Startseite / Mafia / DI ATAS RANJANG MAFIA / 236. Kepulangan George

Teilen

236. Kepulangan George

last update Veröffentlichungsdatum: 24.07.2026 11:30:00

Waktu berputar cepat menuju jam-jam kritis menjelang subuh. Di dalam kastil mewah Riciteli yang megah di Roma, atmosfer keheningan malam hancur berkeping-keping oleh suara kegaduhan yang amat mengerikan.

PRRAANGG!!

Suara pecahan kaca dan keramik mahal bergaung keras menembus lorong-lorong batu kastil.

Di dalam ruang kerja pribadi George yang luas dan megah, keadaan sudah laksana medan perang. Berkas-berkas penting berserakan di atas lantai marmer, kursi-kursi kayu berukir terbalik, dan jam d
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    236. Kepulangan George

    Waktu berputar cepat menuju jam-jam kritis menjelang subuh. Di dalam kastil mewah Riciteli yang megah di Roma, atmosfer keheningan malam hancur berkeping-keping oleh suara kegaduhan yang amat mengerikan. PRRAANGG!! Suara pecahan kaca dan keramik mahal bergaung keras menembus lorong-lorong batu kastil. Di dalam ruang kerja pribadi George yang luas dan megah, keadaan sudah laksana medan perang. Berkas-berkas penting berserakan di atas lantai marmer, kursi-kursi kayu berukir terbalik, dan jam dinding antik hancur berkeping-keping. Di tengah ruangan itu, Bella Agustin Castaro berdiri bagaikan sesosok iblis yang sedang murka. Matanya menyala-nyala dipenuhi kemarahan yang liar, rambut pirangnya yang sedikit acak-acakan justru mempertegas aura predatoria yang amat menakutkan. "Di mana dia?! Di mana George?!" teriak Bella dengan suara melengking yang menusuk telinga. "Berani-beraninya dia mengabaikan panggilanku! Aku bersumpah! Jika ada wanita jalang di Sisilia yang berani menahannya di

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    235. Sepak Terjang Yang Terlacak

    Di dalam kabin belakang mobil yang sedang bergerak, George melirik sedikit melalui kaca spion luar, menatap siluet Elena yang masih berdiri terpaku memandanginya dari depan toko bunga. Seulas senyum misterius yang dingin terukir di bibirnya. "Luca, jalankan mobilnya lebih cepat," perintah George singkat. "Baik," jawab Luca seraya menekan pedal gas. Setelah mobil melaju cukup jauh meninggalkan area pertokoan, Luca melirik ke arah spion dalam. "George... baru saja ada pesan darurat terenkripsi yang masuk dari Leonard di Roma." Raut wajah santai George seketika sirna, berganti dengan ketegangan yang tajam. "Ada apa? Apakah terjadi sesuatu di kastil?" "Bella... sepertinya dia mulai menaruh kecurigaan yang sangat besar atas keberadaanmu yang terlalu lama di Sisilia," lapor Luca serius. "Leonard menyampaikan pesan bahwa jika dalam kurun waktu satu pekan ini kau tidak kembali ke Roma, Bella mengancam akan mengerahkan seluruh pasukannya dan menyusul secara langsung ke pulau Sisilia ini."

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    234. Permainan Sang Raja Mafia

    Beratus-ratus mil dari kota Roma, atmosfer kota Palermo terasa jauh lebih tenang dan hangat. Sinar matahari senja berwarna keemasan menerpa deretan toko-toko tua di sepanjang jalanan batu. Di dalam sebuah toko bunga cantik beraroma wangi bernama "Lusiana’s Flower", Elena Botticelli tampak sedang menyusuri deretan ember-ember kayu berisi aneka bunga segar yang baru saja tiba. "Oh, Tuhan... kalian indah sekali." Wajah cantiknya berbinar lembut saat matanya menyapu kelopak-kelopak bunga berwarna-warni tersebut. Lusiana, sang pemilik toko yang merupakan seorang wanita paruh baya berwajah ramah, melangkah mendekati Elena dengan senyuman hangat. "Selamat sore, Dokter Elena! Kau datang di waktu yang sangat tepat. Bunga-bunga krisan dan lili ini baru saja dipetik pagi tadi dari perkebunan atas," sapanya ramah. Elena membalas senyuman itu dengan tulus. "Selamat sore, Bibi Lusi. Semuanya terlihat sangat indah... Tapi seperti biasa, aku sedang mencari bunga mawar putih." Dari seluruh jenis

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    233. Kecurigaan Bella

    Ruangan megah di dalam kastil keluarga Riciteli di Roma diselimuti keheningan yang mencekat. Cahaya dari lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit menguraikan pendar keemasan, memantul pada dinding marmer mahal dan furnitur mewah bergaya klasik. Namun, keindahan visual kastil itu sama sekali tidak sanggup mengikis atmosfer intimidatif dan penuh bahaya yang berembus di dalam ruangan tersebut. Di atas sebuah sofa beludru merah tua, duduk seorang wanita dengan kecantikan yang teramat sempurna namun mematikan. Bella Agustin Castaro—istri dari sang raja mafia George Lazaro Riciteli—bersandar anggun dengan sepasang mata tajam yang memancarkan aura predator murni. Jemari lentiknya yang terawat sibuk memainkan sebilah pisau analisis berbahan baja dingin, memutar-mutar mata pisau itu di antara jarinya dengan ketangkasan yang mengerikan. Di bawah kakinya, seorang pelayan wanita muda berseragam hitam-putih duduk bersimpuh, gemetar hebat dengan wajah yang pucat pasi tanpa darah.

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    232. Mangsa Sudah Masuk Perangkap

    Keesokan paginya, sinar matahari cerah menembus sisa-sisa awan mendung di atas kota Palermo, memantulkan kilatan cahaya yang indah di atas kaca-kaca jendela Rumah Sakit Anak Sant’Agata. Di dalam bangsal perawatan kelas melati, Elena Botticelli tampak berjalan dari satu ranjang anak ke ranjang lainnya dengan langkah kaki yang begitu ringan dan penuh semangat. Wajah cantiknya memancarkan aura kebahagiaan yang sangat cerah hari ini. Sembari memeriksa denyut nadi anak-anak, Elena dengan riang membagikan sekotak penuh biskuit manis dan cokelat berbentuk beruang kepada anak-anak kecil yang sedang dirawat di sana, memicu gelak tawa ceria di seluruh sudut ruangan. Mia, seorang suster muda berambut pirang yang juga merupakan salah satu teman baik Elena di rumah sakit, berdiri di dekat meja administrasi sambil memperhatikan tingkah laku sahabatnya dengan senyuman geli yang tertahan. Begitu Elena selesai membagikan makanan manis dan melangkah keluar dari bangsal, Mia segera mengekor di bel

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    231. Kebetulan Yang Mengancam

    Tiga puluh menit berlalu, mobil Rolls-Royce hitam itu perlahan mengurangi kecepatannya dan akhirnya menepi dengan mulus di area parkiran sebuah gedung apartemen kelas menengah di pinggiran kota Palermo. Hujan yang mengguyur kota sejak sore kini mulai mereda, menyisakan rintik-rintik gerimis kecil yang tipis.George melangkah keluar dari mobil, menolak payung yang disodorkan oleh pengawalnya, lalu berjalan berdampingan bersama Elena untuk mengantarkan gadis itu hingga sampai ke depan pintu unit apartemennya yang berada di lantai tiga.KLIK...Elena memutar kunci pintu kayu apartemennya, lalu berbalik menghadap George dengan senyuman tulus. "Kita sudah sampai, Tuan Alando. Terima kasih banyak karena sudah bersedia meluangkan waktu Anda yang berharga untuk mengantarkanku pulang dengan selamat."George hanya memberikan anggukan kepala yang dingin namun tetap berwibawa. "Sama-sama, Dokter Elena."Merasa tidak sopan jika langsung membiarkan penyelamatnya pergi begitu saja dalam kondisi jas

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status