Share

4. SEKSI GIRL

Author: Dewa Amour
last update Last Updated: 2025-09-13 10:01:16

Italia kaya dengan sejarah dan nilai budaya sejak ribuan tahun lampau. Kehidupan seks di Italia juga cenderung bebas.

Italia identik dengan industri seks yang meriah dan glamor. Bahkan mereka mengadakan pesta seks di beberapa moment.

Meghan terkesiap saat indera pendengarannya menangkap suara-suara yang mendekat.

Derap langkah sepasang pantofel? Apakah bos yang dimaksud oleh para bodyguard itu telah datang?

Jantung Meghan berdegup kencang. Keringat dingin bercuruan dari milyaran pori-pori.

Apa yang harus ia lakukan sekarang? Gadis itu berusaha menarik-narik kedua tangannya. Oh tidak. Ikatan ini terlalu erat. Pergelangan tangannya sampai memerah akibat tindakkan yang sia-sia itu.

Wangi maskulin parfum seorang pria menyeruak indera penciumannya. Tenggorokan Meghan terasa tercekat karena ketakutan. Pria itu sudah berdiri di hadapannya kini.

"Kenapa menatapku seperti itu? Apa kau sudah tak sabar ingin bermain-main denganku?" Michele menaikan sudut bibirnya seraya memandangi gadis yang terikat di tengah ranjang.

Sepertinya kali ini Madam Rose mengirim gadis yang salah. Bahkan gadis itu sedang menatapnya begitu berani.

Dia bergegas maju satu langkah. Kedua tangannya masih berada di masing-masing saku celana kainnya yang licin.

"Kau tidak kelihatan berpengalaman. Padahal aku sudah membayar mahal. Aku mau sesuatu yang liar malam ini," desis Michele. Wajahnya terlihat seperti iblis yang buas dan kejam.

Meghan menelan ludah kasar. Sesuatu yang liar? Tubuhnya gemetar ketakutan mendengar ucapan mesum pria asing itu.

"Dengar, Tuan Mafia! Kau salah orang. Aku bukan wanita yang kau pikirkan. Aku salah masuk bar lalu mereka membawaku ke sini. Lepaskan aku, aku harus pulang," ucap Meghan berusaha tenang meski dia nyaris pingsan ketakutan.

Michele tersenyum remeh mendengarnya. "Bukan jalang? Itu yang kau maksud?"

Meghan menatap pria dengan stelan jas hitam di depannya dengan pupil yang membulat penuh. Sial! Sepertinya pria itu tidak percaya padanya. Ya Tuhan ... Bagaimana ini? Dia mulai cemas.

"Hm, Tuan Mafia! Aku benar-benar bukan wanita yang kau pesan. Aku cuma mahasiswi smester dua yang tersesat ke sini. Percayalah, tolong lepaskan aku," lirih Meghan. Kali ini ia memasang wajah memelas.

Michele memicingkan satu alisnya. Matanya menelanjangi Meghan dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Dilihat-lihat gadis ini lumayan juga, pikirnya. Persetan dia jalang atau bukan. Obat horny-nya sudah terlanjur bereaksi.

Meghan sangat terkejut melihat Michele melepaskan jas hitamnya, kemudian dasi, rompi, juga kemejanya.

Seketika otot-otot yang kencang menyembul dari permukaan kulit yang kecokelatan. Kotak-kotak di perut Michele mengingatkan Meghan pada roti sobek yang biasa ia makan di pagi hari.

Apa yang mau pria itu lakukan? Jantung Meghan berdegup semakin kencang saat Michele mendekat padanya dengan bertelanjang dada.

Tulisan-tulisan suci memenuhi dada bidang pria itu. Gila! Tubuhnya sangat bagus.

"Kenapa bengong? Kau suka melihat tubuhku?" bisik Michele ke wajah Meghan. Dia mengunci pandangan gadis itu dengan tatapan yang tajam yang menghipnotis.

Meghan kembali menelan ludah kasar. "A-aku sudah katakan jika aku bukan wanita yang kau pesan. Tolong jangan dekat-dekat," ucapnya tergugup.

Michele menunjukkan seringai tipisnya. "Persetan kau jalang atau bukan, layani aku sekarang."

"Apa?"

Meghan yang terkejut menatap dengan mulut yang sedikit terbuka. Dia sudah melakukan kesalahan yang fatal.

Michele yang kini dikendalikan oleh hasrat mendidih, tidak menerima penolakan. Ia langsung merebut bibir Meghan dengan ciuman yang buas dan menuntut, seolah mengklain sesuatu yang sudah lama menjadi miliknya.

"Ummh! Ummh!"

Meghan berusaha berontak dengan memalingkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Namun, bukan hal sulit bagi Pangeran Mafia Riciteli menangani seorang gadis.

"Kau membuatku gemas."

Michele melepaskan ikatan di tangan Meghan hanya untuk mencengkeram pergelangan itu erat-erat. Matanya menatap buas, gairah murni, "menakjubkan," bisiknya lantas mengunci kembali bibir Meghan dalam ciuman yang menindas.

Sementara itu di bar. Carlo tampak sibuk bermain game sambil duduk pada sofa panjang di sudut ruangan.

Dua orang bodyguard berdiri di masing-masing sisi, mengawasi dan menjaga adik bos mereka dengan baik.

Paolo tersenyum tipis seraya mendaratkan bokongnya pada sofa kosong di samping Carlo. "Hei, kau akan tidur di tempat rehabilitasi jika terus sibuk dengan smartphone-mu," ucapnya sambil menepuk satu bahu remaja laki-laki itu.

Tanpa memalingkan pandangan dari layar ponselnya, Carlo menjawab, "Siapa yang berani membawaku ke tempat rehabilitasi? Michele pasti akan menembak kepala mereka," ucapnya dengan acuh.

Paolo tergelak tawa mendengar celoteh bocah itu."Oh iya? Bagaimana jika kakakmu itu sendiri yang akan membawamu ke sana?" desisnya kemudian. Seringai tipis terbit di bibirnya saat Carlo menatap.

"Paolo, aku melihat pria mencurigakan di lorong. Lekas periksa!"

Suara itu mengejutkan mereka berdua. Baik Paolo maupun Carlo, keduanya mengalihkan pandangan pada Sergio yang datang menghampiri dengan tergesa-gesa.

"Siapa pria itu? Apa dia sudah bosan hidup sampai berani masuk ke sini?" Paolo bergegas bangkit. Dia bertanya pada Sergio yang kini berdiri di hadapannya.

"Entahlah. Cepat periksa," jawab Sergio memerintah.

Paolo berdecak jengah lantas pergi. Tiga orang bodyguard menyusulnya. Carlo yang masih duduk di sofa hanya menaikan kedua bahunya tak peduli. Ia kembali sibuk dengan ponselnya.

"Tuan Muda, ini sudah larut. Saya akan mengantar Anda ke kamar," ucap Sergio pada Carlo.

Anak laki-laki 16 tahun dengan stelan jas hitam itu tampak kesal. "Huh, padahal ini baru pukul sebelas," ucapnya seraya bangkit dari sofa.

"Silakan lewat sini, Tuan Muda." Sergio tak peduli dengan wajah sebal Carlo padanya. Pria itu membuka satu tangannya mempersilakan Carlo berjalan lebih dulu.

Di lorong tampak sepi. Sambil berjalan di depan Sergio, Carlo sibuk dengan permainan game pada layar ponselnya.

Sesekali remaja itu tersenyum sendiri, kadang pula mengumpat kesal. Sergio hanya mengikuti dengan wajah datar-datar saja.

Mereka nyaris sampai di kamar Carlo. Namun tiba-tiba seseorang menyergap Sergio dari belakang. Pria itu tidak sempat berteriak karena mulutnya di sumpal oleh sapu tangan. Pria misterius menyeretnya setelah Sergio pingsan.

"Yess! Sudah kukatakan jika tak ada gamer yang lebih hebat dari pria Italia ini!" Carlo memekik senang karena menang dalam permainan game-nya.

"Hei, di mana si kaku itu?"

Dia baru menyadari jika Sergio tidak berada di belakangnya lagi. Carlo hanya menaikan kedua bahunya tidak peduli. Dia segera melanjutkan langkah menuju kamarnya.

Pria berpakaian serba hitam tiba-tiba muncul dari balik dinding. Tangannya mencengkeram kuat pistol dalam genggaman. Wajahnya tidak kelihatan jelas karena topi dan kain yang menutupi.

"Hello, Boy!"

Carlo menoleh ke arah suara itu. Dia terkejut melihat pria misterius sedang berdiri di hadapannya.

Baru saja dia mau menjerit, pria itu langsung menyergap dan membungkam mulutnya dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.

Setelah Carlo pingsan, pria itu segera menyeretnya pergi.

"Tuan Muda Carlo hilang! Cepat cari!" Paolo memerintah para bodyguard untuk mencari Carlo setelah menemukan Sergio tak sadarkan diri di dalam lift.

"Bos sedang sibuk dengan wanitanya. Dia akan mengamuk jika kita datang menganggunya." Sergio bicara pada Paolo setelah sadar. Mereka berjalan cepat menuju kamar VVIP di mana Michele berada.

"Akan lebih buruk jika kita tidak memberitahunya," ucap Paolo tanpa menoleh pada Sergio.

Sergio tidak menimpali lagi. Sial! Paolo pikir dia jauh lebih tahu seperti apa Michele ketibang dirinya yang sudah lama melayani Klan Riciteli?

Harusnya dia yang menjadi kaki tangan Michele, bukan Paolo yang ceroboh dan banyak cing cong itu, pikir Sergio sebal.

Di dalam kamar. Michele sedang memaksakan kehendaknya pada Meghan. Gadis itu tak henti berontak dan berteriak, meski pakaiannya masih utuh.

"Hentikan! Arrgh! Bajingan kau!" Meghan hanya bisa berteriak karena kedua tangannya dicengkeram kuat oleh Michele. Juga kedua kaki yang di tahan oleh kaki kekar pria itu.

"Diamlah, Sayang. Kau akan menyukainya." Michele sudah menindih Meghan, memenjarakannya di bawah bobot tubuhnya. Gairah brutal sudah menggebu dan mendesaknya.

Nafasnya memburu panas. Dia sibuk menjelajahi kulit Meghan. Jejak ciumannya turun dari ceruk leher ke batas dress. Wangi tubuh gadis itu adalah api yang semakin membakarnya.

"Ah, tidak!" Meghan memekik kaget saat pria itu menekankan dirinya pada pusat gairahnya, menembus lapisan kain.

"Sial, aku tak tahan lagi." Michele melepaskan pergelangan tangan Meghan. Cengkeramannya beralih ke lekukan tubuh bagian atas gadis itu. Meghan mengerang saat pria itu mengklaimnya dengan desakan yang kasar.

Mata Meghan terpejam tak menentu. Dia menggigit bibir bawahnya saat pria itu menghujani kulitnya--dari dada hingga puncaknya--dengan kehausan yang kejam.

Pacarnya saja belum pernah menyentuh serentang ini. Meskipun dipaksakan, sensasi asing itu menyerang Meghan dengan hebat.

Melihat lawan mainnya sudah terpengaruh, Michele mulai melakukan pemanasan dengan santai. Meghan mendesah saat ciuman itu bergerak turun ke pinggangnya.

"Bos, ada masalah! Tolong buka pintunya!"

Michele yang sedang menggebu-gebu dibuat kesal mendengar suara Paolo dari luar pintu.

"Shit! Apa mereka sudah bosan hidup?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    122. Sang Pemburu

    Roma, Italia.Kediaman Don Lazaro Riciteli.Fajar baru saja pecah di cakrawala Roma, namun di dalam kediaman Lazaro Riciteli, atmosfer terasa seberat timah. Kabar mengenai kepulihan George baru saja tiba, namun itu tidak cukup untuk meredakan badai yang sedang bergejolak di benak sang penguasa tua."Tuan Muda sudah mulai stabil. Dokter Arian sedang menjahit lukanya dan memantau kondisinya secara intensif." Ernesto membungkuk dengan hormat, suaranya gemetar oleh kelelahan dan rasa takut yang masih tersisa. Setelah Lazaro mengibaskan tangan dengan gerakan abai, pelayan tua itu segera menghilang di balik pintu mahoni."Sepertinya kita perlu menambah unit pengawal lagi untuk melindungi George. Roma tidak lagi aman untuknya," suara itu berat dan berwibawa, memecah kesunyian ruangan.Carlo Matius Riciteli. Pria itu baru saja menginjakkan kaki di Roma setelah perjalanan panjang. Wajahnya yang tegas menyimpan kesedihan yang mendalam. Seharusnya ia menemui keponakannya, George, namun sang Ra

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    121. Jejak Darah Di Kota Mode

    Angin musim panas di Milan tidak pernah benar-benar terasa hangat bagi seorang Riciteli. Saat jet VIP pribadi itu menyentuh landasan di padang rumput tandus pinggiran kota, deru mesinnya seolah mengoyak keheningan petang yang lembap. Debu dan kerikil beterbangan, menciptakan badai kecil di sekitar burung besi raksasa yang angkuh itu.Pintu jet bergeser ke samping dengan suara hidrolik yang halus. Dua bodyguard berpakaian taktis segera mengambil posisi, membungkuk dalam-dalam saat George Lazaro Riciteli melangkah keluar.George berdiri di ambang pintu pesawat, membiarkan angin kencang menerpa kemeja sutranya yang mahal. Ia menarik napas panjang, meresapi aroma rumput kering dan polusi tipis yang khas dari kota favorit ayahnya. Milan. Di sinilah dinasti Riciteli menanam akar kekuasaannya, dan di sini pula George merasa takdirnya sebagai "Klan Riciteli" yang tunggal terasa begitu nyata sekaligus menyesakkan.Di bawah sana, Luca Amadeus berdiri di barisan depan bersama sepuluh bodyguard

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    120. Elang Betina

    Fajar menyingsing di atas cakrawala Mediterania, namun cahaya emasnya tidak mampu menyinari kegelapan yang baru saja dilarung ke dasar laut.Dua pria berwajah dingin menjatuhkan bungkusan plastik hitam dari dek kapal cepat. Tubuh Adela yang malang tenggelam, ditelan kedalaman air yang dingin untuk selamanya. Di dunia ini, nyawa seorang gadis tak lebih dari sekadar statistik di bawah kaki klan Riciteli.Beberapa mil dari lepas pantai, sebuah truk pengangkut pakan ternak melaju membelah kabut fajar yang menyelimuti tebing-tebing putih Roma. Di kabin belakang yang sempit dan berbau apek, seorang gadis duduk dengan punggung tegak, dekapannya pada laras senapan panjang begitu posesif.Bella Austin Castaro.Di usianya yang ke-25, ia adalah legenda hidup di dalam barak Organisasi EXO. Tatapannya setajam belati, dan jari telunjuknya adalah hakim bagi siapa pun yang masuk dalam bidikannya. "Elang Betina," begitulah rekan-rekannya menjulukinya.Bella mencengkeram badan senapan laras panjangnya

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    119. SEASON 3 - Darah Mafia Riciteli

    Sequel dari novel Di Atas Ranjang Mafia season 2 karya DW AMOUR "Darah Riciteli adalah kutukan, dan George adalah puncaknya."Di bawah jari manisnya, Cincin Kepala Naga bukan lagi sekadar simbol kekuatan, melainkan belenggu. George Lazaro Riciteli kini bertahta di atas tumpukan mayat dan kejayaan Roma, namun jiwanya mati di tengah depresi yang menghancurkan. Baginya, dunia hanyalah tentang darah yang tumpah atau kepuasan sesaat di atas ranjang. Dialah raja yang gila sepanjang sejarah Mafia.Bella Austin Castaro, sang sniper berdarah dingin, tidak pernah meleset. Baginya, George hanyalah target yang harus musnah demi kedamaian dunia. Namun, saat teropong bidiknya bertemu dengan mata hijau George yang kelam, segalanya berubah. George menginginkan Bella-bukan hanya tubuhnya, tapi jiwanya. Di bawah atap kastil yang penuh rahasia, Bella menyusup sebagai kekasih, sementara jarinya tetap berada di pelatuk, menunggu waktu yang tepat untuk mengirim sang Raja Mafia ke neraka.Saat cinta menja

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    118. Keputusan Meghan (Ending)

    Malam di Virginia kian larut, membungkus penthouse mewah itu dalam sunyi yang mencekam namun intim. Di luar jendela, butiran salju masih berjatuhan dari langit yang sepekat tinta, menumpuk di atas dahan-dahan pohon maple yang meranggas. Angin musim dingin sesekali melolong, mengetuk kaca jendela, seolah ingin ikut masuk ke dalam kehangatan yang tersisa.Meghan Crafson berdiri mematung di ambang pintu kamar. Matanya tertuju pada punggung lebar Michele yang berdiri diam di tepi jendela besar. Pria itu menatap hamparan salju dengan tatapan yang sulit diartikan—dingin, namun penuh rahasia."Apa kau akan segera pergi?" bisik Meghan, suaranya nyaris tenggelam oleh desau angin.Michele tidak langsung menjawab. Ia melirik dari sudut matanya, menyunggingkan senyum tipis yang penuh misteri. "Apa jika aku pergi, kau akan baik-baik saja?"Pertanyaan itu menghujam jantung Meghan. Ia tahu jawabannya; tidak. Tanpa pria bajingan ini, dunianya terasa hampa, meski lebih aman. Tanpa sentuhan kasar nam

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    117. Ulang Tahun George

    Musim dingin di Virginia tahun ini terasa jauh lebih menggigit daripada yang pernah dirasakan Meghan di Roma. Salju tebal membungkus kota seperti kain kafan putih, membekukan aktivitas, namun tidak mampu membekukan badai yang bergejolak di dalam dadanya.Di atas penthouse mewah yang menghadap ke pusat kota, dekorasi pesta ulang tahun George telah tertata sempurna. Balon-balon berwarna biru dan perak memenuhi sudut ruangan, sementara meja-meja penuh camilan disiapkan dengan apik. Meghan, dalam balutan dress hitam elegan yang kontras dengan pucat wajahnya, berjalan mondar-mandir memastikan segalanya beres. Namun, matanya terus melirik ke arah jendela yang buram karena embun es.Dua pekan. Dua pekan sejak ia melarikan diri dari bayang-bayang Klan Riciteli. Dan selama dua pekan itu pula, ia harus menyaksikan George—putra kecilnya yang baru berusia lima tahun—tumbuh menjadi sosok yang asing. George tidak lagi ceria; ia lebih banyak diam, menatap kosong ke arah luar, seolah sedang menungg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status