로그인Julian tak berkutik, kali ini kesabarnnya benar-benar ingin segera meledak.
“Sam, Mat, pegangi dia.” Perintah pria itu pada kedua temannya. Pria yang dipanggil Sam dan Mat itu adalah pria yang mengganggu Jemima saat Julian sedang luntang lantung di jalanan perbatasan antara kota Spring Brooks dan Coast Fiel, tentu saja Julian ingat juga dengan pria satunya lagi, yaitu Ian. Setidaknya begitulah Jemima menyebutnya, Julian berjanji akan mencariDi Kota yang Sama, Tapi Tempat yang Berbeda Di Balik Pintu Kamar yang Tertutup Suara ketukan itu kembali terdengar, kali ini lebih tegas namun tetap menyimpan nada kelembutan yang tak pernah berubah. Duk. Duk. Duk. "Jemi, jika kamu masih belum mau makan, setidaknya lihat berita. Ada sesuatu yang harus kamu lihat," ucap Bibi Alma dari balik pintu. Suaranya terdengar sedikit bergetar—seolah-olah apa yang baru saja ia saksikan di layar televisi ruang tengah itu, membuatnya berat untuk mengucapkannya. Di dalam kamar, Jemima masih meringkuk di bawah selimut tebal hingga batas leher. Tubuhnya terasa berat, seolah setiap inci kulitnya tertarik ke bawah oleh gaya gravitasi yang tiba-tiba menjadi berkali-kali lipat lebih kuat. Sudah hampir tiga hari sejak ia tiba di rumah Bibi Alma—tempat yang dulu sering ia kunjungi saat masih kecil, tempat yang seharusnya menjadi pelarian paling aman—namun bukannya merasa lebih baik, tubuhnya justru memberontak dengan cara yang tak ia mengerti. Setiap k
"Sarah Anthony bekerja sama dengan beberapa oknum di dalam perusahaan ini untuk menyebarkan berita bohong, membohongi publik, dan mencoba memanfaatkan nama besar keluargaku demi kekuasaan dan uang," lanjut Dante tanpa ragu sedikit pun. "Semua bukti sudah aku miliki. Mulai hari ini, aku mengajukan tuntutan hukum atas nama Vascos Company dan atas nama pribadiku terhadap Sarah Anthony karena telah melakukan pencemaran nama baik, penipuan publik, dan percobaan penguasaan aset perusahaan secara ilegal. Aku tidak akan memberi ampun kepada siapa pun yang berani memainkan perasaan orang lain dan memanfaatkan nama keluargaku." Dante menatap lurus ke arah kamera utama, seolah menatap langsung ke mata Sarah yang sedang menonton siaran ini di mana pun ia berada. "Untuk Sarah," ucapnya dingin dan tegas. "Aku beri waktu dua kali dua puluh empat jam untuk kau menarik semua pernyataanmu, meminta maaf secara terbuka, dan mengembalikan segala sesuatu yang pernah kau ambil atau gunakan atas namaku.
Pak Haris gemetar hebat, keringat dingin mulai membasahi dahinya. "Saya... saya tidak bermaksud... itu semua ide Sarah... dia yang menawarkannya..." "Jangan cari kambing hitam!" potong Dante tegas. "Kalian semua yang terlibat, dengarkan baik-baik. Mulai detik ini juga, kalian dipecat secara tidak hormat. Seluruh akses kalian ke sistem perusahaan ditutup. Semua aset dan tunjangan yang kalian terima di luar gaji resmi akan kami tuntut kembali melalui jalur hukum. Dan jika ada satu pun dari kalian yang berani mengganggu nama baik keluargaku atau orang yang kucintai... jangan salahkan aku jika hidup kalian hancur sampai ke generasi berikutnya." Tidak ada yang berani membantah. Tidak ada yang berani membuka mulut untuk membela diri. Kekuatan dan wibawa yang dipancarkan Dante saat itu begitu besar hingga mereka sadar bahwa perlawanan apa pun hanyalah sia-sia. Ia bukan lagi anak muda yang mudah diatur dan diintimidasi seperti dulu. Ia adalah penguasa yang kembali untuk mengambil alih apa
Dante berhenti sejenak di ambang pintu, tangannya mencengkeram gagang pintu itu kuat-kuat. Ia menoleh sekilas, tatapannya tajam dan dingin, jauh berbeda dari pria yang penuh keraguan beberapa jam lalu. "Siapkan semuanya. Kita ke ruang rapat utama, sekarang juga," perintahnya singkat, namun setiap kata terasa berat, seakan memukul lantai ruangan itu. "Dan pastikan semua anggota dewan direksi sudah berkumpul di sana. Aku tidak mau menunggu satu menit pun." Victor mengangguk cepat, matanya menyala bangga. "Seseorang menggunakan kekuasaannya dan mengumpulkan mereka sepuluh menit yang lalu. Mereka semua sudah menunggu. Sebagian besar tampak gelisah, Tuan." "Bagus. Biarkan mereka merasa takut. Itu baru permulaan." Dante melangkah keluar. Koridor luas di lantai teratas itu seketika menjadi sunyi senyap saat sosoknya muncul. Para staf dan manajer yang kebetulan lewat seketika berhenti melangkah, menunduk hormat, namun mata mereka tak lepas dari sosok pria itu. Tidak ada lagi keraguan, tid
"Berita itu bukan sekadar menyebar, Tuan," ucap Victor pelan namun tegas. "Itu sudah disebarkan oleh kantor berita besar, dan sepertinya ada pihak yang sengaja mendukungnya agar terus naik ke permukaan. Bahkan beberapa direktur perusahaan pun mulai membicarakannya. Mereka mengatakan jika nama baik Vascos terus tercoreng seperti ini, mereka akan mengambil langkah-langkah tertentu—termasuk meninjau kembali posisi Anda di perusahaan ini." Dante tertegun sejenak, lalu tertawa sinis. "Jadi begitu. Sekarang aku mengerti. Semua kemudahan yang aku dapatkan sejak kembali, sambutan yang begitu mulus... ternyata ini tujuannya. Aku dijadikan boneka. Mereka ingin aku kembali bukan karena mereka menerimaku, tapi agar aku bisa dinikahkan dengan wanita itu demi nama besar perusahaan dan kepentingan mereka sendiri." "Benar," Victor mengangguk. "Ada perpecahan besar di dalam dewan direksi sejak kepergian Anda beberapa tahun lalu. Dua kubu sedang bersaing keras untuk menguasai kepemilikan saham te
Di lantai teratas gedung pencakar langit Vascos Company, kaca tempered setebal dua puluh sentimeter memisahkan Dante dari riuh rendah kota yang kini terhampar jauh di bawah kakinya. Langit Coast Field siang itu kelabu, awan mendung menggantung rendah seolah ikut menekan dada pria itu. Tangan Dante meremas tepian meja kerja kayu jati tua yang sudah puluhan tahun menjadi saksi perjalanan keluarga besarnya, hingga buku-buku jarinya memutih. Ia kembali. Setelah beberapa tahun pergi tanpa pesan, tanpa kabar, dianggap hilang bahkan mungkin sudah tiada oleh sebagian besar orang yang mengenalnya. Dan kenyataannya justru yang paling membuatnya merasa tidak tenang: tidak ada yang bertanya ke mana ia pergi. Tidak ada yang menanyakan alasan kepergiannya yang tiba-tiba beberapa tahun silam. Tidak ada yang menyebutnya cucu durhaka—meski dalam lubuk hati terdalam, ia tahu betul itulah dirinya. Ia yang pernah meninggalkan semua kewajiban, melukai hati neneknya, dan membuang kepercayaan yang diberi
Jemima masih berusaha mencari celah untuk kabur karena tak mau berurusan dengan Ian lagi, namun tampaknya pria itu sangat teguh serta bersungguh-sungguh.“Tolonglah.”“Hanya kita berdua.” Lanjut Ian memastikan.Terdengar suara klakson mobil lain hingga beberapa kali dan membuat keributan, kelihatannya
Jemima hanya berdiri mematung, air matanya terlihat mulai mengalir, gadis itu sudah berusaha tak menjatuhkan air mata dengan menggigit kuat bibir bawahnya. Tapi sepertinya itu tak berhasil, adegan itu terlihat sangat miris hingga rasa sakitnya terasa sampai ke ulu hati Julian.“Hey! Kamu siapanya? P
“Kamu mau yang mana? Yang pedas atau yang gak pedas?” tanya Jemima lagi, dia masih menunggu keputusan pria asing itu.“Terserah kamu saja.” Jawab pria itu lirih, sebaiknya kalimat itu saja yang dia katakan dan memendam rasa penasaran terhadap bungkusan itu belakangan saja.Jemima tampak memilih-mili
Jemima segera menoleh kebelakang, dia jadi tidak enak hati.“Bukan.” Jawabnya tegas.Dia merasa malu sendiri karena fantasi konyolnya yang terlintas begiru liar di dalam kepalanya.Saat keluar dari rumah sakit, pria itu pikir wanita aneh itu akan menghentikan taksi untuk transportasi mereka pulang,







