تسجيل الدخولKael tersenyum tipis, lalu kedua tangannya memegang kedua pipi Elara. "Kita nikah," ucapnya tanpa beban.
"Apaan, sih! Sekolah juga belum kelar," protes Elara, meski hatinya sempat melambung gara-gara omongan Kael barusan. Siapa yang tidak bahagia dicintai secara ugal-ugalan oleh cowok sekeren Kael. "Aku nggak mau pisah sama kamu, El. Aku cinta kamu." Elara geleng-geleng kepala mendengarnya. "Emang aku cinta kamu?" "Sudah pasti cinta, buktinya semalam mau aku cium," ejek Kael. "Bilang, dong sekarang!" "Ogah! Buruan, aku ditunggu Mama!" Dengan berat hati, Kael menghidupkan motor. Perjalanan kembali terasa berat. Kael mengemudikan motor lebih pelan dari sebelumnya. Ia sengaja memperpanjang waktu mereka berdua. Elara memeluk pinggangnya dari belakang, pipinya menempel di punggung Kael yang hangat. Air mata diam-diam mengalir di pipinya. "I love you, Kael," ucapnya lirih. "Ngomong apaan? Aku nggak denger!" "Nggak ada," balas Elara dan rona merah pipinya tampak jelas pada pantulan kaca spion. "Nggak ngaku lagi," sahut Kael dengan setengah teriak, untuk imbangi suara kendaraan. Elara tersipu malu sambil mencubit kecil pinggang Kael. Sesampainya di dekat gerbang sekolah, Kael menghentikan motor di balik pohon besar, cukup jauh agar tak terlihat dari ruang guru. Ia lalu membantu Elara turun dengan hati-hati. Ia melepaskan helm dari kepala gadis itu. Jarinya menyentuh pipi Elara yang basah, mengusap air matanya dengan lembut. "Kalau mama kamu marah-marah, telepon saja! Aku datang, apa pun risikonya,” bisiknya. Elara mengangguk pelan, tetapi sebelum ia berbalik, Kael menariknya sekali lagi ke dalam pelukan. Ciumannya kali ini lembut, seolah takut ini adalah ciuman terakhir. "Ingat, El! Aku cinta kamu.” Elara melepaskan diri dengan berat hati, lalu berjalan cepat menuju gedung sekolah. Setiap langkah terasa seperti meninggalkan bagian dari hatinya. Di ruang guru, mamanya sudah berdiri dengan wajah dingin, tangan bersedekap. Di sampingnya ada guru BK. "Elara Quinn,” kata mamanya dengan suara rendah dan menusuk. “Duduk! Kamu harus bicara jujur!" Elara duduk dengan lutut gemetar. Di luar jendela, tanpa ia sadari, Kael masih berdiri di balik pohon, menatap ke arah ruang guru dengan tatapan gelap. Ponselnya bergetar, ada pesan dari Theo. [Barusan papa lo kemari. Gue bilang lo lagi berobat.] Kael menggenggam ponselnya erat, mata hitamnya menyala lagi. [Lo bilang gue luka?] [Nggak! Ada yang kasih tahu papa lo.] Di ruang guru, udara terasa berat dan dingin. Nancy Alexandra berdiri dengan tangan bersedekap. Wajahnya dingin dan kaku seperti patung es. Di sampingnya, guru BK terlihat gelisah, sesekali melirik ke arah Elara dengan tatapan iba. "Duduk!” perintah Nancy dengan suara tegas. Elara duduk di kursi kayu dengan lutut gemetar. Tangannya saling meremas di pangkuan, berusaha menahan air mata yang sudah menggenang. "Jadi?” Nancy mencondongkan tubuhnya ke depan. “Kamu bolos di hari-hari awal masuk sekolah, bohong bilang antar teman berobat, padahal kamu kabur dengan cowok itu. Siapa namanya? Kael?” Elara menggigit bibir dalam-dalam. Ia diam saja. “Jawab, Elara!” bentak Nancy sambil memukul meja pelan. “Mama sudah bilang berkali-kali, jangan pacaran! Tugas kamu sekolah. Kamu mau jadi apa? Mau jadi cewek murahan?” Guru BK mencoba menengahi dengan suara pelan, “Bu Nancy, mungkin Elara masih dalam masa adaptasi sebagai murid pindahan—” “Adaptasi?” Nancy memotong dengan sinis. “Adaptasi yang seperti ini? Kabur pagi-pagi naik motor dengan cowok? Gimana pengawasan di asrama? Saya sudah bayar mahal untuk itu." Elara menunduk. Air matanya akhirnya jatuh ke pangkuan. Ia teringat pelukan Kael tadi, ciumannya yang lembut, dan kata-kata “Aku cinta kamu” yang masih bergema di kepalanya. Setelah ceramah panjang yang menyakitkan, Nancy akhirnya meninggalkan ruangan. Elara dapat hukuman membersihkan toilet lantai dua selama satu minggu, sepulang sekolah. Elara berjalan ke kelas 11-4 dengan kepala tertunduk. Matanya masih sembab. Jam kedua sudah berlangsung. Begitu ia masuk, seluruh penghuni kelas menoleh. Kael yang duduk di kursi sebelah langsung menegakkan tubuh. Matanya menyipit khawatir saat melihat wajah Elara yang pucat. Elara duduk tanpa bicara. Kael mencondongkan tubuhnya mendekat dan berbisik pelan, “Kamu nangis? Mama kamu marah banget?” Elara hanya mengangguk kecil, tak berani banyak bicara karena guru sedang menjelaskan di depan. Sepanjang pelajaran, Kael sesekali meliriknya dengan tatapan gelap. Tangannya di bawah meja diam-diam meraih jari Elara, meremasnya pelan sebagai bentuk dukungan. Elara tak menolak, meski hatinya masih kacau. Saat bel istirahat berbunyi, Kael langsung menarik Elara ke sudut koridor yang sepi. “Cerita!"perintahnya lembut tetapi tegas. Elara menceritakan secara singkat hukuman yang diterimanya. Kael rahangnya mengeras, tetapi ia tak langsung marah di depan Elara. "Aku yang antar kamu pulang nanti,” katanya datar. “Dan soal toilet itu, biar aku urus.” "Kenapa kamu nggak dapat hukuman?" tanya Elara sambil mengernyitkan dahi. "Papaku nggak mungkin merusak reputasinya sebagai donatur utama sekolah ini. Hukuman aku—" “Kalau begitu hukuman aku, biar aku jalani,” potong Elara cepat. “Biar nggak makin ribet.” Kael tersenyum miring, tetapi senyum itu tak sampai ke matanya. “Oke. Nanti kalau capek, kabari aku." Sore hari, setelah jam pelajaran usai. Elara berdiri di depan toilet perempuan di lantai dua dengan ember, kain pel, dan sarung tangan karet yang diberikan petugas kebersihan. Koridor sudah sepi. Hanya ada suara langkahnya yang bergema. Ia baru saja mulai membersihkan wastafel ketika pintu toilet terbuka lebar. Sienna masuk bersama dua temannya, tersenyum manis yang penuh racun. "Wah, lihat siapa ini,” kata Sienna sambil bersandar di dinding, menyilangkan tangan. “New girl yang sok suci ternyata kena hukuman bersihin toilet. Cocok banget sama status dia. Sampah!" Elara tak menjawab, terus menggosok wastafel dengan kepala tertunduk. Ia berusaha mengabaikan mereka. Sienna mendekat, sepatu kets-nya berderit di lantai keramik. Ia menendang pelan ember air kotor hingga tumpah mengenai baju seragam dan sepatu Elara. “Oops, sorry,” ejeknya sambil tertawa. “Kamu tahu nggak? Ini semua gara-gara kamu berani dekat Kael. Kamu pikir kamu spesial? Kamu cuma cewek murahan yang kebetulan dapat perhatian dia.”“Mr. Bauer, blokir semua akses keuangan Mrs. Nancy Alexandra,” ucapnya tegas meski suaranya masih serak. “Dia sudah mengintimidasi saya terkait kasus penyekapan. Tolong usut semua transaksi dan kepentingannya yang berhubungan dengan aset Kakek. Saya gak ingin dia punya celah lagi.”Di seberang, Mr. Bauer terdiam sejenak sebelum menjawab dengan nada profesional. “Saya mengerti, Miss Elara. Sesuai wasiat kakek Anda, saya masih memiliki wewenang penuh sampai Anda genap 19 tahun. Saya akan segera proses pemblokiran sementara dan mulai audit. Hasil awal akan saya laporkan dalam 48 jam.”“Terima kasih.” Elara menutup telepon.Mobil berhenti di depan sebuah penthouse modern yang dikelilingi tembok tinggi dan sistem keamanan berlapis. Sopir membuka pintu. Elara turun pelan sambil memegang pergelangan tangan yang masih perih. Ia masuk ke dalam hunian yang sunyi itu.***Keesokan harinyaMatahari sudah tinggi ketika Elara bangun di kamar penthouse. Tubuhnya masih lelah, tetapi pikirannya lebih
Theo dan Rian saling berpandangan, wajah mereka pucat.“Jangan-jangan Elara lihat…,” gumam Theo pelan.Rian langsung mengangguk cepat. “Wah, gawat! Kita harus cek sekarang juga.”Keduanya buru-buru menuju markas. Pintu didorong, lalu terbuka lebar.BRAKK!Di dalam, Kael sedang memunggungi mereka, masih bertelanjang dada. Sementara Lyra duduk di tepi sofa sambil memeluk lutut. Wajahnya basah air mata. Ia berselimut dengan bahu terbuka.Kael menoleh, kaget. “Theo? Rian? Kenapa kalian balik?”Theo tidak menjawab. Matanya langsung menatap keadaan ruangan yang berantakan, baju yang berserakan di lantai, dan ekspresi bersalah di wajah Kael.“Kael,” suara Theo datar, “Elara barusan di luar. Ngapain kalian?"Kael membeku. “Apa?”“Dia datang. Kita lihat dia pergi naik taksi dengan menangis,” tambah Rian. “Dia pasti dengar dan lihat sesuatu.”Kael langsung meraih kaosnya yang tergeletak di lantai, memakainya tergesa-gesa. Wajahnya berubah panik. “Sial… sial! Kenapa dia ke sini?!”Lyra menunduk
Elara menghela napas panjang, tubuhnya terasa sangat berat. Luka di pergelangan tangan masih perih, dan pikirannya penuh dengan suara bentakan serta ancaman yang baru saja ia dengar. Ia menatap Kael lelah.“Kael, aku capek banget,” bisiknya pelan. “Badan aku masih sakit, kepala pusing. Aku mau istirahat sebentar.”Kael langsung mengangguk. Wajahnya penuh perhatian. “Oke. Ayo, aku anter ke kamar tamu di lantai dua. Kamu tidur dulu. Nanti kalau polisi sudah siap, aku bangunin.”Elara membiarkan Kael menggandeng tangannya menuju tangga. Langkahnya pelan, hampir terseok. Setiap gerakan membuat pergelangan tangannya yang masih dibalut perban terasa nyeri. Begitu sampai di kamar tamu yang luas dan tenang, Kael membuka pintu dan mempersilakan Elara masuk.“Tidur yang nyenyak,” kata Kael sambil menarik selimut. “Aku tunggu di luar. Kalau butuh apa-apa, langsung panggil.”Elara mengangguk lemah, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Rambut blonde-nya tergerai di bantal. Matanya su
Kael menatap wajah Elara yang damai dalam tidur. Jari-jarinya terus menyisir rambut blonde yang lembut itu. Ia ingin memastikan gadis itu benar-benar aman di sampingnya.“Aku punya rahasia mereka, terutama Sienna,” bisiknya pelan. “Bisa dipastikan akan viral.”Ia mengambil ponsel dari nakas, membuka folder tersembunyi. Di dalamnya tersimpan beberapa file yang Theo kirim semalam. Ada cuplikan live streaming yang sempat tersimpan di cache, chat Sienna dengan Jonathan sebelum jebakan, bahkan rekaman suara singkat saat Sienna tertawa dan bilang “Ini semua karena dia deket Kael”.Ia lalu membuka file khusus yang berisi rekaman dan foto mesum Sienna dengan beberapa pria. "Lo pengen jadi pacar gue? Najis banget!"Kael menatap layar lama. Kalau file-file ini tersebar, nama Sienna dan The Black Vipers akan hancur total. Namun ia belum ingin buru-buru. Ia ingin menunggu momen yang tepat. Setelah laporan polisi resmi, pengacara ayahnya bergerak, dan Nancy serta Daniel Abraham merasa aman.Elara
Daniel Abraham menekan tubuh Nancy ke kasur. Lututnya menyela di antara paha wanita itu. “Anakmu bikin masalah besar hari ini,” gumamnya di sela ciuman di leher Nancy.“Anakmu juga,” jawab Nancy tersengal. Jari-jarinya mencengkeram punggung Daniel. “Sienna yang jebak Elara. Kalau sampai kasus ini masuk pengadilan, namamu ikut kotor.”Daniel menggigit pelan puting Nancy hingga wanita itu mendesah. “Makanya kita harus atur. Elara harus diam. Sienna juga harus dilindungi.”Nancy mendorong dada Daniel hingga pria itu terlentang, lalu menungganginya. Ia menggerakkan pinggulnya pelan dan membiarkan Daniel masuk dalam-dalam. Desah keduanya memenuhi kamar.“Aku sudah bilang ke Elara supaya tidak memperpanjang,” kata Nancy sambil bergerak naik-turun. Deru napasnya memburu. “Tapi Kael? Aku nggak bisa jamin. Dia terlalu protektif terhadap Elara. Kalau perlu, kita buat dia sibuk dengan masalah keluarga Draven.”Daniel memegang pinggang Nancy erat, menghentak ke atas. “Dan Sienna? Dia harus minta
Kael berhenti di tengah jalan setapak di belakang kampus. Elara masih dalam gendongannya. Tubuhnya gemetar dengan wajah basah air mata. Rambut blonde-nya berantakan menempel di pipi.Nancy berlari mendekat dengan wajah panik bercampur marah. Di belakangnya ada dua satpam asrama yang ikut menyusul.“Kael! Elara! Apa-apaan ini?!” teriak Nancy. Deru napasnya tersengal. Matanya langsung tertuju pada kondisi putrinya yang kusut dan memeluk Kael erat. “Kenapa Elara? Kau mau bawa dia ke mana?!”Kael semakin erat menggendong Elara. Ia berdiri tegak dengan tatapannya dingin ke arah ibu tiri.“Mama Nancy, tenang! Elara baru saja disekap di gudang kosong oleh Sienna dan tiga orang laki-laki. Mereka live streaming. Aku dan teman-teman yang menyelamatkan.”Nancy membelalak. “Apa?! Disekap? Live streaming?!”Elara mengangkat wajahnya sedikit dari dada Kael. Suaranya serak dan terbata-bata. “Benar, Ma. Sienna jebak aku. Dia kirim pesan palsu seolah-olah dari Kael. Aku diikat mereka mau—"Elara tidak







