MasukBegitu Aira masuk ke butik perhiasan itu, suasananya langsung terasa tenang dan rapi lampu hangat, kaca-kaca display yang memantulkan kilau emas dan berlian, serta pelayan toko yang menyambut dengan senyum sopan. Aira awalnya tidak langsung bicara banyak. Dia hanya berjalan pelan, melihat-lihat beberapa cincin yang dipajang, sampai akhirnya matanya berhenti di satu etalase khusus. Cincin yang ada di jari manisnya sendiri. Bukan yang baru dia pakai hari ini, tapi yang sudah lama bersama dia. Yang Dipta berikan, yang tidak pernah dia benar-benar pikirkan “nilai” nya, karena sejak awal itu terasa lebih seperti sesuatu yang personal. Aira menoleh ke pelayan toko. “Kalau model cincin kayak yang ini… kira-kira harganya berapa ya?” Pelayan itu sedikit terdiam. Matanya langsung fokus ke cincin di jari Aira, ada jeda sejenak terlihat. “Boleh saya lihat sebentar, Nyonya?” Aira mengangguk, lalu dengan hati-hati melepas cincinnya dan menyerahkannya. Gerakannya pelan, hampir refleks menjaga s
Sore itu udara Jakarta tidak terlalu panas, tapi juga tidak benar-benar sejuk. Cukup nyaman untuk keluar sebentar setelah seharian berada di rumah dan kantor. Aira sudah siap lebih dulu. Kuncir rambut sederhana, kaos santai, dan daftar belanja di ponselnya yang entah sudah sepanjang apa. Dipta baru keluar dari kamar kerja setelah dipanggil dua kali. “Ayo, belanja bulanan.” Dipta melirik sekilas. “Belanja bulanan?” Aira langsung mengangguk. “Iya. Yang di rumah itu udah hampir habis semua.” Dipta berjalan mendekat, melihat layar ponsel Aira yang penuh catatan. “Sejak kapan jadi sepanjang itu?” Aira menatapnya datar. “Sejak kamu nggak tinggal sendiri lagi.” Kalimat itu sederhana, tapi cukup bikin Dipta diam sebentar. Biasanya, belanja di rumahnya memang jarang dilakukan dalam skala besar. Dulu dia hidup sendiri, kebutuhan stabil, pola makan sederhana, barang pun tidak banyak berubah. Sekarang? Semua berubah tanpa terasa. Di mobil perjalanan ke supermarket besar, Aira duduk di ku
Hari-hari di Bandung akhirnya berjalan lebih tenang setelah itu. Tidak ada lagi drama besar, tidak ada lagi “serangan mendadak” seperti hari pertama dan kedua. Aira lebih banyak menjaga jarak bukan karena berubah pikiran, tapi lebih karena masih kapok. Sementara Dipta, entah karena sudah “menang banyak” atau memang mulai lebih bisa mengontrol diri, dia juga tidak lagi seagresif itu. Kembali ke mode normalnya dingin, fokus, profesional saat kerja tapi tetap hangat kalau hanya berdua dengan Aira. Mereka menyelesaikan semua urusan di Bandung dengan lancar. Meeting, cek proyek dan koordinasi vendor, sampai akhirnya hari terakhir tiba. Sejak pagi ponsel Aira sudah tidak berhenti berdering. Bukan dari klien dan bukan dari kantor. Tapi dari rumah, video call kembali masuk. Aira mengangkat dan seperti biasa layar langsung dipenuhi wajah kecil yang sudah sangat mereka rindukan. “MAMAAAAA!” Suara Askara langsung memenuhi ruangan. Aira langsung tersenyum. “Iya, sayang…” “Pulang!” ucapnya
Baru beberapa menit Dipta duduk di sofa, mencoba mengalihkan pikirannya ke ponsel. “DIPTAAAA!” Suara Aira menggema dari dalam kamar mandi. Dipta langsung menoleh, alisnya berkerut. “Kenapa lagi...?” Belum sempat ia bangkit, suara Aira kembali terdengar. “Handukku mana?!” Nada suaranya jelas panik. Dipta langsung menghela napas panjang, kepalanya sedikit menengadah. “Ya Allah…” Dia sudah bisa menebak, istrinya ini pasti lupa lagi. Akhirnya Dipta berdiri dari sofa, berjalan ke arah lemari, mengambil satu handuk bersih. Langkahnya menuju kamar mandi tapi berhenti tepat di depan pintu. “Kenapa nggak dari tadi dibawa?” tanyanya, sedikit menahan nada kesal. Dari dalam kembali suara Aira terdengar. “LUPA!” Jawaban cepat, tanpa rasa bersalah. Dipta menutup mata sebentar. “Biasa.” Dia mengangkat tangan yang memegang handuk, mengetuk pintu pelan. “Nih.” Pintu tidak langsung terbuka. “Buka dikit aja.” kata Aira dari dalam. Dipta mengernyit. “Dikit aja?” “Ya iya! Masa lebar-lebar?!”
Dipta baru saja keluar dari minimarket dengan wajah yang sudah kembali datar seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa di dalam tadi. Begitu sampai di dekat Aira, aroma tahu gejrot langsung menyambut. Aira masih berdiri di depan gerobak, mangkuk kecil di tangannya, sesekali meniup pelan sebelum memakannya. Wajahnya terlihat jauh lebih santai… bahkan cenderung menikmati. Berbeda sekali dengan tadi siang. “Lama amat sih.” protes Aira tanpa benar-benar marah. Dipta menyerahkan botol air dan yogurt ke tangannya. “Antri.” Jawaban singkat. Aira menerima begitu saja, tidak curiga sedikitpun. Beberapa detik mereka diam, Aira sibuk dengan makanannya. Dipta hanya berdiri di sampingnya. Sampai akhirnya, Aira melirik sekilas. “Mau?” Sendok kecil itu terangkat, berisi potongan tahu dengan kuah khasnya. Dipta sempat diam, sedikit terkejut. Sangat jarang Aira seperti ini, apalagi setelah tadi siang yang jelas-jelas dia masih kesal. Tapi sekarang malah menyuapinya. Tanpa banyak koment
Suasana yang tadi sempat canggung perlahan mencair. Angger mengajak mereka duduk di salah satu meja dekat jendela. “Duduk dulu lah, sekalian gue jelasin.” ucapnya sambil menarik kursi. Dipta duduk santai. Aira ikut duduk di sampingnya. Seorang barista datang membawakan minuman. Sepertinya sudah jadi kebiasaan tanpa perlu dipesan. “Masih sama ya ” komentar Dipta singkat sambil melihat gelas di depannya. Angger nyengir. “Ya masa berubah, lu aja yang jarang mampir.” Percakapan mulai mengalir. “Gimana di sini?” tanya Dipta, kembali ke mode serius tapi tetap santai. Angger menyandarkan punggungnya. “Lumayan. Tapi gue sekarang nggak full di sini.” Dipta mengangkat alis sedikit. “Masih intershif?” Angger mengangguk. “Iya. Rumah sakit di Bandung sini.” Aira sedikit terkejut. “Serius kamu jadi dokter?” Nada suaranya spontan. Angger tertawa kecil. “Gue juga dulu nggak nyangka.” Dia menghela napas ringan. “Dulu kan nggak ada niat sama sekali ya. Cuma ya… sejak nyokap sempat s
Suasana kelas XI IPA 2 pagi itu lebih tegang dari biasanya. Kertas ulangan biologi sudah dibagikan, masih tertutup di atas meja masing-masing siswa. Suara kipas angin berputar terasa lebih keras karena hampir semua orang diam. Aira duduk tegak. Tangannya berada di atas meja, jari-jarinya saling b
Bel pulang berbunyi nyaring, menggema sampai ke lorong-lorong gedung IPS. Siswa kelas XII IPS 1 mulai beranjak dari kursi mereka. Suara kaki kursi bergeser dan ritsleting tas yang ditarik bersahutan. Di antara keramaian itu, Dipta tetap bergerak dengan ritmenya sendiri. Ia merapikan buku ekonominya
Di kelas dekat sisi lapangan, suasana pagi begitu hidup. Beberapa murid masih asyik mengobrol, ada yang menatap papan tulis dengan serius didalam kelas, ada yang memainkan pulpen sambil setengah mengantuk saat berjalan. Di salah satu sisinya, empat murid Angger, Bayu, Raka, dan David duduk berdampi
Humaira Navya Aruna atau biasa akrab dipanggil Aira menatap halaman depan sekolah baru itu dengan mata berbinar campur gugup. Gedung tinggi, cat krem yang rapi, kaca-kaca besar memantulkan cahaya pagi yang lembut. Semua terlihat begitu megah, berbeda dari sekolah lamanya yang sederhana. Jalan setap







