Accueil / Romansa / DIPTA / BAB 77 Outbound

Share

BAB 77 Outbound

Auteur: Adw_Canss781
last update Date de publication: 2026-05-12 23:18:56

Setelah makan malam di area outdoor penginapan Rajendra Engineering selesai, suasana langsung berubah jadi lebih santai. Lampu gantung tetap menyala, tapi beberapa karyawan sudah pindah ke area kecil di depan panggung dadakan.

Ada acara ringan games, ice breaking dan sedikit hiburan internal. Aira duduk di kursi yang sama seperti tadi dan sayangnya, Dipta masih di sebelahnya. Masih belum pindah dan belum pergi, seolah kursi itu sudah “resmi jadi posisi tetap”.

Aira mulai merasa tidak tenang,
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 77 Outbound

    Setelah makan malam di area outdoor penginapan Rajendra Engineering selesai, suasana langsung berubah jadi lebih santai. Lampu gantung tetap menyala, tapi beberapa karyawan sudah pindah ke area kecil di depan panggung dadakan. Ada acara ringan games, ice breaking dan sedikit hiburan internal. Aira duduk di kursi yang sama seperti tadi dan sayangnya, Dipta masih di sebelahnya. Masih belum pindah dan belum pergi, seolah kursi itu sudah “resmi jadi posisi tetap”. Aira mulai merasa tidak tenang, bukan karena acaranya. Justru karena setiap kali ia bergerak sedikit ada tatapan orang lain yang ikut bergerak juga. “Pak… Bapak nggak ikut ke depan?” bisik Aira pelan. Dipta menatap panggung sebentar. “Tidak.” singkat. Lalu kembali melihat ke depan, tapi tetap tidak pindah. Aira menghela napas kecil. “Iya… baik…” gumamnya dalam hati. “aku yang harus kuat.” Di sisi lain, beberapa karyawan wanita mulai memperhatikan. “Eh serius deket banget ya Pak Dipta sama sekretarisnya…” “Dari tadi duduk

  • DIPTA   BAB 76 Employee Gathering

    Hari keberangkatan employee gathering di Rajendra Engineering akhirnya tiba. Halaman kantor sudah ramai, karyawan berkumpul di depan beberapa bus besar yang akan membawa mereka ke Puncak, Bogor. Suasana heboh, bercampur tawa dan suara koper digeret. Aira berdiri agak di pinggir. Koper sudah di tangan, namun ia terlihat sedikit bingung. Matanya melirik satu bus, lalu bus lain, tidak banyak yang ia kenal dekat. Sebagian besar masih sebatas rekan kerja formal. “Yang mana ya…” gumamnya pelan. Di saat itu Dipta baru keluar dari gedung. Langkahnya langsung berhenti saat melihat Aira masih berdiri di tempat yang sama. “Belum naik?” tanyanya datar. Aira langsung menoleh. “Saya… masih bingung mau naik bis yang mana, Pak.” jawabnya jujur, agak canggung. Dipta melirik ke arah bus yang sudah penuh karyawan yang ramai dan berisik. Terlalu banyak orang dan entah kenapa itu langsung membuatnya tidak nyaman membayangkan Aira ikut di sana. “Nggak usah.” ucapnya tiba-tiba. Aira langsung men

  • DIPTA   BAB 75 Rutinitas dan Rencana

    Pagi di Dipta Niskala Mahesa dimulai seperti biasa rapi, cepat, tanpa banyak jeda. Agenda hari itu jelas, meeting luar dengan klien besar. Dan sesuai ucapannya kemarin, dia tidak membawa Aira ikut serta. “Biar di kantor saja.” Kalimat itu masih teringat, tegas dan profesional. Mobil sudah siap di depan, driver sudah menunggu. Asisten sudah menyiapkan dokumen, tapi entah kenapa Dipta tidak langsung masuk mobil. Ia berdiri sebentar di depan pintu kantor, melirik ke arah dalam seperti kebiasaan kecil yang tidak ia sadari sendiri. Biasanya di sana ada Aira, menyerahkan dokumen terakhir dan mengucapkan “hati-hati, Pak” dengan nada datar tapi sopan, hari ini tidak ada. "Harusnya memang begini.” gumamnya pelan, lalu masuk mobil. Di perjalanan, meeting sudah mulai dipikirkan. Dokumen dicek, catatan dibaca dan ada satu hal kecil yang terus mengganggu ritme pikirannya. Hening yang tidak biasanya ada. Biasanya ada suara ketukan pelan dari meja sekretaris, biasanya ada update singkat dan bia

  • DIPTA   BAB 74 Diam dan Pertanyaan Askara

    Meeting di ruang VIP hotel akhirnya selesai. Klien dari Surabaya itu sudah berpamitan dengan sopan, diikuti stafnya yang keluar lebih dulu. Suasana ruangan yang tadi penuh diskusi kini mendadak sunyi. Aira sedang merapikan dokumen di meja seperti biasa, tenang, rapi dan tidak ada yang aneh. Meski ia mulai merasakan sesuatu. Dipta belum berdiri dari kursinya. Biasanya setelah meeting selesai, dia akan langsung memberi instruksi kecil atau bangkit lebih dulu. Kali ini tidak, dia tetap duduk dan diam. Tatapannya ke depan, tapi tidak benar-benar fokus ke apa pun di ruangan itu. Aira melirik sekilas. “Pak?” Tidak ada jawaban langsung, hanya jeda singkat. Baru kemudian Dipta menjawab. “…rapikan file, kita langsung balik.” nada suaranya datar. Aira mengangguk cepat. “Baik, Pak.” Saat ia membungkuk mengambil dokumen, ia merasakan itu lagi. Aura yang berbeda, bukan aura orang yang sedang marah, bukan kesal biasa, radanya ini lebih seperti “tenang yang terlalu dalam”. Dan itu justru yang

  • DIPTA   BAB 73 Duri dan Pantikan Bara Kecil

    Dipta baru sampai di rumahnya sendiri malam itu. Bukan rumah orang tuanya, hanya rumah pribadi yang biasanya sunyi dan memang sengaja ia biarkan sunyi.Ia masuk, menutup pintu, lalu melepas jasnya pelan. Tidak langsung mandi, ia hanya berdiri sebentar di tengah ruang tamu. Lalu satu per satu ingatan hari itu muncul lagi. Di mobil sore tadi, Aira yang duduk di sampingnya, pura-pura fokus ke tablet padahal jelas tidak sepenuhnya tenang. Nada suaranya saat menjawab telepon. “Iya, nanti Mama beli ya.” Lalu suara kecil itu. “Mau es krim. Papa juga mau.” Dipta menutup mata sebentar, bukan karena ia merasa terganggu. Justru karena kalimat itu terlalu “hidup” untuk diabaikan begitu saja. Ia berjalan pelan ke arah jendela rumahnya. Di luar, lampu kota redup. Refleksi dirinya sendiri terlihat di kaca, namun pikirannya tidak sedang melihat dirinya. Melainkan anak kecil yang tadi ia lihat sekilas di depan rumah itu. Askara Satya Rajendra yang lincah berjalan tanpa ragu, tertawa seperti t

  • DIPTA   BAB 72 Melihat

    Hari itu di Mahesa Group suasana cukup formal dari biasanya. Hadiyasa Mahesa sedang berada di ruang meeting utama, ditemani beberapa direksi. Laporan baru saja dibuka. “Kerja sama proyek lanjutan dengan Rajendra Engineering…” Belum selesai kalimatnya, pintu ruangan terbuka. “Maaf terlambat.” suara itu tenang, dingin dan tegas. Semua orang langsung berdiri. Dipta masuk dengan langkah stabil, diikuti beberapa stafnya. Hadiyasa menatapnya beberapa detik. “Dipta.” Dipta mengangguk sopan. “Pak.” sapanya tetap profesional dan tidak ada sapaan lain di luar konteks kerja. Meeting dimulai, pembahasan berjalan seperti biasa. Angka, proyek dan strategi, sdi sudut ruangan ada satu orang yang duduk tidak jauh dari Dipta, ada Humaira Navya Aruna. Aira hari itu ikut sebagai sekretaris pribadi CEO dalam kunjungan kerja dan dari awal masuk ruangan Hadiyasa sudah salah fokus. “Itu…” Hadiyasa menatap Aira sebentar, lalu menoleh pelan ke Dipta. “…sekretaris kamu?” Dipta tanpa menoleh, “Iya

  • DIPTA   BAB 27 Penyelidikan dan Kedekatan

    Sore hari, diruang utama rumah Aira. Lampu hangat, rak buku rapi, layar komputer menyala. Aroma kopi hangat dari cangkir di sampingnya. Arjito Rajendra, duduk di kursi kulit hitam, mata fokus menatap layar. Jari-jarinya mengetik cepat, membuka profil Mahesa Group, berita lama, dan forum diskusi bis

  • DIPTA   BAB 23 Keputusan dan Status

    Pintu apartemen terbuka bahkan sebelum Aira sempat mengetuk dua kali. Dipta sudah berdiri di sana, kaus hitam polos dan celana training abu-abu, rambutnya sedikit basah seperti baru selesai mandi. “Cepat banget bukanya”, Aira mengangkat alis. “Kebetulan lagi di dekat pintu”, jawabnya ringan. Pada

  • DIPTA   BAB 22 Tempat Yang Sama, Posisi Yang Berubah

    Tempat itu tidak pernah berubah. Kafe semi-terbuka di sudut jalan utama, dengan dinding kaca besar menghadap persimpangan. Lampunya terang, tidak temaram. Meja-meja tersusun rapi, kursi kayu dengan sandaran lurus, dan aroma kopi yang lebih kuat daripada wangi manis sirup seperti di tempat lain, tid

  • DIPTA   BAB 21 Langkah Lebih Dekat

    Mobil melaju kembali, lampu jalan mulai menari di kaca depan. Hening, tapi tidak canggung hanya ruang yang penuh konsentrasi. Aira masih merasakan sisa hangat di pergelangan tangannya, sedangkan Dipta memutar-mutar setir dengan tenang, matanya fokus ke depan, tapi pikirannya masih tertuju pada resp

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status