Inicio / Mafia / DI ATAS RANJANG MAFIA / 91. Upaya Kabur Meghan

Compartir

91. Upaya Kabur Meghan

Autor: Dewa Amour
last update Fecha de publicación: 2026-01-26 21:15:33

"George!"

Suara Meghan pecah, tertelan oleh rimbunnya hutan Alaska yang membeku. Napasnya membentuk uap putih di udara yang menggigit.

Lentera di tangannya berayun liar, membelah kabut tebal yang menyelimuti pepohonan pinus raksasa. Firasatnya sebagai seorang ibu berteriak kencang. Ia tahu George tidak sekadar hilang, putranya sedang dalam bahaya maut.

Di belakangnya, suara gonggongan anjing pelacak merobek kesunyian malam. Cahaya senter dari sepuluh bodyguard menyapu kegelapan bagai pedang ca
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    165. Subjek Eksperimen

    Malam di Danau Como yang biasanya tenang kini berubah menjadi medan perang. Suara sepatu bot tentara Riciteli bergema di lorong-lorong marmer kastil milik keluarga Pabio. George Riciteli melangkah masuk ke ruang kerja Robert Pabio dengan aura kematian yang menyelimutinya. Di belakangnya, Luca dan sepuluh pengawal bersenjata lengkap segera melumpuhkan penjaga pribadi Robert.George mencengkeram kerah kemeja Robert Pabio, menekankan moncong pistol emasnya ke bawah dagu pria tua itu. "Di mana Jane? Di mana dia menyembunyikan Bella?!"Robert mengangkat tangan dengan gemetar, wajahnya pucat pasi. "George, kendalikan dirimu! Aku tidak tahu apa-apa! Jane bilang dia pergi ke Milan untuk urusan bisnis. Aku bersumpah, aku tidak tahu soal penyekapan itu!"George menatap mata Robert, mencari kebohongan, namun ia hanya menemukan ketakutan seorang ayah yang tidak tahu apa-apa tentang kegilaan putrinya. Ia menghempaskan Robert ke kursinya."Luca! Hubungi markas AXIS," perintah George tanpa menoleh.

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    164. Runtuhnya Kekaisaran Riciteli

    Langit Milan yang biasanya kelabu kini berubah menjadi merah membara. Suara helikopter tempur Riciteli menderu, membelah keheningan malam dengan desingan rudal yang menghantam menara pengawas EXO.Ini bukan sekadar penyerbuan; ini adalah pembersihan etnis dalam dunia hitam.George Riciteli berdiri di barisan depan, memegang dua pistol emas warisan ayahnya. Ia melangkah menembus kobaran api dengan wajah yang sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Setiap tentara EXO yang mencoba menghalangi jalannya tumbang dengan satu peluru tepat di dahi. George bergerak bagaikan malaikat pencabut nyawa yang haus akan penebusan."Temukan Dante dan Henry! Jangan biarkan satu pun dari mereka bernapas!" perintah George melalui radio.Luca dan tim elite Riciteli merangsek masuk ke ruang komando. Di sana, mereka menemukan Henry Cirilo yang sedang berusaha menghancurkan tumpukan dokumen rahasia. Henry mencoba meraih senjatanya, namun Luca lebih cepat; sebuah tembakan di kaki membuat sang pimpinan EXO t

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    163. Kematian Don Lazaro Riciteli

    Rumah Sakit Riciteli, Roma – Pukul 16.00.Koridor rumah sakit yang steril itu mendadak terasa mencekam saat ponsel di saku jas George bergetar hebat. Nama 'Carlo Riciteli' berkedip di layar. George mengangkatnya, dan suara yang menyambutnya bukanlah ketenangan biasanya, melainkan raungan mesin, desing peluru, dan napas Carlo yang tersengal penuh keputusasaan."George... Napoli... Mereka menjebak kami... Kakekmu..." Suara itu terputus oleh dentuman keras.Wajah George memucat. Ia menoleh ke arah Bella yang baru saja akan melangkah masuk ke ruang operasi untuk pengangkatan alat penyadap. "Bella, aku harus pergi. Paman dan Kakek dalam bahaya besar di perbatasan. Aku akan kembali secepat mungkin!" Tanpa menunggu jawaban, George berlari kencang meninggalkan koridor, sepatu botnya bergema di atas lantai porselen.Bella berdiri mematung, menatap punggung George yang menjauh dengan firasat buruk yang mencengkeram dadanya. Saat ia berbalik untuk masuk ke ruang operasi, dua pria berpakaian pe

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    162. Cinta Adalah Racun Paling Mematikan

    Matahari Roma yang biasanya hangat kini terasa menyengat, seolah ikut membakar emosi yang meluap di dalam aula utama Kastil Riciteli. Pintu ganda berbahan kayu ek itu terbanting terbuka, menampilkan sosok George yang melangkah masuk dengan angkuh. Di sampingnya, Bella berdiri dengan seragam taktis yang masih menyisakan noda debu dan darah kering dari Brazil."George! Apa-apaan ini?!" Suara Don Lazaro menggelegar, mengguncang lampu kristal di langit-langit. Pria tua itu berdiri dengan tongkat peraknya, wajahnya merah padam. Di sudut ruangan, Jane Pabio berdiri dengan mata sembab; kecemburuannya telah berubah menjadi kebencian yang murni. Ia menatap Bella seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.George tidak berhenti. Ia terus menarik lembut tangan Bella melewati kakeknya. "Dia akan tinggal di sini. Mulai sekarang, Bella adalah tanggung jawabku," ucap George dingin, tanpa sedikit pun keraguan."Kau membawa musuh ke dalam jantung kekuasaan kita!" raung Don Lazaro. "Dia adalah Unit 002 da

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    161. Lautan Darah Di Arpoador

    Langit malam Brasil dihiasi oleh kembang api yang meledak bagaikan pecahan permata, menerangi garis Arpoador Beach yang eksotis. Di sebuah vila megah yang bertengger di atas tebing, musik bossa nova mengalun lembut, beradu dengan suara deburan ombak yang menghantam karang. Namun, di balik kemewahan pesta Sekte Mawar Berduri, udara terasa sesak oleh konspirasi dan aroma mesiu yang tersembunyi.George Riciteli berdiri di balkon utama, mengenakan setelan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Tangannya menggenggam segelas wiski, namun matanya tidak tertuju pada kerumunan sosialita yang menari di bawah sana. Ia menatap kegelapan laut, mencari sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa. Di sampingnya, Jane Pabio tampak mempesona dengan gaun merah menyala yang berani, lengannya menggelayut manja di siku George."Lihatlah mereka, George. Semua orang menunggu pengumuman itu," bisik Jane, suaranya penuh kemenangan. "Malam ini, kau akan menjadi milikku sepenuhnya di depan dun

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    160. Api Cemburu Menuju Brasil

    Semburat jingga matahari yang tenggelam di cakrawala Mediterania menyelinap masuk melalui celah balkon kamar George, menyinari sebuah kanvas yang kini menjadi pusat semesta bagi pria itu. George duduk dengan tenang, jemarinya yang biasanya akrab dengan pelatuk senjata kini menggenggam kuas dengan kelembutan yang kontradiktif. Di atas kanvas, sesosok wanita dengan mata tajam namun menyimpan luka mulai terbentuk—Bella. Lukisan itu begitu nyata, seolah-olah helai rambut hitam Bella bisa bergerak tertiup angin laut Roma.Pintu balkon terbuka perlahan. Carlo melangkah masuk, senyum tipis tersungging di wajahnya yang penuh pengalaman. Ia berhenti di belakang George, terdiam sejenak mengagumi detail lukisan itu."Kau punya bakat yang luar biasa, George. Lukisan ini seolah memiliki nyawa," Carlo berdecak kagum, memecah keheningan.George tersentak, sedikit terkejut namun segera kembali ke raut wajah acuhnya. Ia meletakkan kuasnya, melirik sekilas ke arah pamannya dengan tatapan malas. "Aku

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    82. Sang Tawanan

    "BODOOOOH!"Suara lengkingan Maxi memecah kesunyian ruang kerjanya yang luas di Markas AXIS. Tanpa peringatan, ia menarik revolver peraknya dan menodongkan moncong senjatanya ke arah barisan bodyguard yang gemetar. Bibir Maxi bergetar hebat, napasnya memburu—sebuah perpaduan antara kemarahan murni

    last updateÚltima actualización : 2026-03-28
  • DI ATAS RANJANG MAFIA    76. Rencana Baru

    "Mr. Agust Hernandez."Georgino mengeja nama itu dengan nada mengejek, matanya memicing menatap papan nama plastik yang tergantung di ujung ranjang rumah sakit. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada pria yang terbaring kaku di bawah selimut putih bersih. Pria itu mengenakan setelan rumah sakit

    last updateÚltima actualización : 2026-03-27
  • DI ATAS RANJANG MAFIA    75. Jangan Dekati Putraku

    "George!"Suara Meghan pecah, terserap oleh sunyinya hutan di sekitar Aventine Hill. Ia berlari limbung, lentera di tangannya bergoyang liar menciptakan bayangan monster di pepohonan. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit di pangkal tenggorokan. George hilang. Putranya lenyap dari kamar.

    last updateÚltima actualización : 2026-03-27
  • DI ATAS RANJANG MAFIA    74. Bertahan Hidup

    Mata Meghan terbelalak. Suara gemerincing logam dari ikat pinggang Maxi yang mulai terbuka terdengar seperti lonceng kematian baginya. Tidak. Ini tidak boleh terjadi! Dengan sisa tenaga yang masih tersisa, Meghan menghimpun seluruh amarahnya. Ia mendorong dada polos Maxi sekuat tenaga. Sentakan

    last updateÚltima actualización : 2026-03-27
Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status