Mag-log inByurrrr
Nindya terbangun dari tidurnya saat ia merasakan guyuran air di tubuhnya, ia langsung duduk dengan mengusap wajahnya yang terkena air, ia mendongak dan menemukan Arga dengan memegang sebuah ember di tangannya. "Buatkan aku sarapan" perintah Arga dengan wajah dinginnya, setelah itu ia meninggalkan Nindya begitu saja tanpa berkata apapun lagi. Dengan badan yang masih terasa sakit, Nindya perlahan bangun dari tidurnya, kakinya melangkah untuk keluar gudang itu. Tapi tunggu, Nindya sadar akan sesuatu. "Astaga, aku tidak punya baju, bagaimana ini?" Nindya menggigit bibir bawahnya, bingung dengan keadaan. "Huh, tidak mungkin aku masak dalam keadaan begini? Astaga Nindya, seharusnya kau membawa pakaianmu semalam.." Ya Nindya ingat bahwa setelah resepsi pernikahannya selesai ia langsung dibawa oleh Arga ke rumah pemberian mertuanya ini, tanpa kembali ke rumah untuk mengambil pakaiannya lagi. Mata Nindya melilau ke sekitar, ia mencari sesuatu yang bisa ia gunakan. Tapi tunggu, mata Nindya menangkap sesuatu. Ia langsung mengambil sebuah kemeja yang dilipat di dekatnya tertidur tadi. Itu kemeja putih yang kebesaran dengan celana pendek. Huh, kenapa bisa ada di sini? Apa Arga? Nindya menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin dia yang memberikan nya. Tapi jika bukan dia siapa?" Nindya diam berpikir sampai dia ingat akan satu hal. "Ah aku harus membuatkan nya sarapan!" . . . . . Dengan bahan seadanya, Nindya akhirnya membuatkan sarapan nasi goreng dengan telur gulung, ia menyusunnya di meja makan setelah itu semua siap. Tidak lupa ia membuatkan segelas susu hangat untuk Arga. Ya seperti yang dibilang oleh mertuanya, berikan susu hangat untuk Arga di pagi hari dan malam hari. Harus susu bubuk! Nindya tidak tau kenapa, tapi kata ayah mertuanya agar Arga tumbuh tinggi. Heol, memangnya itu masih bisa? "Huh, kau sudah selesai.." ucap Arga yang baru saja sampai, ia sudah nampak rapi dengan setelan jas dan dasinya. Jujur, ia terlihat sangat tampan. Tapi, tidak dengan perlakuan pria itu. Tanpa banyak bicara lagi, Arga langsung duduk di kursi meja makan itu. "Mau apa kau?" Tanya Arga saat melihat Nindya ingin duduk. "A-aku ingin sarapan.." jawab Nindya gugup. "Duduk di lantai.." perintah Arga yang membuat Nindya heran. "Aku bilang duduk di lantai!" Bentak Arga kemudian. "B-baiklah.." dengan perasaan pasrah, Nindya kemudian mengikuti kemauan Arga. Ia duduk bersila dan menunggu apa yang akan dilakukan Arga selanjutnya... Tanpa disangka, Arga mengambil nasi goreng dan meletakkannya di lantai, tentu hal itu membuat Nindya bingung, apa maksud Arga? "Makan.." suruh Arga dengan wajah datarnya. "T-tapi Arga, kenapa tidak memakai piring?" Tanya Nindya bingung. Hey, ini sangat tidak manusiawi! Nasi yang diberikan Arga dan menyuruh Nindya memakannya diletakan begitu saja di lantai, takpa wadah apapun. Ingat, diatas lantai! "Ini rumahku, kau hanya numpang, jadi ikuti saja perkataanku." Kemudian Nindya tidak menjawab, ah iya. Diberi tumpangan dan dibolehkan makan saja Nindya seharusnya sudah bersyukur. Dengan berderai air mata, Nindya pun mengikuti seperti apa yang diperintahkan Arga. Arga yang melihat itu hanya tersenyum sinis. "Ini namanya sebuah permainan" batin Arga lalu memulai memakan sarapan yang dibuatkan Nindya, tanpa ia sadari, permainan yang dimaksud adalah permainan yang akan menjebak dirinya sendiri. Seperti saat ini, tanpa Arga sadari masakan Nindya adalah hal favoritnya. Dan tidakkah ia berpikir akan kehilangan masakan favoritnya jika sampai Nindya benar-benar meninggalkan nanti? Apakah Arga berpikir akan hal itu? Entahlah, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah membuat Nindya menyesal. Tanpa memikirkan penyesalan di kemudian hari. Hey, Arga bisa memasak, bahkan ia bisa membeli makanan di luar, atau tidak akan memakan masakan Nindya dengan lahap seperti sekarang dan malah membuangnya, tapi ia terlalu ego untuk mengakui jika masakan Nindya terlalu berharga untuk dibuang ke tempat sampah. --- Setelah ditinggal oleh Arga bekerja, saat ini Nindya membersihkan gudang yang sudah menjadi tempat tidurnya sekarang. Gudang ini jika dibersihkan tidak terlalu buruk juga, tidak semenyeramkan semalam. "Selesai!" Teriak Nindya senang, ia tersenyum menatap gudang yang sudah bersih itu, terdapat sofa dan lemari bekas di sana yang masih terlihat sangat bagus dan kokoh. Ya Nindya bisa menggunakan itu untuk pakaiannya kan? Yang kurang saat ini adalah kasur dan selimut. Mungkin Nindya harus bekerja untuk mendapatkan itu semua. Ting tong Suara bel yang menandakan ada tamu yang datang mencuri perhatian Nindya. "Sepertinya ada yang datang.." ucap Nindya lalu mempercepat langkahnya untuk menuju pintu utama. Setelah sampai ia langsung membuka pintu itu. "Andreas!" Teriak Nindya senang melihat siapa yang datang, tanpa menunggu lama lagi, Nindya langsung menghamburkan dirinya ke pelukan Andreas. "Hey, apa-apaan?! Kau ini sudah menjadi istri orang, bagaimana kalau ada orang yang lihat huh?!" Marah Andreas lalu melepaskan pelukan Nindya, Nindya hanya memberikan cengiran palsunya. Ia sangat ingin mengatakan pada teman baiknya ini apa yang ia dapatkan, dan ingin Andreas membawanya pergi dari sini. Tapi bagaimana jika itu akan menjadi sebuah masalah untuk ayahnya? "Kau baik-baik saja kan?" Tanya Andreas yang merasakan bahwa Nindya seperti menyembunyikan sesuatu, biasanya Nindya tidak pernah memeluknya jika ia rindu, ia akan memeluk Andreas saat merasakan kesedihan. "Oh? A-aku hanya sedih karena mamaku tidak melihat kebahagiaanku.." jawab Nindya berbohong, ia tau temannya ini mengetahui apa yang akan ia lakukan saat bersedih. Andreas memicingkan matanya, ia menangkap sebuah kebohongan di mata Nindya. Baiklah, ia akan mencari taunya sendiri jika Nindya menutupinya. "Hmmm? Ibumu pasti melihat di atas sana, dan tersenyum karena kebahagiaanmu. Jangan bersedih lagi" balas Andreas lalu mengusap rambut Nindya lembut. Nindya tersenyum kecut, jika ibunya melihat, itu artinya ibunya melihat betapa hancurnya Nindya sekarang? Andai saja itu benar, ia berdoa agar ibunya tidak peduli lagi dengannya agar ibunya tidak lagi merasa sedih. "Oh ya, aku ke sini hanya ingin mengantarkan koper pakaianmu.." ucap Andreas lalu memberikan titipan Naren sebelumnya. Nindya mengerutkan dahinya. "Kenapa tidak Naren?" Tanya Nindya bingung. Dasar anak pemalas itu! "Ia ada mata kuliah pagi, dan kebetulan aku ada urusan di daerah sini, jadi aku saja yang membawanya.." jelas Andreas yang membuat Nindya mengangguk paham. "Kalau begitu aku pergi dulu.." pamit Andreas. Kenapa cepat sekali? "Tidak ingin masuk dulu?" Tanya Nindya yang mendapat sebuah gelengan dari Andreas. "Aku buru-buru, kapan-kapan saja ya? Oh ya Nindya, berbahagialah untukku..." pesan Andreas sebelum memasuki mobilnya. Kemudian mobil itu pergi menjauh. Nindya terdiam mendengar perkataan Andreas yang terakhir. Apa ia bisa berbahagia saat ini? Rasanya kata bahagia di pernikahan ini hanya sebuah khayalan semu yang Nindya impikan."Selesai!" seru Nindya, meletakkan sendok kayu setelah menyiapkan makan malam untuk Arga.Sejak bekerja paruh waktu di cafe milik Rocky, ia selalu memastikan pulang sebelum sore agar bisa memasak untuk suaminya—meski ia tahu, Arga tidak pernah benar-benar menganggapnya istri. Tapi, setidaknya Nindya berpikir harus tetap menjalani kehidupan rumah tangga juga kan? Usai masak, Nindya berpikir untuk mandi, membersihkan tubuhnya. Tapi, baru saja ia ingin mandi, sebuah suara memanggil."Nindya."Ia berbalik cepat, lalu berlari ke pintu.Arga baru pulang.Namun bukan itu yang membuat dadanya menegang saat melihat kehadiran pria itu.Arga masuk bersama seorang wanita—cantik, anggun, dan postur tubuh yang seperti model. "Siapa wanita ini? tidak mungkin kan ini teman? atau.." Kata Nindya didalam hati, ia mencoba menebak siapa wanita itu dan memperhatikan bagaimana interaksi mereka berdua. Tangan kiri Arga melingkar di pinggang wanita itu dengan mesra. Perlakuan yang seakan menusuk jantungny
"Sebentar Celin, aku mengantuk…" Deg. Dunia Nindya seperti berhenti bergerak. Arga, yang masih memejamkan mata, justru memeluknya lebih erat. Pelukannya hangat… tapi bukan untuknya. Celin. Dari semalam… Arga mengira dirinya Celin? "Sayang, kenapa kamu diam? Biasanya kamu langsung cium kening aku…" lirih Arga, suaranya berat dan serak, seperti masih tersisa alkohol dari semalam. "Eun—" Arga tidak jadi melanjutkan. Kelopak matanya terbuka perlahan… dan saat melihat siapa yang ada dalam pelukannya, wajahnya langsung berubah drastis. "Woi, apa-apaan kamu!" Arga memekik panik, mendorong tubuh Nindya menjauh. Tatapannya turun ke tubuh mereka yang sama-sama telanjang. Dan saat itu juga, tatapan Arga berubah. Jijik. Seperti melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di dekatnya. Nindya mencoba tersenyum kecil. “P–pagi…” "Hmm. Pagi." Arga menjawab cepat, pendek, dan dingin. Ia memegangi kepalanya, berusaha mengingat kejadian semalam. Ia mabuk. Ia pulang. Lal
Malam itu rumah besar itu kembali terasa sunyi. Tak ada suara langkah kaki, tak ada dentingan gelas dari dapur. Hanya suara detik jam dinding yang terasa menusuk di antara kesepian. Nindya duduk di ruang tamu dengan wajah lelah. Televisi di depannya menayangkan drama yang sama sekali tidak menarik perhatiannya. Ia bahkan tidak tahu apa judulnya—yang penting ada suara yang menemaninya. Hanya itu yang ia butuhkan malam itu: sedikit suara di tengah sunyi. Di meja makan, dua piring sudah tertata rapi. Makanan masih hangat, tapi jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Arga belum juga pulang. “Hhh…” Nindya mengeluh lirih sambil menatap meja makan. “Sampai kapan aku menunggu orang yang bahkan tak ingin ditunggu…” Ia memegangi perutnya. Lapar. Tapi ia menahannya. Bagaimanapun juga, ia ingin makan bersama suaminya—setidaknya sekali saja malam ini. Namun begitu ia menatap jam sekali lagi, matanya terasa panas. “Sudah jam sembilan lewat tiga puluh… dia bahkan tak membe
Setelah Andreas pulang, Nindya kembali sendiri di rumah besar itu. Rumah yang megah, luas, tapi anehnya terasa begitu sunyi dan dingin. Hening. Bahkan detak jam dinding pun terasa menggema. Ia melangkah pelan ke ruang tengah. Pandangannya kosong. Andai saja... andai saja ada anak kecil yang berlari di sini, mungkin sepi ini tak akan terasa sesakit ini. “Hey... apa-apaan sih, Nindya,” gumamnya sambil menepuk pipi sendiri pelan. “Jangan mimpi yang nggak-nggak. Arga nggak nyiksa aja udah bersyukur.” Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit putih di atas sana. Andai saja Arga bisa sedikit lembut. Andai dia memperlakukan dirinya dengan baik, mungkin pernikahan ini nggak akan terasa seperti penjara. Ya, kalau saja begitu... “Huh... bosen banget,” keluhnya sambil terus gonta-ganti saluran TV. Acara gosip, sinetron, berita politik — semuanya terasa sama: hambar. Biasanya, ia sibuk bekerja, nyapu, ngepel, ngatur rumah... sekarang? Sekarang dia cuma punya waktu buat duduk
Byurrrr Nindya terbangun dari tidurnya saat ia merasakan guyuran air di tubuhnya, ia langsung duduk dengan mengusap wajahnya yang terkena air, ia mendongak dan menemukan Arga dengan memegang sebuah ember di tangannya. "Buatkan aku sarapan" perintah Arga dengan wajah dinginnya, setelah itu ia meninggalkan Nindya begitu saja tanpa berkata apapun lagi. Dengan badan yang masih terasa sakit, Nindya perlahan bangun dari tidurnya, kakinya melangkah untuk keluar gudang itu. Tapi tunggu, Nindya sadar akan sesuatu. "Astaga, aku tidak punya baju, bagaimana ini?" Nindya menggigit bibir bawahnya, bingung dengan keadaan. "Huh, tidak mungkin aku masak dalam keadaan begini? Astaga Nindya, seharusnya kau membawa pakaianmu semalam.." Ya Nindya ingat bahwa setelah resepsi pernikahannya selesai ia langsung dibawa oleh Arga ke rumah pemberian mertuanya ini, tanpa kembali ke rumah untuk mengambil pakaiannya lagi. Mata Nindya melilau ke sekitar, ia mencari sesuatu yang bisa ia gunakan. Tapi tunggu,
Setelah acara pernikahan, Arga dan Nindya pun akhirnya pergi ke rumah baru mereka yang diberikan oleh Prasetyo sebagai hadiah pernikahan mereka.Rumah yang terlihat megah dan mewah di mata Nindya.Tapi kata mertuanya itu rumah minimalis biasa? Ck dasar orang kaya. Bahkan rumah Nindya saja belum da seujung kuku rumah megah nan mewah ini. Dan yang mengesalkan bagi Nindya kata-kata dari Gunawan, pengacara tuan Prasetyo."Rumah itu hanya seharga 5 milliar dolar amerika"Wtf? Hanya dia bilang? Hanya? Bahkan jika disuruh untuk mengganti sekua pembayaran dengan seluruh orgn tubuh Nindya, harga semua organ tubuh Nindya tidak akan mampu menutupinya. Dasar orang-orang kaya, Nindya merasa tidak pantas berada di sini jadinya."Apa lagi yang kau tunggu? Ini sudah malam, jika kau sakit karena angin malam, ayahku akan menyalahkan aku." Ketus Arga yang sudah membuka pintu, ia menatap Nindya dengan datar lalu berjalan meninggalkan Nindya sendirian di sana."Apa dia saudara kembar dengan tembok? Datar







