Share

Bab 117

Author: Paradista
last update Petsa ng paglalathala: 2024-11-20 12:05:28

William mengangguk tegas, “Tentu saja, apa kau mau membantuku?” tantang William. Sepertinya kesempatan ini tak mau dia abaikan begitu saja, balas dendam pada Dante adalah tujuan hidupnya saat ini. Tapi, apakah Sarah mau membantunya?

William masih menunggu jawaban dari wanita yang kini duduk di depannya itu, dan baru saja berkenalan secara akrab di hari itu juga.

“Tunggu, sebelum aku menjawabnya… lalu status mereka berdua apa sekarang?” tanya Sarah, penasaran.

<
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 130

    "Sarah Anthony bekerja sama dengan beberapa oknum di dalam perusahaan ini untuk menyebarkan berita bohong, membohongi publik, dan mencoba memanfaatkan nama besar keluargaku demi kekuasaan dan uang," lanjut Dante tanpa ragu sedikit pun. "Semua bukti sudah aku miliki. Mulai hari ini, aku mengajukan tuntutan hukum atas nama Vascos Company dan atas nama pribadiku terhadap Sarah Anthony karena telah melakukan pencemaran nama baik, penipuan publik, dan percobaan penguasaan aset perusahaan secara ilegal. Aku tidak akan memberi ampun kepada siapa pun yang berani memainkan perasaan orang lain dan memanfaatkan nama keluargaku." Dante menatap lurus ke arah kamera utama, seolah menatap langsung ke mata Sarah yang sedang menonton siaran ini di mana pun ia berada. "Untuk Sarah," ucapnya dingin dan tegas. "Aku beri waktu dua kali dua puluh empat jam untuk kau menarik semua pernyataanmu, meminta maaf secara terbuka, dan mengembalikan segala sesuatu yang pernah kau ambil atau gunakan atas namaku.

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 129

    Pak Haris gemetar hebat, keringat dingin mulai membasahi dahinya. "Saya... saya tidak bermaksud... itu semua ide Sarah... dia yang menawarkannya..." "Jangan cari kambing hitam!" potong Dante tegas. "Kalian semua yang terlibat, dengarkan baik-baik. Mulai detik ini juga, kalian dipecat secara tidak hormat. Seluruh akses kalian ke sistem perusahaan ditutup. Semua aset dan tunjangan yang kalian terima di luar gaji resmi akan kami tuntut kembali melalui jalur hukum. Dan jika ada satu pun dari kalian yang berani mengganggu nama baik keluargaku atau orang yang kucintai... jangan salahkan aku jika hidup kalian hancur sampai ke generasi berikutnya." Tidak ada yang berani membantah. Tidak ada yang berani membuka mulut untuk membela diri. Kekuatan dan wibawa yang dipancarkan Dante saat itu begitu besar hingga mereka sadar bahwa perlawanan apa pun hanyalah sia-sia. Ia bukan lagi anak muda yang mudah diatur dan diintimidasi seperti dulu. Ia adalah penguasa yang kembali untuk mengambil alih apa

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 128

    Dante berhenti sejenak di ambang pintu, tangannya mencengkeram gagang pintu itu kuat-kuat. Ia menoleh sekilas, tatapannya tajam dan dingin, jauh berbeda dari pria yang penuh keraguan beberapa jam lalu. "Siapkan semuanya. Kita ke ruang rapat utama, sekarang juga," perintahnya singkat, namun setiap kata terasa berat, seakan memukul lantai ruangan itu. "Dan pastikan semua anggota dewan direksi sudah berkumpul di sana. Aku tidak mau menunggu satu menit pun." Victor mengangguk cepat, matanya menyala bangga. "Seseorang menggunakan kekuasaannya dan mengumpulkan mereka sepuluh menit yang lalu. Mereka semua sudah menunggu. Sebagian besar tampak gelisah, Tuan." "Bagus. Biarkan mereka merasa takut. Itu baru permulaan." Dante melangkah keluar. Koridor luas di lantai teratas itu seketika menjadi sunyi senyap saat sosoknya muncul. Para staf dan manajer yang kebetulan lewat seketika berhenti melangkah, menunduk hormat, namun mata mereka tak lepas dari sosok pria itu. Tidak ada lagi keraguan, tid

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 127

    "Berita itu bukan sekadar menyebar, Tuan," ucap Victor pelan namun tegas. "Itu sudah disebarkan oleh kantor berita besar, dan sepertinya ada pihak yang sengaja mendukungnya agar terus naik ke permukaan. Bahkan beberapa direktur perusahaan pun mulai membicarakannya. Mereka mengatakan jika nama baik Vascos terus tercoreng seperti ini, mereka akan mengambil langkah-langkah tertentu—termasuk meninjau kembali posisi Anda di perusahaan ini." Dante tertegun sejenak, lalu tertawa sinis. "Jadi begitu. Sekarang aku mengerti. Semua kemudahan yang aku dapatkan sejak kembali, sambutan yang begitu mulus... ternyata ini tujuannya. Aku dijadikan boneka. Mereka ingin aku kembali bukan karena mereka menerimaku, tapi agar aku bisa dinikahkan dengan wanita itu demi nama besar perusahaan dan kepentingan mereka sendiri." "Benar," Victor mengangguk. "Ada perpecahan besar di dalam dewan direksi sejak kepergian Anda beberapa tahun lalu. Dua kubu sedang bersaing keras untuk menguasai kepemilikan saham te

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 126

    Di lantai teratas gedung pencakar langit Vascos Company, kaca tempered setebal dua puluh sentimeter memisahkan Dante dari riuh rendah kota yang kini terhampar jauh di bawah kakinya. Langit Coast Field siang itu kelabu, awan mendung menggantung rendah seolah ikut menekan dada pria itu. Tangan Dante meremas tepian meja kerja kayu jati tua yang sudah puluhan tahun menjadi saksi perjalanan keluarga besarnya, hingga buku-buku jarinya memutih. Ia kembali. Setelah beberapa tahun pergi tanpa pesan, tanpa kabar, dianggap hilang bahkan mungkin sudah tiada oleh sebagian besar orang yang mengenalnya. Dan kenyataannya justru yang paling membuatnya merasa tidak tenang: tidak ada yang bertanya ke mana ia pergi. Tidak ada yang menanyakan alasan kepergiannya yang tiba-tiba beberapa tahun silam. Tidak ada yang menyebutnya cucu durhaka—meski dalam lubuk hati terdalam, ia tahu betul itulah dirinya. Ia yang pernah meninggalkan semua kewajiban, melukai hati neneknya, dan membuang kepercayaan yang diberi

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 125

    Nyonya Valencia duduk di ruang tengah, tangannya perlahan memutar cangkir teh hangat yang belum sempat ia minum. Wajahnya tampak tenang, namun di matanya tersirat kekhawatiran yang mendalam. Saat Bibi Alma masuk, ia menoleh perlahan, memberi isyarat agar wanita itu duduk di hadapannya. "Silakan duduk, Alma," ucap Nyonya Valencia lembut, suaranya rendah namun berwibawa. "Terima kasih sudah datang." Bibi Alma duduk dengan sopan, tangannya diletakkan di atas pangkuan. "Tentu, Nyonya. Ada yang bisa Nyonya perintahkan?" Nyonya Valencia menghela napas pelan, menatap ke arah rumah kecil yang kini ditempati Jemima sejenak sebelum kembali menatap Bibi Alma. "Aku memanggilmu hanya untuk bertanya… bagaimana keadaan Jemima sekarang?" tanyanya pelan, penuh perhatian. "Dia sudah mengurung diri cukup lama. Apakah dia sudah mau makan? Atau sekadar keluar sebentar?" Bibi Alma menunduk sedikit, wajahnya tampak sedih. "Maafkan saya, Nyonya… Jemima masih belum mau keluar dari kamarnya. Tadi saya men

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 4

    Jemima segera menoleh kebelakang, dia jadi tidak enak hati.“Bukan.” Jawabnya tegas.Dia merasa malu sendiri karena fantasi konyolnya yang terlintas begiru liar di dalam kepalanya.Saat keluar dari rumah sakit, pria itu pikir wanita aneh itu akan menghentikan taksi untuk transportasi mereka pulang,

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 3

    Mat kini mulai takut saat melihat wajah dan kedua mata tajam pria yang dianggapnya gembel itu, apalagi saat pria itu mulai kembali berbalik ke arah Sam dan memukuli wajah Sam hingga pria itu berdarah-darah, pria itu seperti orang gila bahkan seakan kehilangan akal sehatnya karena pukulannya sangat b

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 2

    Dari kegelapan muncullah seorang pria berjalan mendekat dan lampu terowongan mulai memperlihatkan wujud aslinya.“Hah?! Apa-apaan ini, gelandangan?!” seru Ian setelah sadar siapa pria di depannya.“Apa kau sudah bosan hidup?!“Gelandangan sialan!”Pria misterius itu tampak tak peduli dengan semua ma

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 1

    Malam hari di kota Coast Field yang dingin.“Lepaskan! Apa yang kalian lakukan!”“Tolong… “Sayup-sayup terdengar suara seorang wanita berteriak meminta pertolongan sambil berlari ketakutan di dalam lorong yang disampingnya berjejer para tunawisma yang sedang beristirahat.“Lepaskan! Tolong… tolong!

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status