Share

8. Lemah

Author: Rafli123
last update publish date: 2026-02-06 09:12:03

Matahari mulai memudar di ufuk barat, teringat kata yang tajam, membuatnya merasa kecil.

Tangannya memegang secangkir teh yang sudah dingin. Saat ia hendak bangkit, tiba-tiba pintu belakang berderit. Kemuning menoleh, dan di sana berdiri Ardan. Sosoknya yang tinggi dan tegap terlihat mencolok meskipun hanya diterangi cahaya temaram. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap Kemuning dengan mata tajamnya yang sulit ditebak.

“Kamu ngapain di luar malam-malam gini?” Suaranya terdengar datar, tapi seperti biasa, ada nada dingin yang terselip di sana.

Kemuning langsung menunduk. “Enggak apa-apa. Cuma, cari udara segar.”

Ardan tidak merespons. Dia berjalan melewatinya, menuju meja kecil di dekat pintu. Pandangan Kemuning mengikuti gerakannya, mencoba membaca ekspresinya, tapi seperti biasa, wajah itu tidak menunjukkan apa-apa.

“Kamu nggak takut kedinginan?” tanya Ardan tiba-tiba.

Kemuning terkejut mendengar pertanyaan itu. Biasanya, Ardan hanya berbicara untuk memerintah atau memarahi. Pertanyaan itu terasa, aneh. Seperti dia peduli, meskipun nadanya tetap kasar.

“Enggak,” jawab Kemuning pelan sambil memeluk tubuhnya sendiri. Sebenarnya, udara mulai menusuk, tapi ia tidak ingin terlihat lemah.

Ardan mendengus pelan, lalu menatapnya. “Dasar keras kepala.”

Kemuning tidak membalas. Dia tahu, apa pun yang dia katakan hanya akan membuat Ardan menemukan alasan untuk mengkritiknya lagi. Tapi sebelum dia sempat melanjutkan pikirannya, Ardan berjalan mendekat. Tangan pria itu terulur, dan tanpa peringatan, dia meraih tangan Kemuning.

"Lepas. Anda mau ngapain?” Kemuning terkejut, menarik tangannya dari genggaman tangan Ardan.

Ardan terdiam. Matanya tertuju pada telapak tangan Kemuning yang merah dan sedikit bengkak. Luka itu didapatnya pagi tadi saat dia mencoba memindahkan pot bunga di kebun. Dia berpikir untuk menyembunyikannya, tapi ternyata Ardan tetap menyadarinya. Semua ia lakukan untuk kebun bunga yang ia buat itu.

“Kenapa nggak bilang kalau luka?” Ardan bertanya, nadanya masih datar, tapi kali ini ada sedikit kekesalan di sana.

“Cuma luka kecil, ini tidak sakit tuan," jawab Kemuning pelan. “Ini beneran Nggak apa-apa.”

Ardan mendengus lagi. “Nggak apa-apa apanya? Kalau infeksi gimana? Kamu pikir luka kecil nggak bisa bikin masalah?”

Kemuning menunduk. Dia tidak tahu harus berkata apa. Di satu sisi, dia merasa tersentak oleh perhatian mendadak ini, tapi di sisi lain, dia masih takut pada pria itu. Ardan benar-benar sulit ditebak.

“Duduk,” perintahnya singkat.

Kemuning menurut, duduk di kursi dapur sambil memandangi Ardan yang sibuk mencari sesuatu di dalam kotak itu. Dia merasa canggung, tapi juga bingung. Ardan yang biasanya dingin dan kasar, kenapa tiba-tiba melakukan ini?

“Ini bakal sakit sedikit,” kata Ardan sambil menuangkan cairan antiseptik ke kapas.

Kemuning mengangguk pelan. Ketika kapas itu menyentuh lukanya, dia meringis, tapi tidak mengeluarkan suara.

“Kenapa nggak hati-hati?” Ardan bertanya sambil tetap fokus pada tangannya. “Kamu pikir semua orang punya waktu buat ngurusin kamu?”

Kemuning merasa tertusuk oleh kata-kata itu, tapi dia tahu Ardan tidak bermaksud baik. Dia hanya seperti itu. Dingin. Kasar. Tapi tetap saja, ada sesuatu di balik sikap itu yang membuat Kemuning merasa bingung.

“Maaf,” jawab Kemuning akhirnya. “A-aku, nggak bermaksud ngerepotin.”

Ardan meliriknya sekilas, lalu kembali bekerja. Setelah beberapa menit, dia selesai membalut luka itu dan berdiri.

“Jangan bikin masalah lagi,” katanya sambil membereskan kotak P3K.

Kemuning hanya mengangguk. Dia ingin berterima kasih, tapi kata-kata itu terasa sulit keluar. Ardan sudah berjalan pergi sebelum dia sempat mengucapkannya.

Malam itu, Kemuning kembali ke kamarnya dengan pikiran yang berputar. Ardan benar-benar aneh. Satu saat, dia bisa begitu dingin dan kejam, tapi di saat lain, dia menunjukkan perhatian kecil yang tidak pernah dia duga. Tapi apa pun itu, Kemuning tahu dia tidak boleh terlena. Ardan adalah pria yang penuh rahasia, dan dia tidak ingin terjebak dalam jebakan lain.

Tengah malam Kemuning mengadukan dirinya pada sang Haliq, doa panjang diiringi air mata yang tak hentinya mengalir. Parah akan takdir sang illahi.

Setelah hatinya mulai tenang, Kemuning memutuskan untuk menghabiskan waktu di kebun. Tempat itu adalah satu-satunya tempat di rumah ini yang memberinya sedikit ketenangan. Dia suka bagaimana tanaman-tanaman itu tumbuh dengan bebas, tanpa takut pada siapa pun. Mereka hanya membutuhkan air, sinar matahari, dan sedikit perhatian untuk bertahan hidup. Kemuning berharap hidupnya sesederhana itu.

Dia sedang memindahkan beberapa pot ketika tiba-tiba salah satu pot besar tergelincir dari tangannya. Pot itu hampir jatuh ke kakinya, tapi sebelum sempat menyentuh tanah, sebuah tangan besar menangkapnya.

Kemuning terkejut. Dia menoleh, dan di sana berdiri Ardan. Wajahnya tegang, dan nadanya terdengar marah saat dia berkata, “Kamu mau bunuh diri atau apa hah? Kamu tahu ini, ck!!"

Kemuning hanya bisa terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Ardan meletakkan pot itu di tempat aman, lalu berbalik menghadapnya.

“Kamu pikir kamu bisa ngurusin semuanya sendiri? Kalau nggak bisa, bilang!” katanya dengan nada tinggi.

“Maaf, aku kira potnya nggak berat jadi aku putuskan untuk mengangkatnya sendiri. Aku cuma nggak mau ngerepotin,” jawab Kemuning pelan.

Ardan menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan tangan. “Kamu ini...,”

Dia tidak melanjutkan kalimatnya. Sebaliknya, dia hanya menatap Kemuning dengan tatapan yang sulit diartikan. Untuk pertama kalinya, Kemuning melihat sesuatu yang berbeda di mata itu. Bukan kemarahan, bukan kebencian, tapi... sesuatu yang lebih lembut.

“Kamu tahu nggak,” kata Ardan akhirnya, suaranya lebih tenang, “nggak semua hal bisa kamu lakuin sendiri. Kadang kamu butuh bantuan. Dan itu nggak bikin kamu lemah.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    71. ENDING

    Pagi itu, rumah terasa jauh lebih damai dari biasanya. Arka berlari kecil di halaman, tertawa memanggil Ardan yang sedang menyiapkan sarapan bersama Kemuning.“Yah, cepat! Arka lapar!” serunya riang.Ardan tertawa kecil. “Iya, Pahlawan kecil.”Kemuning hanya menggeleng pelan sambil tersenyum. “Dua-duanya sama saja.”Ardan mendekat, meraih tangan Kemuning. “Capek?”“Tidak,” jawabnya pelan.“Maaf," ucapnya lirih. Kemuning menoleh, tatapannya bertemu dengan manik tajam Ardan."Untuk?""Semua, maaf karena membuatmu jatuh bangun dalam merawat anak kita. Bahkan saat dalam kandungan kamu begitu kesulitan, dan aku dengan bodohnya tidak menyadari." Tangannya terulur menangkup wajah cantik yang kini tak bercadar itu. "Itu sudah berlalu, lagi pula aku juga salah waktu itu. Aku mengambil kesimpulan tanpa mendengar kelanjutannya, mas maafkan aku. Seandainya aku bisa sabar mendengar semuanya pasti kamu dan anak kita tidak akan berjauhan, dan kamu bisa merasakan pergerakan anak kita dalam perut." S

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    70. Pemilik Perusahaan

    Suasana meja itu langsung berubah hening. Beberapa orang menunduk, tidak berani menatap balik tatapan dingin Ardan yang menyapu satu per satu wajah mereka. Kata-katanya barusan cukup membuat siapa pun paham posisi mereka.Wanita yang sejak tadi paling vokal memojokkan Kemuning sontak pucat. Matanya membelalak saat menyadari suaminya, yang baru saja masuk ke restoran itu, ternyata adalah salah satu bawahan Ardan."Sayang, siapa yang berani menyinggung kita, hah?"“Mas… ini…,” suaranya gemetar.Suaminya yang semula ingin mencari Kemuning, seketika berubah pucat pasi. Begitu ia melihat siapa pria yang kini berdiri di depan. Wajahnya langsung menunduk hormat pada Ardan. “Maaf, Pak. Saya tidak sedang mencari wanita yang mencari gara-gara dengan istri saya." Ucapnya sopan. "Wanita yang menganggu istrimu?""Benar sekali pak Ardan.""Wanita itu adalah dia. Wanita yang berpenampilan lain dari yang lain." Tunjuk Ardan dengan dagunya. Ia ingin tahu apa yang akan di lakukan bawahannya pada Kemun

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    69. Wanita Miskin

    Siang itu terasa lebih ringan. Kemuning duduk di ruang keluarga, menata beberapa buku milik Arka yang baru saja ia bawa pulang. Senyum tipis tak lepas dari wajahnya, sesekali matanya melirik ke arah jendela, menunggu seseorang.Tak lama, suara langkah masuk terdengar.“Mas sudah pulang?” tanyanya, bangkit.Ardan berdiri di ambang pintu, melepas jasnya. “Lebih cepat hari ini. Katanya ada yang kangen.”Kemuning tersenyum kecil. “Siapa?”“Aku,” jawab Ardan tanpa ragu, membuat Kemuning salah tingkah.Ardan mendekat, meraih tangan Kemuning dan menariknya perlahan. “Kamu makin cantik kalau diem begini.”“Mas ini…,” Kemuning menunduk, pipinya menghangat.“Serius,” lirih Ardan, lalu mengecup punggung tangannya singkat. Kehangatan itu sederhana, tapi cukup membuat hari terasa utuh.—Sore harinya, mereka menghadiri pertemuan orang tua murid di sebuah restoran mewah. Ardan berjalan di samping Kemuning, sementara Arka sudah lebih dulu bergabung dengan teman-temannya.Tatapan mulai berdatangan.S

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    68. Awal Yang Baru

    Pagi di kawasan elite itu terasa tenang, jauh dari hiruk pikuk yang dulu pernah menjadi bagian dari hidup Kemuning. Rumah besar dengan penjagaan ketat berdiri kokoh, seolah menjadi benteng yang tak mudah ditembus.Kemuning berdiri di balkon lantai dua, menatap halaman luas di depannya. Taman yang tertata rapi, udara yang bersih, dan suasana yang asing, namun menyejukkan berlahan mulai ia terima.Langkah kaki terdengar dari belakang, tangan besar itu melingkar di perutnya.“Sayang, kamu sudah bangun?” suara Ardan terdengar hangat.Kemuning menoleh, mengangguk pelan. “Dari tadi, mas."Ardan mendekatkan wajahnya di ceruk leher Kemuning. Menghirup wangi dari tubuh yang tertutup pakaian longgar. “Masih belum terbiasa, hm?”“Bukan begitu,” jawab Kemuning jujur. “Hanya saja, semuanya terasa berbeda. Meski mas buat suasana ini seperti yang aku inginkan. Dan taman itu aku begitu menyukainya,"Ardan tersenyum tipis. “Memang sengaja aku buat berbeda. Tapi, tetapi sesuai impian istriku. Nah, lih

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    67. Kembali

    Mobil melaju menembus malam, meninggalkan Yogyakarta tanpa banyak kata. Arka tertidur dalam pelukan Kemuning, napasnya masih tersengal sesekali, seolah trauma itu belum benar-benar pergi.Kemuning menatap ke luar jendela, kosong. Jemarinya terus mengusap punggung Arka, memastikan anaknya benar-benar ada di sana.Di kursi depan, Ardan menggenggam setir dengan rahang mengeras.“Kita langsung ke Jakarta,” ucapnya tegas.Kemuning tidak langsung menjawab. “Mas, apa kita harus secepat ini?”Ardan melirik lewat kaca spion. “Aku tidak akan ambil risiko lagi.”Hening sejenak, sebelum Ardan kembali bersuara.“Aku sudah tinggalkan orang untuk jaga rumah di sini. Tidak akan ada yang masuk tanpa izinku,”Lanjutnya dingin.Kemuning mengangguk pelan. Ia tidak punya tenaga untuk berdebat. Yang ia tahu, Arka ada di pelukannya.“Ayah…,” lirih Arka setengah sadar.Ardan langsung menoleh. “Iya, Nak. Ayah di sini.”Suara itu cukup untuk membuat Arka kembali tenang.Kemuning menunduk, air matanya jatuh dia

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    66. Kembalikan Anakku 2

    “Kembalikan anakku, Mas… kembalikan!”Suara Kemuning pecah di udara, tubuhnya melemah hingga hampir jatuh jika Ardan tidak sigap menahannya. Tangannya masih mencengkeram baju Ardan, seolah itu satu-satunya hal yang tersisa saat dunianya runtuh dalam sekejap.“Tenang, sayang,” suara Ardan rendah, namun tegas. “Menangis tidak akan mengembalikan Arka. Aku janji membawa anak kita."Kemuning menggeleng, air matanya tak berhenti. “Aku gak peduli caranya, aku cuma mau anakku pulang, Mas. Aku mau Arka…,"Ardan memejamkan mata sesaat, menahan sesuatu yang bergolak di dalam dirinya. Saat ia membukanya kembali, sorot matanya berubah bukan lagi amarah yang meledak, melainkan dingin yang berbahaya. Ia meraih ponselnya, menghubungi seseorang dengan tangan terkepal kuat.Para guru yang berada di sana tertunduk, bukan hanya takut tapi rasa bersalah karena membiarkan Arka di culik.“Faris, aku gak mau alasan. Cari semua rekaman CCTV di sekitar sekolah. Tutup semua akses keluar kota. Aku mau anakku dit

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    62. Antara Luka Dan Bahagia

    Lila menghela napas pelan, menatap Ardan dengan pandangan yang berbeda. Amarahnya belum sepenuhnya hilang, namun ia tidak lagi melihat pria itu sebagai ancaman seperti sebelumnya.“Saya lihat, anda jauh semakin berubah,” ucapnya akhirnya.Ardan tidak menjawab, karena ia tahu perubahan itu tidak bis

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    55. Diluar Kehidupanmu

    Ardan masih berada di dalam mobilnya di ujung gang sempit itu. Mesin kendaraan sudah lama mati, tetapi pria itu tidak juga pergi. Tatapannya tertuju pada rumah kecil di ujung jalan. Rumah yang kini menjadi tempat tinggal Kemuning.Rumah yang terlalu sederhana untuk wanita yang dulu pernah hidup ber

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    22. Wajah Sendu

    Dia hati sudah Ardan tidak pulang ke rumah. Salam itu pula tidak ada kabar tentang lelaki itu di mana. Kemuning berusaha bersikap tenang seperti biasanya, meski kini statusnya sebagai seorang istri dari Ardan. Namun, tidak membuatnya sesuka hati menghubungi sang suami."Non, apa sebaiknya ke rah sa

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    18. Cinta Sesungguhnya

    Di bawah langit Puncak yang romantis, dengan alam menjadi saksi, Ardan melamar Kemuning dan dunia seolah ikut menahan napas menunggu jawabannya.Beberapa saat berlalu, hanya desir angin dan gemerisik daun yang menemani. Ardan masih berlutut, menunggu. Hingga akhirnya Kemuning menghela napas panjang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status