Share

BOHONG DEMI KEBAHAGIAAN

[Weekend ini aku ke Jakarta, lho. Kita ketemuan, ya.] 

Sebuah pesan masuk ke ponsel Citra.

Citra hanya mengernyit. Tidak ada namanya. Tepatnya, Citra belum menyimpan nomor kontak itu.

Citra memilih memasukkan kembali ponsel itu ke dalam laci meja kerjanya. Tak ada niat membalasnya segera. 

Pekerjaan kantornya yang menumpuk, membuatnya melupakan segala masalahnya. Dan Citra sangat bersyukur dengan hal ini. Karena membuatnya tidak tenggelam dalam emosi. 

Sayangnya, saat dia memasuki rumah, emosinya kembali terkuras. Melihat anak-anak yang ceria, membuat dia teringat masa-masa bahagianya bersama Firman, yang kini hancur dalam sekejap.

Menjelang tidur, Citra membuka kembali ponselnya yang sejak siang tadi hanya berada di tas kerjanya. Dilihatnya berderet notifikasi pesan singkat disana. 

[Hei, nggak dibales, sih. Ini Rani.] Pesan itu masuk beberapa saat setelah pesan yang pertama. 

[Aku boleh main ke rumahmu, kan? Aku ingin lihat keponakanku yang lucu-lucu.] Pesan berikutnya terbaca oleh Citra. 

[Nanti kita jalan-jalan ya. Kamu ajak keluargamu, aku ajak suamiku.]

Citra mengenggam ponselnya erat. Hatinya semakin hancur. 

"Rani, Maafkan aku." Citra segera meletakkan ponselnya di nakas setelah dinon-aktifkannya ponsel itu. Seolah tak ingin membaca pesan dari Rani. 

***ETW***

Sudah hampir seminggu sejak kepulangan Firman dari Surabaya, Citra masih mendiamkannya. Citra seperti marah namun tak dapat mengungkapkan. Dia hanya bisa diam membisu. 

Firman pun tak jua berani buka suara untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi. Lidahnya menjadi kelu melihat kebisuan Citra. Bahkan, menyentuh Citra pun Firman menjadi segan. Firman tahu, dia sudah melakukan kesalahan besar. Tapi tak tahu bagaimana caranya memperbaiki. 

Tapi itu semua hanya terjadi antara Firman dan Citra.

Citra masih seperti biasa pergi bekerja dan mengurus kebutuhan rumah tangga. Beruntung mereka punya dua asisten yang mengurus rumah dan anak-anak. 

Firman hampir lupa kalau hari ini Rani akan ke Jakarta. Untungnya, tidak sulit mencari apartement full furnished di Jakarta. 

[Mas, jangan lupa jemput, ya. Aku sudah mau boarding] Sebuah pesan dari Rani masuk ke ponsel Firman. 

Firman yang dari tadi mematung melihat Citra yang masih terdiam di kamar Rara, segera beranjak. 

“Mas …. ” panggilan lirih Citra menghentikan langkah Firman.

Langkah Firman pergi di hari libur seolah memberi isyarat bagi Citra kalau Firman tak benar-benar minta maaf padanya. 

“Ceraikan aku….” lanjut Citra. Airmatanya masih mengurai, menganak sungai membasahi wajah cantiknya. 

Kalimat singkat yang meluncur dari mulut Citra sontak membuat hati Firman hancur berkeping-keping. Itu adalah kata-kata yang paling ditakuti Firman. Bodohnya dia, kenapa tidak dari dulu dia menyadari bahwa kesalahannya akan membuat kata itu meluncur dari mulut Citra. 

Firman berbalik dan berjalan mendekati Citra yang duduk menyendiri di depan jendela kamar Rara. Dia melipat kakinya di depan Citra, agar bisa melihat wajah Citra dari dekat. Diraihnya jemari tangan Citra dan ditautkannya dengan jemarinya erat. 

“Mas, minta maaf. Jangan pernah katakan itu. Jangan hukum mas seperti ini.” Air mata Firman luruh. 

Tapi Citra bergeming. Menatap Firman saja rasanya enggan. Citra lebih memilih menatap luar jendela. Melihat kendaraan yang melintas di depan rumahnya. 

Hingga bunyi ponsel membuat Citra menoleh, karena Firman tak jua mengangkatnya. 

“Angkat, Mas,” kata Citra. 

Namun, Firman justru membuat nada diam di ponselnya. Tak ada keinginan mengangkat, meski tahu siapa yang memanggil. 

Citra menjadi geram. “Aku memaafkanmu, jadi tolong tinggalkan aku,” jawab Citra tanpa sedikitpun menatap Firman. “Pergilah, jangan buat sahabatku luka,” lanjut Citra. 

Kata-kata Citra sungguh menyakitkan. Citra hampir tak pernah berkata sekaku ini. Biasanya dia akan berkata yang lembut dan hangat.

“Dik…” Firman tergugu di hadapan Citra. Dibenamkannya kepalanya ke pangkuan Citra, berharap Citra akan melunak. Firman merasa sudah tidak ada harganya dihadapan Citra. 

Panggilan ponsel kembali terdengar. 

“Pergilah, Mas. Jangan membuat sahabatku menunggu.” Citra berdiri dari kursi tempat dia duduk. Pangkuannya sudah basah dengan air mata Firman. Tak ada gunanya menangis sekarang. Semua sudah terjadi. 

Bagi Citra, yang terpenting adalah kejelasan menghadapi masa depan. 

***ETW***

“Maaf sayang, Mas terlambat. Macet,” dalih Firman saat menjemput Rani di bandara. 

Firman melajukan mobilnya menuju apartemen yang baru kemaren dipesannya. Beruntung dia sempat melihatnya terlebih dahulu, dan meninggalkan beberapa setel baju cukup buat menghabiskan akhir pekan bersama Rani. 

“Kamu kok bengong, Mas dari tadi. Apa kamu ngga suka aku ke Jakarta?” tanya Rani setelah beberapa saat merasakan kebisuan.

Firman memang hanya diam sambil mengemudikan mobilnya. Beda jauh dengan saat di Surabaya, dia selalu banyak bicara, meskipun biasanya hanya menanggapi cerita Rani. 

Rani memang hampir tak pernah mencecar menanyakan hal pribadi ke Firman. Bagi Rani, mungkin Firman tipe laki-laki yang tidak suka ditanya hal pribadi. Toh, selama ini Firman punya alasan mengapa dia belum bisa bertemu dengan orang tua Firman. 

“Maaf, Rani, Mas banyak kerjaan. Sepertinya Mas tak bisa menemanimu jalan-jalan akhir pekan ini karena lembur,” dalih Firman.

Sebenarnya, dia tak ingin meninggalkan Citra dalam keadaan seperti ini. Dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Citra terlebih dahulu. 

“Ngga papa, Mas. Nanti aku janjian ketemu Citra. Siapa tau dia bersedia menemaniku jalan-jalan bersama keluarganya,” lanjut Rani. 

Degup jantung Firman berpacu lebih kencang saat mendengar kata-kata Rani. Bagaimana mungkin Citra akan mengajak keluarganya jalan-jalan dengan Rani. Bagaimana kalau Rani sampai tau, dia-lah suami Citra. 

“Atau, aku bisa nginap di rumah Citra aja. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. dulu kami sering menghabiskan waktu bersama, bercerita sampai pagi kalau dia sedang menginap di rumahku.” Rani bercerita dengan antusias. Seperti tak ada beban di hatinya.

Sebaliknya, cerita Rani, membuat Firman merasa semangkin nelangsa, menyadari kebodohannya. Mengapa baru sekarang dia tahu, kalau Rani adalah sahabat Citra. Firman merasa, tak hanya menghancurkan keluarganya, tapi juga menghancurkan persahabatan istrinya. 

Di pemberhentian lampu merah, Firman sejenak mendongakkan kepalanya. Mencegah air mata menetes dari sudut matanya. Menarik nafasnya dalam-dalam untuk mengurangi beban dalam dadanya. 

“Rani, maaf Mas harus kembali ke kantor,” kata Firman saat sudah mengantar Rani sampai apartemennya. 

“Mas sudah pesankan makan siang, sebentar lagi datang,” sambung Firman sambil mengecup puncak kepala Rani. 

Maafkan aku Rani, harus membohongimu. Bisik Firman dalam hati sambil meninggalkan aparmen milik Rani. 

Beruntung Rani sangat memahami kesibukan Firman dan tak banyak bertanya. 

Rani segera mengambil ponselnya. Dengan antusias ditekannya nomor Citra.

“Hai, Citra. Kok pesanku tidak dibalas? Dari tadi pagi juga aku hubungi, non-aktif. Apa kita bisa ketemu sekarang?” tanya Rani dari ujung telpon. 

“Maaf, Rani, aku kemaren banyak kerjaan kantor. Selamat datang di Jakarta. Jadi kita ketemu?” sahut Citra berusaha senormal mungkin. Diredamnya gejolak hatinya dalam-dalam. Ada luka di sana. Tapi, Citra tak ingin melukai sahabatnya. Toh, dia bisa sedikit bersandiwara. 

Citra segera bersiap-siap setelah menyerahkan pekerjaan rumah dan urusan anak-anak ke Mbok Sumi dan Mbak Susi, kedua asisten rumah tangganya. 

“Mau kemana, Dik?” tanya Firman yang sudah berdiri di ambang pintu.

Citra hanya melihatnya melalui cermin di depannya, lalu sibuk kembali memulas wajahnya, untuk menyembunyikan rona sedih di wajah cantiknya.

“Mau ketemu Rani,” jawab Citra pendek. Tapi, jawaban itu sungguh menyakitkan bagi Firman. 

“Maaf, Mas. Aku pergi dulu. Rani sudah menunggu,” kata Citra sambil keluar dari kamarnya. Citra pergi menjauh meninggalkan Firman yang masih berdiri terpaku. 

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Sarti Patimuan
Baguslah citra minta cerai
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status