Share

Bab 11

Penulis: Paradista
last update Tanggal publikasi: 2024-05-05 08:00:26
Julian menggeleng-gelengkan kepalanya setelah puas memandangi Jemima yang tampak mulai tertidur.

“Ah… untung saja orang asing itu, aku.” Desahnya lembut sambil berdiri, memadamkan lampu dan tidur di tempat yang sudah Jemima siapakan untuknya.

Tanpa mereka berdua sadari, keduanya tertidur dengan pulas, keberadaan Julian membuat Jemima merasa dijaga seseorang sehingga dia bisa tidur pulas dan bagi Julian entah kenapa kasur lantai itu membuatnya terhipnotis hingga bermimpi indah.

Sungguh ajaib, bat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 125

    Nyonya Valencia duduk di ruang tengah, tangannya perlahan memutar cangkir teh hangat yang belum sempat ia minum. Wajahnya tampak tenang, namun di matanya tersirat kekhawatiran yang mendalam. Saat Bibi Alma masuk, ia menoleh perlahan, memberi isyarat agar wanita itu duduk di hadapannya. "Silakan duduk, Alma," ucap Nyonya Valencia lembut, suaranya rendah namun berwibawa. "Terima kasih sudah datang." Bibi Alma duduk dengan sopan, tangannya diletakkan di atas pangkuan. "Tentu, Nyonya. Ada yang bisa Nyonya perintahkan?" Nyonya Valencia menghela napas pelan, menatap ke arah rumah kecil yang kini ditempati Jemima sejenak sebelum kembali menatap Bibi Alma. "Aku memanggilmu hanya untuk bertanya… bagaimana keadaan Jemima sekarang?" tanyanya pelan, penuh perhatian. "Dia sudah mengurung diri cukup lama. Apakah dia sudah mau makan? Atau sekadar keluar sebentar?" Bibi Alma menunduk sedikit, wajahnya tampak sedih. "Maafkan saya, Nyonya… Jemima masih belum mau keluar dari kamarnya. Tadi saya men

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 124

    Bab 124: Penyesalan yang Menyesakkan Langit kota Red Apple pagi itu mendung, sama persis seperti hati Jemima. Dia duduk meringkuk di sudut kamar, selimut tebal hanya menutupi separuh tubuh, matanya bengkak dan merah—sudah berjam-jam ia menangis, sampai air matanya terasa kering dan dadanya terasa sesak seakan dihimpit batu berat. Setiap kali ia memejam, wajah Dante muncul di benaknya, dan setiap kali itu juga, rasa sakit dan penyesalan menyergapnya lebih dalam dari sebelumnya. Ia teringat satu per satu hal-hal yang dulu ia abaikan begitu saja. "Aku bukan orang biasa, Jemima. Kalau kamu tahu siapa aku sebenarnya, mungkin kamu tak akan pernah melihatku sama lagi." Kalimat itu Dante ucapkan hari itu juga, saat ia masih tidur di kontrakan sempit pinggir kota Coast Field, saat Jemima memasakkan pria itu mie instan sambil mengeluh soal betapa sulitnya hidup. Saat itu Jemima hanya tertawa pelan, menganggap itu sekadar keluhan orang yang sedang terpuruk, atau mungkin sekadar kata-kata kos

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 123

    Hari-hari berikutnya berubah menjadi perjuangan tanpa henti bagi Dante. Pagi buta sebelum matahari terbit, ia sudah berdiri di ruang kerja rumah lamanya, menatap peta kota Red Apple yang tertutup tanda merah dan biru — merah untuk panti jompo yang sudah diperiksa, biru untuk yang belum. Di satu sisi, timnya terus menyisir setiap sudut kota, menanyakan keberadaan Bibi Alma, Jemima, maupun neneknya. Di sisi lain, ia tahu ia tak bisa lagi menunda kewajiban terbesarnya — kembali ke pusat kendali Korpurasi Vascos. “Sekretaris utama sudah menunggu di ruang kerja utama, Tuan,” lapor Victor pelan sambil berdiri di ambang pintu. “Semua direktur utama dari berbagai cabang sudah berkumpul melalui sambungan jarak jauh. Mereka tahu kau kembali, dan mereka menantikan kepemimpinanmu.” Dante mengangguk pelan, namun tatapannya tetap terpaku pada peta di dinding. “Berapa persen panti yang sudah diperiksa?” “Baru tiga puluh persen, Tuan. Kebanyakan panti jompo elit di sini sangat menjaga privasi peng

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 122

    Malam itu, seluruh kota berubah menjadi wilayah pencarian. Perintah Dante bagai perintah raja — tak satu pun yang berani mengabaikannya. Puluhan kendaraan berplat khusus Vascos bergerak menyisir setiap sudut kota, lampu sorot menerangi gang-gang sempit, jalanan sepi, hingga tempat-tempat tersembunyi yang hampir tak terjamah manusia. Dante sendiri memimpin langsung, tak mau tinggal diam di kantor atau hotel. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, matanya tak lelah meneliti setiap wajah, setiap bayangan, berharap sekilas saja melihat sosok yang dicarinya. Jam berputar melewati tengah malam, lalu dini hari. Namun hasilnya tetap nol. Tak ada yang melihat Jemima. Tak ada laporan, tak ada petunjuk, tak ada jejak. Seolah gadis itu lenyap ditelan bumi. Dante berdiri di pinggir jalan yang sepi, napasnya memburu, keringat bercampur debu di wajahnya yang tampak lelah namun tak sedikit pun menyerah. Victor mendekat dengan wajah muram, menahan rasa berat untuk menyampaikan kabar itu. “Da

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 121

    Malam itu, suasana di sekitar Hotel Vascos berubah total. Udara yang tadinya hangat dan romantis kini terasa dingin dan menyesakkan. Dante berdiri sendirian di depan pintu utama hotel, tubuhnya kaku, setiap otot menegang menahan amarah yang siap meledak. Tatapannya yang tadi penuh kasih sayang kini berubah tajam, dingin, dan mengerikan — tatapan Dante Julian Vascos, pria yang namanya cukup untuk membuat siapa pun gemetar ketakutan. Victor berlari keluar menyusul, diikuti Egan, Steve, dan Miller. Mereka semua berhenti di belakang Dante, tak berani bersuara. Batas kesabaran tuannya telah habis. “Kumpulkan semua orang,” ucap Dante, suaranya rendah namun berat, mematikan. “Sebarkan orang ke setiap jalan keluar kota, stasiun, terminal, bandara. Cek setiap nama penumpang, setiap transaksi, setiap kamera pengawas. Aku tidak peduli berapa biayanya, berapa lama waktu yang diambil. Temukan Jemima. Hidup kalian tak akan berharga jika dia terluka.” “Baik, Tuan,” jawab Egan tegas, segera berbal

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 120

    Restoran utama Hotel Vascos tampak hangat dan romantis. Lampu gantung berkilau lembut, musik biola mengalun pelan, dan aroma bunga mawar memenuhi ruangan. Di sudut paling tenang, Dante — atau Julian — sudah menunggu. Jantungnya berdebar kencang, malam ini ia berniat jujur sepenuhnya. Tak ada lagi kebohongan. Tak ada lagi penyamaran. Pintu terbuka. Jemima melangkah masuk mengenakan gaun krem sederhana namun indah. Wajahnya bersinar, matanya berbinar bahagia melihat suaminya. Bagi siapa pun yang melihat, mereka adalah pasangan yang sempurna — meski Jemima tak pernah tahu siapa pria yang berdiri di hadapannya sesungguhnya. “Kau cantik sekali, Jemima,” sapa Dante lembut, menyambutnya dengan senyum penuh kasih sayang. “Terima kasih, Julian. Kau juga tampan,” jawab Jemima tersipu, duduk di hadapannya. Sepanjang makan malam, mereka tertawa dan bercerita. Namun di balik tawa itu, Dante terus menahan rasa gelisah. Saat hidangan penutup habis, ia menggenggam kedua tangan Jemima di atas meja

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 42

    Si Jenius tampak maju, dia terlihat gugup saat berhadapan dengan Julian, berkali-kali pria itu membenarkan posisi kacamatanya yang baik-baik saja untuk menutupi kecemasannya tersebut.“Aku saja, aku panggil Diego.” Katanya mengajukan diri dengan penuh percaya diri.Eddie tentu saja tak bisa menerima k

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 34

    Mendengar pertanyaan itu, Eddie terduduk lemas sambil mengangguk-anggukan kepalanya.Tommy mengangkat telapak tangannya, “tidak perlu merasa malu.” Katanya.Eddie tak berkutik, bagaimana mungkin dia tidak merasa malu? tentu saja rasanya dia ingin sembunyi saat seseoran

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 33

    Mendengar pertanyaan itu, Julian hanya bisa mengedikkan bahunya, lalu melengos pergi untuk mencari tempat duduk. Eddie akan segera mengikuti tapi kedua pegawainya mencegahnya.“Tuan, ada urusan yang lebih penting daripada berurusan dengan orang yang tidak penting.” Kata Si Jenius.“Ya, betul Tuan. Seb

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 22

    Mendengar perkataan dari Julian yang tampak lebih berani dari Victor, Diego yang dari tadi menjadi orang yang menyimak pertemuan akrab dua pria tersebut semakin penasaran.“Iya Tuan, pecatlah aku. Asal Kau kembali ke tempatmu,” terdengar Victor membalas dengan santai.“Haha… sialan Kau! masih tetap ta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status