LOGINDi kamar penginapan Rajendra Engineering, suasana mulai lebih tenang setelah tim medis pergi. Aira sudah terlihat lebih stabil. Teh hangat di meja masih mengepul pelan. Ia duduk di tepi kursi, lalu melirik ke arah pintu. “Pak, saya mau balik kamar saya…” ucapnya pelan, masih agak sungkan. Dipta yang sedang berdiri dekat jendela langsung menoleh meski tdak langsung menjawab. Ia melangkah ke arah pintu, lalu sedikit menutup celahnya. “Tunggu dulu.” suaranya tenang, tapi tegas. Aira langsung berhenti. “Kenapa, Pak?” Dipta melirik sebentar ke luar, seperti mengecek situasi di koridor. “Belum aman.” Aira mengernyit kecil. “Maksudnya?” Dipta kembali menatapnya. “Kamu lupa semalam?” Aira langsung diam. “Yang staf wanita itu?” Dipta mengangguk kecil. “Dan hari ini.” diam sebentar. “…sungai.” Aira langsung paham. “Oh…” gumamnya pelan. Dipta melanjutkan, lebih rendah suaranya: “Kalau kamu keluar sekarang, kamu yang akan jadi bahan omongan.” Aira langsung menunduk sedikit. “Saya kan
Sesi outbound terakhir di area sungai Rajendra Engineering menjadi bagian yang paling menegangkan sejak pagi. Langit Puncak sudah agak redup, cahaya matahari tertutup pepohonan tinggi di sekitar jalur trekking. Suara air sungai terdengar semakin jelas bahkan sebelum rombongan sampai di titik penyeberangan. Aira berhenti di ujung jalur tanah. Di depannya, sungai kecil terbentang, kelihatannya tidak dalam, namun arusnya cukup deras untuk ukuran langkah yang harus menyeberang di atas batu-batu licin. “Ini yang terakhir ya…” gumamnya pelan, tapi bukan terdengar seperti lega lebih ke “tolong cepat selesai". Salah satu anggota timnya menepuk bahu ringan. "Tenang aja, Aira, ini cuma lewat batu doang. Pegang aja yang kuat.” Aira mengangguk kecil. “Iya…” meski matanya jelas tidak sepenuhnya yakin. Di sisi lain jalur, Rania Pradipta sudah berdiri lebih dulu bersama kelompoknya. Ia melirik sekilas ke arah Aira lalu ke sungai, kemudian kembali ke Aira. Ekspresinya terlihat sangat tenang.
Setelah makan malam di area outdoor penginapan Rajendra Engineering selesai, suasana langsung berubah jadi lebih santai. Lampu gantung tetap menyala, tapi beberapa karyawan sudah pindah ke area kecil di depan panggung dadakan. Ada acara ringan games, ice breaking dan sedikit hiburan internal. Aira duduk di kursi yang sama seperti tadi dan sayangnya, Dipta masih di sebelahnya. Masih belum pindah dan belum pergi, seolah kursi itu sudah “resmi jadi posisi tetap”. Aira mulai merasa tidak tenang, bukan karena acaranya. Justru karena setiap kali ia bergerak sedikit ada tatapan orang lain yang ikut bergerak juga. “Pak… Bapak nggak ikut ke depan?” bisik Aira pelan. Dipta menatap panggung sebentar. “Tidak.” singkat. Lalu kembali melihat ke depan, tapi tetap tidak pindah. Aira menghela napas kecil. “Iya… baik…” gumamnya dalam hati. “aku yang harus kuat.” Di sisi lain, beberapa karyawan wanita mulai memperhatikan. “Eh serius deket banget ya Pak Dipta sama sekretarisnya…” “Dari tadi duduk
Hari keberangkatan employee gathering di Rajendra Engineering akhirnya tiba. Halaman kantor sudah ramai, karyawan berkumpul di depan beberapa bus besar yang akan membawa mereka ke Puncak, Bogor. Suasana heboh, bercampur tawa dan suara koper digeret. Aira berdiri agak di pinggir. Koper sudah di tangan, namun ia terlihat sedikit bingung. Matanya melirik satu bus, lalu bus lain, tidak banyak yang ia kenal dekat. Sebagian besar masih sebatas rekan kerja formal. “Yang mana ya…” gumamnya pelan. Di saat itu Dipta baru keluar dari gedung. Langkahnya langsung berhenti saat melihat Aira masih berdiri di tempat yang sama. “Belum naik?” tanyanya datar. Aira langsung menoleh. “Saya… masih bingung mau naik bis yang mana, Pak.” jawabnya jujur, agak canggung. Dipta melirik ke arah bus yang sudah penuh karyawan yang ramai dan berisik. Terlalu banyak orang dan entah kenapa itu langsung membuatnya tidak nyaman membayangkan Aira ikut di sana. “Nggak usah.” ucapnya tiba-tiba. Aira langsung men
Pagi di Dipta Niskala Mahesa dimulai seperti biasa rapi, cepat, tanpa banyak jeda. Agenda hari itu jelas, meeting luar dengan klien besar. Dan sesuai ucapannya kemarin, dia tidak membawa Aira ikut serta. “Biar di kantor saja.” Kalimat itu masih teringat, tegas dan profesional. Mobil sudah siap di depan, driver sudah menunggu. Asisten sudah menyiapkan dokumen, tapi entah kenapa Dipta tidak langsung masuk mobil. Ia berdiri sebentar di depan pintu kantor, melirik ke arah dalam seperti kebiasaan kecil yang tidak ia sadari sendiri. Biasanya di sana ada Aira, menyerahkan dokumen terakhir dan mengucapkan “hati-hati, Pak” dengan nada datar tapi sopan, hari ini tidak ada. "Harusnya memang begini.” gumamnya pelan, lalu masuk mobil. Di perjalanan, meeting sudah mulai dipikirkan. Dokumen dicek, catatan dibaca dan ada satu hal kecil yang terus mengganggu ritme pikirannya. Hening yang tidak biasanya ada. Biasanya ada suara ketukan pelan dari meja sekretaris, biasanya ada update singkat dan bia
Meeting di ruang VIP hotel akhirnya selesai. Klien dari Surabaya itu sudah berpamitan dengan sopan, diikuti stafnya yang keluar lebih dulu. Suasana ruangan yang tadi penuh diskusi kini mendadak sunyi. Aira sedang merapikan dokumen di meja seperti biasa, tenang, rapi dan tidak ada yang aneh. Meski ia mulai merasakan sesuatu. Dipta belum berdiri dari kursinya. Biasanya setelah meeting selesai, dia akan langsung memberi instruksi kecil atau bangkit lebih dulu. Kali ini tidak, dia tetap duduk dan diam. Tatapannya ke depan, tapi tidak benar-benar fokus ke apa pun di ruangan itu. Aira melirik sekilas. “Pak?” Tidak ada jawaban langsung, hanya jeda singkat. Baru kemudian Dipta menjawab. “…rapikan file, kita langsung balik.” nada suaranya datar. Aira mengangguk cepat. “Baik, Pak.” Saat ia membungkuk mengambil dokumen, ia merasakan itu lagi. Aura yang berbeda, bukan aura orang yang sedang marah, bukan kesal biasa, radanya ini lebih seperti “tenang yang terlalu dalam”. Dan itu justru yang
Jum'at, saat jam istirahat pertama selalu jadi waktu yang paling bising di sekolah. Tapi koridor lantai dua hari itu justru terasa lebih lengang. Mungkin karena sebagian besar siswa turun ke kantin. Cahaya matahari masuk dari jendela panjang, memantul di lantai keramik yang sedikit kusam. Aira ber
Sore itu langit belum benar-benar redup. Cahaya matahari masih menggantung tipis di halaman sekolah. Suara siswa yang pulang bercampur dengan deru motor dan tawa yang pecah di beberapa sudut. Aira berdiri di dekat gerbang, merapikan tali tasnya. Rambutnya sedikit berantakan karena angin. Ia menundu
Ruang musik sudah setengah terbuka ketika Aira datang. Ia memang sengaja datang lebih awal bukan karena terlalu rajin, tapi karena ia butuh ruang sebelum ruangan itu penuh suara dan tatapan. Tasnya ia letakkan di kursi dekat piano. Udara di dalam masih dingin, bercampur aroma kayu dan kabel alat mu
Aira terbangun bahkan sebelum alarmnya berbunyi. Langit di luar jendela kamarnya masih berwarna abu-abu pucat. Cahaya pagi belum sepenuhnya masuk, tapi cukup untuk membuat bayangan lemari dan meja belajarnya terlihat jelas. Ia menatap langit-langit beberapa detik, lalu semalam kembali. Cahaya layar







