ホーム / Romansa / DIPTA / BAB 27 Penyelidikan dan Kedekatan

共有

BAB 27 Penyelidikan dan Kedekatan

作者: Adw_Canss781
last update 公開日: 2026-03-18 22:07:26

Sore hari, diruang utama rumah Aira. Lampu hangat, rak buku rapi, layar komputer menyala. Aroma kopi hangat dari cangkir di sampingnya. Arjito Rajendra, duduk di kursi kulit hitam, mata fokus menatap layar. Jari-jarinya mengetik cepat, membuka profil Mahesa Group, berita lama, dan forum diskusi bisnis.

Linda, ibu Aira, masuk membawa teh hangat. “Masih nyari info tentang anak itu?”, suaranya lembut, tapi penasaran.

Arjito menoleh sebentar, lalu kembali menatap layar. “Iya. Aku cuma ingin tahu
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • DIPTA   BAB 31 Metode Belajar Baru

    Sore itu hujan turun tipis di luar apartemen Dipta. Cahaya kota memantul samar dari jendela kaca besar ruang nonton yang terhubung dengan ruang rahasia. Humaira duduk bersila di karpet tebal, buku anatomi terbuka di depannya. Diagram tubuh manusia terpampang jelas sistem reproduksi, jaringan, kelenjar, struktur detail yang membuatnya sedikit kikuk. “Aku nggak ngerti bagian ini…”, gumamnya pelan. Dipta berdiri di belakangnya, membaca dari atas bahunya. Terlalu dekat, terlalu hangat. “Anatomi itu bukan cuma dihafal,” katanya tenang. “Harus dipahami secara struktur dan fungsi.” Humaira menoleh. “Maksudnya?” Dipta berjalan memutar, lalu duduk di hadapannya. Tatapannya berbeda hari itu, lebih dalam dan lebih lama. “Belajar pakai visual, pakai pendekatan nyata.” Aira mengerutkan dahi. “Nyata gimana?” Dipta tersenyum tipis, lalu menunjuk diagram wajah di buku. “Kalau kita bahas fungsi indera… misalnya mata.” Ia mendekat sedikit. Tangannya terangkat, berhenti sebentar di udara memberi

  • DIPTA   BAB 30 Izin dan Bimbingan Belajar

    Aira membuka pintu rumah perlahan. Aroma masakan yang hangat menyambutnya. Matahari sore baru saja condong ke barat, menembus jendela ruang tamu dan menciptakan garis-garis cahaya yang menari di lantai. “Ibu… aku pulang!”, Aira memanggil sambil melepaskan tasnya, menaruhnya di kursi dekat pintu. Linda, ibunya, yang sedang menata beberapa kotak oleh-oleh, menoleh dan tersenyum. “Pulang lebih awal hari ini, ya?” Aira mengangguk sambil duduk sebentar di sofa. Tangannya masih memegang tas, kakinya menekuk di kursi. “Iya, Bu. Hari ini ada jadwal belajar… sama teman.” Linda menatapnya dengan mata yang tajam tapi lembut, ada senyum tipis di bibirnya. “Kamu kelihatan lebih ceria akhir-akhir ini, semuanya lancar di sekolah?” Aira tersenyum, sedikit ragu tapi mencoba terlihat santai. “Iya… lumayan, Bu. Cuma, aku ingin belajar lebih fokus aja. Teman itu ngajak ke apartemennya, biar tempatnya tenang.” Mata Linda menyipit sedikit, menandakan perhatian lebih. Ia mendekat dan duduk di sofa ber

  • DIPTA   BAB 29 Rania dan Meyakinkan Posisi

    Pagi itu terasa berbeda bagi Aira, bukan karena cuaca dan bukan karena jadwal pelajaran, tapi karena sejak membuka mata, ada satu wajah yang langsung muncul di kepalanya, Dipta. Aira berdiri di depan cermin kamar, merapikan rambutnya. Tangannya sempat berhenti beberapa detik ketika bayangan semalam melintas sentuhan lembut, jarak yang terlalu dekat, napas yang hampir bertabrakan. Pipinya menghangat. “Kenapa sih senyum sendiri…”, gumamnya pelan. Di ruang makan, ibunya memperhatikan tanpa banyak komentar, hanya senyum kecil yang penuh arti. Setelah selesai sarapan dan juga bersiap, akhirnya Aira pamit pergi ke sekolah. Bel pertama hampir berbunyi ketika Aira berjalan menyusuri lorong XI IPA 2. Tasnya tersampir rapi, langkahnya ringan. Beberapa siswa menoleh, bukan karena ia berbeda tapi karena ia terlihat lebih hidup, lebih berwarna. Di ujung lorong, Rania sudah berdiri. Seragamnya rapi sempurna, rambutnya tergerai halus, tangannya menyilang di dada dan tatapannya tajam, terarah lan

  • DIPTA   BAB 28 Sesi Belajar dan Kedekatan Yang Meningkat

    Hening menyelimuti apartemen. Lampu kuning lembut dari plafon menyorot ke meja belajar mereka. Aira duduk di kursi, buku catatan dan pulpen di tangan, tapi matanya tak lepas dari Dipta. Dipta berdiri di dekat papan tulis, menunjukkan diagram anatomi tubuh manusia. Tapi jaraknya kini lebih dekat dari biasanya. “Sekarang bagian jantung”, kata Dipta sambil menunjuk diagram, jaraknya hanya sepasang langkah dari Aira. Aira menunduk, menulis catatan, tapi napasnya terasa lebih cepat. Dipta mencondongkan tubuh ke arahnya. Sekali lagi, tangannya menyapu lembut helaian rambut yang jatuh ke pipi Aira. Aira menahan napas. Sudah beberapa kali ciuman terjadi sebelumnya, tapi tiap sentuhan tetap membuatnya berdebar. “Kalau aku cuma main-main, aku nggak bakal sebegini dekat” bisik Dipta, matanya mengunci mata Aira. Aira menatap balik, bibir sedikit mengulum, dagunya gemetar. Dipta menunduk, jarak bibir mereka hanya beberapa sentimeter. Aira bisa merasakan hangatnya napas Dipta. Tangan Dipta seca

  • DIPTA   BAB 27 Penyelidikan dan Kedekatan

    Sore hari, diruang utama rumah Aira. Lampu hangat, rak buku rapi, layar komputer menyala. Aroma kopi hangat dari cangkir di sampingnya. Arjito Rajendra, duduk di kursi kulit hitam, mata fokus menatap layar. Jari-jarinya mengetik cepat, membuka profil Mahesa Group, berita lama, dan forum diskusi bisnis. Linda, ibu Aira, masuk membawa teh hangat. “Masih nyari info tentang anak itu?”, suaranya lembut, tapi penasaran. Arjito menoleh sebentar, lalu kembali menatap layar. “Iya. Aku cuma ingin tahu siapa sebenarnya Niskala Mahesa. Anak itu dekat sama Aira sekarang. Aku harus tahu apa yang sedang mereka hadapi.” Linda meletakkan cangkir di meja. “Aku ngerti… tapi jangan terlalu khawatir. Anaknya pintar, keluarganya jelas, dari latar belakang bisnis juga bukan sembarangan.” Arjito menghela napas, jari-jarinya berhenti di keyboard. “Itu masalahnya. Keluarga Mahesa dulu dan kita… hubungannya rumit. Ingat waktu krisis beberapa tahun lalu?” Linda duduk di sampingnya, tatapan lembut tapi seriu

  • DIPTA   BAB 26 Penjelasan dan Ciuman Pertama

    Sore itu kelas sudah lebih sepi. Aira duduk di bangku paling belakang. Buku terbuka, tapi matanya nggak benar-benar baca, pensilnya muter pelan di antara jari. Ia tidak marah, hanya sedang berpikir. Tadi waktu ke kantin, dia sempat lihat Rania turun dari arah tangga belakang. Wajahnya biasa aja, terlalu biasa dan Dipta muncul beberapa menit kemudian dari arah yang sama. Kebetulan? Mungkin, tapi Aira bukan tipe yang langsung nanya tanpa bukti. Dia cuma tidak suka rasa “menggantung”. Langkah sepatu berhenti di samping mejanya, Aira nggak perlu nengok. “Ngapain diem aja?”, nada suara Dipta biasa, tapi lebih rendah dari biasanya. Aira tetap melihat bukunya. “Belajar.” “Bohong.”, ucap Dipta cepat. Sekarang baru dia menoleh. Tatapan mereka ketemu beberapa detik. Dipta duduk di kursi depan Aira, memutar kursinya sampai menghadap langsung. Dia tidak tersenyum dan tidak bercanda, kali ini lebih serius. “Kamu kepikiran.” Aira mengangkat bahu kecil. “Enggak.” Dipta menyandarkan si

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status