Share

Malam pertama

Author: Pena_rusak
last update Last Updated: 2025-10-02 08:05:06

Setelah acara pernikahan, Arga dan Nindya pun akhirnya pergi ke rumah baru mereka yang diberikan oleh Prasetyo sebagai hadiah pernikahan mereka.

Rumah yang terlihat megah dan mewah di mata Nindya.

Tapi kata mertuanya itu rumah minimalis biasa? Ck dasar orang kaya. Bahkan rumah Nindya saja belum da seujung kuku rumah megah nan mewah ini.

Dan yang mengesalkan bagi Nindya kata-kata dari Gunawan, pengacara tuan Prasetyo.

"Rumah itu hanya seharga 5 milliar dolar amerika"

Wtf? Hanya dia bilang? Hanya? Bahkan jika disuruh untuk mengganti sekua pembayaran dengan seluruh orgn tubuh Nindya, harga semua organ tubuh Nindya tidak akan mampu menutupinya. Dasar orang-orang kaya, Nindya merasa tidak pantas berada di sini jadinya.

"Apa lagi yang kau tunggu? Ini sudah malam, jika kau sakit karena angin malam, ayahku akan menyalahkan aku." Ketus Arga yang sudah membuka pintu, ia menatap Nindya dengan datar lalu berjalan meninggalkan Nindya sendirian di sana.

"Apa dia saudara kembar dengan tembok? Datar sekali" batin Nindya sebelum mengangguk dan mengikuti Arga dari belakang.

Setiap ruangan yang Nindya lewati berhasil membuat Nindya tidak berhenti berdecak kagum. Ia berharap di masa depan ia bisa memberikan ayahnya rumah yang sama indahnya seperti ini.

Ah andai saja itu bukan sekedar harapan, dan benar-benar terjadi.

Dughh

Tiba-tiba saja Arga berhenti melangkah, dan itu membuat Nindya menabrak punggung kokoh pria yang kini sudah menjadi suaminya itu.

Tunggu? Suami? Ah tidak menyangka Nindya sekarang sudah resmi menjadi istri dari orang sombong seperti Arga.

"M-maaf.." ucap Nindya tertunduk, kenapa pria itu menatapnya tajam seperti ingin membunuhnya? Itu benar-benar membuat Nindya ingin mencolok kedua biji mata Arga dengan pisau.

Jadi, siapa sebenarnya yang psychopath di antara mereka berdua?

"Ini kamar kita..." Ujar Arga lalu kembali berjalan memasuki sebuah ruangan yang di sebut oleh Arga kamar kita.

Tunggu, kamar kita? Itu artinya....

Nindya menggelengkan kepalanya cepat, semoga saja itu tidak seperti yang sedang ia pikirkan sekarang.

Lagi, tanpa banyak bicara Nindya hanya mengikuti langkah kaki Arga memasuki kamar itu.

"Hm, Arga, apa tidak ada kamar lai--"

Plakkkk

Belum selesai Nindya menuntaskan perkataannya, tiba-tiba saja Arga sudah memberikan sebuah tamparan yang sangat keras di pipi Nindya.

Nindya tertunduk sambil tangannya memegang pipi yang terasa perih dan panas akibat tamparan itu.

Apa salah dia?

"Aghhh"

Belum sempat Nindya menanyakan salahnya pada Arga, Arga sudah menarik rambut wanita itu kasar, sampai Nindya merasa perih di kulit kepalanya dan berteriak kesakitan.

"Wanita murahan, berapa uang yang kau inginkan hah?!", Bentak Arga pada Nindya, ia benar-benar melampiaskan amarahnya yang ia pendam sendiri selama ini, dendam nya atas perjodohan yang menurutnya bodoh ini. Dan bagi Arga ini baru saja permulaan. Bukan inti, tapi Nindya sudah merasa ingin kabur saja saat ini.

Nindya tidak menjawab, ia hanya menangis kesakitan. Apa yang harus ia katakan? Dia kan memang untuk membayar hutang ayahnya.

"Oh, mari kita lakukan seperti wanita penghibur kebanyakan..."

Setelah berkata demikian, Arga melempar Nindya ke kasurnya, ia menatap Nindya dengan seringainya sambil melepas tuxedo dan dasinya.

"K-arga, aku mohon..."

Apa yang akan Arga lakukan padanya? Semoga ada tamu yang datang dan menolongnya saat ini.

Ya, semoga saja begitu.

Bruk

Tiba-tiba saja Arga menindih Nindya dan langsung menyerang bibir Nindya kasar. Nindya yang mendapat serangan kasar itu menutup bibirnya rapat, tidak memberikan akses untuk Arga.

Nindya berfikir tidak untuk ini, bahkan ia berharap berada di kamar yang berbeda dengan Arga.

"Ouhhh hikkkss.."

Merasakan Nindya tidak mau membuka mulutnya, akhirnya Arga menggigit bibir wanita itu sampai terbuka, Nindya merasakan sakit dan perih di bibirnya. Ia dapat rasakan bibirnya mengeluarkan cairan berwarna asin, tentu itu adalah darah yang keluar dari bibirnya yang di gigit kuat oleh Arga.

Dan malam ini, adalah malam yang sangat menyakitkan bagi Nindya, Arga benar-benar memperlakukan nya sangat kasar, bahkan di tubuhnya sudah terdapat beberapa lebam karena ulahnya.

Bukan, ini bukan bercinta, tetapi ini pemerkosaan.

Bahkan setelah Arga mencapai klimaksnya, pria itu sempat membisikan kata-kata yang membuat hati Nindya teriris.

"Jalang.."

Ya kata-kata itulah yang diberikan oleh Arga pada Nindya.

Tidak ada kenikmatan yang ia dapat, hanya kesakitan di tubuhnya dan hatinya karena kata-kata makian yang keluar dari Arga saat menyetubuhinya.

.

.

.

.

Nindya beralih memunggungi Arga yang nampak memejamkan matanya dengan nafas terengah, Nindya terisak atas penderitaan yang ia terima beberapa menit yang lalu, bahkan keperawanannya di renggut paksa dan kasar oleh pria yang seharusnya memperlakukannya dengan lembut.

"Bisakah kau diam?" Tanya Arga saat sebuah isakan lirih keluar dari mulut Nindya, Nindya hanya diam tidak menjawab, ia tidak memperdulikan pria itu lagi.

"Ckkk.."

Kemudian ia merasakan kasur itu berdenyut dan merasakan bahwa Arga turun dari kasur.

"Bangun!" Bentak Arga kaku menarik tangan Nindya kasar.

"S-sakit...." Ringis Nindya sambil memegangi tangannya, tapi Arga tidak peduli, ia terus memegang tangan wanita itu kuat lalu menariknya keluar kamar itu.

Brughh

Bagai manusia yang sangat hina, Arga melempar Nindya keluar kamarnya.

"Kau tidak pantas di kamar seperti ini, tempat tidurmu ada di gudang yang berada di dekat dapur"

BAMMMM!

Setelah berkata demikian, Arga langsung menutup pintu kamar itu kasar, Nindya kembali menangis.

"Ayah aku ingin pulang..." Batin Nindya lalu dengan perlahan terbangun, dengan tubuh telanjang dan berjalan tertatih ia berjalan menuruni tangga, rasa perih di kewanitaan nya ia tahan sedemikian rupa.

---

Perlahan, Nindya membuka sebuah pintu kayu yang berada di dekat dapur. Ia melihat seisi ruangan itu.

Ruangan yang dipenuhi kardus, debu dan sarang laba-laba.

Apa ia akan tertidur di tempat seperti ini? Tidak ada pilihan lain, dengan beralaskan kardus bekas, Nindya tertidur, dinginnya lantai dan angin malam menyentuh kulitnya.

Ini tentu permulaan, sampai kapan Nindya akan bertahan? Dan sampai kapan Nindya akan menderita? Semoga Arga dapat menerimanya sebelum kesabaran wanita itu habis.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DIJODOHKAN : SUAMI KEJAMKU   Nindya pingsan

    "Selesai!" seru Nindya, meletakkan sendok kayu setelah menyiapkan makan malam untuk Arga.Sejak bekerja paruh waktu di cafe milik Rocky, ia selalu memastikan pulang sebelum sore agar bisa memasak untuk suaminya—meski ia tahu, Arga tidak pernah benar-benar menganggapnya istri. Tapi, setidaknya Nindya berpikir harus tetap menjalani kehidupan rumah tangga juga kan? Usai masak, Nindya berpikir untuk mandi, membersihkan tubuhnya. Tapi, baru saja ia ingin mandi, sebuah suara memanggil."Nindya."Ia berbalik cepat, lalu berlari ke pintu.Arga baru pulang.Namun bukan itu yang membuat dadanya menegang saat melihat kehadiran pria itu.Arga masuk bersama seorang wanita—cantik, anggun, dan postur tubuh yang seperti model. "Siapa wanita ini? tidak mungkin kan ini teman? atau.." Kata Nindya didalam hati, ia mencoba menebak siapa wanita itu dan memperhatikan bagaimana interaksi mereka berdua. Tangan kiri Arga melingkar di pinggang wanita itu dengan mesra. Perlakuan yang seakan menusuk jantungny

  • DIJODOHKAN : SUAMI KEJAMKU   Bukan Celine

    "Sebentar Celin, aku mengantuk…" Deg. Dunia Nindya seperti berhenti bergerak. Arga, yang masih memejamkan mata, justru memeluknya lebih erat. Pelukannya hangat… tapi bukan untuknya. Celin. Dari semalam… Arga mengira dirinya Celin? "Sayang, kenapa kamu diam? Biasanya kamu langsung cium kening aku…" lirih Arga, suaranya berat dan serak, seperti masih tersisa alkohol dari semalam. "Eun—" Arga tidak jadi melanjutkan. Kelopak matanya terbuka perlahan… dan saat melihat siapa yang ada dalam pelukannya, wajahnya langsung berubah drastis. "Woi, apa-apaan kamu!" Arga memekik panik, mendorong tubuh Nindya menjauh. Tatapannya turun ke tubuh mereka yang sama-sama telanjang. Dan saat itu juga, tatapan Arga berubah. Jijik. Seperti melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di dekatnya. Nindya mencoba tersenyum kecil. “P–pagi…” "Hmm. Pagi." Arga menjawab cepat, pendek, dan dingin. Ia memegangi kepalanya, berusaha mengingat kejadian semalam. Ia mabuk. Ia pulang. Lal

  • DIJODOHKAN : SUAMI KEJAMKU   Hanya ilusi

    Malam itu rumah besar itu kembali terasa sunyi. Tak ada suara langkah kaki, tak ada dentingan gelas dari dapur. Hanya suara detik jam dinding yang terasa menusuk di antara kesepian. Nindya duduk di ruang tamu dengan wajah lelah. Televisi di depannya menayangkan drama yang sama sekali tidak menarik perhatiannya. Ia bahkan tidak tahu apa judulnya—yang penting ada suara yang menemaninya. Hanya itu yang ia butuhkan malam itu: sedikit suara di tengah sunyi. Di meja makan, dua piring sudah tertata rapi. Makanan masih hangat, tapi jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Arga belum juga pulang. “Hhh…” Nindya mengeluh lirih sambil menatap meja makan. “Sampai kapan aku menunggu orang yang bahkan tak ingin ditunggu…” Ia memegangi perutnya. Lapar. Tapi ia menahannya. Bagaimanapun juga, ia ingin makan bersama suaminya—setidaknya sekali saja malam ini. Namun begitu ia menatap jam sekali lagi, matanya terasa panas. “Sudah jam sembilan lewat tiga puluh… dia bahkan tak membe

  • DIJODOHKAN : SUAMI KEJAMKU   Duo Bodyguard

    Setelah Andreas pulang, Nindya kembali sendiri di rumah besar itu. Rumah yang megah, luas, tapi anehnya terasa begitu sunyi dan dingin. Hening. Bahkan detak jam dinding pun terasa menggema. Ia melangkah pelan ke ruang tengah. Pandangannya kosong. Andai saja... andai saja ada anak kecil yang berlari di sini, mungkin sepi ini tak akan terasa sesakit ini. “Hey... apa-apaan sih, Nindya,” gumamnya sambil menepuk pipi sendiri pelan. “Jangan mimpi yang nggak-nggak. Arga nggak nyiksa aja udah bersyukur.” Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit putih di atas sana. Andai saja Arga bisa sedikit lembut. Andai dia memperlakukan dirinya dengan baik, mungkin pernikahan ini nggak akan terasa seperti penjara. Ya, kalau saja begitu... “Huh... bosen banget,” keluhnya sambil terus gonta-ganti saluran TV. Acara gosip, sinetron, berita politik — semuanya terasa sama: hambar. Biasanya, ia sibuk bekerja, nyapu, ngepel, ngatur rumah... sekarang? Sekarang dia cuma punya waktu buat duduk

  • DIJODOHKAN : SUAMI KEJAMKU   Permainan Arga

    Byurrrr Nindya terbangun dari tidurnya saat ia merasakan guyuran air di tubuhnya, ia langsung duduk dengan mengusap wajahnya yang terkena air, ia mendongak dan menemukan Arga dengan memegang sebuah ember di tangannya. "Buatkan aku sarapan" perintah Arga dengan wajah dinginnya, setelah itu ia meninggalkan Nindya begitu saja tanpa berkata apapun lagi. Dengan badan yang masih terasa sakit, Nindya perlahan bangun dari tidurnya, kakinya melangkah untuk keluar gudang itu. Tapi tunggu, Nindya sadar akan sesuatu. "Astaga, aku tidak punya baju, bagaimana ini?" Nindya menggigit bibir bawahnya, bingung dengan keadaan. "Huh, tidak mungkin aku masak dalam keadaan begini? Astaga Nindya, seharusnya kau membawa pakaianmu semalam.." Ya Nindya ingat bahwa setelah resepsi pernikahannya selesai ia langsung dibawa oleh Arga ke rumah pemberian mertuanya ini, tanpa kembali ke rumah untuk mengambil pakaiannya lagi. Mata Nindya melilau ke sekitar, ia mencari sesuatu yang bisa ia gunakan. Tapi tunggu,

  • DIJODOHKAN : SUAMI KEJAMKU   Malam pertama

    Setelah acara pernikahan, Arga dan Nindya pun akhirnya pergi ke rumah baru mereka yang diberikan oleh Prasetyo sebagai hadiah pernikahan mereka.Rumah yang terlihat megah dan mewah di mata Nindya.Tapi kata mertuanya itu rumah minimalis biasa? Ck dasar orang kaya. Bahkan rumah Nindya saja belum da seujung kuku rumah megah nan mewah ini. Dan yang mengesalkan bagi Nindya kata-kata dari Gunawan, pengacara tuan Prasetyo."Rumah itu hanya seharga 5 milliar dolar amerika"Wtf? Hanya dia bilang? Hanya? Bahkan jika disuruh untuk mengganti sekua pembayaran dengan seluruh orgn tubuh Nindya, harga semua organ tubuh Nindya tidak akan mampu menutupinya. Dasar orang-orang kaya, Nindya merasa tidak pantas berada di sini jadinya."Apa lagi yang kau tunggu? Ini sudah malam, jika kau sakit karena angin malam, ayahku akan menyalahkan aku." Ketus Arga yang sudah membuka pintu, ia menatap Nindya dengan datar lalu berjalan meninggalkan Nindya sendirian di sana."Apa dia saudara kembar dengan tembok? Datar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status