhkan tambahan armada kapal kargo sert

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    214. Konspirasi Kepolisian

    Pendar lampu neon di ruang rapat utama Kantor Polisi Pusat Roma memancarkan cahaya putih yang dingin, senada dengan atmosfer tegang yang menyelimuti para petinggi divisi kriminal pagi itu. Di ujung meja oval mahoni, Komisaris Ricardo berdiri tegak dengan seragam dinas lengkap berdada bidang. Tangannya mengetuk berkas tebal kasus pembunuhan Natasha Young sebelum melemparkannya ke tengah meja dengan acuh. ​"Kasus pembunuhan pramugari SriLankan Airlines resmi ditutup hari ini," ujar Komisaris Ricardo, suaranya bariton dan mutlak. "Kurangnya bukti fisik di lapangan, tidak adanya rekaman kamera pengawas, serta hilangnya saksi-saksi kunci membuat kasus ini tidak lagi efisien untuk dilanjutkan. Divisi kita harus fokus pada prioritas lain." ​BRAK. ​Jacobs Simoncelli memukul permukaan meja, bangkit dari kursinya dengan sepasang mata yang menyala tajam penuh penentangan. "Ditutup?! Komisaris, kita sedang berbicara tentang pembunuhan sadis seorang wanita muda yang kehilangan kedua bola ma

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    213. Eksekusi Di Toilet Bandara

    "Halo..." Bella tersenyum mengerikan. Ujung pisau di tangannya berkilat dipenuhi aura iblis. Sebelum Natasha sempat membuka mulutnya untuk menjerit, Bella melesat maju dengan kecepatan abnormal. Tangan kirinya membekap mulut Natasha dari belakang, sementara tangan kanannya mengayunkan pisau, menusuk leher pramugari itu dengan brutal. ​JLEB! ​Darah segar seketika menyembur, mengotori permukaan cermin putih bersih di hadapan mereka. Tubuh Natasha lunglai, jatuh berdebam ke atas lantai marmer yang dingin. Namun, kegilaan psikopat Bella belum terpuaskan. Dengan mata yang berkilat penuh kepuasan sadis, Bella berlutut di atas tubuh Natasha yang megap-megap, menghujamkan pisaunya ke leher dan dada wanita malang itu berulang-ulang tanpa ampun hingga Natasha benar-benar berhenti bergerak dan tewas dalam genangan darahnya sendiri. ​Bella mengembuskan napas puas, senyum kegembiraan yang mengerikan terukir di wajah cantiknya. Ia mengambil selembar tisu, mengusap setitik noda darah yang ter

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    212. Jiwa Psycho Bella

    Tiga bulan telah berlalu sejak insiden berdarah di Melbourne yang hampir merenggut nyawa Miranda Ford dan melukai kaki Levin Miller. Namun, bagi George Riciteli, waktu seolah berjalan di tempat, tertahan oleh rantai kegilaan yang kian hari kian mencekik kewarasannya. ​Di dalam kabin eksklusif kelas bisnis maskapai penerbangan internasional menuju Roma, menjelang fajar menyingsing, keheningan terasa begitu berat. George duduk bersisian dengan istrinya, Bella Riciteli. Sinar remang-remang dari lampu kabin menerpa separuh wajah tampan George yang tampak lelah. Sementara matanya melirik ke arah Bella yang duduk di sampingnya, tampak sangat tenang, sibuk menggeser layar ponsel pintarnya seolah dunia di sekitarnya tidak pernah terjadi apa-apa. ​Satu bulan terakhir ini, George sengaja mengosongkan jadwal klan dan memboyong Bella ke sebuah resor privat terpencil di Maladewa. Niat awalnya adalah untuk memulihkan kesehatan mental Bella pasca-amukan di Kanada, sekaligus memperbaiki h

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    211. Bab Terakhir Miranda

    Lorong itu terasa makin dingin dan mencekam. George menghisap rokoknya untuk terakhir kali, lalu membuang puntungnya ke lantai, menginjaknya dengan ujung sepatu kulitnya hingga hancur. "Kau tidak perlu meninggalkan kota ini atau melarikan diri lagi ke ujung dunia. Tetaplah di Melbourne, karena aku telah memastikan jaringan keselamatanku mengunci tempat ini. Besok, aku akan kembali ke Roma. Dan selama aku berada di sisi Bella, aku pastikan dia tidak akan pernah mencari atau mengendus keberadaan mu lagi. Ini adalah terakhir kalinya... kita berdiri berhadapan seperti ini." Miranda mematung di tempatnya berdiri, seolah seluruh pasokan udaranya telah direnggut paksa. Terakhir kalinya. Ucapan George barusan bukan sekadar kalimat penenang; itu adalah sebuah kata perpisahan yang teramat sadis, sebuah eksekusi dingin yang menamparnya kembali pada kenyataan yang brutal. Di mata sang Raja Mafia, dirinya tidak lebih dari sekadar pelarian fisik sesaat, sebuah tempat singgah sementara di kala

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    210. Akhir Pelarian

    Aroma antiseptik yang tajam menyengat indra penciuman di dalam bangsal perawatan rumah sakit Kota Melbourne. Pagi itu, suhu udara di luar terasa sangat dingin, menyisakan embun tebal yang menempel pada kaca jendela kamar. Di atas ranjang pasien, Levin Miller bersandar pada tumpukan bantal. Betis kanan pria itu terbalut perban putih yang tebal, sisa dari operasi pengangkatan proyektil peluru yang bersarang di ototnya akibat amukan Bella semalam. Miranda Ford duduk dengan tenang di sebuah kursi kayu di samping ranjang. Jemarinya yang ramping bergerak telaten, membantu Levin meminum beberapa butir obat pasca-operasi dengan menyodorkan segelas air putih hangat. Di sudut ruangan, tepat di atas sofa kulit hitam, Noah duduk meringkuk diam sembari memperhatikan gerak-gerik kedua orang dewasa itu. Sorot mata bocah kecil itu masih memancarkan trauma yang mendalam; bayang-bayang moncong pistol krom perak milik Bella yang sempat menekan dahinya semalam belum sepenuhnya hilang dari memoriny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status