공유

SIENNA GIRANG

last update 게시일: 2026-06-09 12:21:13

Kael tersenyum tipis, lalu kedua tangannya memegang kedua pipi Elara. "Kita nikah," ucapnya tanpa beban.

"Apaan, sih! Sekolah juga belum kelar," protes Elara, meski hatinya sempat melambung gara-gara omongan Kael barusan. Siapa yang tidak bahagia dicintai secara ugal-ugalan oleh cowok sekeren Kael.

"Aku nggak mau pisah sama kamu, El. Aku cinta kamu."

Elara geleng-geleng kepala mendengarnya. "Emang aku cinta kamu?"

"Sudah pasti cinta, buktinya semalam mau aku cium," ejek Kael. "Bilang, dong sekarang!"

"Ogah! Buruan, aku ditunggu Mama!"

Dengan berat hati, Kael menghidupkan motor. Perjalanan kembali terasa berat. Kael mengemudikan motor lebih pelan dari sebelumnya. Ia sengaja memperpanjang waktu mereka berdua.

Elara memeluk pinggangnya dari belakang, pipinya menempel di punggung Kael yang hangat. Air mata diam-diam mengalir di pipinya. "I love you, Kael," ucapnya lirih.

"Ngomong apaan? Aku nggak denger!"

"Nggak ada," balas Elara dan rona merah pipinya tampak jelas pada pantulan kaca spion.

"Nggak ngaku lagi," sahut Kael dengan setengah teriak, untuk imbangi suara kendaraan. Elara tersipu malu sambil mencubit kecil pinggang Kael.

Sesampainya di dekat gerbang sekolah, Kael menghentikan motor di balik pohon besar, cukup jauh agar tak terlihat dari ruang guru.

Ia lalu membantu Elara turun dengan hati-hati. Ia melepaskan helm dari kepala gadis itu. Jarinya menyentuh pipi Elara yang basah, mengusap air matanya dengan lembut.

"Kalau mama kamu marah-marah, telepon saja! Aku datang, apa pun risikonya,” bisiknya.

Elara mengangguk pelan, tetapi sebelum ia berbalik, Kael menariknya sekali lagi ke dalam pelukan. Ciumannya kali ini lembut, seolah takut ini adalah ciuman terakhir.

"Ingat, El! Aku cinta kamu.”

Elara melepaskan diri dengan berat hati, lalu berjalan cepat menuju gedung sekolah. Setiap langkah terasa seperti meninggalkan bagian dari hatinya.

Di ruang guru, mamanya sudah berdiri dengan wajah dingin, tangan bersedekap. Di sampingnya ada guru BK.

"Elara Quinn,” kata mamanya dengan suara rendah dan menusuk. “Duduk! Kamu harus bicara jujur!"

Elara duduk dengan lutut gemetar. Di luar jendela, tanpa ia sadari, Kael masih berdiri di balik pohon, menatap ke arah ruang guru dengan tatapan gelap. Ponselnya bergetar, ada pesan dari Theo.

[Barusan papa lo kemari. Gue bilang lo lagi berobat.]

Kael menggenggam ponselnya erat, mata hitamnya menyala lagi.

[Lo bilang gue luka?]

[Nggak! Ada yang kasih tahu papa lo.]

Di ruang guru, udara terasa berat dan dingin. Nancy Alexandra berdiri dengan tangan bersedekap. Wajahnya dingin dan kaku seperti patung es. Di sampingnya, guru BK terlihat gelisah, sesekali melirik ke arah Elara dengan tatapan iba.

"Duduk!” perintah Nancy dengan suara tegas.

Elara duduk di kursi kayu dengan lutut gemetar. Tangannya saling meremas di pangkuan, berusaha menahan air mata yang sudah menggenang.

"Jadi?” Nancy mencondongkan tubuhnya ke depan. “Kamu bolos di hari-hari awal masuk sekolah, bohong bilang antar teman berobat, padahal kamu kabur dengan cowok itu. Siapa namanya? Kael?”

Elara menggigit bibir dalam-dalam. Ia diam saja.

“Jawab, Elara!” bentak Nancy sambil memukul meja pelan. “Mama sudah bilang berkali-kali, jangan pacaran! Tugas kamu sekolah. Kamu mau jadi apa? Mau jadi cewek murahan?”

Guru BK mencoba menengahi dengan suara pelan, “Bu Nancy, mungkin Elara masih dalam masa adaptasi sebagai murid pindahan—”

“Adaptasi?” Nancy memotong dengan sinis. “Adaptasi yang seperti ini? Kabur pagi-pagi naik motor dengan cowok? Gimana pengawasan di asrama? Saya sudah bayar mahal untuk itu."

Elara menunduk. Air matanya akhirnya jatuh ke pangkuan. Ia teringat pelukan Kael tadi, ciumannya yang lembut, dan kata-kata “Aku cinta kamu” yang masih bergema di kepalanya.

Setelah ceramah panjang yang menyakitkan, Nancy akhirnya meninggalkan ruangan. Elara dapat hukuman membersihkan toilet lantai dua selama satu minggu, sepulang sekolah.

Elara berjalan ke kelas 11-4 dengan kepala tertunduk. Matanya masih sembab. Jam kedua sudah berlangsung. Begitu ia masuk, seluruh penghuni kelas menoleh. Kael yang duduk di kursi sebelah langsung menegakkan tubuh. Matanya menyipit khawatir saat melihat wajah Elara yang pucat.

Elara duduk tanpa bicara. Kael mencondongkan tubuhnya mendekat dan berbisik pelan, “Kamu nangis? Mama kamu marah banget?”

Elara hanya mengangguk kecil, tak berani banyak bicara karena guru sedang menjelaskan di depan. Sepanjang pelajaran, Kael sesekali meliriknya dengan tatapan gelap. Tangannya di bawah meja diam-diam meraih jari Elara, meremasnya pelan sebagai bentuk dukungan. Elara tak menolak, meski hatinya masih kacau.

Saat bel istirahat berbunyi, Kael langsung menarik Elara ke sudut koridor yang sepi.

“Cerita!"perintahnya lembut tetapi tegas.

Elara menceritakan secara singkat hukuman yang diterimanya. Kael rahangnya mengeras, tetapi ia tak langsung marah di depan Elara.

"Aku yang antar kamu pulang nanti,” katanya datar. “Dan soal toilet itu, biar aku urus.”

"Kenapa kamu nggak dapat hukuman?" tanya Elara sambil mengernyitkan dahi.

"Papaku nggak mungkin merusak reputasinya sebagai donatur utama sekolah ini. Hukuman aku—"

“Kalau begitu hukuman aku, biar aku jalani,” potong Elara cepat. “Biar nggak makin ribet.”

Kael tersenyum miring, tetapi senyum itu tak sampai ke matanya. “Oke. Nanti kalau capek, kabari aku."

Sore hari, setelah jam pelajaran usai. Elara berdiri di depan toilet perempuan di lantai dua dengan ember, kain pel, dan sarung tangan karet yang diberikan petugas kebersihan. Koridor sudah sepi. Hanya ada suara langkahnya yang bergema.

Ia baru saja mulai membersihkan wastafel ketika pintu toilet terbuka lebar. Sienna masuk bersama dua temannya, tersenyum manis yang penuh racun.

"Wah, lihat siapa ini,” kata Sienna sambil bersandar di dinding, menyilangkan tangan. “New girl yang sok suci ternyata kena hukuman bersihin toilet. Cocok banget sama status dia. Sampah!"

Elara tak menjawab, terus menggosok wastafel dengan kepala tertunduk. Ia berusaha mengabaikan mereka.

Sienna mendekat, sepatu kets-nya berderit di lantai keramik. Ia menendang pelan ember air kotor hingga tumpah mengenai baju seragam dan sepatu Elara.

“Oops, sorry,” ejeknya sambil tertawa. “Kamu tahu nggak? Ini semua gara-gara kamu berani dekat Kael. Kamu pikir kamu spesial? Kamu cuma cewek murahan yang kebetulan dapat perhatian dia.”

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   FAKTA BARU

    “Ale, aku hanya ingin bersama kamu,” ucap Elara.Alessandro terdiam. Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat dadanya terasa sesak.Ia menatap Elara beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Kalau itu yang kamu inginkan, aku akan menghargainya.”Elara mengusap air matanya.“Aku capek, Ale.”“Aku tahu.”“Aku capek harus menjelaskan kenapa aku mencintaimu. Aku capek harus merasa bersalah setiap kali memilih perasaanku sendiri.”Alessandro menarik napas panjang.“Kamu gak perlu merasa bersalah karena mencintai seseorang.”Elara menatapnya dengan raut wajah semakin tertekan.“Tapi aku sudah menikah dengan Kael.”Alessandro tidak langsung menjawab. “Aku tahu.”“Secara hukum dan di hadapan keluarga, aku adalah istrinya,"ucap Elara penuh sesal. “Aku tahu," sahut Alessandro sambil menyeka air mata Elara ujung jari.“Lalu bagaimana mungkin aku bisa bersamamu?”Alessandro menatap mata Elara.“Itu sebabnya aku gak akan memintamu melakukan apa pun malam ini.”Elara terdiam dengan

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   ABAIKAN STATUS

    Sementara itu, Kael sudah tiba di Kyoto pada malam harinya. Ia check-in di hotel dekat area tempat jejak terakhir Elara terdeteksi. Dari kamar hotel, ia terus menghubungi orang-orangnya.“Cek semua apartemen sewaan di area itu. Fokus pada perempuan berambut pirang, sendirian, baru datang dalam seminggu terakhir.”Di waktu yang hampir bersamaan, Marco menerima telepon dari Thomas.“Marco, datang ke sini! Kita perlu bicara soal Alessandro dan Elara.”Marco yang sedang di rumah sakit langsung menuju ruang Thomas. Begitu masuk, ia melihat wajah Tuan Thomas yang jauh lebih muram dari biasanya.“Ada apa, Pak?”Thomas menatapnya berat. “Alessandro mengajukan syarat. Dia hanya mau mengakui saya sebagai ayah kandung jika saya membantu membatalkan pernikahan Kael dan Elara.”Marco terkejut. “Pembatalan? Itu sangat sulit. Kemudian besar Kael gak akan setuju. Dia sangat mencintai Elara."“Saya tahu,” jawab Thomas. “Tapi itu satu-satunya yang dia minta. Maka dari itu saya ajak kamu diskusi."Marc

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   THOMAS CARI PELUANG

    Tiba-tiba ponsel milik Alessandro berdering. Tampak nomor asing dari negara Jepang.“Siapa, ya?” tanya Alessandro sambil menoleh ke arah Maria.“Angkat saja, Ale!”Alessandro mengangkat telepon itu dengan ragu. “Halo?”Keheningan sejenak di seberang. Lalu suara yang sangat familiar terdengar, pelan dan sedikit serak.“Ale… ini aku.”Alessandro membeku. Maria yang melihat ekspresinya langsung menegakkan tubuh.“Elara?” suara Alessandro turun menjadi bisikan, seolah tidak percaya. Kedua matanya tampak berbinar-binar, penuh harapan.Di seberang, Elara menarik napas. “Aku di Kyoto. Aku… hanya ingin bilang," terdengar isakan beberapa saat. "Aku sudah sampai dengan selamat. Dan… maaf karena pergi tanpa bilang langsung.”Alessandro menutup mata, menekan ponsel lebih erat ke telinganya. “Kamu telepon dari nomor Jepang.”“Aku beli nomor lokal. Aku gak ingin mudah dilacak.” Elara terdiam sebentar. “Aku dengar kamu drop setelah donor. Sekarang … gimana keadaan kamu?”Alessandro tertawa kecil, te

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   STATUS DAN DILEMA

    Di kota yang jauh, Elara mulai membangun rutinitas baru. Ia tidak menyalakan ponsel kecuali untuk membalas Clara. Ia menolak semua permintaan lokasi. Bahkan Clara hanya tahu bahwa ia aman, tanpa detail alamat lengkap.Sementara itu di rumah sakit, Alessandro akhirnya sadar penuh pada pagi ketiga. Yang pertama ia tanyakan bukan kondisi tubuhnya.“Elara?”Maria yang duduk di samping tempat tidur terdiam. Marco yang kebetulan ada di ruangan juga tidak langsung menjawab.Alessandro mengulang, suaranya serak. “Di mana Elara?”Maria menunduk. “Dia pergi, Ale. Setelah kamu donor. Dia bilang ingin hidupnya sendiri.”Alessandro menatap langit-langit lama. Tak ada ekspresi marah maupun kaget. Namun seolah dalam dirinya ada sesuatu yang mengunci.“Aku tahu,” bisiknya. “Aku sudah duga.”Di sisi lain rumah sakit, hasil tes DNA akhirnya keluar. Dokter pribadi Thomas menyerahkan amplop itu langsung ke tangan pria tua itu. Thomas membuka dengan tangan gemetar. Hasilnya jelas bahwa Alessandro Bianchi

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   MENEPI

    Marco buru-buru membungkam mulut Kael dan menyeretnya menjauh dari Maria yang masih menempel di kaca ICU.Begitu mereka mencapai ujung koridor, Kael menepis tangan Marco dengan kasar.“Lepas!” teriak Kael dengan wajah memerah.“Berani benar, kamu membungkam aku?”Marco menatapnya tegang. “Kamu mau bilang apa barusan di depan Nyonya Maria? Mau bilang Elara sudah jadi istrimu? Sekarang? Saat anaknya drop di dalam sana?”Kael menegakkan tubuhnya. “Itu fakta. Elara sudah menikah denganku. Sah. Aku gak akan diam saja, sementara semua orang pura-pura gak tahu.”“Fakta yang akan membuat Nyonya Maria meledak,” potong Marco. “Anaknya baru saja kolaps. Elara menghilang. Kalau kamu sekarang berdiri di situ dan mengklaim Elara sebagai istrimu, kamu hanya akan menambah kekacauan.”Kael tertawa pahit. “Jadi aku harus tutup mulut? Sementara Alessandro yang hampir menjadi calon suaminya terbaring di ICU, dan aku yang sah harus pura-pura gak ada?”Marco menghela napas berat. “Bukan pura-pura gak ada. T

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   ALESSANDRO NGEDROP

    Elara baru saja melangkah keluar dari ruang pemulihan ketika sebuah tangan tiba-tiba menarik lengannya. Ia kaget dan berbalik.Marco berdiri di hadapannya, wajah tegang. Jelas sekali pria itu baru saja mengawasi dari celah pintu.“Marco? Kamu—”“Ikut aku,” potong Marco pelan tetapi tegas. Ia menarik Elara ke sudut koridor yang lebih sepi, jauh dari telinga perawat yang lalu-lalang. “Aku dengar semuanya.”Elara menghela napas, melepaskan lengannya. “Kalau begitu kamu sudah tahu. Aku akan pergi setelah Alessandro stabil.”Marco menatapnya dalam. “Kamu serius? Setelah semua yang baru saja terjadi di dalam sana?”“Justru karena itu,” jawab Elara dingin. “Aku sudah bilang ke dia. Aku gak mau lagi jadi penengah. Aku capek, Marco.”Marco mengusap wajahnya, terlihat frustasi. “Tuan Thomas sudah bilang dia gak akan lagi memaksa. Kael juga sudah dilarang menghubungimu. Alessandro baru saja mendonorkan sumsum tulangnya. Dan sekarang kamu mau hilang begitu saja?”Elara menatapnya tajam. “Aku buka

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status