Share

2. Tak Masalah Aku Terluka

Penulis: Wella Andriana
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-25 07:13:55

Aku mendengus kesal, lalu langsung bangkit hendak meninggalkan taman. Sepertinya harus mencari tempat lain untuk merenungi nasib.

"Jangan terlalu menghayati kesedihan. Kesedihan itu harusnya dilawan. Nangis boleh, tapi jangan sampai kesedihan itu merusak jiwa raga."

Aku tak jadi melangkah mendengar celoteh dari lelaki itu. Makin kesal rasanya, padahal biasanya aku tipe orang yang penyabar dalam bersosialisasi. Entah memang penyabar, atau aku yang terlalu menahan diri selama ini.

"Abang tau apa? Abang gak tau kan masalahku seberat apa?" Balasku menatap tajam pada lelaki itu.

"Bapak atau ibumu meninggal? Enggak 'kan?"

Aku langsung terdiam sesaat, mendengar ucapan lelaki itu.

"Ya memang enggak. Tapi ada masalah yang lebih rumit. Bukan hanya perkara orang tua meninggal saja manusia bisa menangis, Bang." Nada suaraku mulai melunak, mungkin karena Bang Iza bicara tak pakai emosi, aku pun jadi segan.

"Iya, Abang tau. Kan Abang bilang gak masalah nangis, cuma dilawan, jangan dihayati. Nanti bisa ngerusak raga."

"Haah! Udahlah, Bang. Aku mau balik. Abang mana ngerti gimana rasanya terancam gagal nikah," tukasku malas memperpanjang obrolan.

"Kamu mau nikah?" Mendengar ucapanku spontan Bang Iza menoleh, hingga pandangan mata kami pun bertemu.

"Iya," sahutku lalu langsung pamit kembali padanya.

Namun, baru beberapa langkah berjalan, aku teringat sesuatu dan kembali berbalik ke arah Bang Iza.

"Aku gak ada makanan kali ini, Bang. Tapi ini untuk beli makanan atau roti," ujarku sembari meletakkan uang sepuluh ribu-an di telapak tangannya.

"Abang cobalah cari kerja, biar gak kelaparan terus. Kerja apa saja yang penting halal. Abang masih muda, sayang tenaga Abang gak digunakan untuk yang bermanfaat."

Lelaki itu hanya diam saja saat aku memberi nasihat. Ia hanya terus menatap uang yang ada di telapak tangannya. Karena takut lelaki itu murka mendengar nasihatku, buru-buru aku pamit kembali.

***

Langit sudah semakin menggelap, tapi aku rasanya benar-benar enggan kembali ke rumah. Kuputuskan untuk mampir dulu di masjid pinggir jalan untuk menunaikan sholat Maghrib. Dalam hati berharap semoga Allah memberi aku petunjuk atas masalah yang sedang menimpaku.

Usai sholat hati jadi sedikit lebih tenang. Aku berusaha optimis dan yakin jika Mas Bima akan mempertahankanku. Dan jika memang itu terjadi, aku pun tetap kukuh akan menikah dengannya. Sekalipun Papa akan mengamuk, aku tak akan peduli.

Sudah cukup selama ini aku selalu mengalah demi Clara--sang ratu sesungguhnya di rumah kami. Clara memang menjadi kesayangan semua orang. Karena memang ia anak yang baik, lembut, penurut, juga lebih cantik dariku tentunya.

Aku juga heran, bagaimana bisa Clara yang sepolos itu bisa terjerumus pada keadaan seperti ini. Entah ia dijebak, aku pun tak mengerti.

Sebelum meninggalkan masjid, kuhidupkan kembali ponsel yang sejak tadi kumatikan. Ternyata sudah banyak pesan dan panggilan masuk dari orang rumah.

[Kamu di mana, Lin? Bima dan keluarganya sudah datang sejak tadi.]

Pesan Papa tersebut membuat aku cepat-cepat bergegas kembali. Aku harus meyakinkan Mas Bima agar tetap menikahiku.

Namun sayang, sepertinya harapanku pupus, karena setelah sampai di rumah terlihat mereka sudah selesai berdiskusi. Raut lega terpancar jelas dari wajah Mama dan Papa.

"Duduk, Lin!" Papa menegurku yang terdiam di ambang pintu melihat raut kelegaan di wajah mereka.

"Bima dan keluarganya sudah setuju, Lin. Kamu tolong relakan Bima ya? Ini demi kebaikan semuanya. Kamu bilang kamu sayang sama keluarga kita, kamu sayang sama Clara 'kan?"

Aku tak menjawab ucapan Papa, mataku kini tengah fokus menatapi Mas Bima yang tengah tertunduk dalam seperti seorang lelaki pengecut.

Sungguh aku tak menyangka, Mas Bima dengan gampangnya menerima semua permintaan Papa. Apa sebegitu tak berharganya aku baginya? Bukannya selama ini ia selalu bilang begitu mencintaiku?

"Benar kamu mau menikahi Clara, Mas?" Susah payah aku mengeluarkan tanya.

Tapi ternyata Mas Bima yang biasa terlihat tangguh itu lagi-lagi bersikap bak pengecut. Ia hanya menjawab dengan anggukan tanpa berani menatap mataku.

"Baik! Jika itu mau kalian, aku relakan Mas Bima untuk Clara," tegasku dengan sekuat tenaga menahan gemuruh di dada juga air mata yang hendak menetes.

Responku tersebut tentu memberi kelegaan pada semua orang. Bahkan Mas Bima langsung mengangkat kepalanya menatapku dengan pandangan tak percaya. Sepertinya ia tak menyangka jika responku akan begitu santai. Mungkin ia pikir aku akan menangis meraung-raung karena tak jadi menikah dengannya.

Tentu aku tak akan seperti itu

Aku masih punya harga diri. Buat apa juga aku mengemis-ngemis cinta pada orang yang sama sekali tak berniat memperjuangkanku? Mungkin jika Mas Bima kukuh ingin bersamaku, bisa jadi responku akan berbeda. Tapi ini? Dia saja bersikap pengecut begitu.

"Mbak, maafin aku ... Ini semua gara-gara aku. Ma, lebih baik aku abor*si saja ketimbang menyakiti Mbak Alin." Dengan air mata berlinang, Clara tiba-tiba bersimpuh di kakiku.

Aku memejamkan mata sesaat, demi mengatur emosi yang hampir tak terkendali. Karena walau aku kelihatan tenang di luar, tapi hatiku sungguh sakit sekali.

"Ra, jangan begitu. Papa dan Mama gak rela kamu melakukan hal tersebut. Kami gak rela jika kamu kenapa-napa. Mbak Alin pun pasti berpikir yang sama. Iya 'kan, Lin?" Ujar Mama berusaha menghibur Clara yang masih terisak menyedihkan.

"Kenapa baru sekarang kamu berpikir begitu? Kenapa gak dari awal aja kamu gugurkan? Apa kamu sengaja mau mempermainkan perasaan Mbak, Ra?" Sahutku dingin membuat semua orang menatapku tak percaya.

Mereka pasti tak menyangka jika aku bisa bersikap kejam dan tega begitu pada Clara.

"Lin! Kamu bicara apa?!" Bentak Papa merasa tak terima dengan tanggapanku.

"Aku hanya menyayangkan sikap plin-plan anak Papa ini. Kenapa baru sekarang ia berpikir mau mengugurkan? Kenapa gak dari sebelum keluarga Mas Bima datang? Kenapa gak--."

"Aliin!" Suara bentakan Papa berhasil menahan kata-kataku. Wajah lelaki yang selama ini begitu kuhormati itu terlihat sudah merah padam.

Aku menghela napas panjang, lalu melenggang begitu saja masuk ke kamar. Sepertinya protesku sebagai korban pun percuma untuk kuluahkan. Karena bagi mereka tak masalah aku terluka, dari pada Clara yang menderita.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   12. Balas Dendam Salah Sasaran

    POV Bang Iza "Kemana dia?" Gumamku sembari langsung menerobos masuk kamar Alin.Dahiku mengernyit saat melihat tak ada satu pun barang Alin di atas nakas juga belakang pintu.Dengan perasaan yang mulai tak enak, aku menuju lemari kecil di sudut ruangan dan membukanya. Mataku nanar saat melihat lemari milik Alin sudah kosong, hanya tersisa album foto dan kotak cincin yang kuberikan padanya sebagai mahar.Kuambil dua benda tersebut, dan saat kubuka kotak beludru merah itu di dalamnya sudah bertengger dengan cantik cincin pernikahan Alin. Hatiku semakin tak tenang, karena sadar Alin kabur dari rumah.Dengan kasar kubuka album foto yang baru kali ini kulihat. Lagi-lagi aku tercengang saat tahu ternyata itu album foto pernikahan kami. Kubuka kasar lembar demi lembarnya, berharap menemukan petunjuk kemana Alin pergi. Namun nihil, aku hanya menemukan selembar foto yang hilang dari album tersebut. Sepertinya Alin membawa selembar foto itu.Seperti orang gila aku menyusuri sudut demi sudut ka

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   11. Perhatian Terakhir

    Kubuka mata saat mendengar kumandang adzan subuh dari mesjid terdekat. Sepertinya baru sekejap aku tidur, karena lelaki breng*sek itu baru menghentikan aksinya setelah aku tak sadarkan diri.Seluruh tubuhku ngilu sekali, karena berulangkali lelaki itu meruda*paksaku disertai pukulan dan tamparan. Benar kata lelaki itu, malam tadi menjadi malam pertama terburuk di hidupku. Bahkan jika tak ingat bunuh diri itu adalah dosa besar, rasanya aku ingin bunuh diri saat ini juga. Hidupku sudah hancur kini. Raga juga batinku sudah remuk berkeping-keping dibuat lelaki itu.Dengan menahan ngilu, aku turun dari ranjang. Berniat menuju kamar mandi, membersihkan diri, dan mengadukan semua permasalahanku pada yang Maha Kuasa.Saat sudah berhasil berdiri, aku tercengang menatap seprei juga selimut sudah banyak dipenuhi bercak dar4h. Darah dari luka Bang Iza, lukaku, juga mungkin bercampur dengan dar4h keper4wananku.Sembari menarik selimut dan seprei, aku kembali menangis frustasi, karena merasa hidupk

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   10. Malam Pertama Terburuk

    Mas Bima yang tadi sedang duduk di ruang keluarga bersama Clara juga ikut mendekat untuk melihat lukaku. Sedangkan Bang Iza juga terlihat melirik sekilas ke arah lukaku, walau sekejap tapi dapat terlihat raut terkejut di wajah datarnya. Mungkin ia pun tak menyangka jika lukaku separah itu."Ayo ke rumah sakit, Lin!" Tanpa aba-aba Mama langsung menarik tanganku untuk bangkit, namun aku segera menahannya."Ngapain, Ma?""Luka kamu itu harus dijahit Alin!" Tegas Mama."Iya, Lin. Lukamu itu parah lho. Suami kamu ini gimana sih, udah tau istrinya luka parah begini bukannya dibawa ke Dokter, malah dibiarkan saja." Mas Bima ikut menimpali dengan menggerutu, namun langsung dibalas teriakan oleh Clara dari ruang keluarga, hingga lelaki itu tergopoh-gopoh mendatanginya. Sepertinya adikku itu tak terima jika suaminya memberi perhatian padaku."Benar kata Bima, kamu itu gimana sih, jadi suami? Bukannya Alin dibawa ke rumah sakit, malah dibiarkan saja!" Rutuk Mama pada Bang Iza yang tetap bersikap

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   9. Luka Pertama

    Aku sontak berdiri karena terkejut. Bahkan tangan yang masih berbusa pun kuabaikan."Eh, aku cuma mau nyuci baju Abang, karena udah beberapa hari dibiarkan--."Tanpa memberi kesempatan aku melanjutkan perkataan, lelaki itu dengan cepat menarik hijabku ke belakang dengan keras. Tubuhku makin gemetaran tak menentu melihat kilatan amarah di bola matanya."Maafin aku--."Bluggh ... Bluggh ....Belum selesai aku minta maaf, Bang Iza tanpa ampun memasukkan kepalaku dalam bak air, hingga aku tak bisa bernapas. Aku meronta ingin melepaskan diri, namun tenaga lelaki itu begitu kuat.Syukurnya tak berapa lama ia kembali menarik kepalaku ke atas, hingga aku bisa meraup oksigen sebanyak-banyaknya."Sudah kubilang, jangan sentuh barangku, atau aku akan mengha*bisimu!" Bentak lelaki itu lagi, lalu kembali ia mendorong kepalaku masuk ke air."Tapi sepertinya telingamu ini tak bisa mendengar dengan jelas ya! Biar kucuci sekalian telingamu ini, biar jelas mendengar." Bang Iza semakin dalam menekan ke

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   8. Pria Kejam

    Mataku membulat menatap Bang Iza, tak menyangka jika dia tega memberikan aku makanan basi ini. "Abang gak bercanda 'kan?" Tanyaku memastikan.Namun gebrakan tangan lelaki itu di meja langsung membungkam mulutku. Matanya menatapku dengan tajam, raut wajahnya yang sudah seram jadi bertambah semakin seram, membuat tubuhku tanpa sadar bergetar."Kalau aku bilang makan, ya makan!" Bentak lelaki itu, lalu bangkit mendekatiku.Tanpa aba-aba, lelaki itu langsung menarik hijab yang kupakai ke belakang dengan kasar, hingga kepalaku jadi mendongak."Apa perlu aku yang memasukkan makanan ini ke mulutmu, hah?" Ujar Bang Iza dengan mata melotot. Lalu ia meraih nasi tersebut dan memasukkan secara paksa ke mulutku hingga penuh.Nyaris aku muntah karena hampir tersedak nasi dengan sensasi bau basi tersebut."Makan!" Bentaknya lagi masih belum melepaskan hijabku.Aku mengangguk samar dengan air mata yang mulai menetes. Sungguh aku tak menyangka, ternyata begini sikap asli Bang Iza.Setelah melepaskank

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   7. Nasi Basi

    Seolah sedang bermimpi, semua hal yang tak pernah kusangka terjadi begitu saja. Seharusnya hari ini jadi hari pernikahanku dengan Mas Bima, tapi yang ada malah kami berdua akan menikah dengan pasangan yang berbeda. Ya, hari ini adalah hari pernikahanku. Papa yang takut terjadi hal yang tak diinginkan denganku, memilih melangsungkan pernikahan kami bersama-sama dengan Clara. Semua diurus mereka dengan serba cepat. Yang mirisnya, sejak pagi aku selalu mendengar pembicaraan orang-orang yang terus menjelekkanku. "Kenapa pengantinnya jadi ada dua?" Celetuk salah satu ibu-ibu yang sedang rewang. "Kamu belum dengar gosip memangnya?" "Gosip apa, Bu?" "Si Alin selingkuh, padahal sudah dekat dengan hari H pernikahannya. Mana selingkuhannya gembel pula." "Iya, kasihan si Clara. Ia jadi terpaksa menggantikan jadi pasangan Si Bima. Baik sekali Clara, merelakan dirinya demi menyelamatkan nama baik keluarga," timpal ibu-ibu yang lain. Ingin saja aku meraih mic dan berteriak menjelaska

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status