Home / Romansa / DIPTA / BAB 77 Outbound

Share

BAB 77 Outbound

Author: Adw_Canss781
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-12 23:18:56

Setelah makan malam di area outdoor penginapan Rajendra Engineering selesai, suasana langsung berubah jadi lebih santai. Lampu gantung tetap menyala, tapi beberapa karyawan sudah pindah ke area kecil di depan panggung dadakan.

Ada acara ringan games, ice breaking dan sedikit hiburan internal. Aira duduk di kursi yang sama seperti tadi dan sayangnya, Dipta masih di sebelahnya. Masih belum pindah dan belum pergi, seolah kursi itu sudah “resmi jadi posisi tetap”.

Aira mulai merasa tidak tenang,
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • DIPTA   BAB 187 Sebelum Jamuan

    Sejak pagi, Hotel Arunika Grand Jakarta sudah disibukkan dengan berbagai persiapan untuk perjamuan yang akan diselenggarakan oleh Rajendra Engineering malam nanti. Hotel berbintang lima itu memiliki ballroom luas dengan langit-langit tinggi, lampu kristal yang menggantung megah, serta area lobi yang didominasi perpaduan marmer dan ornamen kayu berwarna hangat. Sejumlah staf hotel, tim penyelenggara dari Rajendra Engineering, dekorator, hingga kru dokumentasi terlihat bergerak ke berbagai sudut ruangan. Mereka memastikan setiap detail telah sesuai dengan rancangan yang disepakati, mulai dari penataan meja bundar, dekorasi bunga, pencahayaan panggung, layar LED, hingga perangkat audio yang akan digunakan selama acara berlangsung.Sebenarnya, persiapan utama sudah dilakukan sejak kemarin. Ballroom telah ditata, panggung utama berdiri di bagian depan, sementara meja-meja tamu disusun dengan jarak yang cukup agar para undangan dapat bergerak dengan leluasa. Hari ini hanya tinggal tahap pen

  • DIPTA   BAB 186 Keinginan Dipta

    Persiapan untuk acara perjamuan terus berjalan seiring dengan penanganan masalah Priska dan Rania yang belum sepenuhnya selesai. Tim penyelenggara mulai memastikan seluruh kebutuhan acara, mulai dari penataan ruangan, susunan meja tamu, pencahayaan, perangkat audio, hingga urutan acara yang akan berlangsung pada malam perjamuan. Undangan telah disebarkan kepada para pemegang saham, mitra bisnis, jajaran direksi, serta sejumlah tokoh yang memiliki hubungan penting dengan Rajendra Engineering. Dipta sendiri turut memastikan beberapa nama masuk dalam daftar undangan, termasuk Rendra Wijaya, suami Sania, perempuan yang pernah memiliki hubungan dengannya di masa lalu. Kehadiran Rendra dan Sania memang bukan sesuatu yang perlu dihindari. Bagi Dipta, masa lalu sudah selesai dan tidak ada alasan untuk mengecualikan seseorang hanya karena pernah ada cerita yang tidak menyenangkan di antara mereka.Hari demi hari berlalu, hingga akhirnya tiba malam sebelum acara perjamuan diselenggarakan. Segal

  • DIPTA   BAB 185 Kenapa harus Aira?

    Sore harinya, Rania akhirnya tiba di apartemennya setelah melewati perjalanan pulang yang terasa lebih panjang daripada biasanya. Begitu memasuki unit tempat tinggalnya, ia meletakkan tas di atas sofa ruang tengah, kemudian melepas sepatu hak tingginya dengan gerakan yang sedikit kasar. Kakinya terasa pegal setelah seharian berada di kantor, tetapi bukan itu yang membuat suasana hatinya begitu buruk. Sejak pertemuannya dengan Aira tadi, pikirannya terus dipenuhi berbagai hal yang sulit ia singkirkan.Ia berjalan menuju dapur, mengambil segelas air putih, lalu meneguknya beberapa kali sebelum kembali ke ruang tengah. Setelah itu, ia menjatuhkan tubuh ke sofa dan menyandarkan kepala. Matanya tertuju pada langit-langit apartemen yang diterangi cahaya matahari sore dari balik jendela kaca. Ruangan itu terasa begitu sunyi, hanya terdengar samar suara kendaraan dari jalan raya di bawah gedung.Rania mengembuskan napas panjang. Jujur saja, ia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang ter

  • DIPTA   BAB 184 Teringat Masa Lalu

    Setelah meninggalkan pantry, Aira kembali menyusuri lorong menuju ruang kerjanya. Langkahnya cukup cepat, meskipun sesekali ia harus menepi untuk memberi jalan kepada karyawan lain yang melintas. Pertemuan singkat dengan Rania tadi ternyata meninggalkan rasa kesal yang belum sepenuhnya reda. Bukan karena perkataan perempuan itu berhasil melukai harga dirinya, melainkan karena Aira merasa urusannya sendiri sudah cukup banyak tanpa harus kembali berhadapan dengan seseorang yang terus-menerus menjadikannya sasaran kemarahan.Sesampainya di ruang kerja, Aira mendorong pintu hingga terbuka, kemudian masuk dan menutupnya kembali. Ia meletakkan cangkir teh yang dibawanya dari pantry di atas meja, menarik kursi, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sana dengan embusan napas panjang.Beberapa detik ia hanya bersandar, menatap langit-langit ruangan sambil mencoba mengendurkan ketegangan di bahunya. Namun, semakin ia berusaha mengabaikan pertemuan tadi, semakin jelas pula wajah Rania terbayang dalam pik

  • DIPTA   BAB 183 Dua Wanita, Satu Masa Lalu

    Rania, perempuan itu berdiri beberapa langkah darinya dengan wajah yang sulit diartikan. Penampilannya masih rapi, tetapi ada sesuatu pada sorot matanya yang berbeda dari biasanya. Ketegangan terlihat jelas di sekitar rahangnya, sementara kedua tangannya mengepal sesaat sebelum kembali terurai. Sepertinya ia baru saja menyelesaikan urusan yang berkaitan dengan pemeriksaan internal perusahaan. Aira sempat mengangguk kecil sebagai bentuk sapaan seperlunya. Ia berniat melanjutkan langkah, sebab tidak ada alasan baginya untuk menghentikan pekerjaan hanya demi berbasa-basi dengan seseorang yang sedang berurusan dengan tim pemeriksa. Namun, suara Rania lebih dahulu menahannya. "Gimana? Puas kamu sekarang? Namaku sudah jelek, dan sebentar lagi hidupku hancur." Aira menoleh. Ia sempat mengerutkan kening, memastikan perempuan itu memang sedang berbicara kepadanya. Setelah beberapa detik, ia mengangkat alis dengan ekspresi yang justru membuat Rania semakin kesal. "Kamu bicara sama aku?" Ran

  • DIPTA   BAB 182 Selalu di Pilih

    Persiapan perjamuan yang direncanakan Dipta akhirnya mulai berjalan. Sejumlah orang dari tim penyelenggara telah menerima arahan mengenai konsep acara, daftar tamu, susunan kegiatan, hingga berbagai keperluan teknis yang harus diselesaikan dalam waktu relatif singkat. Meski waktu yang tersedia tidak terlalu panjang, Dipta menginginkan semuanya dipersiapkan dengan matang. Acara itu memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar perjamuan perusahaan, sehingga ia tidak ingin ada detail penting yang terlewat hanya karena mereka harus bekerja dalam waktu terbatas. Di tengah kesibukan tersebut, urusan Rania dan Priska juga terus bergulir. Tim hukum perusahaan telah mengumpulkan bukti-bukti yang berkaitan dengan dugaan upaya menjebak Dipta, termasuk rekaman kamera pengawas, rekaman dari kamera tersembunyi di ruang kerja Dipta, catatan akses, serta keterangan sejumlah pihak yang telah dimintai penjelasan. Seluruh bukti asli diamankan agar dapat diperiksa lebih lanjut dan digunakan sesu

  • DIPTA   BAB 6 Chemistry dan Konflik kecil

    Hari itu, Dipta duduk di kelas XII IPS 1 sambil membaca catatan ekonomi. Tapi matanya tidak sepenuhnya fokus pada buku, tatapannya sesekali tertuju ke kelas XI IPA 2, tepatnya ke Aira yang sedang menulis catatan di meja dekat jendela.“Hmm… berbeda dari yang lain", pikirnya dalam hati.Bukan karena

  • DIPTA   BAB 5 Persaingan dan Strategi

    Pagi menjelang siang, lapangan sekolah lebih sepi dari biasanya. Angin tipis membuat dedaunan bergetar, dan cahaya matahari yang mulai miring menembus sela-sela pepohonan. Aira duduk di bawah pohon besar, buku biologi di pangkuan, mencoba memahami diagram sel yang rumit. Tiba-tiba, suara ringan

  • DIPTA   BAB 4 Persaingan Dipta dan Teman-Teman

    Suasana kelas XI IPA 2 pagi itu lebih tegang dari biasanya. Kertas ulangan biologi sudah dibagikan, masih tertutup di atas meja masing-masing siswa. Suara kipas angin berputar terasa lebih keras karena hampir semua orang diam. Aira duduk tegak. Tangannya berada di atas meja, jari-jarinya saling b

  • DIPTA   BAB 3 Taruhan Dimulai

    Bel pulang berbunyi nyaring, menggema sampai ke lorong-lorong gedung IPS. Siswa kelas XII IPS 1 mulai beranjak dari kursi mereka. Suara kaki kursi bergeser dan ritsleting tas yang ditarik bersahutan. Di antara keramaian itu, Dipta tetap bergerak dengan ritmenya sendiri. Ia merapikan buku ekonominya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status