LOGINMark dan istrinya saling memandang, tebakan mereka sepertinya benar bahwa Ian adalah pria yang licik.
“Tapi, Jemima lebih berharga daripada hutang kami. Tolong pikirkanlah,” bujuk Mark.“Ya, tolong pikirkanlah, menantuku. Bukankah Anda sudah berjanji? Kami sudah membawa Jemima sesuai janji, sekarang kami menagih janji Anda, bukankah adil?” bujuk istri Mark, dia terdengar bijaksana.Ian terdiam, tampak berpikir karena nampaknya keduaNyonya Valencia duduk di ruang tengah, tangannya perlahan memutar cangkir teh hangat yang belum sempat ia minum. Wajahnya tampak tenang, namun di matanya tersirat kekhawatiran yang mendalam. Saat Bibi Alma masuk, ia menoleh perlahan, memberi isyarat agar wanita itu duduk di hadapannya. "Silakan duduk, Alma," ucap Nyonya Valencia lembut, suaranya rendah namun berwibawa. "Terima kasih sudah datang." Bibi Alma duduk dengan sopan, tangannya diletakkan di atas pangkuan. "Tentu, Nyonya. Ada yang bisa Nyonya perintahkan?" Nyonya Valencia menghela napas pelan, menatap ke arah rumah kecil yang kini ditempati Jemima sejenak sebelum kembali menatap Bibi Alma. "Aku memanggilmu hanya untuk bertanya… bagaimana keadaan Jemima sekarang?" tanyanya pelan, penuh perhatian. "Dia sudah mengurung diri cukup lama. Apakah dia sudah mau makan? Atau sekadar keluar sebentar?" Bibi Alma menunduk sedikit, wajahnya tampak sedih. "Maafkan saya, Nyonya… Jemima masih belum mau keluar dari kamarnya. Tadi saya men
Bab 124: Penyesalan yang Menyesakkan Langit kota Red Apple pagi itu mendung, sama persis seperti hati Jemima. Dia duduk meringkuk di sudut kamar, selimut tebal hanya menutupi separuh tubuh, matanya bengkak dan merah—sudah berjam-jam ia menangis, sampai air matanya terasa kering dan dadanya terasa sesak seakan dihimpit batu berat. Setiap kali ia memejam, wajah Dante muncul di benaknya, dan setiap kali itu juga, rasa sakit dan penyesalan menyergapnya lebih dalam dari sebelumnya. Ia teringat satu per satu hal-hal yang dulu ia abaikan begitu saja. "Aku bukan orang biasa, Jemima. Kalau kamu tahu siapa aku sebenarnya, mungkin kamu tak akan pernah melihatku sama lagi." Kalimat itu Dante ucapkan hari itu juga, saat ia masih tidur di kontrakan sempit pinggir kota Coast Field, saat Jemima memasakkan pria itu mie instan sambil mengeluh soal betapa sulitnya hidup. Saat itu Jemima hanya tertawa pelan, menganggap itu sekadar keluhan orang yang sedang terpuruk, atau mungkin sekadar kata-kata kos
Hari-hari berikutnya berubah menjadi perjuangan tanpa henti bagi Dante. Pagi buta sebelum matahari terbit, ia sudah berdiri di ruang kerja rumah lamanya, menatap peta kota Red Apple yang tertutup tanda merah dan biru — merah untuk panti jompo yang sudah diperiksa, biru untuk yang belum. Di satu sisi, timnya terus menyisir setiap sudut kota, menanyakan keberadaan Bibi Alma, Jemima, maupun neneknya. Di sisi lain, ia tahu ia tak bisa lagi menunda kewajiban terbesarnya — kembali ke pusat kendali Korpurasi Vascos. “Sekretaris utama sudah menunggu di ruang kerja utama, Tuan,” lapor Victor pelan sambil berdiri di ambang pintu. “Semua direktur utama dari berbagai cabang sudah berkumpul melalui sambungan jarak jauh. Mereka tahu kau kembali, dan mereka menantikan kepemimpinanmu.” Dante mengangguk pelan, namun tatapannya tetap terpaku pada peta di dinding. “Berapa persen panti yang sudah diperiksa?” “Baru tiga puluh persen, Tuan. Kebanyakan panti jompo elit di sini sangat menjaga privasi peng
Malam itu, seluruh kota berubah menjadi wilayah pencarian. Perintah Dante bagai perintah raja — tak satu pun yang berani mengabaikannya. Puluhan kendaraan berplat khusus Vascos bergerak menyisir setiap sudut kota, lampu sorot menerangi gang-gang sempit, jalanan sepi, hingga tempat-tempat tersembunyi yang hampir tak terjamah manusia. Dante sendiri memimpin langsung, tak mau tinggal diam di kantor atau hotel. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, matanya tak lelah meneliti setiap wajah, setiap bayangan, berharap sekilas saja melihat sosok yang dicarinya. Jam berputar melewati tengah malam, lalu dini hari. Namun hasilnya tetap nol. Tak ada yang melihat Jemima. Tak ada laporan, tak ada petunjuk, tak ada jejak. Seolah gadis itu lenyap ditelan bumi. Dante berdiri di pinggir jalan yang sepi, napasnya memburu, keringat bercampur debu di wajahnya yang tampak lelah namun tak sedikit pun menyerah. Victor mendekat dengan wajah muram, menahan rasa berat untuk menyampaikan kabar itu. “Da
Malam itu, suasana di sekitar Hotel Vascos berubah total. Udara yang tadinya hangat dan romantis kini terasa dingin dan menyesakkan. Dante berdiri sendirian di depan pintu utama hotel, tubuhnya kaku, setiap otot menegang menahan amarah yang siap meledak. Tatapannya yang tadi penuh kasih sayang kini berubah tajam, dingin, dan mengerikan — tatapan Dante Julian Vascos, pria yang namanya cukup untuk membuat siapa pun gemetar ketakutan. Victor berlari keluar menyusul, diikuti Egan, Steve, dan Miller. Mereka semua berhenti di belakang Dante, tak berani bersuara. Batas kesabaran tuannya telah habis. “Kumpulkan semua orang,” ucap Dante, suaranya rendah namun berat, mematikan. “Sebarkan orang ke setiap jalan keluar kota, stasiun, terminal, bandara. Cek setiap nama penumpang, setiap transaksi, setiap kamera pengawas. Aku tidak peduli berapa biayanya, berapa lama waktu yang diambil. Temukan Jemima. Hidup kalian tak akan berharga jika dia terluka.” “Baik, Tuan,” jawab Egan tegas, segera berbal
Restoran utama Hotel Vascos tampak hangat dan romantis. Lampu gantung berkilau lembut, musik biola mengalun pelan, dan aroma bunga mawar memenuhi ruangan. Di sudut paling tenang, Dante — atau Julian — sudah menunggu. Jantungnya berdebar kencang, malam ini ia berniat jujur sepenuhnya. Tak ada lagi kebohongan. Tak ada lagi penyamaran. Pintu terbuka. Jemima melangkah masuk mengenakan gaun krem sederhana namun indah. Wajahnya bersinar, matanya berbinar bahagia melihat suaminya. Bagi siapa pun yang melihat, mereka adalah pasangan yang sempurna — meski Jemima tak pernah tahu siapa pria yang berdiri di hadapannya sesungguhnya. “Kau cantik sekali, Jemima,” sapa Dante lembut, menyambutnya dengan senyum penuh kasih sayang. “Terima kasih, Julian. Kau juga tampan,” jawab Jemima tersipu, duduk di hadapannya. Sepanjang makan malam, mereka tertawa dan bercerita. Namun di balik tawa itu, Dante terus menahan rasa gelisah. Saat hidangan penutup habis, ia menggenggam kedua tangan Jemima di atas meja
Mat kini mulai takut saat melihat wajah dan kedua mata tajam pria yang dianggapnya gembel itu, apalagi saat pria itu mulai kembali berbalik ke arah Sam dan memukuli wajah Sam hingga pria itu berdarah-darah, pria itu seperti orang gila bahkan seakan kehilangan akal sehatnya karena pukulannya sangat b
Dari kegelapan muncullah seorang pria berjalan mendekat dan lampu terowongan mulai memperlihatkan wujud aslinya.“Hah?! Apa-apaan ini, gelandangan?!” seru Ian setelah sadar siapa pria di depannya.“Apa kau sudah bosan hidup?!“Gelandangan sialan!”Pria misterius itu tampak tak peduli dengan semua ma
Malam hari di kota Coast Field yang dingin.“Lepaskan! Apa yang kalian lakukan!”“Tolong… “Sayup-sayup terdengar suara seorang wanita berteriak meminta pertolongan sambil berlari ketakutan di dalam lorong yang disampingnya berjejer para tunawisma yang sedang beristirahat.“Lepaskan! Tolong… tolong!
Terlihat mulai banyak penonton yang menggemari akun Hektor dan mereka senang terutama para wanita saat pria itu melakukan live streaming. Mereka mulai mengomentari siapa yang berada di dalam butik bersama pasangan terpopuler saat ini.(Wah, kalian sangat penasaran. Baiklah aku akan memperlihatkannya,







