로그인Masalah terbesar Kania saat ini adalah bagaimana dia bisa mengubah takdir hidupnya dalam keadaan sesulit ini.
“Anda belum boleh keluar dari rumah sakit dulu.” Terlalu nekad memang. Tubuhnya memang masih lemah, bahkan untuk berdiripun dia harus melakukan upaya keras. Dia tahu, tidak ada satu pun pelayan untuknya. Itu memang telah direncanakan. Tapi tak mengapa itu memudahkannya. Kepercayaannya sudah hancur. Saat visit dokter Asti adalah satu-satunya kesempatannya untuk bicara, tentu saja setelah mengusahakan berbagai cara agar dia bisa bicara dengan sang dokter tanpa ada orang lain. Kania merasa dokter Asti adalah satu-satunya harapannya. “Tapi saya takut.” “Takut?” “Iya saya merasa ada beberapa orang yang memperhatikan gerak-gerik saya.” Dokter wanita itu menghela napas panjang. “Itu hanya perasaan ibu saja, rumah sakit ini memiliki sistem keamanan ketat.” Sistem keamanan itu sendiri yang dia curigai sudah bekerja sama dengan penculiknya. “Saya tahu, tapi tetap saja saya takut, atau bisakah jangan bilang siapa-siapa untuk memindahkan saya di kamar lain nanti?” Tanya Kania penuh harap. Kania tahu dokter Asti pasti menganggapnya sedikit gila setelah keguguran, tapi dia tidak punya cara lain. “Kenapa anda tidak bicara dengan suami anda?” Tanya sang dokter. Kania menggeleng, dari semua orang dia sama sekali tidak percaya pada suaminya. Darma terlalu mencintai Nayla, istri keduanya dan pasti akan langsung percaya apa saja yang diucapkan wanita itu. “Maaf, dokter untuk saat ini saya belum bisa menceritakannya.” Dokter wanita itu menatap Kania lama sebelum memutuskan mengangguk. “Baiklah, saya bisa membantu anda untuk pindah ruangan diam-diam tapi untuk pulang, itu akan sangat beresiko.” “Terima kasih, dokter. Dan apa boleh saya minta satu hal lagi?” “Apa itu?” Kania berisik lirih di telinga sang dokter. “Saya mengerti.” *** Kania sengaja memesan banyak makanan dari berbagai restoran ternama. Uang bukan masalah untuknya sekarang. Suaminya pasti tidak akan keberatan membayar makanan itu, asal dia tidak menuntut perhatiannya. Kania bahkan tak keberatan jika dia dibilang matre. Mau melakukan apa saja demi uang. Nyatanya memang begitu. Uang memang tidak menjamin kebahagiaannya tapi bisa memberikan hal yang bisa membuatnya bahagia. “Masuk,” teriaknya saat untuk kesekian kalinya pintu kamarnya diketuk oleh perawat. “Ibu yakin bisa menghabiskan makanan ini?” tanya perawat yang sejak tadi bolak-balik mengantar kurir untuk memberikan makanan pesanannya. “Maaf, ya sus. Saya kalau sedang sedih suka banyak makan,” kata Kania dengan pandangan memelas. Sang perawat menghela napas dalam. “Saya mengerti, tapi makanan ini tidak baik untuk ibu yang baru saja keguguran,” katanya lembut. “Saya tahu.” Kania terdiam sejenak lalu dengan manis kembali berkata. “Apa di luar sana banyak pengunjung?” “Maaf?” “Saya ingin membelikan makanan untuk staff di sini dan juga pengunjung sekitar ruangan saya, apa anda bisa membantu?” Mata sang suster langsung berbinar, apalagi saat dia tahu kalau makanan-makanan yang dibeli Kania adalah makanan mahal dari berbagai restoran terkenal. Bukan tanpa alasan dia melakukan semuanya. Dengan banyaknya orang keluar masuk dia bisa memanfaatkan kesempatan itu. “Saya ingin makan di lobi rumah sakit, apa anda bisa membantu?” Tanya Kania saat tiga orang kurir datang secara bersamaan. “Membantu bagaimana nyonya?” “Kereta makan kalian, aku bisa masuk ke dalamnya,” kata Kania sudah memikirkan ide ini masak-masak sejak awal saat melihat kereta makan. “Baiklah, tapi kami tidak mau disalahkan oleh dokter.” “Dokter tidak akan datang, ini sudah malam.” Perlahan Kania dibantu masuk ke dalam kereta makan, dia sengaja menganti bajunya dan sedikit mengubah penampilan. Begitu suasana lobi aman, Kania perlahan masuk ke salah satu ruangan yang sudah disiapkan oleh dokter Asti. Ruang rawat kelas tiga. Ruangan yang tentu saja tidak akan pernah dilirik oleh anggota keluarga suaminya tapi sangat tepat untuknya karena banyak pasien dan mungkin saja penunggu pasien yang ada di sana. Paling tidak ada banyak orang yang bisa membantunya jika ada orang yang membawanya secara paksa. Dari kehidupannya yang lalu, Kania tahu kalau sang suami tak akan peduli padanya, bahkan sekedar untuk menanyakan kabar, meski perih tapi itu satu keuntungan untuknya saat ini. Malam itu di kamar kelas tiga, Kania sama sekali tak bisa tidur, matanya memang terpejam tapi tubuhnya tegang, dia bahkan sejak tadi menggenggam semprotan merica dari dokter Asti. Makan minum pun dia tak berani, takut ada yang meracuni makanannya. Barulah saat pagi menjelang, dia diam-diam kembali ke ruangannya semula. “Kamu benar, ada orang yang tadi malam datang kemari.” Kania menoleh dan mendapati dokter Asti sudah berdiri di belakangnya. “Ah dokter, selamat pagi,” katanya setelah berhasil menguasai kekagetannya. Dokter itu masih mengenakan baju yang dia gunakan semalam dan mata yang sayu itu menandakan kelelahan. “Dokter bertugas semalam?” Tanya Kania. “Tidak, berbaringlah, saya akan memeriksa anda,” katanya meminta Kania naik ke atas ranjang. “Anda pasti tidak tidur semalam,” gumam sang dokter. Kania hanya menunduk sambil tersenyum masam. “Jadi orang itu benar-benar datang, dokter?” Tanya Kania yang lebih mirip bisikan. Sang dokter menghela napas panjang lalu mengangguk, dia mengambil ponselnya dan menunjukkan rekaman kamar ini semalam. Tubuh Kania bergetar hebat, untung saja saat ini dia tengah duduk bersandar di kepala ranjang jadi tidak jatuh. Tidak salah lagi… dia sangat ingat… mata nyalang dan buas itu membuatnya mengingat apa yang terjadi di kehidupannya dulu. Tanpa sadar Kania mundur ketakutan. “Bu Kania anda baik-baik saja?” Tanyanya khawatir. “Sa-saya….” “Anda kenal mereka?” Tanya sang dokter lagi. Kania menatap sang dokter dengan tatapan ketakutan dan putus asa. “Tidak dokter, ta-tapi mereka pernah-” Dia tak mungkin menceritakan kalau kedua preman itu berhasil menculiknya dan melakukan kekejian di kehidupannya dulu. Bahkan di telinganya sendiri ucapannya sungguh tidak masuk akal. “Saya hanya tahu mereka sering menguntit saya,” jawab itu yang akhirnya dia ucapkan. “Kenapa anda tidak lapor polisi atau-” senyum miris di bibir Kania sudah cukup membuat dokter Asti terdiam. Kehidupan rumah tangganya memang banyak orang tahu, meski dinikahi resmi secara agama dan negara juga direstui dua istri suaminya, tapi tetap saja statusnya adalah istri ketiga sangat tidak menguntungkan. “Lalu apa yang ingin anda lakukan?” Tanya sang dokter kasihan. “Anda tak mungkin selamanya menghindar.” Kania menunduk, dia tahu latar belakang laki-laki yang menikahinya dengan jelas. Dan Nayla adalah istri kesayangannya, bukti ini belum cukup untuk menjerat wanita itu. “Saya akan menggugat cerai suami saya, dan pergi jauh bersama keluarga saya,” jawabnya meski ada sedikit keraguan dalam hatinya. Kania menganggukkan kepalanya meyakinkan diri kalau itu satu-satunya hal yang bisa dia lakukan sekarang setelah dia yakin…Nayla memang benar-benar ingin membunuhnya.“Kamu kan sudah berpengalaman hamil, dek. Bisakan nanti juga ikut merawat aku.” Nayla bersandar manja di bahu Darma, seolah Kania yang duduk di depannya itu bukan istri laki-laki itu juga. Rumah ini memang sangat besar, tapi hanya Nayla dan Kania istri Darma yang tinggal di sini. Hera, Istri pertama laki-laki itu lebih memilih tinggal di sebuah apartemen mewah di dekat kantornya, pada hari kerja Darma juga akan ada di sana dan akan kembali pulang di rumah ini hari jum’at malam. Kania tahu Hera memang bukan wanita yang dicintai Darma tapi wanita itu adalah pemegang kunci semuanya, pernikahan mereka dulu juga atas dasar perjodohan. Hera sosok wanita modern, yang tak mau ribet mengurus suami apalagi punya anak. Uang dan kepiawaian wanita itu dalam bisnis membuatnya tak tergantikan oleh dua istri Darma yang lain, bahkan bisa dihitung dengan jari Kania bertemu wanita itu. “Dek Kania kok diam saja, katakan sesuatu.” Untuk sesaat Kania menatap dua orang di depannya itu. “Na
TinggiTampan GagahDan yang pasti bau duit bisa tercium dari jarak jauh. Siapa wanita yang tidak akan tergoda dengan semua itu, apalagi orang miskin seperti dirinya yang seumur hidup bergelut dengan kekurangan.“Ini buatan anak gadis saya ini kho, tuan. Baru lulus kuliah dan sekarang bekerja sebagai Chef di hotel bintang lima.” Bulek Marni menyodorkan rantang yang dia bawa ke depan hidung Darma membuat laki-laki itu mau tak mau mengambil makanan yang ada di dalamnya. “Bagaimana enak bukan?” tanya wanita itu saat Darma baru saja mengigit makanan di tangannya. “Iya, terima kasih.” “Ini silahkan ambil lagi, kalau kurang Lyra pasti membuatkan lagi, atau tuan Darma mau makan apa lagi biar anak saya buatkan.” Kania yang baru saja keluar dari kamar hanya menggeleng pelan melihat tetangganya yang julid itu sedang mempromosikan anak gadisnya, andai saja mereka tahu…Bukan hanya bulek Min yang ada di sana tapi banyak juga ibu-ibu yang ada di depan rumahnya, tapi yang membuat heran ada
Kaburrrr!!!Katakankah Kania pengecut, dia tak berani untuk menuntut orang yang membunuh bayinya, juga yang berniat menculiknya. Akan tetapi dia bisa apa. Dia hanya wanita kampung yang dipersunting orang kaya dengan koneksi yang tidak bisa diragukan lagi. Dan seperti kata Nayla diantara dirinya dan wanita itu tentu sang suami akan lebih percaya pada Nayla. Dengan menggunakan taksi online Kania nekad pulang ke rumahnya, rumah yang dulu kumuh dan hampir roboh kini sudah menjadi bangunan dua tingkat yang mewah, bahkan tak kalah dengan rumah pejbat daerah.“Lihat, nduk gelang baru ibu bagus kan.” Baru saja Kania turun dari taksi dengan tubuh lemah, tapi ibunya segera menyambutnya dengan antusias bukan menanyakan tentang kabarnya tapi malah memamerkan perhiasan yang baru saja dia beli. “Sekarang ibu bisa beli gelang yang sama seperti punya bu lurah, dan suamimu juga beberapa hari lalu membelikan adikmu mobil.” Kania masih berdiri diam dengan wajah pias. Dia menatap wajah ibunya yang
Masalah terbesar Kania saat ini adalah bagaimana dia bisa mengubah takdir hidupnya dalam keadaan sesulit ini.“Anda belum boleh keluar dari rumah sakit dulu.” Terlalu nekad memang. Tubuhnya memang masih lemah, bahkan untuk berdiripun dia harus melakukan upaya keras. Dia tahu, tidak ada satu pun pelayan untuknya. Itu memang telah direncanakan. Tapi tak mengapa itu memudahkannya. Kepercayaannya sudah hancur. Saat visit dokter Asti adalah satu-satunya kesempatannya untuk bicara, tentu saja setelah mengusahakan berbagai cara agar dia bisa bicara dengan sang dokter tanpa ada orang lain.Kania merasa dokter Asti adalah satu-satunya harapannya.“Tapi saya takut.” “Takut?” “Iya saya merasa ada beberapa orang yang memperhatikan gerak-gerik saya.” Dokter wanita itu menghela napas panjang. “Itu hanya perasaan ibu saja, rumah sakit ini memiliki sistem keamanan ketat.” Sistem keamanan itu sendiri yang dia curigai sudah bekerja sama dengan penculiknya. “Saya tahu, tapi tetap saja saya ta
Ini kejadian seminggu yang lalu. Dia sangat yakin. Tapi kenapa sekarang kejadian ini terulang kembali.Mungkinkah dia hidup kembali?Kania menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan napas tertahan. Bau antiseptik yang menusuk hidung, suara langkah perawat, selimut putih yang terlalu bersih...Semua terasa nyata.Dia bahkan mencubit tangannya sendiri. Sakit. Jadi ini….Bukan mimpi.Tangannya gemetar saat meraba perutnya.Kempis.Ke-gu-gu-ran.Janin berusia empat bulan itu telah luruh.Air mata tak juga keluar. Mungkin sudah habis… kering… tak bersisa.Apa dia memang tidak pantas menjadi seorang ibu hingga dua kali harus melalui musibah ini?“Sejujurnya saya tidak mengerti, ibu punya suami tapi kenapa harus menggugurkan janin yang ibu kandung sampai dua kali.”Terlalu fokus pada keadaan dirinya dia lupa kalau dokter Asti ada di sini.Kania mengangkat kepalanya perlahan.Menggugurkan?“Apa maksud dokter?”Tatapan dokter Asti kali ini berbeda. Tidak ada kelembutan seperti biasany
“Lihat… tubuh mulus ini pasti perawatannya mahal.” “Goblok!!! Jangan samakan dia dengan wanita pinggir jalan yang sering kamu pakai.” “Hahhaha benar-benar, wanitanya bos besar pasti rasanya beda.” HujanDinginPengap Bau alkohol menyengat. Seharusnya dia masih ada di ranjang empuk rumah sakit, meski dengan hati luluh lantak. Tapi sekarang tak ada lagi bau khas rumah sakit sama sekali hanya ada bau apek dan lembab gedung tua ini. Kania makin meringkuk ketakutan. Tubuhnya yang baru saja keguguran terasa sakit sekali. Dia masih menggunakan baju rumah sakit, tapi… “Siapa kalian!! Pergi!!!” “Tenang cantik, kami hanya ingin menyenangkanmu sebentar.” Pandangan penuh nafsu menjijikkan itu membuat Kania makin ketakutan. Puluhan tikus dan kecoa yang tadi berkumpul di tempat ini berlari tunggang langgang mendengar tawa kedua orang itu. “Kalian ingin uang? Aku akan berikan tapi bebaskan aku!” Kedua laki-laki itu saling pandang lalu bersama-sama tertawa keras, tawa yang mungkin saja