Home / Romansa / DIPTA / BAB 80 Hari Terakhir

Share

BAB 80 Hari Terakhir

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-05-16 22:28:41

Sore itu di penginapan Rajendra Engineering, kondisi sudah jauh lebih tenang setelah rangkaian kegiatan. Aira akhirnya sudah bisa kembali ke kamarnya sendiri setelah sebelumnya beristirahat cukup lama di kamar Dipta. Langkahnya ringan, bahkan sedikit lega "Akhirnya balik kamar sendiri…” gumamnya pelan sambil menutup pintu.

Di sisi lain, Dipta baru saja kembali ke kamarnya juga. Setelah seharian mengawasi kegiatan, tubuhnya mulai ingin istirahat dan mandi. “Akhirnya selesai juga.”gumamnya samb
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 81 Pakaian dan Gosip

    Perjalanan dari Puncak menuju Jakarta akhirnya selesai saat mobil memasuki area rumah Aira. Di dalam mobil, Aira bahkan sudah tertidur sejak beberapa puluh menit terakhir. Kepalanya miring ke kaca, napasnya pelan, benar-benar kelelahan setelah rangkaian acara di penginapan Rajendra Engineering. Dipta melirik sekilas ke samping. “Udah sampai.” gumamnya pelan, lebih ke dirinya sendiri. Mobil berhenti tepat di depan rumah. Aira langsung terbangun karena guncangan kecil. “Eh?” Ia langsung menegakkan badan. “…sudah sampai?” Dipta mengangguk. “Iya.” jawabnya singkat. Aira buru-buru merapikan diri. “Maaf saya ketiduran, Pak…” ucapnya sambil membuka pintu. Ia turun dari mobil, masih agak mengantuk. “…terima kasih banyak ya, Pak.” katanya sopan. Dipta juga turun sebentar, membantu mengeluarkan koper Aira dari bagasi. Gerakannya cepat, rapi, tanpa banyak bicara. Saat Aira sudah siap mengambil kopernya. “Aira.” Dipta memanggil. Aira menoleh. “Iya, Pak?” Dipta menyerahkan sebuah paper ba

  • DIPTA   BAB 80 Hari Terakhir

    Sore itu di penginapan Rajendra Engineering, kondisi sudah jauh lebih tenang setelah rangkaian kegiatan. Aira akhirnya sudah bisa kembali ke kamarnya sendiri setelah sebelumnya beristirahat cukup lama di kamar Dipta. Langkahnya ringan, bahkan sedikit lega "Akhirnya balik kamar sendiri…” gumamnya pelan sambil menutup pintu. Di sisi lain, Dipta baru saja kembali ke kamarnya juga. Setelah seharian mengawasi kegiatan, tubuhnya mulai ingin istirahat dan mandi. “Akhirnya selesai juga.”gumamnya sambil membuka kancing lengan kemeja. Ia melangkah ke kamar mandi tanpa banyak pikir dan tepat saat dia masuk. “….” Dipta berhenti, di dalam kamar mandi, masih tergantung pakaian Aira yang tadi dipakai saat terpeleser dan hanyut di sungai dan belum dibawa kembali. Ia menatapnya cukup lama satu detik, dua detik. Lalu menghela napas panjang. “Kamu ini..." gumamnya pelan, entah ke siapa. Matanya turun sedikit dan langsung berhenti di bagian paling atas tumpukan pakaian itu, pakaian dalam milik

  • DIPTA   BAB 79 Kamar Inap Dipta

    Di kamar penginapan Rajendra Engineering, suasana mulai lebih tenang setelah tim medis pergi. Aira sudah terlihat lebih stabil. Teh hangat di meja masih mengepul pelan. Ia duduk di tepi kursi, lalu melirik ke arah pintu. “Pak, saya mau balik kamar saya…” ucapnya pelan, masih agak sungkan. Dipta yang sedang berdiri dekat jendela langsung menoleh meski tdak langsung menjawab. Ia melangkah ke arah pintu, lalu sedikit menutup celahnya. “Tunggu dulu.” suaranya tenang, tapi tegas. Aira langsung berhenti. “Kenapa, Pak?” Dipta melirik sebentar ke luar, seperti mengecek situasi di koridor. “Belum aman.” Aira mengernyit kecil. “Maksudnya?” Dipta kembali menatapnya. “Kamu lupa semalam?” Aira langsung diam. “Yang staf wanita itu?” Dipta mengangguk kecil. “Dan hari ini.” diam sebentar. “…sungai.” Aira langsung paham. “Oh…” gumamnya pelan. Dipta melanjutkan, lebih rendah suaranya: “Kalau kamu keluar sekarang, kamu yang akan jadi bahan omongan.” Aira langsung menunduk sedikit. “Saya kan

  • DIPTA   BAB 78 Insiden Outbound

    Sesi outbound terakhir di area sungai Rajendra Engineering menjadi bagian yang paling menegangkan sejak pagi. Langit Puncak sudah agak redup, cahaya matahari tertutup pepohonan tinggi di sekitar jalur trekking. Suara air sungai terdengar semakin jelas bahkan sebelum rombongan sampai di titik penyeberangan. Aira berhenti di ujung jalur tanah. Di depannya, sungai kecil terbentang, kelihatannya tidak dalam, namun arusnya cukup deras untuk ukuran langkah yang harus menyeberang di atas batu-batu licin. “Ini yang terakhir ya…” gumamnya pelan, tapi bukan terdengar seperti lega lebih ke “tolong cepat selesai". Salah satu anggota timnya menepuk bahu ringan. "Tenang aja, Aira, ini cuma lewat batu doang. Pegang aja yang kuat.” Aira mengangguk kecil. “Iya…” meski matanya jelas tidak sepenuhnya yakin. Di sisi lain jalur, Rania Pradipta sudah berdiri lebih dulu bersama kelompoknya. Ia melirik sekilas ke arah Aira lalu ke sungai, kemudian kembali ke Aira. Ekspresinya terlihat sangat tenang.

  • DIPTA   BAB 77 Outbound

    Setelah makan malam di area outdoor penginapan Rajendra Engineering selesai, suasana langsung berubah jadi lebih santai. Lampu gantung tetap menyala, tapi beberapa karyawan sudah pindah ke area kecil di depan panggung dadakan. Ada acara ringan games, ice breaking dan sedikit hiburan internal. Aira duduk di kursi yang sama seperti tadi dan sayangnya, Dipta masih di sebelahnya. Masih belum pindah dan belum pergi, seolah kursi itu sudah “resmi jadi posisi tetap”. Aira mulai merasa tidak tenang, bukan karena acaranya. Justru karena setiap kali ia bergerak sedikit ada tatapan orang lain yang ikut bergerak juga. “Pak… Bapak nggak ikut ke depan?” bisik Aira pelan. Dipta menatap panggung sebentar. “Tidak.” singkat. Lalu kembali melihat ke depan, tapi tetap tidak pindah. Aira menghela napas kecil. “Iya… baik…” gumamnya dalam hati. “aku yang harus kuat.” Di sisi lain, beberapa karyawan wanita mulai memperhatikan. “Eh serius deket banget ya Pak Dipta sama sekretarisnya…” “Dari tadi duduk

  • DIPTA   BAB 76 Employee Gathering

    Hari keberangkatan employee gathering di Rajendra Engineering akhirnya tiba. Halaman kantor sudah ramai, karyawan berkumpul di depan beberapa bus besar yang akan membawa mereka ke Puncak, Bogor. Suasana heboh, bercampur tawa dan suara koper digeret. Aira berdiri agak di pinggir. Koper sudah di tangan, namun ia terlihat sedikit bingung. Matanya melirik satu bus, lalu bus lain, tidak banyak yang ia kenal dekat. Sebagian besar masih sebatas rekan kerja formal. “Yang mana ya…” gumamnya pelan. Di saat itu Dipta baru keluar dari gedung. Langkahnya langsung berhenti saat melihat Aira masih berdiri di tempat yang sama. “Belum naik?” tanyanya datar. Aira langsung menoleh. “Saya… masih bingung mau naik bis yang mana, Pak.” jawabnya jujur, agak canggung. Dipta melirik ke arah bus yang sudah penuh karyawan yang ramai dan berisik. Terlalu banyak orang dan entah kenapa itu langsung membuatnya tidak nyaman membayangkan Aira ikut di sana. “Nggak usah.” ucapnya tiba-tiba. Aira langsung men

  • DIPTA   BAB 13 Apartemen

    Lift sudah menunggu ketika mereka memasuki lobi apartemen. Lampu di dalamnya terang, dindingnya dilapisi cermin dari sisi ke sisi. Pantulan mereka langsung terlihat begitu pintu terbuka. Aira melangkah masuk lebih dulu, lalu berdiri sedikit ke samping. Dipta masuk setelahnya dan menekan tombol lant

  • DIPTA   BAB 12 Pertemuan dan Lebih dari Sekedar Pedas

    Jam di dinding kamar Aira menunjukkan pukul 15.12. Ia sudah membuka lemari sejak lima menit lalu, tapi belum juga mengambil keputusan.“Kenapa sih susah banget cuma mau makan?” gumamnya pelan.Tangannya menyentuh beberapa gantungan baju. Blus putih? Terlalu formal. Kaos oversized? Terlalu santai. A

  • DIPTA   BAB 9 Percakapan dan Pesan

    Beberapa hari setelah mereka bertukar nomor HP, Aira duduk di kelas kosong XI IPA 2. Di depannya, buku Biologi terbuka lebar, catatan rapi tertata di setiap halaman. Tapi matanya sesekali menatap layar ponsel, jari-jarinya memainkan ujung pena tanpa sadar. Napasnya pendek ketika ia menarik napas da

  • DIPTA   BAB 8 Persaingan & Flirty Close Call

    Hari-hari berlanjut, Aira tiba di sekolah lebih awal dari biasanya. Hari ini ada latihan OSIS untuk kegiatan lingkungan sekolah, yang ia ikuti bersama teman dekatnya Nadhira dan Lestari. Meski pagi masih terasa sejuk, hati Aira sedikit berdebar karena ia tahu kemungkinan akan bertemu Dipta di area s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status