ホーム / Romansa / DIPTA / BAB 98 Meminta Waktu

共有

BAB 98 Meminta Waktu

作者: Adw_Canss781
last update 公開日: 2026-06-09 23:58:37

Mobil melaju cepat, lampu jalan berkelebat. Satu persatu terlewati tanpa benar-benar dilihat. Dipta tidak memperhatikan arah. Tangannya tetap di setir dan rahangnya mengeras. Pikirannya masih penuh tentang kamar, Karin, dan foto Askara. Semuanya bercampur menjadi satu. Napasnya berat, sesekali ia menariknya dalam terasa tidak cukup.

Mobil berbelok lalu berhenti dan baru saat mesin dimatikan Dipta tersadar. Matanya terangkat menatap ke depan rumah itu, rumah tempat Aira dan Askara berada. Bebe
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • DIPTA   BAB 98 Meminta Waktu

    Mobil melaju cepat, lampu jalan berkelebat. Satu persatu terlewati tanpa benar-benar dilihat. Dipta tidak memperhatikan arah. Tangannya tetap di setir dan rahangnya mengeras. Pikirannya masih penuh tentang kamar, Karin, dan foto Askara. Semuanya bercampur menjadi satu. Napasnya berat, sesekali ia menariknya dalam terasa tidak cukup. Mobil berbelok lalu berhenti dan baru saat mesin dimatikan Dipta tersadar. Matanya terangkat menatap ke depan rumah itu, rumah tempat Aira dan Askara berada. Beberapa detik ia hanya diam. “Kenapa aku kesini…?” Ia sendiri tidak tahu atau mungkin tahu tapi tidak ingin mengakuinya. Dipta membuka pintu mobil dan turun. Ia bersandar di samping mobil menatap rumah itu. Lampu masih menyala dan hening malam terasa lebih jelas. Tangannya masuk ke saku mengambil ponsel. Ia menatap layar sebentar lalu mengetik. “Keluar sebentar.” Pesan terkirim, dan ia menurunkan ponsel menunggu. Di dalam rumah, Aira masih duduk di atas tempat tidurnya. Laptop terbuka, ja

  • DIPTA   BAB 97 Amarah Dipta

    Mobil melaju pelan menembus jalan malam yang mulai lengang. Lampu-lampu kota memantul di kaca depan, membentuk bayangan yang bergerak pelan seiring laju kendaraan. Di dalam hening, Dipta menyandarkan punggungnya ke kursi. Tangannya tetap di setir, pandangan lurus ke depan tapi pikirannya tidak di jalan. “Mama beneran beli papa buat Aska ya…” Kalimat itu terulang lagi dengan pelan dan jelas dipikirannya. Dipta menarik napas dalam. Tangannya sedikit mengerat di setir, bayangan itu muncul lagi pintu terbuka, langkah kecil, mata yang langsung tertuju padanya dan senyum itu terlihat polos, tanpa ragu dan tanpa beban. “Waah…” Seolah dia memang sudah seharusnya ada di sana. Dipta menelan pelan, selama ini dia hanya melihat dari jauh, sekilas dan cepat tanpa pernah benar-benar berhenti. Dari dalam mobil, dari kejauhan halaman atau dari balik kaca. Cukup untuk memastikan bahwa anak itu baik-baik saja. Tapi malam ini jarak itu hilang dan dia berdiri tepat di depan anaknya sendiri. Tanpa

  • DIPTA   BAB 96 Beli Papa

    Suasana di depan pintu swalayan itu masih menyisakan sedikit ketegangan. Orang-orang sudah kembali lalu-lalang seperti biasa, tapi di antara empat orang yang berdiri di sana, rasanya belum benar-benar kembali normal. Indri menarik napas pelan, mencoba merapikan ekspresinya. Tatapannya kembali ke arah Dipta Niskala Mahesa. “Kamu pulang malam ini.” Nada suaranya tidak keras tapi jelas itu bukan sekadar permintaan. Dipta menatapnya. “Kenapa?” Indri menjawab tenang. “Jam delapan ada acara keluarga di rumah.” Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Karin menginap. Orang tuanya menitipkan dia sementara di rumah kita.” Di sampingnya, Karin langsung menyahut dengan nada lebih ringan. “Iya, aku mau mulai kuliah di Jakarta, jadi sementara di sana dulu…” Dipta hanya mengangguk kecil, tidak ada respon berlebihan. “Saya lihat nanti.” Indri tidak membantah, namun tatapannya sedikit menahan. “Usahakan.” Tidak ada yang berbicara untuk beberapa saat, lalu tanpa sadar tatapan Indri kemba

  • DIPTA   BAB 95 Inspeksi

    Barang-barang di atas meja kasir mulai berpindah satu persatu. Suara beep mesin scanner terdengar berulang kaleng susu, botol minum, buku gambar astronot dan cemilan sampai perintilan kecil lainnya. Aira berdiri di sisi kasir, sesekali melirik layar total belanja. “Ini kayaknya bisa buat buka warung…” gumamnya pelan, setengah bercanda. Di sampingnya, Dipta masih membantu mengangkat barang dari troli. Gerakannya tenang sudah terbiasa, kasir menyebutkan total pembelian yang angkanya tidak kecil. Aira langsung mengambil dompetnya tanpa ragu. “Sebentar ya—” Namun tangan Dipta lebih dulu bergerak. Satu kartu sudah diletakkan di mesin. Aira langsung menoleh cepat. “Pak?!” Dipta tidak melihat ke arahnya. “Lanjut saja mbak.” Kasir langsung memproses. Aira langsung mendekat sedikit. “Pak, ini saya yang bayar…” Dipta tetap tenang. “Sudah biar saya aja.” Aira mengernyit. “Kan ini belanjaan saya…” Dipta baru memandang, tatapannya datar. “Iya.” Aira makin bingung. “Terus ken

  • DIPTA   BAB 94 Belanjaan

    Aira masih berdiri di depan rak susu, mencoba mengembalikan fokusnya setelah kejadian barusan yang jujur saja, cukup membuat kepalanya sedikit “panas dingin”. Troli di depannya sudah hampir penuh. Ia mengambil satu kaleng susu formula, memperhatikan labelnya sebentar, lalu tanpa ragu memasukkannya ke dalam troli. Gerakannya cepat seolah sudah hafal. Di sampingnya, Dipta berdiri tenang. Tadinya hanya memperhatikan sekilas, namun kali ini tatapannya bertahan lebih lama. Matanya turun perlahan ke dalam troli, satu persatu isi di dalamnya terlihat jelas produk anak-anak. Cemilan khusus, perawatan bayi, minyak telon dan lainnya. Semuanya bukan yang biasa, lalu pandangannya bergeser ke bagian lain. Produk milik Aira seperti sabun, sampo, body lotion, skincare, make up, semuanya standar. Bahkan bisa dibilang sederhana. Dipta tidak langsung bicara, tatapannya sedikit berubah lebih dalam. Aira yang masih fokus merapikan barang, tidak langsung sadar diperhatikan seperti itu. “Ini harusnya

  • DIPTA   BAB 93 Belanja

    Dulu, Dipta adalah seseorang yang mengendalikan. Sekarang dia terlihat seperti seseorang yang membentuk tanpa menekan. Arjito menghela napas lagi, lebih panjang dari sebelumnya. “Kamu benar-benar belajar…” Kalimat itu keluar pelan, bukan hanya untuk Aira justru ini juga untuk Dipta. Beberapa detik ruangan itu benar-benar hening. Tidak ada suara selain napas yang teratur. Lalu perlahan, tangan Arjito meraih ponselnya yang terletak di sisi meja. Ia menatap layar sebentar, seolah memastikan keputusan kecil itu, kemudian satu nama dipilih. Panggilan dilakukan. Nada sambung terdengar beberapa detik, sebelum akhirnya tersambung. “Jarang kamu yang menghubungi duluan.” suara di seberang terdengar santai, sedikit ringan, sangat kontras dengan suasana di ruangan itu. Suara dari Hadiyasa Mahesa. Arjito tidak langsung menjawab. Ia berdiri perlahan dari kursinya, berjalan mendekati jendela besar di belakang meja. Pemandangan kota terbentang luas di bawah sana, gedung-gedung tinggi berdir

  • DIPTA   BAB 32 Rutinitas Sekolah dan Masa Lalu

    Bel istirahat baru saja berbunyi. Kantin sekolah sudah mulai ramai oleh suara siswa yang saling bercakap. Aira duduk di salah satu meja bersama Nadhira dan Lestari. Nadhira sedang bercerita tentang guru matematika mereka yang tiba-tiba memberi kuis dadakan pagi tadi.“…terus dia bilang ini cuma lat

  • DIPTA   BAB 29 Rania dan Meyakinkan Posisi

    Pagi itu terasa berbeda bagi Aira, bukan karena cuaca dan bukan karena jadwal pelajaran, tapi karena sejak membuka mata, ada satu wajah yang langsung muncul di kepalanya, Dipta. Aira berdiri di depan cermin kamar, merapikan rambutnya. Tangannya sempat berhenti beberapa detik ketika bayangan semalam

  • DIPTA   BAB 28 Sesi Belajar dan Kedekatan Yang Meningkat

    Hening menyelimuti apartemen. Lampu kuning lembut dari plafon menyorot ke meja belajar mereka. Aira duduk di kursi, buku catatan dan pulpen di tangan, tapi matanya tak lepas dari Dipta. Dipta berdiri di dekat papan tulis, menunjukkan diagram anatomi tubuh manusia. Tapi jaraknya kini lebih dekat dar

  • DIPTA   BAB 23 Keputusan dan Status

    Pintu apartemen terbuka bahkan sebelum Aira sempat mengetuk dua kali. Dipta sudah berdiri di sana, kaus hitam polos dan celana training abu-abu, rambutnya sedikit basah seperti baru selesai mandi. “Cepat banget bukanya”, Aira mengangkat alis. “Kebetulan lagi di dekat pintu”, jawabnya ringan. Pada

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status