로그인Salah satu teman Sienna mengambil kain pel kotor dan melemparkannya ke lantai di depan Elara.
“Bersihin yang bersih! Siapa tahu Kael datang dan lihat kamu lagi jadi pembantu di sini,” kata gadis itu sambil cekikikan. Sienna mencondongkan wajahnya mendekat, suaranya rendah penuh ancaman. “Dengar, Elara! Ini baru awal. Kalau kamu nggak jauhi Kael, besok-besok bukan seragam kamu doang yang basah. Aku bikin kau dikeluarkan dari sekolah." Tubuh Elara menegang. Air kotor merembes ke sepatu ketsnya yang sudah usang. Ia menggenggam kain pel lebih erat, tetapi tetap diam. Jantungnya berdegup kencang. Ia tak mau memberi Sienna kepuasan dengan menangis di depan mereka. “Apa hak kamu ngomong gitu?” tanya Elara pelan. Suaranya hampir hilang di antara gemericik air. Sienna tertawa kecil mengejek dan bergema di ruang toilet yang kosong. Dua temannya ikut terkikik. Satu di antaranya mengambil ponsel, lalu mulai merekam. “Hak? Gue pacarnya Kael sebelum lo muncul, New Girl. Dia lagi pengen main-main aja sama cewek biasa. Besok juga lo dibuang kayak sampah. Lihat aja!" Sienna melangkah lebih dekat lagi. Tangannya terulur hendak mendorong bahu Elara. Namun sebelum jarinya menyentuh, pintu toilet terbuka dengan keras. BRAKK! Kael berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit tersengal seolah baru berlari marathon. Matanya langsung menyipit gelap saat melihat pemandangan di depannya. Ada ember tumpah, baju Elara basah, dan Sienna yang sedang tersenyum licik. “Apa-apaan ini?” tanyanya dengan pandangan mengintimidasi. Ia memandangi Sienna dan teman-temannya satu per satu. "Ada yang mau jelaskan?" Sienna langsung menatap Kael. Ekspresinya berubah manis dalam sekejap. “Kael! Kami cuma lagi bercanda, kok. Elara lagi bersihin toilet, kan? Kami mau bantu—” “KE-LUAARR!” potong Kael dingin. Tatapannya tak bergeser dari Sienna. “SEKARANG! Dua teman Sienna langsung mundur dengan tubuh gemetar. Beda dengan Sienna. Ia masih mencoba bertahan. “Kael, kamu serius? Demi dia? Dia cuma—” “Aku bilang KE-LU-AR!" Kael melangkah masuk. Tubuh tingginya langsung membuat ruangan terasa sempit. Ia berdiri di antara Elara dan Sienna. Bahunya menutupi murid baru itu sepenuhnya. “Jangan pernah deket-deket Elara lagi! Atau lo bertiga yang bakal bersihin seluruh lantai!" Sienna menggigit bibir. Wajahnya memerah karena marah dan malu. Ia melirik Elara dengan tatapan penuh kebencian, sebelum akhirnya berbalik pergi bersama kedua temannya. Pintu toilet dibanting keras. Begitu mereka pergi, Kael langsung berlutut di depan Elara. Tangannya menyentuh lengan gadis itu dengan lembut, meski matanya masih menyala amarah. “Kamu nggak apa-apa?” tanya Kael. Suaranya langsung berubah melunak. Jarinya menyapu air kotor di seragam Elara. “Maaf, El. Aku seharusnya nggak ninggalin kamu sendirian.” Elara menggeleng pelan. Air mata yang ditahannya sejak tadi akhirnya jatuh. “Benar-benar sial! Habis dimarahi mama aku dan BK. Sienna bikin gara-gara lagi.” Kael menariknya ke dalam pelukan tanpa ragu. Ia tak peduli lantai basah dan bau disinfektan. Ia memeluk Elara erat. Satu tangannya mengusap punggung gadis itu naik-turun. “Gue yang bakal beresin toilet ini. Kamu duduk aja di sana!” pintanya sambil menunjuk bangku di sudut. “Biar besok aku yang ngomong ke guru BK. Ini nggak adil.” “Tapi papa kamu—” “Papa aku urusan lain. Kamu jadi tanggung jawab aku,” jelas Kael tegas. Ia melepaskan pelukan, lalu mengambil kain pel dari tangan Elara. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mulai membersihkan lantai dengan gerakan cepat dan efisien. Elara duduk sambil memeluk lutut, memperhatikan Kael yang bekerja. Hatinya hangat meski tubuhnya kedinginan. Di tengah semua kekacauan ini, Kael selalu ada untuknya. Setelah selesai, Kael mencuci tangan, lalu mendekat lagi. Ia melepas jaket seragamnya dan menyampirkannya di bahu Elara. “Ayo pulang! Aku antar. Gimana kalau aku yang jelasin ke mama kamu?" Elara menggenggam ujung jaket Kael, mengangguk kecil. “Kael, kenapa kamu segini baiknya sama aku?” Kael tersenyum tipis. Jempolnya mengusap pipi Elara yang masih basah air mata. “Karena aku serius waktu bilang mau nikah sama kamu. Meski sekolah belum kelar.” Elara tertawa kecil di antara isak, mencubit lengan Kael pelan. “Gila! Buruan antar aku pulang sebelum mama benar-benar ngamuk.” Mereka keluar dari toilet beriringan. Kael menggandeng tangan Elara tanpa malu, meski sepanjang koridor masih ada beberapa siswa yang berlalu-lalang. Tatapan mereka yang penasaran tak dihiraukan oleh Kael sama sekali. Di parkiran, saat Kael menstarter motor, Elara kembali memeluk pinggangnya dari belakang. Kali ini pelukannya lebih erat. “I love you, Kael,” bisiknya tepat di telinga cowok itu, kali ini cukup keras agar terdengar. Kael tersenyum lebar. Tangannya menepuk pelan lengan Elara di perutnya. “Akhirnya ngaku juga. Besok kita kabur lagi?” “Ogah! Aku nggak mau bersihin toilet sendirian.” Kael tertawa terbahak-bahak.“Nggak akan. Kita akan kerjakan berdua.” Motor melaju pelan meninggalkan sekolah, meninggalkan hari yang berat itu. Namun di hati Elara, ada sedikit harapan bahwa mungkin, bersama Kael, semuanya bisa diatasi. Elara masih tersenyum kecil saat motor Kael melambat di depan gerbang asrama. Pelukannya di pinggang Kael agak longgar karena jaket cowok itu masih menyelimuti bahunya. Malam mulai turun, lampu jalan menyala kuning temaram. Tiba-tiba ponsel di saku Elara bergetar keras. Ia mengeluarkannya dengan ragu, nama “Mama” terpampang di layar. Elara langsung menegang. “Halo, Ma?” Suara Nancy di seberang terdengar dingin dan tak mau dibantah. “Elara Quinn. Jam tujuh malam tepat kamu harus sudah di rumah baru kita. Kita makan malam bersama dengan papa dan kakak tiri kamu. Jangan ada alasan apa pun. Mengerti?” Elara menelan ludah. “Iya, Ma. Tapi aku baru pulang dari sekolah dan—” “Cukup! Jam 5 baru pulang? Kamu ke mana saja?" "Pulang sekolah bersihin toilet dulu," jawab Elara dengan kedua mata berkaca-kaca. Gini amat, hidup aku. Punya Mama tega banget, batin Elara nelangsa. "Buruan siap-siap! Jangan buat malu di depan keluarga baru kita!” Klik. Telepon ditutup. Elara menatap layar ponsel dengan wajah muram. Ia menghela napas panjang. “Mama suruh aku pulang jam tujuh buat makan malam bersama keluarga baru.” Kael mematikan mesin motor, lalu menoleh ke belakang. Alisnya bertaut. “Makan malam? Kamu baru kena hukuman, sekarang disuruh pulang. Keluarga baru?" Elara mengangguk lemah. “Aku dan Mama pindah kemari atas kemauan papa tiri. Mereka menikah sebulan yang lalu." "Oh my God! Nasib kita sama. Papa aku juga baru nikah sebulan yang lalu," sahut Kael dengan ekspresi kesal. "Gimana kalau aku antar ke sana? Sekalian aku jelasin ke mama kamu." "Jangan! Mama bisa lebih marah lagi," balas Elara tidak semangat. Kael menggenggam tangan Elara yang masih memegang jaketnya. “Oke. Aku antar sampe depan asrama aja biar nggak tambah ribet. Tapi besok pagi aku jemput lagi, ya?” Sebelum Elara sempat menjawab, ponsel Kael ikut bergetar. Ia melirik layar. Wajahnya langsung berubah. Pesan dari papanya. [Kael, jam 6.30 sore ini ketemu di toko perhiasan Emerald di mall. Kita pilih kado buat ulang tahun Mama Nancy. Jangan telat! Ini penting.] Kael mendengus pelan sambil menunjukkan layar ke Elara. “Aku disuruh ketemu Papa sekarang.” Elara tersenyum tipis meski hatinya berat. “Kita berdua sama-sama dipanggil keluarga ya hari ini. Kayaknya alam semesta nggak mau kita bareng lama-lama.” Kael mematikan layar ponsel, lalu menarik Elara ke dalam pelukan singkat tetapi erat. “Aku nggak suka ini. Kamu baru dihukum, harusnya aku hibur kamu. Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku! Aku bisa dateng kapan pun.” “Iya,” bisik Elara di dada Kael. “Kamu juga hati-hati.” Kael tertawa kecil, mencium kening Elara sekilas. “Nanti kita teleponan. Pengennya cepet nikah, biar bisa bareng sama kamu terus." Elara meraba dahi Kael. "Nggak demam. Ngapain ngelantur?"tanya Elara sambil mengernyitkan dahi. "Aku pengen segera dapat hak mengelola perusahaan dan punya keluarga sendiri. Hidupku membosankan, El.""Aku pengen segera dapat hak mengelola perusahaan dan punya keluarga sendiri. Hidupku membosankan, El."Elara geleng-geleng kepala, lalu mengamati wajah kekasihnya. "Padahal hidup berumah tangga itu rumit, Kael.""Asal sama kamu. Semua mudah bagiku," balas Kael mantap."Udah, ah. Aku mau buru-buru mandi.""Oke. I love you, El," ucap Kael lalu mengecup bibir Elara sekilas."I love you too, Kael."Mereka berpisah dengan berat hati. Elara berjalan masuk ke asrama sambil memeluk jaket Kael yang masih hangat. Sementara Kael melajukan motornya ke arah mall dengan kecepatan sedang. Pikirannya terbagi dua. Ada rasa khawatir dengan Elara yang harus menghadapi mamanya lagi, dan rasa kesal karena harus ikut acara keluarga yang tak ia inginkan.***Jam 6.45 malam, di toko perhiasan Emerald yang mewah.Kael berdiri di samping papanya yang sedang memperhatikan deretan kalung berlian. Cahaya lampu etalase menyilaukan.“Yang mana menurutmu bagus?” tanya papanya tanpa menoleh.Kael hanya mengangkat b
Salah satu teman Sienna mengambil kain pel kotor dan melemparkannya ke lantai di depan Elara.“Bersihin yang bersih! Siapa tahu Kael datang dan lihat kamu lagi jadi pembantu di sini,” kata gadis itu sambil cekikikan.Sienna mencondongkan wajahnya mendekat, suaranya rendah penuh ancaman.“Dengar, Elara! Ini baru awal. Kalau kamu nggak jauhi Kael, besok-besok bukan seragam kamu doang yang basah. Aku bikin kau dikeluarkan dari sekolah."Tubuh Elara menegang. Air kotor merembes ke sepatu ketsnya yang sudah usang. Ia menggenggam kain pel lebih erat, tetapi tetap diam. Jantungnya berdegup kencang. Ia tak mau memberi Sienna kepuasan dengan menangis di depan mereka.“Apa hak kamu ngomong gitu?” tanya Elara pelan. Suaranya hampir hilang di antara gemericik air.Sienna tertawa kecil mengejek dan bergema di ruang toilet yang kosong. Dua temannya ikut terkikik. Satu di antaranya mengambil ponsel, lalu mulai merekam.“Hak? Gue pacarnya Kael sebelum lo muncul, New Girl. Dia lagi pengen main-main aj
Kael tersenyum tipis, lalu kedua tangannya memegang kedua pipi Elara. "Kita nikah," ucapnya tanpa beban."Apaan, sih! Sekolah juga belum kelar," protes Elara, meski hatinya sempat melambung gara-gara omongan Kael barusan. Siapa yang tidak bahagia dicintai secara ugal-ugalan oleh cowok sekeren Kael."Aku nggak mau pisah sama kamu, El. Aku cinta kamu."Elara geleng-geleng kepala mendengarnya. "Emang aku cinta kamu?""Sudah pasti cinta, buktinya semalam mau aku cium," ejek Kael. "Bilang, dong sekarang!""Ogah! Buruan, aku ditunggu Mama!"Dengan berat hati, Kael menghidupkan motor. Perjalanan kembali terasa berat. Kael mengemudikan motor lebih pelan dari sebelumnya. Ia sengaja memperpanjang waktu mereka berdua. Elara memeluk pinggangnya dari belakang, pipinya menempel di punggung Kael yang hangat. Air mata diam-diam mengalir di pipinya. "I love you, Kael," ucapnya lirih."Ngomong apaan? Aku nggak denger!""Nggak ada," balas Elara dan rona merah pipinya tampak jelas pada pantulan kaca spi
Kael mengulurkan helm cadangan ke arahnya. “Kalau gitu, kita kabur. Hari ini cuma kita berdua. Kamu mau?”Elara masih berdiri di depan gerbang asrama, tangannya mencengkeram tali tas sekolahnya erat-erat. Motor hitam Kael sudah menyala, knalpotnya mengeluarkan suara rendah yang menggema di pagi yang sepi itu."El, cepetan!” desak Kael pelan, suaranya masih serak karena luka. Matanya yang hitam menatap Elara dengan tatapan yang bikin lutut si gadis lemas. Tatapan memelas dan penuh hasrat. “Aku udah nggak tahan nunggu kamu dari semalam.”Elara menggigit bibir bawahnya, lalu melirik ke belakang. Beberapa siswi lain sudah mulai keluar dari asrama, saling berbisik sambil menatap motor Kael."Aku nggak mau bolos. Baru juga beberapa hari jadi murid pindahan,” bisiknya gugup.Kael tersenyum tipis, senyum yang selalu berhasil membuat hati Elara jungkir balik. Ia turun dari motor, mendekat sampai tubuh mereka hampir bersentuhan. Tangan besarnya menyentuh pipi Elara dengan lembut, mengusapnya pe
Kael menarik Elara lebih dekat lagi, bibirnya nyaris nyentuh telinga Elara."Aku nggak mau kamu pergi sekarang. Mau kamu di sini, temani aku."Kael menatap Elara dengan wajah memelas, mata hitamnya yang biasanya tajam sekarang seperti anak kecil yang takut ditinggal. Bibirnya yang masih berdarah sedikit mengkerut, alisnya turun, suaranya pelan sekali, hampir bergetar."El, please! Aku nggak minta lama. Cuma malam ini aja. Aku terluka karena kamu."Jempolnya mengusap pinggang Elara lagi, lebih lembut dari sebelumnya, seperti takut kalau gerakan terlalu keras, Elara bakal kabur.Elara merasa dadanya sesak. Wajah Kael yang biasanya angkuh itu sekarang kelihatan rapuh, dan entah kenapa itu bikin hatinya luluh.“Baiklah, aku kirim pesan ke Mama dulu,” bisik Elara akhirnya, suaranya kecil. Beberapa saat kemudian, Elara telah mengirimkan pesan. Ia masukkan ponsel ke tas.Kael tersenyum tipis, langsung menarik Elara kembali ke pangkuannya. Ciumannya kali ini lebih dalam, lebih liar. Tangannya
Elara berjalan menyusuri trotoar. Rambut blonde bergelombangnya dikuncir asal-asalan. Ia memakai hoodie hitam polos, berharap tak ada yang mengenalinya. Harapan itu hancur dalam hitungan detik.Tiga cowok berbadan besar dari geng rival The Sovereigns — kelompok “Black Vipers” — tiba-tiba muncul dari gang kecil, langsung mengepungnya.“Lo temen sebangku Kael Draven, kan?” tanya yang paling tinggi, suaranya penuh ancaman.Elara mundur selangkah, punggungnya menempel tembok. “Aku bukan siapa-siapa. Minggir!”Cowok itu tertawa sinis. “Kayaknya incaran baru Kael."Sebelum Elara sempat bergerak, tangan salah satu dari mereka sudah mencengkeram kerah hoodie-nya.“Lepaskan!”Benturan keras terdengar. Tiba-tiba tubuh cowok itu terpental ke belakang.Kael muncul dari arah belakang, napasnya memburu, mata hitamnya membara seperti api neraka. Tanpa bicara, ia langsung menyerang. Tinju, tendangan, suara tulang beradu. Dua cowok lainnya ikut mengeroyoknya sekaligus.Elara berteriak, “Kael! Stop!”N







