LOGINKaburrrr!!!
Katakankah Kania pengecut, dia tak berani untuk menuntut orang yang membunuh bayinya, juga yang berniat menculiknya. Akan tetapi dia bisa apa. Dia hanya wanita kampung yang dipersunting orang kaya dengan koneksi yang tidak bisa diragukan lagi. Dan seperti kata Nayla diantara dirinya dan wanita itu tentu sang suami akan lebih percaya pada Nayla. Dengan menggunakan taksi online Kania nekad pulang ke rumahnya, rumah yang dulu kumuh dan hampir roboh kini sudah menjadi bangunan dua tingkat yang mewah, bahkan tak kalah dengan rumah pejbat daerah. “Lihat, nduk gelang baru ibu bagus kan.” Baru saja Kania turun dari taksi dengan tubuh lemah, tapi ibunya segera menyambutnya dengan antusias bukan menanyakan tentang kabarnya tapi malah memamerkan perhiasan yang baru saja dia beli. “Sekarang ibu bisa beli gelang yang sama seperti punya bu lurah, dan suamimu juga beberapa hari lalu membelikan adikmu mobil.” Kania masih berdiri diam dengan wajah pias. Dia menatap wajah ibunya yang terlihat begitu bahagia, dia tak sanggup membayangkan reaksi sang ibu jika dia mengatakan tujuannya datang kemari. Melihat Kania yang hanya diam saja sang ibu menatapnya dengan kening berkerut. “Kamu sendiri, nduk? Tidak bersama suamimu?” Kania menghela napas panjang. “Bapak dan adik-adik di mana, bu?” “Oh mereka jalan-jalan dengan mobil baru yang diberikan suamimu.” Kania tak bisa berkata-kata lagi, dia menggeleng pelan dan duduk di kursi dengan lemas. “Ibu kenapa tidak ikut?” tanya Kania tak bersemangat. “Ibu ada arisan tadi dengan ibu-ibu sekitar sini, sekalian memperlihatkan gelang emas baru ibu.” Kania makin lemas mendengar jawaban ibunya, dia tahu ibunya orang yang paling bersemangat dengan pernikahannya, apalagi dengan mahar fantastis yang diberikan calon suaminya waktu itu. Dulu jangankan ikut arisan atau membeli perhiasan sudah ada uang untuk beli beras saja mereka sudah bersyukur. “Bu, bisa telepon bapak dan yang lain untuk cepat pulang,” kata Kania lirih. “Kamu mau memberikan hadiah pada kami lagi?” tanya wanita itu dengan wajah berbinar cerah. “Terima kasih ya, nak kamu memang anak ibu yang paling berbakti,” sambungnya tanpa memberikan kesempatan pada Kania untuk menyangkal. Kania hanya diam saja saat sang ibu menghubungi adiknya untuk segera pulang, sejujurnya dia tidak tega melihat binar bahagia di mata keluarganya yang akan segera hilang jika dia menngatakan semuanya, tapi dia tak punya pilihan lain, jika mereka tak ikut pergi pasti akan turut jadi korban juga. Tak lama kemudian mereka datang mengendarai sebuah mobil yang meski tak semewah milik keluarga suaminya tapi cukup untuk membuat mata para tetangga iri dibuatnya. “Lho mbak Nia ada di sini, kangen sama kami ya.” Kavi menyalaminya setelah Kania mencium tangan ayahnya dengan takdzim. Laki-laki paruh baya itu terlihat lebih sehat dari pada terakhir kali Kania lihat. “Bapak apa kabar?” Tanya Kania setelah mereka semua duduk. “Bapak sudah lebih sehat, nduk. Terima kasih kamu dan suamimu sudah membiayai pengobatan bapak.” Kania makin gelisah dibuatnya dan hal itu tentu saja ditangkap oleh sang bapak yang lebih peka. “Kamu sendiri bagaimana kabarmu, nduk. Apa kamu bahagia?” Tanya laki-laki itu lirih. Kania rasanya ingin menangis mendengar pertanyaan itu tapi sekuat tenaga dia tahan. “Kania baru saja keguguran,” jawabnya tak kalah lirih membuat semua orang yang ada di sana terdiam. “Kok bisa, nduk. Sudah ibu bilang kamu hati-hati di sana, banyak pembantu yang bisa melayanimu.” Perkataan sang ibu itu membuat Kania menunduk, andai saja mereka tahu kalau dia bahkan diperlukan lebih buruk dari pembantu. “Maaf, bu.” “Sudah sebaikya suruh Kania istirahat dulu di kamar,” kata sang bapak menengahi tapi Kania langsung menggeleng dengan tegas. “Kania baik-baik saja, Pak.” Wanita itu menghela napas panjang dan berat sebelum mengatakan semuanya. “Kania ingin bercerai.” Hening. Tak ada suara apapun setelah Kania mengatakan tujuannya. “Kamu apa, nduk?” Tanya ibunya tajam seolah baru sadar apa yang baru saja terjadi. “Kania ingin bercerai dari mas Darma,” katanya sekali lagi sambil menunduk. “Kamu ingin keluargamu mati terhina.” Ucapan tajam sang ibu membuat Kania langsung mengangkat kepalanya “Bu.. aku sudah tak sanggup lagi.” Air matanya langsung mengalir deras, dia mengingat dengan jelas ketakutannya saat preman itu memaksanya. Tidak dia tidak ingin itu terjadi lagi. Tuhan sudah memberinya kesempatan untuk hidup kembali. “Kalau aku tetap bertahan di sana, kita semua yang akan mati.” “Nduk sebenarnya ada masalah apa? Apa keluarga suamimu menyalahkanmu karena keguguran lagi?” Tanya bapak. Kania menggigit bibirnya sebelum menjawab. “Keguguran itu kata dokter disengaja, ada orang yang ingin membunuh saya dan bayi saya.” “Lhah kenapa kamu tidak lapor pada suamimu. Dia pasti akan membereskan orang itu.” Kania tersenyum pahit. “Bagaimana jika mas Darma malah membela orang itu,” katanya pelan. “Itukan pemikiranmu sendiri, kamu belum bilang suamimu pasti, atau jangan-jangan kamu datang kemari tanpa izin suamimu,” rentetan kalimat sang ibu seolah tak terdengar di telinga Kania, tadinya dia takut akan mengecewakan mereka, kini dia yang malah kecewa dengan reaksi mereka. Apa uang sudah mengubah keluarganya? “Vi, antar mbakmu ke kamar dulu biar dia menenangkan diri.” Kania tahu saat tubuhnya dibantu sang adik untuk berdiri dan berjalan ke salah satu kamar di rumah itu, tapi seolah mati rasa, otaknya buntu. Apa memang dia salah telah lari dari masalah? “Mbak sebenarnya siapa yang ingin membunuh mbak?” Tanya pemuda itu saat mereka berdua saja di kamar. “Istri kedua suamiku,” jawab Kania tanpa basa-basi. “Nyonya Nayla?! Mana mungkin bukankah dia yang-” Kavi tak melanjutkan ucapannya saat melihat senyum miris sang kakak. “Ya sudah mbak, tidur dulu nanti kita pikirkan lagi,” kata pemuda itu lalu keluar kamar. Kania hanya menghela napas panjang. Sungguh dia tak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang, meninggalkan keluarganya di sini tentu bukan hal yang bagus. Kania begitu tenggelam dalam pikirannya sampai dia terlonjak kaget saat pintu kamarnya tiba-tiba saja diketuk. Kepala Kavi terlihat dari pintu yang sedikit terbuka. “Mas ada tuan Darma,” katanya lirih penuh kekhawatiran. Mata Kania langsung membelalak mendengar ucapan adiknya. “Kenapa di sini?!” Tanyanya panik dan gemetar membuat Kavi harus menerobos masuk dan menenangkan kakaknya. “Tenang, mbak! Tenang! Panik tidak akan ada gunanya.” “Kamu tidak mengerti, dia pasti akan-” “Ibu yang menghubunginya,” kata Kavi pasrah. Kania terduduk dengan lemas, jika tadi dia kecewa pada keluarganya sekarang dia menjadi marah. “Kamu kira aku main-main dengan nyawa kita!” “Mbak pelankan suaramu,” kata pemuda itu sambil menutup mulut sang kakak. “Kita mau lari kemana, dia pasti tahu, yang mbak lakukan adalah lebih kuat.” Kania ingin membantah ucapan adiknya, tapi dia mendengar suara keributan di luar dan mau tak mau dia harus keluar.“Kamu kan sudah berpengalaman hamil, dek. Bisakan nanti juga ikut merawat aku.” Nayla bersandar manja di bahu Darma, seolah Kania yang duduk di depannya itu bukan istri laki-laki itu juga. Rumah ini memang sangat besar, tapi hanya Nayla dan Kania istri Darma yang tinggal di sini. Hera, Istri pertama laki-laki itu lebih memilih tinggal di sebuah apartemen mewah di dekat kantornya, pada hari kerja Darma juga akan ada di sana dan akan kembali pulang di rumah ini hari jum’at malam. Kania tahu Hera memang bukan wanita yang dicintai Darma tapi wanita itu adalah pemegang kunci semuanya, pernikahan mereka dulu juga atas dasar perjodohan. Hera sosok wanita modern, yang tak mau ribet mengurus suami apalagi punya anak. Uang dan kepiawaian wanita itu dalam bisnis membuatnya tak tergantikan oleh dua istri Darma yang lain, bahkan bisa dihitung dengan jari Kania bertemu wanita itu. “Dek Kania kok diam saja, katakan sesuatu.” Untuk sesaat Kania menatap dua orang di depannya itu. “Na
TinggiTampan GagahDan yang pasti bau duit bisa tercium dari jarak jauh. Siapa wanita yang tidak akan tergoda dengan semua itu, apalagi orang miskin seperti dirinya yang seumur hidup bergelut dengan kekurangan.“Ini buatan anak gadis saya ini kho, tuan. Baru lulus kuliah dan sekarang bekerja sebagai Chef di hotel bintang lima.” Bulek Marni menyodorkan rantang yang dia bawa ke depan hidung Darma membuat laki-laki itu mau tak mau mengambil makanan yang ada di dalamnya. “Bagaimana enak bukan?” tanya wanita itu saat Darma baru saja mengigit makanan di tangannya. “Iya, terima kasih.” “Ini silahkan ambil lagi, kalau kurang Lyra pasti membuatkan lagi, atau tuan Darma mau makan apa lagi biar anak saya buatkan.” Kania yang baru saja keluar dari kamar hanya menggeleng pelan melihat tetangganya yang julid itu sedang mempromosikan anak gadisnya, andai saja mereka tahu…Bukan hanya bulek Min yang ada di sana tapi banyak juga ibu-ibu yang ada di depan rumahnya, tapi yang membuat heran ada
Kaburrrr!!!Katakankah Kania pengecut, dia tak berani untuk menuntut orang yang membunuh bayinya, juga yang berniat menculiknya. Akan tetapi dia bisa apa. Dia hanya wanita kampung yang dipersunting orang kaya dengan koneksi yang tidak bisa diragukan lagi. Dan seperti kata Nayla diantara dirinya dan wanita itu tentu sang suami akan lebih percaya pada Nayla. Dengan menggunakan taksi online Kania nekad pulang ke rumahnya, rumah yang dulu kumuh dan hampir roboh kini sudah menjadi bangunan dua tingkat yang mewah, bahkan tak kalah dengan rumah pejbat daerah.“Lihat, nduk gelang baru ibu bagus kan.” Baru saja Kania turun dari taksi dengan tubuh lemah, tapi ibunya segera menyambutnya dengan antusias bukan menanyakan tentang kabarnya tapi malah memamerkan perhiasan yang baru saja dia beli. “Sekarang ibu bisa beli gelang yang sama seperti punya bu lurah, dan suamimu juga beberapa hari lalu membelikan adikmu mobil.” Kania masih berdiri diam dengan wajah pias. Dia menatap wajah ibunya yang
Masalah terbesar Kania saat ini adalah bagaimana dia bisa mengubah takdir hidupnya dalam keadaan sesulit ini.“Anda belum boleh keluar dari rumah sakit dulu.” Terlalu nekad memang. Tubuhnya memang masih lemah, bahkan untuk berdiripun dia harus melakukan upaya keras. Dia tahu, tidak ada satu pun pelayan untuknya. Itu memang telah direncanakan. Tapi tak mengapa itu memudahkannya. Kepercayaannya sudah hancur. Saat visit dokter Asti adalah satu-satunya kesempatannya untuk bicara, tentu saja setelah mengusahakan berbagai cara agar dia bisa bicara dengan sang dokter tanpa ada orang lain.Kania merasa dokter Asti adalah satu-satunya harapannya.“Tapi saya takut.” “Takut?” “Iya saya merasa ada beberapa orang yang memperhatikan gerak-gerik saya.” Dokter wanita itu menghela napas panjang. “Itu hanya perasaan ibu saja, rumah sakit ini memiliki sistem keamanan ketat.” Sistem keamanan itu sendiri yang dia curigai sudah bekerja sama dengan penculiknya. “Saya tahu, tapi tetap saja saya ta
Ini kejadian seminggu yang lalu. Dia sangat yakin. Tapi kenapa sekarang kejadian ini terulang kembali.Mungkinkah dia hidup kembali?Kania menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan napas tertahan. Bau antiseptik yang menusuk hidung, suara langkah perawat, selimut putih yang terlalu bersih...Semua terasa nyata.Dia bahkan mencubit tangannya sendiri. Sakit. Jadi ini….Bukan mimpi.Tangannya gemetar saat meraba perutnya.Kempis.Ke-gu-gu-ran.Janin berusia empat bulan itu telah luruh.Air mata tak juga keluar. Mungkin sudah habis… kering… tak bersisa.Apa dia memang tidak pantas menjadi seorang ibu hingga dua kali harus melalui musibah ini?“Sejujurnya saya tidak mengerti, ibu punya suami tapi kenapa harus menggugurkan janin yang ibu kandung sampai dua kali.”Terlalu fokus pada keadaan dirinya dia lupa kalau dokter Asti ada di sini.Kania mengangkat kepalanya perlahan.Menggugurkan?“Apa maksud dokter?”Tatapan dokter Asti kali ini berbeda. Tidak ada kelembutan seperti biasany
“Lihat… tubuh mulus ini pasti perawatannya mahal.” “Goblok!!! Jangan samakan dia dengan wanita pinggir jalan yang sering kamu pakai.” “Hahhaha benar-benar, wanitanya bos besar pasti rasanya beda.” HujanDinginPengap Bau alkohol menyengat. Seharusnya dia masih ada di ranjang empuk rumah sakit, meski dengan hati luluh lantak. Tapi sekarang tak ada lagi bau khas rumah sakit sama sekali hanya ada bau apek dan lembab gedung tua ini. Kania makin meringkuk ketakutan. Tubuhnya yang baru saja keguguran terasa sakit sekali. Dia masih menggunakan baju rumah sakit, tapi… “Siapa kalian!! Pergi!!!” “Tenang cantik, kami hanya ingin menyenangkanmu sebentar.” Pandangan penuh nafsu menjijikkan itu membuat Kania makin ketakutan. Puluhan tikus dan kecoa yang tadi berkumpul di tempat ini berlari tunggang langgang mendengar tawa kedua orang itu. “Kalian ingin uang? Aku akan berikan tapi bebaskan aku!” Kedua laki-laki itu saling pandang lalu bersama-sama tertawa keras, tawa yang mungkin saja