LOGINAlfa hitam melaju dengan kecepatan tinggi merajai jalan kota Roma malam itu. Pria bertopi duduk di depan kendali. Kedua tangannya yang mengenakan sarung tangan hitam sibuk memutar kemudi.
Anak laki-laki yang terbaring di bangku tengah mobil mulai terjaga. Carlo terkejut. Apa yang terjadi padanya? Remaja enam belas tahun itu bergegas bangkit. Dia melihat ke sekitar. Benar, dia berada di dalam mobil yang asing. Matanya menyipit melihat pria misterius yang sedang mengemudi. "Hei, siapa kau?!" tanyanya dengan suara meninggi. Alberto Castaro, pria yang sedang mengemudikan mobil tidak menjawab. Dia hanya menatap pada kaca spion di atasnya. Bibirnya menyeringai tipis melihat siluet Carlo dari sana. "Hei, kau tuli? Siapa kau dan mengapa menculikku?!" Carlo berteriak lagi. "Duduklah, Baby Boy. Kau akan segera tahu." Kali ini Alberto menjawab. Carlo hanya menatap heran pada pria di depannya. Ini penculikan, dia harus menelepon Michele. Anak laki-laki itu meraba-raba saku jas dan celananya mencari ponsel. "Ponselmu ada padaku. Diam dan jangan banyak bertanya. Kau paham?" ucap Alberto tanpa memalingkan pandangan dari jalan di depannya. Nada bicaranya terdengar dingin dan menekan. "Hei, apa kau juga pencuri?!" gertak Carlo. "Anggap saja begitu." Alberto menanggapi dengan tenang. "Shit!" Carlo bersandar lesu pada bangku mobil. Sementara itu di hotel. Michele bergegas bangkit meninggalkan wanita di tengah ranjang. Libidonya masih menggebu-gebu. Apa yang mau Paolo sampaikan? Apakah kaki tangannya itu mau mengingatkan dia untuk menelan obat perangsang? Dasar brengsek! Dengan murka dan konak yang nyaris di ujung, Michele menyambar pistol yang tergeletak di atas meja. Tubuh tinggi kekar bertelanjang dada itu menghambur menuju pintu. "Bos!" Paolo sangat terkejut begitu pintu di buka. Michele sudah berdiri sambil menodongkan pistol ke wajahnya. Pria itu mundur satu langkah dengan mimik ketakutan. "Apa kau sudah bosan hidup, hah?!" teriak Michele. "Bos, maafkan kami," ucap Paolo. Kemudian dia mendekat pada Michele dan berbisik. "Tuan Muda Carlo di culik." Michele membulatkan sepasang matanya terkejut. Kemudian dia bergegas masuk kamar dan menyambar pakaian. Meghan yang masih berada di tengah ranjang hanya memandangi dengan perasaan heran dan takut. "Urus wanita itu!" Michele memerintah pada anak buahnya untuk mengurus Meghan. Kemudian dia pergi. "Mau apa kalian? Hei!" Meghan menjerit-jerit saat dua orang bodyguard maju dan langsung menangkap tangannya. Sial! Mereka mengikatnya kembali di tengah ranjang. Meghan hanya bisa melontarkan kata-kata makian saat dua orang bodyguard itu pergi. Alfa hitam yang membawa Carlo terlihat melaju memasuki terowongan di tepi laut. Paolo dan anak buahnya segera bergerak. "Jangan menembak, Tuan Muda Carlo ada di sana!" perintah Paolo pada anak buahnya. Mereka berada satu mobil dan sedang mengejar mobil penculik. "Hei, kemudikan mobilnya dengan benar! Astaga, aku ingin muntah!" Carlo berteriak pada Alberto karena pria itu mengemudikan mobil seperti sedang balapan di sirkuit. Pria bertopi hitam yang sedang mengemudikan mobil tidak peduli dengan suara ocehan Carlo. Para Mafia itu pasti sudah mengejar. Dia tidak akan dibiarkan hidup atau pun mati oleh mereka jika sampai tertangkap. "Hentikan mobilnya! Perutku mual dan kepalaku pening!" Carlo tak henti berteriak. Shit! Pria itu sepertinya benar-benar tuli. Remaja laki-laki dengan stelan jas hitam itu bergegas bangkit."Hentikan mobilnya, bodoh!" teriaknya lagi. Kali ini langsung ke telinga Alberto. Pria itu dibuat terkejut. Secara refleks dia menampar Carlo dengan keras. Anak laki-laki itu terhempas kembali ke bangku tengah mobil. "Anjirr! Tamparanmu lumayan juga, Bung!" ucapnya sambil memegang pipi kirinya. Alberto tidak peduli. Dia semakin kencang melajukan mobil. Hingga saat tiba di tengah terowongan yang berada di jembatan, dia dibuat terkejut. Orang-orang Michele sudah berdiri menghadang sambil memegang senjata. Mobil di rem mendadak. Carlo nyaris jatuh dari bangku mobil karenanya. Remaja itu mengumpat Alberto dengan kesal. "Wah, lihatlah! Orang-orang Michele sudah di depan. Habislah kau penculik amatiran." Carlo mencibir sambil tersenyum remeh. Ekor mata Alberto melirik ke samping di mana Carlo sedang tersenyum menyebalkan. Shit! Apa yang harus dia lakukan sekarang? Para Mafia itu pasti akan menjadikannya camilan untuk di hidangkan esok pagi dengan kokain, atau memotong tubuhnya kecil-kecil untuk dijadikan pupuk kebun anggur. Paolo menjentikkan jarinya sambil memandangi Alfa hitam di depan mereka. Empat orang anak buahnya segera maju. Mereka masing-masing memegang benda tumpul menyerupai pemukul base ball. Nyali Alberto langsung menyusut. Matanya menoleh ke kanan dan kiri. Gila! Dia harus segera kabur sebelum mereka benar-benar mendapatkannya. "Hei, apa yang mau kau lakukan?! Jangan bertindak bodoh atau orang-orang Michele akan mengulitimu!" Carlo memukul dan menendang saat Alberto menangkap tangannya. Persetan dengan rengekan bocah laki-laki itu, Alberto bergegas membuka pintu mobil. Dia menyeret Carlo seperti sedang menyeret koper. "Ayo melompat!" perintah Alberto seraya mendorong punggung anak laki-laki di depannya. Mereka sedang berdiri di tepi jembatan St. Angelo Bridge atau Ponte Sant'angelo. Ponte Sant'angelo, dulu disebut Jembatan Ailien atau Pons Aelius, yang berarti Jembatan Hadrian, adalah sebuah jembatan Romawi di Roma, Italia yang dibangun pada tahun 134 AD oleh Kaisar Romawi Hardian. Jembatan ini terbentang di tengah-tengah kota di atas Sungai Tiber dan terhubung dengan makam Kaisar Hadrianus di Castel Sant'angelo. Jembatan ini dilapisi oleh marmer travertin dan memiliki 5 lengkungan. "Kau saja. Dasar sinting!" Carlo memberi wajah jengah. "Ayo melompat, Riciteli Junior!" Alberto yang kesal menodongkan pistol pada Carlo sambil menatapnya tajam. "Hei, hei, jangan main-main dengan benda itu. Kau dalam masalah besar jika sampai Michele melihatnya," ucap Carlo sambil mengangkat kedua tangannya. Kali ini dia tampak ketakutan. "Cepat melompat!" Alberto kembali mendorong Carlo. Paolo yang melihatnya hanya geleng-geleng sambil tersenyum geli. Kemudian dia maju menyusul empat orang anak buahnya. "Sudah cukup main-mainnya! Tuan Muda Carlo harus minum susu dan tidur. Dia tak boleh berada di luar pada jam segini," ucap Paolo dengan wajah manisnya. Carlo hanya memutar bola matanya, bosan. Sementara Alberto langsung bersiaga. Pria itu merangkul bahu Carlo kemudian mengarahkan pistol tepat ke kepala remaja itu. "Jangan mendekat atau aku akan menembak bocah ini!" Paolo mengangkat satu tangannya, memberi isyarat agar semua anak buahnya menurunkan senjata mereka. Dia tak mau ambil resiko jika sampai Alberto benar-benar menembak Carlo. "Mundur! Atau aku akan menembaknya!" Alberto menyeret Carlo menuju mobil tanpa menjauhkan pistolnya dari kepala remaja itu. "Paolo! Hei! Tolong aku, brengsek!" Carlo tampak ketakutan saat Alberto memaksanya masuk mobil. Tatapan tajam Paolo tak luput dari mereka. Dia melirik pada beberapa anak buahnya. Mereka akan segera menembak sebelum Alberto menghidupkan mobil. Duar! Alberto ambruk menimpa kendali mobilnya. Satu tembakan bius mengenai punggung pria itu. Carlo hanya menaikan sudut bibirnya. Kemudian matanya terangkat ke langit hitam di atas. "Baby Boy! You oke?!" Michele sedang berdiri di pintu helikopter. Carlo hanya mengangguk sambil tersenyum kagum menanggapi. "Bawa bedebah ini ke castil. Jangan sampai dia kabur." Michele bicara pada Paolo sambil menutup bagasi Alfa hitam di mana Alberto sedang meringkuk. Paolo mengangguk cepat. "Baik, Bos." Michele bergegas pergi menuju mobil Ferrari Competizione merah di mana Carlo sudah duduk manis menunggu. "Kau datang terlalu cepat. Padahal aku ingin melihat penculik itu ketakutan lebih dulu," ucap Carlo pada Michele saat sang kakak memasuki mobil. "Apa untungnya melihat orang ketakutan?" tanya Michele dengan acuh sambil mengenakan seat belt. "Tentu saja ada. Kau sangat keren tapi juga payah!" Carlo melipat kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi kesal. "Ayo jalankan mobilnya, jam tidur Tuan Muda Carlo nyaris lewat." Michele bicara pada sopir yang sedang duduk di depan kemudi mobil. Dia tak peduli dengan ocehan adiknya. Melihat wajah dingin Michele, Carlo hanya memutar bola matanya bosan. Sportcar merah itu pun melaju santai meninggalkan jembatan disusul empat mobil hitam. Anjing Pemburu telah menyelesaikan tugasnya. Saatnya ia pulang dan menyantap hidangan malam yang sedang menunggu.Suasana di dalam Muller Bridal terasa bagai dunia dongeng. Elena berdiri di atas podium bundar berlapis karpet beludru merah, mengenakan gaun pengantin model ballgown berwarna putih gading dengan ekor panjang yang menjuntai indah. Renda-renda halus melapisi bahunya, membuat wajah cantiknya kian terpancar.Betty melayaninya dengan tingkat ketelitian luar biasa, membetulkan setiap lipatan kain seolah Elena adalah seorang putri kerajaan yang akan menikah dengan raja dunia bawah tanah.Elena memutar tubuhnya di depan cermin besar, matanya berbinar-binar. Ia menoleh ke arah Rebecca yang berdiri kaku di dekat pintu masuk."Rebecca, bagaimana menurutmu? Apakah gaun ini terlalu berlebihan?" tanya Elena dengan nada riang.Sebelum Rebecca sempat menjawab, sebuah suara bariton yang berat, dalam, dan penuh keanggunan terdengar menggema dari arah pintu masuk."Sangat cantik, Elena! Kau sangat cantik dengan gaun itu!"Elena terperanjat. Ia menoleh cepat.Rebecca langsung membungkukkan badan
Hari telah sepenuhnya disapu oleh pekatnya malam ketika Elena melangkah masuk ke dalam unit apartemennya. Perasaan lelah pasca-mengunjungi bridal boutique milik Betty Muller masih mengayungi langkahnya, namun kegelisahan tentang Jacobs jauh lebih melingkupi dadanya. Elena menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk, menatap langit-langit kamar dengan napas helaan berat.Kerinduan dan kepanikan berbaur menjadi satu. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja samping ranjang, kembali mencoba menghubungi nomor telepon kakaknya.Di saat yang bersamaan, beberapa kilometer dari sana...Ponsel milik Jacobs—yang sengaja tertinggal di atas meja tamu rumah Edoardo sewaktu Jacobs pergi bergegas tadi—terus berdering nyaring. Di sudut dapur terbuka, Nigel yang sedang menyeduh cangkir kopi panas menghentikan kegiatannya. Pria tua itu melangkah mendekat, memandang layar ponsel yang berkedip menampilkan nama "Elena". Dengan penuh keraguan, Nigel menggeser tombol hijau dan menempelkan gawai itu ke
Suara gemercik hujan gerimis yang mengguyur Kota Roma sore itu tidak mampu memadamkan api amarah yang membakar dada Detektif Jacobs. Mobil sedan hitam yang dikendarainya berhenti mendadak tepat di depan pelataran gedung apartemen megah bernuansa abu-abu gelap. Di sampingnya, Edoardo menyesuaikan posisi pistol di balik jasnya, matanya terus melirik ke sekeliling area yang tampak tenang—terlalu tenang untuk ukuran tempat tinggal seorang kriminal.Menurut informasi yang diperas James dari informan jalanan, di sinilah Louis tinggal. Pria yang menyewa mobil yang dicurigai membawa Mario sebelum sekretaris kepolisian itu menghilang tanpa jejak.Jacobs melangkah lebar melintasi pintu kaca otomatis, disusul Edoardo yang menjaga jarak aman. Tanpa basa-basi, Jacobs memotong antrean kecil di depan meja resepsionis dan menghempaskan lencana kepolisiannya ke atas permukaan marmer yang mengilap."Kepolisian Roma. Saya butuh data penghuni atas nama Louis. Sekarang," gertak Jacobs, nadanya tidak m
Menjelang siang hari di kediaman keluarga Edoardo. Jacobs perlahan membuka matanya. Rasa pening yang luar biasa hebat menghantam kepalanya akibat efek minuman keras semalam. Dari arah luar, ia mendengar suara samar Nigel yang sedang mengobrol hangat dengan Edoardo. Jacobs berusaha mendudukkan tubuhnya di sofa, wajahnya tampak sangat kuyu dengan lingkaran hitam di sekitar matanya.Mendengar pergerakan dari ruang tamu, Edoardo dan ayahnya segera melangkah mendekat."Jacobs! Kau sudah bangun?" sapa Edoardo menatap khawatir. "Bagaimana keadaanmu?"Jacobs hanya menggelengkan kepalanya yang terasa berat secara lesu, tak mampu berkata-kata.Nigel menepuk bahu Jacobs dengan penuh rasa kasih sayang seorang ayah. "Ayo bangkit, Jacobs. Kau harus mengisi perutmu. Paman sudah menyiapkan sarapan di teras belakang."Jacobs mengangguk perlahan, membanting kakinya turun dari sofa dan melangkah perlahan mengikuti Nigel menuju teras belakang yang asri. Edoardo berjalan menyusul di belakang mereka
Malam kian larut membungkus kota Palermo dalam kesunyian yang dingin. Di dalam unit apartemennya, Elena terduduk lemas di lantai semen berselimut karpet tebal, menyandarkan punggungnya yang bergetar pada tepi ranjang kamar. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi lampu tidur yang memancarkan cahaya kekuningan redup. Air mata tak berhenti menetes membasahi pipi mulusnya. Gadis itu meremas ponsel di genggamannya, menatap layar yang menampilkan foto profil kakaknya. Puluhan panggilan telpon yang ia layangkan sama sekali tidak membuahkan hasil. Pria tegap itu seolah menghilang ditelan kegelapan malam. "Kak Jacobs... kau di mana?" bisik Elena lirih di antara terisak. "Maafkan aku, Kak... Maafkan aku..." Rasa penyesalan yang teramat sangat menghantam jiwanya. Elena menyesali perbuatannya yang telah tersulut emosi, menaikkan nada suara dan berbicara begitu kasar kepada kakak yang selama ini mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya. Sementara itu, beberapa kilometer dari sana. Di
Malam kian larut membungkus kota Palermo dalam kesunyian yang dingin. Di dalam unit apartemennya, Elena terduduk lemas di lantai semen berselimut karpet tebal, menyandarkan punggungnya yang bergetar pada tepi ranjang kamar. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi lampu tidur yang memancarkan cahaya kekuningan redup. Air mata tak berhenti menetes membasahi pipi mulusnya. Gadis itu meremas ponsel di genggamannya, menatap layar yang menampilkan foto profil kakaknya. Puluhan panggilan telpon yang ia layangkan sama sekali tidak membuahkan hasil. Pria tegap itu seolah menghilang ditelan kegelapan malam. "Kak Jacobs... kau di mana?" bisik Elena lirih di antara terisak. "Maafkan aku, Kak... Maafkan aku..." Rasa penyesalan yang teramat sangat menghantam jiwanya. Elena menyesali perbuatannya yang telah tersulut emosi, menaikkan nada suara dan berbicara begitu kasar kepada kakak yang selama ini mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya. Sementara itu, beberapa kilometer dari sana. Di







