Share

KELUARGA BARU

last update publish date: 2026-07-23 16:38:18

Salah satu teman Sienna mengambil kain pel kotor dan melemparkannya ke lantai di depan Elara.

“Bersihin yang bersih! Siapa tahu Kael datang dan lihat kamu lagi jadi pembantu di sini,” kata gadis itu sambil cekikikan.

Sienna mencondongkan wajahnya mendekat, suaranya rendah penuh ancaman.

“Dengar, Elara! Ini baru awal. Kalau kamu nggak jauhi Kael, besok-besok bukan seragam kamu doang yang basah. Aku bikin kau dikeluarkan dari sekolah."

Tubuh Elara menegang. Air kotor merembes ke sepatu ketsnya yang sudah usang. Ia menggenggam kain pel lebih erat, tetapi tetap diam. Jantungnya berdegup kencang. Ia tak mau memberi Sienna kepuasan dengan menangis di depan mereka.

“Apa hak kamu ngomong gitu?” tanya Elara pelan. Suaranya hampir hilang di antara gemericik air.

Sienna tertawa kecil mengejek dan bergema di ruang toilet yang kosong. Dua temannya ikut terkikik. Satu di antaranya mengambil ponsel, lalu mulai merekam.

“Hak? Gue pacarnya Kael sebelum lo muncul, New Girl. Dia lagi pengen main-main aja sama cewek biasa. Besok juga lo dibuang kayak sampah. Lihat aja!"

Sienna melangkah lebih dekat lagi. Tangannya terulur hendak mendorong bahu Elara. Namun sebelum jarinya menyentuh, pintu toilet terbuka dengan keras.

BRAKK!

Kael berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit tersengal seolah baru berlari marathon. Matanya langsung menyipit gelap saat melihat pemandangan di depannya. Ada ember tumpah, baju Elara basah, dan Sienna yang sedang tersenyum licik.

“Apa-apaan ini?” tanyanya dengan pandangan mengintimidasi. Ia memandangi Sienna dan teman-temannya satu per satu. "Ada yang mau jelaskan?"

Sienna langsung menatap Kael. Ekspresinya berubah manis dalam sekejap. “Kael! Kami cuma lagi bercanda, kok. Elara lagi bersihin toilet, kan? Kami mau bantu—”

“KE-LUAARR!” potong Kael dingin. Tatapannya tak bergeser dari Sienna. “SEKARANG!

Dua teman Sienna langsung mundur dengan tubuh gemetar. Beda dengan Sienna. Ia masih mencoba bertahan. “Kael, kamu serius? Demi dia? Dia cuma—”

“Aku bilang KE-LU-AR!" Kael melangkah masuk. Tubuh tingginya langsung membuat ruangan terasa sempit. Ia berdiri di antara Elara dan Sienna. Bahunya menutupi murid baru itu sepenuhnya. “Jangan pernah deket-deket Elara lagi! Atau lo bertiga yang bakal bersihin seluruh lantai!"

Sienna menggigit bibir. Wajahnya memerah karena marah dan malu. Ia melirik Elara dengan tatapan penuh kebencian, sebelum akhirnya berbalik pergi bersama kedua temannya. Pintu toilet dibanting keras.

Begitu mereka pergi, Kael langsung berlutut di depan Elara. Tangannya menyentuh lengan gadis itu dengan lembut, meski matanya masih menyala amarah.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Kael. Suaranya langsung berubah melunak. Jarinya menyapu air kotor di seragam Elara. “Maaf, El. Aku seharusnya nggak ninggalin kamu sendirian.”

Elara menggeleng pelan. Air mata yang ditahannya sejak tadi akhirnya jatuh. “Benar-benar sial! Habis dimarahi mama aku dan BK. Sienna bikin gara-gara lagi.”

Kael menariknya ke dalam pelukan tanpa ragu. Ia tak peduli lantai basah dan bau disinfektan. Ia memeluk Elara erat. Satu tangannya mengusap punggung gadis itu naik-turun.

“Gue yang bakal beresin toilet ini. Kamu duduk aja di sana!” pintanya sambil menunjuk bangku di sudut. “Biar besok aku yang ngomong ke guru BK. Ini nggak adil.”

“Tapi papa kamu—”

“Papa aku urusan lain. Kamu jadi tanggung jawab aku,” jelas Kael tegas. Ia melepaskan pelukan, lalu mengambil kain pel dari tangan Elara. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mulai membersihkan lantai dengan gerakan cepat dan efisien.

Elara duduk sambil memeluk lutut, memperhatikan Kael yang bekerja. Hatinya hangat meski tubuhnya kedinginan. Di tengah semua kekacauan ini, Kael selalu ada untuknya.

Setelah selesai, Kael mencuci tangan, lalu mendekat lagi. Ia melepas jaket seragamnya dan menyampirkannya di bahu Elara.

“Ayo pulang! Aku antar. Gimana kalau aku yang jelasin ke mama kamu?"

Elara menggenggam ujung jaket Kael, mengangguk kecil. “Kael, kenapa kamu segini baiknya sama aku?”

Kael tersenyum tipis. Jempolnya mengusap pipi Elara yang masih basah air mata. “Karena aku serius waktu bilang mau nikah sama kamu. Meski sekolah belum kelar.”

Elara tertawa kecil di antara isak, mencubit lengan Kael pelan. “Gila! Buruan antar aku pulang sebelum mama benar-benar ngamuk.”

Mereka keluar dari toilet beriringan. Kael menggandeng tangan Elara tanpa malu, meski sepanjang koridor masih ada beberapa siswa yang berlalu-lalang. Tatapan mereka yang penasaran tak dihiraukan oleh Kael sama sekali.

Di parkiran, saat Kael menstarter motor, Elara kembali memeluk pinggangnya dari belakang. Kali ini pelukannya lebih erat.

“I love you, Kael,” bisiknya tepat di telinga cowok itu, kali ini cukup keras agar terdengar.

Kael tersenyum lebar. Tangannya menepuk pelan lengan Elara di perutnya. “Akhirnya ngaku juga. Besok kita kabur lagi?”

“Ogah! Aku nggak mau bersihin toilet sendirian.”

Kael tertawa terbahak-bahak.“Nggak akan. Kita akan kerjakan berdua.”

Motor melaju pelan meninggalkan sekolah, meninggalkan hari yang berat itu. Namun di hati Elara, ada sedikit harapan bahwa mungkin, bersama Kael, semuanya bisa diatasi.

Elara masih tersenyum kecil saat motor Kael melambat di depan gerbang asrama. Pelukannya di pinggang Kael agak longgar karena jaket cowok itu masih menyelimuti bahunya. Malam mulai turun, lampu jalan menyala kuning temaram.

Tiba-tiba ponsel di saku Elara bergetar keras. Ia mengeluarkannya dengan ragu, nama “Mama” terpampang di layar. Elara langsung menegang.

“Halo, Ma?”

Suara Nancy di seberang terdengar dingin dan tak mau dibantah. “Elara Quinn. Jam tujuh malam tepat kamu harus sudah di rumah baru kita. Kita makan malam bersama dengan papa dan kakak tiri kamu. Jangan ada alasan apa pun. Mengerti?”

Elara menelan ludah. “Iya, Ma. Tapi aku baru pulang dari sekolah dan—”

“Cukup! Jam 5 baru pulang? Kamu ke mana saja?"

"Pulang sekolah bersihin toilet dulu," jawab Elara dengan kedua mata berkaca-kaca. Gini amat, hidup aku. Punya Mama tega banget, batin Elara nelangsa.

"Buruan siap-siap! Jangan buat malu di depan keluarga baru kita!”

Klik. Telepon ditutup.

Elara menatap layar ponsel dengan wajah muram. Ia menghela napas panjang. “Mama suruh aku pulang jam tujuh buat makan malam bersama keluarga baru.”

Kael mematikan mesin motor, lalu menoleh ke belakang. Alisnya bertaut. “Makan malam? Kamu baru kena hukuman, sekarang disuruh pulang. Keluarga baru?"

Elara mengangguk lemah. “Aku dan Mama pindah kemari atas kemauan papa tiri. Mereka menikah sebulan yang lalu."

"Oh my God! Nasib kita sama. Papa aku juga baru nikah sebulan yang lalu," sahut Kael dengan ekspresi kesal. "Gimana kalau aku antar ke sana? Sekalian aku jelasin ke mama kamu."

"Jangan! Mama bisa lebih marah lagi," balas Elara tidak semangat.

Kael menggenggam tangan Elara yang masih memegang jaketnya. “Oke. Aku antar sampe depan asrama aja biar nggak tambah ribet. Tapi besok pagi aku jemput lagi, ya?”

Sebelum Elara sempat menjawab, ponsel Kael ikut bergetar. Ia melirik layar. Wajahnya langsung berubah. Pesan dari papanya.

[Kael, jam 6.30 sore ini ketemu di toko perhiasan Emerald di mall. Kita pilih kado buat ulang tahun Mama Nancy. Jangan telat! Ini penting.]

Kael mendengus pelan sambil menunjukkan layar ke Elara. “Aku disuruh ketemu Papa sekarang.”

Elara tersenyum tipis meski hatinya berat. “Kita berdua sama-sama dipanggil keluarga ya hari ini. Kayaknya alam semesta nggak mau kita bareng lama-lama.”

Kael mematikan layar ponsel, lalu menarik Elara ke dalam pelukan singkat tetapi erat. “Aku nggak suka ini. Kamu baru dihukum, harusnya aku hibur kamu. Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku! Aku bisa dateng kapan pun.”

“Iya,” bisik Elara di dada Kael. “Kamu juga hati-hati.”

Kael tertawa kecil, mencium kening Elara sekilas. “Nanti kita teleponan. Pengennya cepet nikah, biar bisa bareng sama kamu terus."

Elara meraba dahi Kael. "Nggak demam. Ngapain ngelantur?"tanya Elara sambil mengernyitkan dahi.

"Aku pengen segera dapat hak mengelola perusahaan dan punya keluarga sendiri. Hidupku membosankan, El."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   FAKTA BARU

    “Ale, aku hanya ingin bersama kamu,” ucap Elara.Alessandro terdiam. Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat dadanya terasa sesak.Ia menatap Elara beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Kalau itu yang kamu inginkan, aku akan menghargainya.”Elara mengusap air matanya.“Aku capek, Ale.”“Aku tahu.”“Aku capek harus menjelaskan kenapa aku mencintaimu. Aku capek harus merasa bersalah setiap kali memilih perasaanku sendiri.”Alessandro menarik napas panjang.“Kamu gak perlu merasa bersalah karena mencintai seseorang.”Elara menatapnya dengan raut wajah semakin tertekan.“Tapi aku sudah menikah dengan Kael.”Alessandro tidak langsung menjawab. “Aku tahu.”“Secara hukum dan di hadapan keluarga, aku adalah istrinya,"ucap Elara penuh sesal. “Aku tahu," sahut Alessandro sambil menyeka air mata Elara ujung jari.“Lalu bagaimana mungkin aku bisa bersamamu?”Alessandro menatap mata Elara.“Itu sebabnya aku gak akan memintamu melakukan apa pun malam ini.”Elara terdiam dengan

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   ABAIKAN STATUS

    Sementara itu, Kael sudah tiba di Kyoto pada malam harinya. Ia check-in di hotel dekat area tempat jejak terakhir Elara terdeteksi. Dari kamar hotel, ia terus menghubungi orang-orangnya.“Cek semua apartemen sewaan di area itu. Fokus pada perempuan berambut pirang, sendirian, baru datang dalam seminggu terakhir.”Di waktu yang hampir bersamaan, Marco menerima telepon dari Thomas.“Marco, datang ke sini! Kita perlu bicara soal Alessandro dan Elara.”Marco yang sedang di rumah sakit langsung menuju ruang Thomas. Begitu masuk, ia melihat wajah Tuan Thomas yang jauh lebih muram dari biasanya.“Ada apa, Pak?”Thomas menatapnya berat. “Alessandro mengajukan syarat. Dia hanya mau mengakui saya sebagai ayah kandung jika saya membantu membatalkan pernikahan Kael dan Elara.”Marco terkejut. “Pembatalan? Itu sangat sulit. Kemudian besar Kael gak akan setuju. Dia sangat mencintai Elara."“Saya tahu,” jawab Thomas. “Tapi itu satu-satunya yang dia minta. Maka dari itu saya ajak kamu diskusi."Marc

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   THOMAS CARI PELUANG

    Tiba-tiba ponsel milik Alessandro berdering. Tampak nomor asing dari negara Jepang.“Siapa, ya?” tanya Alessandro sambil menoleh ke arah Maria.“Angkat saja, Ale!”Alessandro mengangkat telepon itu dengan ragu. “Halo?”Keheningan sejenak di seberang. Lalu suara yang sangat familiar terdengar, pelan dan sedikit serak.“Ale… ini aku.”Alessandro membeku. Maria yang melihat ekspresinya langsung menegakkan tubuh.“Elara?” suara Alessandro turun menjadi bisikan, seolah tidak percaya. Kedua matanya tampak berbinar-binar, penuh harapan.Di seberang, Elara menarik napas. “Aku di Kyoto. Aku… hanya ingin bilang," terdengar isakan beberapa saat. "Aku sudah sampai dengan selamat. Dan… maaf karena pergi tanpa bilang langsung.”Alessandro menutup mata, menekan ponsel lebih erat ke telinganya. “Kamu telepon dari nomor Jepang.”“Aku beli nomor lokal. Aku gak ingin mudah dilacak.” Elara terdiam sebentar. “Aku dengar kamu drop setelah donor. Sekarang … gimana keadaan kamu?”Alessandro tertawa kecil, te

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   STATUS DAN DILEMA

    Di kota yang jauh, Elara mulai membangun rutinitas baru. Ia tidak menyalakan ponsel kecuali untuk membalas Clara. Ia menolak semua permintaan lokasi. Bahkan Clara hanya tahu bahwa ia aman, tanpa detail alamat lengkap.Sementara itu di rumah sakit, Alessandro akhirnya sadar penuh pada pagi ketiga. Yang pertama ia tanyakan bukan kondisi tubuhnya.“Elara?”Maria yang duduk di samping tempat tidur terdiam. Marco yang kebetulan ada di ruangan juga tidak langsung menjawab.Alessandro mengulang, suaranya serak. “Di mana Elara?”Maria menunduk. “Dia pergi, Ale. Setelah kamu donor. Dia bilang ingin hidupnya sendiri.”Alessandro menatap langit-langit lama. Tak ada ekspresi marah maupun kaget. Namun seolah dalam dirinya ada sesuatu yang mengunci.“Aku tahu,” bisiknya. “Aku sudah duga.”Di sisi lain rumah sakit, hasil tes DNA akhirnya keluar. Dokter pribadi Thomas menyerahkan amplop itu langsung ke tangan pria tua itu. Thomas membuka dengan tangan gemetar. Hasilnya jelas bahwa Alessandro Bianchi

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   MENEPI

    Marco buru-buru membungkam mulut Kael dan menyeretnya menjauh dari Maria yang masih menempel di kaca ICU.Begitu mereka mencapai ujung koridor, Kael menepis tangan Marco dengan kasar.“Lepas!” teriak Kael dengan wajah memerah.“Berani benar, kamu membungkam aku?”Marco menatapnya tegang. “Kamu mau bilang apa barusan di depan Nyonya Maria? Mau bilang Elara sudah jadi istrimu? Sekarang? Saat anaknya drop di dalam sana?”Kael menegakkan tubuhnya. “Itu fakta. Elara sudah menikah denganku. Sah. Aku gak akan diam saja, sementara semua orang pura-pura gak tahu.”“Fakta yang akan membuat Nyonya Maria meledak,” potong Marco. “Anaknya baru saja kolaps. Elara menghilang. Kalau kamu sekarang berdiri di situ dan mengklaim Elara sebagai istrimu, kamu hanya akan menambah kekacauan.”Kael tertawa pahit. “Jadi aku harus tutup mulut? Sementara Alessandro yang hampir menjadi calon suaminya terbaring di ICU, dan aku yang sah harus pura-pura gak ada?”Marco menghela napas berat. “Bukan pura-pura gak ada. T

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   ALESSANDRO NGEDROP

    Elara baru saja melangkah keluar dari ruang pemulihan ketika sebuah tangan tiba-tiba menarik lengannya. Ia kaget dan berbalik.Marco berdiri di hadapannya, wajah tegang. Jelas sekali pria itu baru saja mengawasi dari celah pintu.“Marco? Kamu—”“Ikut aku,” potong Marco pelan tetapi tegas. Ia menarik Elara ke sudut koridor yang lebih sepi, jauh dari telinga perawat yang lalu-lalang. “Aku dengar semuanya.”Elara menghela napas, melepaskan lengannya. “Kalau begitu kamu sudah tahu. Aku akan pergi setelah Alessandro stabil.”Marco menatapnya dalam. “Kamu serius? Setelah semua yang baru saja terjadi di dalam sana?”“Justru karena itu,” jawab Elara dingin. “Aku sudah bilang ke dia. Aku gak mau lagi jadi penengah. Aku capek, Marco.”Marco mengusap wajahnya, terlihat frustasi. “Tuan Thomas sudah bilang dia gak akan lagi memaksa. Kael juga sudah dilarang menghubungimu. Alessandro baru saja mendonorkan sumsum tulangnya. Dan sekarang kamu mau hilang begitu saja?”Elara menatapnya tajam. “Aku buka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status