MasukTinggi
Tampan Gagah Dan yang pasti bau duit bisa tercium dari jarak jauh. Siapa wanita yang tidak akan tergoda dengan semua itu, apalagi orang miskin seperti dirinya yang seumur hidup bergelut dengan kekurangan. “Ini buatan anak gadis saya ini kho, tuan. Baru lulus kuliah dan sekarang bekerja sebagai Chef di hotel bintang lima.” Bulek Marni menyodorkan rantang yang dia bawa ke depan hidung Darma membuat laki-laki itu mau tak mau mengambil makanan yang ada di dalamnya. “Bagaimana enak bukan?” tanya wanita itu saat Darma baru saja mengigit makanan di tangannya. “Iya, terima kasih.” “Ini silahkan ambil lagi, kalau kurang Lyra pasti membuatkan lagi, atau tuan Darma mau makan apa lagi biar anak saya buatkan.” Kania yang baru saja keluar dari kamar hanya menggeleng pelan melihat tetangganya yang julid itu sedang mempromosikan anak gadisnya, andai saja mereka tahu… Bukan hanya bulek Min yang ada di sana tapi banyak juga ibu-ibu yang ada di depan rumahnya, tapi yang membuat heran adalah tetangganya yang janda tua dan tak punya anak gadis juga ada di sana. Memangnya mereka juga mau menjadi istri Darma? “Mbak baik-baik saja?” Pertanyaan Kavi yang sejak tadi berdiri diam di belakangnya membuat Kania tersentak. “Seperti katamu, aku harus kuat,” jawab Kania sambil berusaha tetap tersenyum pada sang adik yang menatapnya dengan khawatir. “Mbak nggak cemburu?” “Eh? Untuk apa?” “Mbak pernah sangat cinta mas Darma… dulu….” Kata terakhir itu dia ucapkan dengan begitu lirih hampir tak terdengar. Kania tak akan lupa itu, dia yang terbuai oleh pesona Darma dan mengira laki-laki itu benar-benar mencintainya. Wanita desa yang polos cenderung bodoh. Itulah yang biasa dia dengar dikatakan orang-orang dikediaman suaminya untuk dirinya. Dia tidak bisa menyangkal karena itu memang kebenaran yang tidak bisa dia bantah. “Maaf ya ibu-ibu, acara bagi-baginya sudah dulu, menantu saya mau istirahat dulu.” Kania menggigit bibirnya saat sang suami menoleh padanya dengan pandangan mata lembut yang dulu membuatnya terbuai, pandangan mata yang biasa dia berikan untuk Nayla jika ada di rumah besar itu. “Dek Kania,” katanya sambil tersenyum dan berjalan mendekatinya. “Aku kira mas sibuk, kenapa menyusul kemari?” tanyanya. Jika memang dia tak bisa lari, dia harus bisa bertahan. “Mas memang sibuk tapi tentu saja tak bisa mengabaikan istri-istri mas.” “Ayo duduk dulu, nak.” kata sang ibu dengan keramahan yang berlebihan. “Ada apa?” Tanya Darma saat Kania terjengkit kaget saat tangan laki-laki itu merangkul pinggangnya. Luka trauma itu ternyata masih membekas erat, itu karena dia ingat dengan tangan-tangan kasar yang dengan lancang menyentuh tubuhnya. “Ehmmm… tidak hanya kaget saja,” jawab Kania berusaha menutupi rasa gugupnya. “Tuan Darma sudah ada di sini, bu. Sebaiknya kita biarkan mereka bicara.” Kania hanya mampu menghela napas saat kedua orang tuanya meninggalkan mereka berdua, bahkan Kavi yang ingin tetap disana langsung di tarik bapaknya. “Kenapa tidak bilang kalau mau pulang ke rumah orang tuamu, dek?” Tanya laki-laki itu begitu mereka hanya berdua saja, nada suaranya sedikit ditekan. Kania tahu laki-laki ini marah dengan apa yang dia lakukan. “Aku hanya kangen bapak dan ibu.” “Kangen? Lalu kenapa tidak mengabariku.” Memangnya suaminya akan peduli kalau dia bilang merindukan orang tuanya, setidaknya dia butuh dukungan setelah kehilangan yang kembali menimpanya. Kania hanya wanita biasa dia juga ingin bersandar saat tertimpa kemalangan, karena suami yang dia harapkan untuk menghiburnya bahkan bertingkah seperti orang asing. Tak ada pelukan, apalagi kata-kata penyemangat. Kania tahu di rumah itu dia memang sendiri, meski statusnya adalah wanita bersuami. “Mas pasti sibuk, aku tidak ingin mengganggu waktu mas.” “Kamua ingin memperlihatkan pada semua orang aku tidak bisa menjaga istri-istriku.” Memang benar bukan. “Mas aku hanya pulang ke rumah orang tuaku kenapa jadi panjang.” “Ibumu bilang padaku kamu ingin bercerai dariku.” Kania yang sejak tadi menunduk langsung mendongak, inikah alasan sang suami yang tidak pernah punya waktu untuknya buru-buru datang? “Aku hanya merasa tak pantas menjadi istri, mas. Aku sudah beberapa kali keguguran,” kata Kania lalu menunduk lagi. “Itu hanya karena kamu kurang hati-hati, lain kali pasti tidak akan keguguran lagi.” Hampir saja Kania kelepasan mengumpat karena tak ada nada sedih dan terluka dari sang suami, padahal anak yang dia kandung adalah darah dagingnya. Kania terssenyum miris, hatinya sungguh sakit meski dia tahu laki-laki ini tak pernah benar-benar menginginkannya. “Kenapa mas yakin?” tanya Kania curiga. “Tentu saja karena lain kali mas akan meminta dokter mengawasimu dua puluh empat jam.” “Hahahaha…” Kania langsung menutup mulutnya, begitu dia sadar sang suami menatapnya dengan tak suka. “Kenapa kamu tertawa?” “Tidak mas, maaf hanya saja itu akan sulit.” “Apa maksudmu?” “Mas tidak lupa bukan apa pekerjaanku di rumah mas.” Seolah baru saja ditampar laki-laki itu menatap Kania dengan marah. “Apa menjadi istriku membuatmu manja dan tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah.” Andai saja ini hanya soal memasak dan membersihkan rumah tentu Kania sangat tidak keberatan, tapi yang membuatnya sakit hati adalah cara menatap mereka yang membuatnya seperti hama. “BIsa juga begitu, apalagi kalau banyak yang tahu mereka pasti memujiku sebagai istri idaman,” kata Kania lembut tapi mampu membuat sang suami menatapnya marah. “Kamu mengancamku?!” “Maaf, mas. Bukan itu maksudku, aku hanya tidak ingin keguguran lagi.” Ucapan penuh penyesalan Kania berhasil meredam amarah laki-laki itu, tidak ada gunanya melawan, dia yang akan hancur akhirnya. “Sudahlah, lain kali aku akan memperlakukanmu dengan baik, sekarang kita harus pulang.” “Pulang?” kata itu rasanya begitu asing diucapkan sang suami untuknya, karena dia tidak pernah merasa rumah besar itu adalah tempat pulang baginya. “Bisakah aku tetap di sini beberapa hari lagi?” “Tidak, Dek. Besok akan ada pesta di rumah dan sebagai istriku kamu harus ada di sana.” “Pesta?” “Ah iya, kamu pasti belum mendengar berita bahagia ini, dek Nayla hamil dan tentu saja kita semua harus merayakannya.” Kania tersenyum masam, tiga kali hamil, jangankan disambut dengan pesta dia mendapat perlakuan lebih baik saja tidak. “Oh bilang saja aku tidak bisa hadir karena baru saja keguguran,” jawab Kania seenaknya. “Kamu mau membuat semua orang salah paham.” Kania mengangkat alisnya tak mengerti dengan ucapan sang suami. “Salah paham bagaimana?” “Mereka akan bilang dik Nayla tidak berempati padamu yang baru saja kehilangan anak.” Kania ingin tertawa mendengar jawaban laki-laki di depannya, bukankah memang begitu. “Aku sudah membagi-bagikan uang pada tetangga di sini juga orang tuamu, ah ya…ini.” Laki-laki itu mengeluarkan sebuah kartu bank brwarna hitam. “Kamu bebas membeli apa saja dengan ini.” Suaminya ternyata menilainya tak lebih dari wanita matrealistis. “Baik, terima kasih,” katanya mengambil kartu itu, dia akan mewujudkan apapun pemikiran suaminya.“Kamu kan sudah berpengalaman hamil, dek. Bisakan nanti juga ikut merawat aku.” Nayla bersandar manja di bahu Darma, seolah Kania yang duduk di depannya itu bukan istri laki-laki itu juga. Rumah ini memang sangat besar, tapi hanya Nayla dan Kania istri Darma yang tinggal di sini. Hera, Istri pertama laki-laki itu lebih memilih tinggal di sebuah apartemen mewah di dekat kantornya, pada hari kerja Darma juga akan ada di sana dan akan kembali pulang di rumah ini hari jum’at malam. Kania tahu Hera memang bukan wanita yang dicintai Darma tapi wanita itu adalah pemegang kunci semuanya, pernikahan mereka dulu juga atas dasar perjodohan. Hera sosok wanita modern, yang tak mau ribet mengurus suami apalagi punya anak. Uang dan kepiawaian wanita itu dalam bisnis membuatnya tak tergantikan oleh dua istri Darma yang lain, bahkan bisa dihitung dengan jari Kania bertemu wanita itu. “Dek Kania kok diam saja, katakan sesuatu.” Untuk sesaat Kania menatap dua orang di depannya itu. “Na
TinggiTampan GagahDan yang pasti bau duit bisa tercium dari jarak jauh. Siapa wanita yang tidak akan tergoda dengan semua itu, apalagi orang miskin seperti dirinya yang seumur hidup bergelut dengan kekurangan.“Ini buatan anak gadis saya ini kho, tuan. Baru lulus kuliah dan sekarang bekerja sebagai Chef di hotel bintang lima.” Bulek Marni menyodorkan rantang yang dia bawa ke depan hidung Darma membuat laki-laki itu mau tak mau mengambil makanan yang ada di dalamnya. “Bagaimana enak bukan?” tanya wanita itu saat Darma baru saja mengigit makanan di tangannya. “Iya, terima kasih.” “Ini silahkan ambil lagi, kalau kurang Lyra pasti membuatkan lagi, atau tuan Darma mau makan apa lagi biar anak saya buatkan.” Kania yang baru saja keluar dari kamar hanya menggeleng pelan melihat tetangganya yang julid itu sedang mempromosikan anak gadisnya, andai saja mereka tahu…Bukan hanya bulek Min yang ada di sana tapi banyak juga ibu-ibu yang ada di depan rumahnya, tapi yang membuat heran ada
Kaburrrr!!!Katakankah Kania pengecut, dia tak berani untuk menuntut orang yang membunuh bayinya, juga yang berniat menculiknya. Akan tetapi dia bisa apa. Dia hanya wanita kampung yang dipersunting orang kaya dengan koneksi yang tidak bisa diragukan lagi. Dan seperti kata Nayla diantara dirinya dan wanita itu tentu sang suami akan lebih percaya pada Nayla. Dengan menggunakan taksi online Kania nekad pulang ke rumahnya, rumah yang dulu kumuh dan hampir roboh kini sudah menjadi bangunan dua tingkat yang mewah, bahkan tak kalah dengan rumah pejbat daerah.“Lihat, nduk gelang baru ibu bagus kan.” Baru saja Kania turun dari taksi dengan tubuh lemah, tapi ibunya segera menyambutnya dengan antusias bukan menanyakan tentang kabarnya tapi malah memamerkan perhiasan yang baru saja dia beli. “Sekarang ibu bisa beli gelang yang sama seperti punya bu lurah, dan suamimu juga beberapa hari lalu membelikan adikmu mobil.” Kania masih berdiri diam dengan wajah pias. Dia menatap wajah ibunya yang
Masalah terbesar Kania saat ini adalah bagaimana dia bisa mengubah takdir hidupnya dalam keadaan sesulit ini.“Anda belum boleh keluar dari rumah sakit dulu.” Terlalu nekad memang. Tubuhnya memang masih lemah, bahkan untuk berdiripun dia harus melakukan upaya keras. Dia tahu, tidak ada satu pun pelayan untuknya. Itu memang telah direncanakan. Tapi tak mengapa itu memudahkannya. Kepercayaannya sudah hancur. Saat visit dokter Asti adalah satu-satunya kesempatannya untuk bicara, tentu saja setelah mengusahakan berbagai cara agar dia bisa bicara dengan sang dokter tanpa ada orang lain.Kania merasa dokter Asti adalah satu-satunya harapannya.“Tapi saya takut.” “Takut?” “Iya saya merasa ada beberapa orang yang memperhatikan gerak-gerik saya.” Dokter wanita itu menghela napas panjang. “Itu hanya perasaan ibu saja, rumah sakit ini memiliki sistem keamanan ketat.” Sistem keamanan itu sendiri yang dia curigai sudah bekerja sama dengan penculiknya. “Saya tahu, tapi tetap saja saya ta
Ini kejadian seminggu yang lalu. Dia sangat yakin. Tapi kenapa sekarang kejadian ini terulang kembali.Mungkinkah dia hidup kembali?Kania menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan napas tertahan. Bau antiseptik yang menusuk hidung, suara langkah perawat, selimut putih yang terlalu bersih...Semua terasa nyata.Dia bahkan mencubit tangannya sendiri. Sakit. Jadi ini….Bukan mimpi.Tangannya gemetar saat meraba perutnya.Kempis.Ke-gu-gu-ran.Janin berusia empat bulan itu telah luruh.Air mata tak juga keluar. Mungkin sudah habis… kering… tak bersisa.Apa dia memang tidak pantas menjadi seorang ibu hingga dua kali harus melalui musibah ini?“Sejujurnya saya tidak mengerti, ibu punya suami tapi kenapa harus menggugurkan janin yang ibu kandung sampai dua kali.”Terlalu fokus pada keadaan dirinya dia lupa kalau dokter Asti ada di sini.Kania mengangkat kepalanya perlahan.Menggugurkan?“Apa maksud dokter?”Tatapan dokter Asti kali ini berbeda. Tidak ada kelembutan seperti biasany
“Lihat… tubuh mulus ini pasti perawatannya mahal.” “Goblok!!! Jangan samakan dia dengan wanita pinggir jalan yang sering kamu pakai.” “Hahhaha benar-benar, wanitanya bos besar pasti rasanya beda.” HujanDinginPengap Bau alkohol menyengat. Seharusnya dia masih ada di ranjang empuk rumah sakit, meski dengan hati luluh lantak. Tapi sekarang tak ada lagi bau khas rumah sakit sama sekali hanya ada bau apek dan lembab gedung tua ini. Kania makin meringkuk ketakutan. Tubuhnya yang baru saja keguguran terasa sakit sekali. Dia masih menggunakan baju rumah sakit, tapi… “Siapa kalian!! Pergi!!!” “Tenang cantik, kami hanya ingin menyenangkanmu sebentar.” Pandangan penuh nafsu menjijikkan itu membuat Kania makin ketakutan. Puluhan tikus dan kecoa yang tadi berkumpul di tempat ini berlari tunggang langgang mendengar tawa kedua orang itu. “Kalian ingin uang? Aku akan berikan tapi bebaskan aku!” Kedua laki-laki itu saling pandang lalu bersama-sama tertawa keras, tawa yang mungkin saja