Masuk“Kamu kan sudah berpengalaman hamil, dek. Bisakan nanti juga ikut merawat aku.”
Nayla bersandar manja di bahu Darma, seolah Kania yang duduk di depannya itu bukan istri laki-laki itu juga. Rumah ini memang sangat besar, tapi hanya Nayla dan Kania istri Darma yang tinggal di sini. Hera, Istri pertama laki-laki itu lebih memilih tinggal di sebuah apartemen mewah di dekat kantornya, pada hari kerja Darma juga akan ada di sana dan akan kembali pulang di rumah ini hari jum’at malam. Kania tahu Hera memang bukan wanita yang dicintai Darma tapi wanita itu adalah pemegang kunci semuanya, pernikahan mereka dulu juga atas dasar perjodohan. Hera sosok wanita modern, yang tak mau ribet mengurus suami apalagi punya anak. Uang dan kepiawaian wanita itu dalam bisnis membuatnya tak tergantikan oleh dua istri Darma yang lain, bahkan bisa dihitung dengan jari Kania bertemu wanita itu. “Dek Kania kok diam saja, katakan sesuatu.” Untuk sesaat Kania menatap dua orang di depannya itu. “Nanti kita cari dokter atau perawat yang lebih kompeten, dek. Kania masih dalam masa pemulihan.” Ini untuk pertama kalinya sang suami membelanya, tapi bukannya tersanjung Kania malah makin curiga. Sebelumnya jangankan membela, Darma malah menganggap Kania tak kasat mata jika sedang bersama istri keduanya itu. Istilah pembantu untuk menghasilkan anak yang pernah dia dengar dari salah satu pembantu memang tepat untuknya. “Tapi dokter dan perawat waktunya sangat terbatas, lagi pula aku akan lebih nyaman kalau dirawat dek Kania.” Laki-laki itu menghela napas panjang lalu menatap Kania seolah berkata untuk mengiyakan perkataan wanita itu, tapi Kania hanya tersenyum. “Apa mbak Nayla mau keguguran seperti saya?” Tanyanya tenang tapi membuat kedua orang itu langsung melotot. “Jaga ucapanmu! Tidak pantas kamu-” “Lho saya hanya mengatakan fakta, mas dan mbak juga tahu saya sudah dua kali keguguran saat hamil.” “Itu karena kesalahanmu sendiri yang tidak hati-hati!” Kania tersenyum melihat wajah marah suaminya. “Mas jangan terlalu kasar, dek Kania pasti masih sedih karena itu dia…” Nayla pura-pura menangis tapi di mata Kania, itu hanya tawa terselubung wanita yang telah berhasil menghancurkannya. “Sudahlah, jangan terlalu terbawa emosi ingat kandunganmu.” laki-laki itu menghela napas panjang dan menatap Kania dengan pandangan penuh ancaman. Kali ini Kania tersenyum, meski hatinya perih tapi dia sudah belajar untuk mematikan rasa apapun yang ada, keberadaannya di sini untuk membalas apa yang telah dilakukan Nayla, dua orang bayinya tidak boleh mati sia-sia. Sayang sekali sejujurnya dia bukan orang yang pendendam, bahkan dia juga sudah berusaha pergi dari tempat ini dan membiarkan mereka hidup bahagia bersama, tapi sepertinya ambisi untuk menindasnya tak pernah surut kodari kedua orang ini. “Baiklah kalau mbak Nayla menginginkan begitu.” “Kamu yakin Kania?” Kania mengangguk sambil tersenyum. “Merawat dek Nayla yang sedang hamil juga keberuntunganmu, dek. Siapa tahu setelah ini kamu juga bisa hamil lagi dan anak kita bisa lahir dengan selamat.” Kania hanya mengangguk mendengar ucapan panjang lebar sang suami meski dia merasa beberapa kalimat laki-laki itu ada yang aneh tapi dia berusaha fokus pada tujuannya. “Aku mengerti, mas.” “Kamu memang adik maduku yang paling baik, dek,” kata Nayla bahagia. Kania tersenyum sangat manis sekali tapi kalimatnya mampu membuat wanita itu kehilangan senyumnya. “Lho memangnya selain aku, mbak punya adik madu lagi? Mas Darma mau menikah lagi?” Tanyanya sok polos. “Kania!!” “Mas Darma tak mungkin menikah lagi tanpa izinku, dek.” Kania hanya mengangguk singkat lalu berdiri dari duduknya. “Aku capek mas, mbak mau balik dulu ke kamar,” katanya tanpa peduli dua orang itu yang terlihat kesal padanya. Wanita itu berjalan cepat ke kamar belakang yang selama ini dia tempati, meski berstatus sebagai istri sah juga tapi kamarnya bahkan tak lebih luas dari kamar pembantu, tapi Kania tak mengeluh soal kamar ini, dia malah lebih suka kamarnya yang terpisah dari kamar utama jauh dari orang-orang yang akan membuatnya sakit hati. “Mbak Kania sudah pulang dari rumah sakit, syukurlah piring di belakang sudah menunmpuk.” Baru saja akan masuk ke dalam kamar, suara kepala pelayan mencegahnya. Kania menoleh sejenak. “Oh silahkan cuci, bi. Itu pekerjaan bibi bukan,” katanya melanjutkan langkah ke dalam kamar, mulai sekarang dia tidak akan hidup seperti dulu lagi… untuk apa? dia juga nyonya rumah bukan pembantu. Baru saja Kania merebahkan tubuhnya, suara ketukan kembali terdengar. “Mbak!! Mbak Kania!! Jangan menatang-mentang baru saja keluar dari rumah sakit sudah bertingkah, nyonya tak akan suka-” Kania menutup telinganya dan langsung memejamkan matanya. Tubuhnya yang masih lemah langsung tertidur lelap, dia bangun dengan tubuh lebih segar dan pikiran jernih. Perlahan dia bangun dan membuka pintu kamarnya, sejenak dia menoleh pada jam dinding, sebentar lagi makan malam dan dia sama sekali tidak menyiapkan apapun seperti biasa. “Kania.” Kania terkejut saat mertuanya ada di sana, membantu para pembantu menyiapkan makan malam. “Ibu ada di sini,” katanya menghampiri wanita itu dan menyalami tangannya dengan sopan, meski selama ini wanita ini membelanya tapi Kania tidak yakin setelah dia keguguran dan Nayla hamil hal itu akan berlangsung lama. “Maaf ya, ibu kemarin tidak bisa menjengukmu lagi di rumah sakit.” “Tidak apa-apa, bu. Saya sudah baik-baik saja.” “Syukurlah kalau begitu, sebaiknya kamu istirahat saja biar nanti bibi yang mengantarkan makanan ke kamarmu.” “Ah, saya baik-baik saja, bu. Lagi pula kamar saya dekat tak ingin merepotkan bibi yang punya banyak pekerjaan.,” katanya sambil menunjuk kamar yang baru saja dia tinggalkan. “Itu kamarmu?” tanyanya dengan tidak percaya. “Kenapa kamu tidur di sana? Kamu nyonya rumah ini bukan pembantu.” “Oh itu… saya-” kata Kania memakai kembali topengnya, gadis desa polos yang mudah ditindas. Semua pembantu termasuk kepala pembantu langsung menunduk. “Bi, jawab!!! Kenapa Kania ada di kamar itu?” Bibi kepala mengangkat kepala dan dengan tak yakin mengatakan. “Mbak Kania suka dengan kamar itu, dia kan berasal dari desa jadi suka kamar yang dekat-” “Sejak awal aku tidak setuju dengan panggilan mbak untuk Kania, dia ini nyonya rumah sama dengan Nayla.” “Ayo ikut aku,” katanya menarik tangan Kania. Kania sedikit khawatir, sejujurnya dia tidak ingin tidur di kamar utama di samping kamar yang ditempati Nayla dan suaminya, selama ini jika sang suami menginginkannya dia akan datang ke kamar Kania setelah itu kembali ke kamar Nayla. Tiga tahun dia menikah belum pernah sekalipun dia tidur seranjang dengan suaminya. “Darma kamu sudah kekurangan uang sampai istrimu- astaga apa kalian tidak punya malu!!!” Kania hanya bisa memejamkan matanya saat dua orang itu sedang berciuman di ruang tengah.“Kamu kan sudah berpengalaman hamil, dek. Bisakan nanti juga ikut merawat aku.” Nayla bersandar manja di bahu Darma, seolah Kania yang duduk di depannya itu bukan istri laki-laki itu juga. Rumah ini memang sangat besar, tapi hanya Nayla dan Kania istri Darma yang tinggal di sini. Hera, Istri pertama laki-laki itu lebih memilih tinggal di sebuah apartemen mewah di dekat kantornya, pada hari kerja Darma juga akan ada di sana dan akan kembali pulang di rumah ini hari jum’at malam. Kania tahu Hera memang bukan wanita yang dicintai Darma tapi wanita itu adalah pemegang kunci semuanya, pernikahan mereka dulu juga atas dasar perjodohan. Hera sosok wanita modern, yang tak mau ribet mengurus suami apalagi punya anak. Uang dan kepiawaian wanita itu dalam bisnis membuatnya tak tergantikan oleh dua istri Darma yang lain, bahkan bisa dihitung dengan jari Kania bertemu wanita itu. “Dek Kania kok diam saja, katakan sesuatu.” Untuk sesaat Kania menatap dua orang di depannya itu. “Na
TinggiTampan GagahDan yang pasti bau duit bisa tercium dari jarak jauh. Siapa wanita yang tidak akan tergoda dengan semua itu, apalagi orang miskin seperti dirinya yang seumur hidup bergelut dengan kekurangan.“Ini buatan anak gadis saya ini kho, tuan. Baru lulus kuliah dan sekarang bekerja sebagai Chef di hotel bintang lima.” Bulek Marni menyodorkan rantang yang dia bawa ke depan hidung Darma membuat laki-laki itu mau tak mau mengambil makanan yang ada di dalamnya. “Bagaimana enak bukan?” tanya wanita itu saat Darma baru saja mengigit makanan di tangannya. “Iya, terima kasih.” “Ini silahkan ambil lagi, kalau kurang Lyra pasti membuatkan lagi, atau tuan Darma mau makan apa lagi biar anak saya buatkan.” Kania yang baru saja keluar dari kamar hanya menggeleng pelan melihat tetangganya yang julid itu sedang mempromosikan anak gadisnya, andai saja mereka tahu…Bukan hanya bulek Min yang ada di sana tapi banyak juga ibu-ibu yang ada di depan rumahnya, tapi yang membuat heran ada
Kaburrrr!!!Katakankah Kania pengecut, dia tak berani untuk menuntut orang yang membunuh bayinya, juga yang berniat menculiknya. Akan tetapi dia bisa apa. Dia hanya wanita kampung yang dipersunting orang kaya dengan koneksi yang tidak bisa diragukan lagi. Dan seperti kata Nayla diantara dirinya dan wanita itu tentu sang suami akan lebih percaya pada Nayla. Dengan menggunakan taksi online Kania nekad pulang ke rumahnya, rumah yang dulu kumuh dan hampir roboh kini sudah menjadi bangunan dua tingkat yang mewah, bahkan tak kalah dengan rumah pejbat daerah.“Lihat, nduk gelang baru ibu bagus kan.” Baru saja Kania turun dari taksi dengan tubuh lemah, tapi ibunya segera menyambutnya dengan antusias bukan menanyakan tentang kabarnya tapi malah memamerkan perhiasan yang baru saja dia beli. “Sekarang ibu bisa beli gelang yang sama seperti punya bu lurah, dan suamimu juga beberapa hari lalu membelikan adikmu mobil.” Kania masih berdiri diam dengan wajah pias. Dia menatap wajah ibunya yang
Masalah terbesar Kania saat ini adalah bagaimana dia bisa mengubah takdir hidupnya dalam keadaan sesulit ini.“Anda belum boleh keluar dari rumah sakit dulu.” Terlalu nekad memang. Tubuhnya memang masih lemah, bahkan untuk berdiripun dia harus melakukan upaya keras. Dia tahu, tidak ada satu pun pelayan untuknya. Itu memang telah direncanakan. Tapi tak mengapa itu memudahkannya. Kepercayaannya sudah hancur. Saat visit dokter Asti adalah satu-satunya kesempatannya untuk bicara, tentu saja setelah mengusahakan berbagai cara agar dia bisa bicara dengan sang dokter tanpa ada orang lain.Kania merasa dokter Asti adalah satu-satunya harapannya.“Tapi saya takut.” “Takut?” “Iya saya merasa ada beberapa orang yang memperhatikan gerak-gerik saya.” Dokter wanita itu menghela napas panjang. “Itu hanya perasaan ibu saja, rumah sakit ini memiliki sistem keamanan ketat.” Sistem keamanan itu sendiri yang dia curigai sudah bekerja sama dengan penculiknya. “Saya tahu, tapi tetap saja saya ta
Ini kejadian seminggu yang lalu. Dia sangat yakin. Tapi kenapa sekarang kejadian ini terulang kembali.Mungkinkah dia hidup kembali?Kania menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan napas tertahan. Bau antiseptik yang menusuk hidung, suara langkah perawat, selimut putih yang terlalu bersih...Semua terasa nyata.Dia bahkan mencubit tangannya sendiri. Sakit. Jadi ini….Bukan mimpi.Tangannya gemetar saat meraba perutnya.Kempis.Ke-gu-gu-ran.Janin berusia empat bulan itu telah luruh.Air mata tak juga keluar. Mungkin sudah habis… kering… tak bersisa.Apa dia memang tidak pantas menjadi seorang ibu hingga dua kali harus melalui musibah ini?“Sejujurnya saya tidak mengerti, ibu punya suami tapi kenapa harus menggugurkan janin yang ibu kandung sampai dua kali.”Terlalu fokus pada keadaan dirinya dia lupa kalau dokter Asti ada di sini.Kania mengangkat kepalanya perlahan.Menggugurkan?“Apa maksud dokter?”Tatapan dokter Asti kali ini berbeda. Tidak ada kelembutan seperti biasany
“Lihat… tubuh mulus ini pasti perawatannya mahal.” “Goblok!!! Jangan samakan dia dengan wanita pinggir jalan yang sering kamu pakai.” “Hahhaha benar-benar, wanitanya bos besar pasti rasanya beda.” HujanDinginPengap Bau alkohol menyengat. Seharusnya dia masih ada di ranjang empuk rumah sakit, meski dengan hati luluh lantak. Tapi sekarang tak ada lagi bau khas rumah sakit sama sekali hanya ada bau apek dan lembab gedung tua ini. Kania makin meringkuk ketakutan. Tubuhnya yang baru saja keguguran terasa sakit sekali. Dia masih menggunakan baju rumah sakit, tapi… “Siapa kalian!! Pergi!!!” “Tenang cantik, kami hanya ingin menyenangkanmu sebentar.” Pandangan penuh nafsu menjijikkan itu membuat Kania makin ketakutan. Puluhan tikus dan kecoa yang tadi berkumpul di tempat ini berlari tunggang langgang mendengar tawa kedua orang itu. “Kalian ingin uang? Aku akan berikan tapi bebaskan aku!” Kedua laki-laki itu saling pandang lalu bersama-sama tertawa keras, tawa yang mungkin saja